
" Jangan datang untuk menyelamatkan ku!"
Deg...
Topan terasa jantungan mendengar pernyataan dingin Gerhana.
"Kalau pun kamu datang, maka itu hanya demi chip mu dan hanya demi membalas dendam terhadap perlakuan orang orang itu ke Pe. Semoga kita tidak berjumpa lagi!"
Terlalu kecewa, Gerhana sampai mengatakan untaian tersebut yang mampu menampar keras hati Topan.
Sejenak, Topan pun menoleh kebelakang. Kini Gerhana sudah digiring oleh anak buah musuhnya untuk mendekati helikopter yang sudah memutar baling-balingnya.
Tidak mau kehilangan keduanya, Topan lebih memilih menyelamatkan nyawa Pe terlebih dahulu yang sudah diujung tanduk. Topan pun berlari sekuat tenaganya untuk menggapai titik tali yang telah dibakar oleh lilin.
Semoga kita tidak berjumpa lagi.
Kata kata menyakitkan Gerhana yang terakhir itu, mampu menghantui pikiran Topan. Dia menangis lemah di sela sela larinya mendekati tali yang sebentar lagi putus oleh bakaran lilin.
"PEEEE!" pekik Topan seraya melompat ala ala gaya harimau yang menerkam musuhnya. Bedanya, Topan mencoba meraih tali yang barusan saja terputus.
Haaapp, tertangkap! bertepatan tangannya menahan tali itu, helikopter yang membawa Gerhana pun mengudara tinggi.
"GERHANAAAAA!" Teriaknya penuh oktaf, berharap kekasihnya mendengar jeritannya. Meskipun mustahil, Topan terus berulang kali berteriak-teriak seraya menarik tali yang masih menggantung Pelangi di ujung gedung itu.
"Aku akan datang, Na! hanya untuk mu, bukan karena chip itu ataupun alasan lainnya. Hanya untukmu, untukmu!" janji Topan dengan suara sesaknya.
Kini Pe sudah berpijak pada lantai kotor dengan keadaan mata tertutup.
Dan semakin kacau lah Topan saat matanya menyaksikan luka luka cambuk Pelangi. Topan kecacingan karena denyut nadi Pe amat lemah terasa yang barusan diperiksanya.
"Pe, kamu tidak boleh kalah dengan cambukan itu. Bangun dan bantu kakak untuk membantai musuh. Pe...." Topan menepuk pelan pipi Pe dengan perasaan gusar penuh ketakutan. Dia tidak mau kehilangan nyawa adik emasnya.
Sadar dengan keleletannya, Topan segera meraup tubuh kembarannya untuk pergi dari gedung tersebut.
...*****...
"Badai! Badai!" pekik Topan yang sudah sampai di markasnya. Dia membutuhkan bantuan medis Badai buat keselamatan Pe.
Charel yang mendengar itu, segera menghampiri Topan yang sedang berjalan seraya menggendong Pelangi.
__ADS_1
"Maaf, Bos! Semuanya telah pergi saat ini," lapor Charel. Mengekor di belakang Topan yang melangkah cepat ke ruangan medis.
"Pergi? kemana?" Topan berhenti sejenak, lalu berbalik menatap tanya Charel.
"The Kurcil berikut Tuan Dibi mengibarkan perang, menghampiri markas musuh. Saya di suruh stay untuk menunggu Tuan Topan," lapornya. "Mereka membawa semua anak buah, Bos!" lanjutnya.
Topan hanya menghela nafas berat akan laporan Charel. Dia pun masuk kembali melangkah menuju ruangan medis, meninggalkan Charel yang bingung harus berbuat apa saat ini, karena Topan tidak mentitahnya untuk berbuat apa-apa saat ini.
" Aku yakin, mereka sudah pindah tempat lagi." Batin Topan seraya mengobati Pelangi seorang diri.
Tega tidak tega, Topan menancapkan jarum infus ke punggung tangan Pe, lalu merobek baju Pe untuk segera mengobati luka luka cambuk adiknya. Dua jenis botol kecil berisi cairan, dia suntikan ke dalam infus Pe. Obat khusus agar Pe bisa pulih secepatnya.
Di sisi para Kurcil dan Dibi. Benar adanya, kalau markas yang sudah dideteksi oleh Vay, ternyata kosong blong tanpa ada kehidupan satu pun, seperti markas sebelumnya yang sudah di ledekan Ama.
"Sial! mereka sangat pintar mengelabui dengan cara kabur dari tempat ke tempat lainnya," marah Badai. Mereka semua berada didepan markas kosong tersebut.
"Lebih baik kita pulang terlebih dahulu, Topan sudah ada di markas," usul Vay yang sudah mendapat laporan dari Charel.
"Eum, kita harus membuat plan plan smart untuk melumpuhkan musuh yang cukup pintar bagi lawan Kurcil," kata Angkasa.
Dan semuanya pun pulang dengan tangan hampa.
...*****...
Di sebuah pulau terpencil yang jauh dari jangkauan orang orang. Sebuah helikopter mendarat sempurna di pelandasan khusus. Bangunan mewah pun terlihat seketika di mata Gerhana yang baru turun dari helikopter tersebut.
Ya, Jerry berikut ante antenya telah berpindah tempat lagi. Kali ini, tempat tersebut adalah markas terakhir dan termewah yang dimiliki Matin, tempat di mana dia menahan orang tua Guntur.
"Jalan lah serta menurut manis lah, Nona. Agar kami tidak menyakiti mu," kata Matin mentitah Gerhana. Gadis itupun hanya pasrah akan keadaan. Dia merasa tidak ada semangat lagi untuk hidup, hatinya yang kecewa membuatnya tidak mau melek lagi untuk memikirkan masa depannya. Toh, dia sudah tidak mempunyai seseorang lagi untuk memberi kenyamanan, keluarga pun mana ada.
"Dad!" sambut Belen ke Matin yang sudah berada tepat di pintu utama. Dia melirik sinis ke Gerhana. Namun Gerhana cuma cuek, terkesan songong.
"Hai, Sayang. Kenapa wajahmu terlihat cemberut begitu eum?" Heran Matin menyambut mesra Belen dengan mencium bibir itu di depan mata orang orang.
Jerry lebih memilih untuk diam akan kemesraan anak ayah itu yang mempunyai hubungan gila.
"Aku tuh inginnya membunuh Pelangi, tetapi kalian lebih memilih menukarnya dengan gadis ini." Lagi lagi Belen menatap sinis Gerhana.
"Penjaranya sebelah mana? aku sudah gerah dan juga mual berada di sini," Gerhana berperilaku seenaknya, dia menatap ledek ke Belen saat mengatakan mual. Dia juga ingin sekali mencolok mata Belen saat mengingat video yang dimana Pe disiksa oleh wanita seksi yang terkesan murahan dihadapannya itu. Doyannya sama Pria tua, batin Gerhana seraya bergidik.
__ADS_1
"Kamu__"
"Sabar!" Matin menahan Belen yang ingin menampar mulut Gerhana. Lagi lagi Gerhana hanya dibuat cuek.
"Ikut aku! sebelum kamu dan lainnya mati, aku akan mempertemukanmu dengan seseorang yang mungkin amat merindukan mu." Ujar Jerry ke Gerhana.
Gerhana lagi lagi menurut manis, dia berjalan melewati Belen dengan sengaja menambrak bahu Belen amat kuat.
"Woii, wanita sialan! Aku hajar___"
"Sudahlah, biarkan gadis itu bertingkah seenaknya. Toh, beberapa waktu ke depannya, pasti akan mati setelah chip itu keluar dari tubuhnya." Matin menahan pinggang Belen yang ingin menyusul Gerhana yang sudah berjalan dibelakang Jerry, menuju ruangan yang katanya ada seseorang yang mungkin amat rindu kepadanya.
" Ck, pasti pria tua ini hanya mengada ngada? Lagian, siapa orang itu yang katanya merindukan ku?" batin Gerhana. Matanya menggerlya ke segala penjuru yang saat ini, dia sudah berada di area penjara.
"Hem, 1, 2, 3 orang!" Gerhana menghitung jumlah orang yang ada di dalam tahanan. Jerry yang mendengar itu, sejenak menghentikan langkahnya. Otomatis Gerhana juga berhenti.
"Ternyata, musuh Anda bukan hanya Kurcil ya, Tuan? Mereka pun ada." tunjuk Gerhana ke arah tahanan.
"Apa kamu tidak mengenali mereka?"
Gerhana menggeleng.
"Ya sudahlah, bagus!" Ujar Jerry tidak niat menjelaskan siapa orang tersebut yang tak lain adalah Guntur, Embun, dan Erlan yang selalu terkena bius oleh kelakuan Belen.
Gerhana kembali digiring ke lorong lain. Di sudut matanya, lagi lagi dia melihat dua penjara yang terisi, satunya adalah wanita setengah baya yang tidak terurus hingga rambut panjangnya menutupi sebagian wajahnya. Dan penghuni penjara di ujung sana adalah Pria setengah baya dengan rahang dipenuhi brewok.
"Apa kamu mengenali pria yang sedang tidur di sana, Nona?" tanya Jerry. Gerhana menggeleng geleng tidak tau dan tidak mau tahu. Toh, bukan urusan dia juga, pikirnya.
"Hem, baiklah....saya akan memperkenalkan kalian." Jerry membuka gembok dan mendorong Gerhana untuk masuk. Dia pun meninggalkan Gerhana bersama pria itu.
Jujur, Gerhana sebenarnya takut kepada Pria yang bewokan itu. Takut-takut gigit orang.
Lama, Gerhana hanya terpaku. Tidak berani bergerak sedikitpun, takut Pria tersebut yang penuh bewok panjang itu terbangun.
Prrrraaang...
"Mati aku!" lirih Gerhana menghardik dirinya, karena tidak sengaja kakinya menyenggol sebuah gelas yang main tergeletak jorok di lantai.
Pria berantakan itu terganggu dan membuka matanya.
__ADS_1
"Gerhana!" ujar orang itu yang tak lain adalah Xian.