Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)

Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)
Juni Dan Sawah


__ADS_3

Malam kian larut.


Topan sama sekali tidak bisa tidur karena pikirannya masih dikuasai nama Pelangi dan Badai yang juga tak kunjung pulang.


Kurcil lainnya sudah pada nyenyak walaupun sebenarnya mereka pun masih memikirkan kesehatan dan keberadaan rekannya. Tapi, harus bagaimana lagi? kesehatan harus dijaga bukan agar keesokan harinya bisa prima lagi demi kembali mencari Pe.


Blusss....


Kekalutan Topan kini dilampiaskan ke sebuah patung. Dia membidik orang orangan itu dengan anak panah yang posisinya jauh sepuluh meter, namun hebatnya.... sasarannya selalu tepat mengenai kedua mata patung tersebut.


Di sisi Badai, jelas dia pun tidak bisa tidur... bukan karena memikirkan Pelangi. Tetapi, dia lagi sibuk otw wik wik... You know wik wik? ya... itu!


Saat ini, di kamar VVIP itu...Embun masih asyik menari striptis di hadapan Badai yang berdiri di tengah tengah ruangan yang kosong.


Kadang kala Embun mengitari Badai, dengan telapak tangan itu sesekali meraba dada Badai yang sudah polos juga, hanya ada segetiga pink eh hitam yang melekat di bagian tubuh tengah Badai.


Hap....


Setiap Badai ingin meraih tangan bar-bar Embun, maka dengan cepat....Embun segera mengelak dan tersenyum nakal ke Badai yang rupa rupanya si Juni (or nya dibuang) sudah menggembul gemoy di balik kain itu.


Kesadaran jernih kedua insan itu, telah dikuasai oleh pengaruh alkohol, hingga tidak tahu sepenuhnya apa yang mereka lakukan....remang remang.


"Kemarilah, Nona!" Badai meminta seraya tangannya terjulur panjang ke arah Embun.


Embun meraihnya penuh elegan, pelan dan bergaya seolah-olah sedang menari dansa. Hingga terlihat, tangan Badai memutar kecil tubuh Embun dan berakhir memeluknya dari belakang.


"Uhh, eummm!" Lenguhan Embun keluar, tepat tangan Badai yang seakan-akan mempunyai sengatan listrik, merem-aas kekok kekok balon ku ada dua. Dari arah belakang pun....Badai telah menjelajahi tengkuk lehernya yang mungkin saat ini sudah banyak tanda drakula cinta di sana.


"Hmmm, Ahhhkh."


Rintihan kuntilanak eh Embun kian keluar, ketika salah satu tangan Badai, jatuh perlahan tetapi tepat berada di atas sawah Embun yang di tumbuhi rumput liar. Badai bermain pelan di atas sawah tersebut.


"Awww!" Pekikan itu bukan rintihan nikmat dari Embun, tapi ringisan sakit karena Badai sengaja mencabut satu rumput liarnya.


"Ish, merusak suasana aja!" Dengus Embun segera berbalik menghadap ke tubuh Badai yang sudah tidak ada jarak lagi. Menempel!


Badai tercengir bodoh, matanya masih terselimuti hasrat, saking gemasnya... Badai sampai geregetan untuk tidak mencabut bulu tersebut.


"Ayolah, itu hanya kenangan dari ku sebelum kita ke intinya."


Selesai mengelak, Badai segera menjamah lekukan itu lagi, tanpa memperdulikan bibir cemberut Embun. Bukannya dia sudah rela mengeluarkan dana 10M hanya dalam satu malam...So, mencabut satu *ru*mpur liar tidak masalah bukan? Nanti juga tumbuh lagi!


Badai kini sedikit memiringkan kepalanya, hanya demi meraih ujung balonku ada dua itu, yang masih dalam berposisi berdiri. Dia seperti anak bayi yang amat rakus mengambil kesegaran ujung balon tersebut.


Oh, eeeuummh...

__ADS_1


Embun menggeliat hebat dalam posisi enak itu, jari jemari yang bercat kuku merah terang, tak kalah agresifnya....Dia menjambak-jambak manja rambut Badai. Tangannya pun sesekali menekan kepala Badai untuk terus menyesapi ujung balonnya. Keenakan coeg!


"Bung, ini___Oh, ahhh, E-enak!" Racau Embun. Karena tersengat hasrat, tangan lembut tapi bertenaga itu pun semakin dalam menekan kepala Badai, hingga adik Pelangi ini mangap-mangap kesusahan bernafas di antara kedua balon ku.


Bukannya kagak lucu? Kalau ada berita keesokan paginya.... ada korban jiwa yang meninggal karena keselek ujung balonku ada dua?


Merusak citra saja!


"Kamu mau membunuh ku, Nona?" protes Badai yang memaksa lepas dari belahan itu.


Kini, Embunlah yang sekarang tercengir bodoh. Satu sama, batinnya membalas Badai yang sudah mengurangi bulu istimewanya yang tumbuh indah di sawah nya, tadi. Kan pedas!


"Hehehe!"


Seraya tercengir, Embun hanya pasrah didorong kecil oleh Badai untuk menyudutkannya ke tembok, hingga tubuh lekuknya terhempit antara Badai dan dinding dingin yang menyentuh kulit punggungnya.


"Bung, kasur di sebelah sana___ Hmmmpp!"


Suara sayu Embun tertelan, Badai telah membungkam mulutnya dengan sengatan ganas ganas menggairahkan.


Si Wanita seksi ini yang notabenenya tak mau kalah oleh apapun, jelas membalas serangan demi serangan Badai hingga pagutan sengit pun terjadi.


Tangan kanan Badai sudah berkekok kekok di balon itu, sementara tangan kirinya menuntun jenjang Embun agar sedikit terbuka. Hingga...jari jemari Badai bermain di sawah Embun, membuat wanita itu meringis nambah.


Keduanya semakin menggila di dalam serangan hasrat itu. Apalagi tangan Embun berangsur-angsur menyobek ke-dua sisi benang segetiga Badai, hingga jatuh begitu saja ke lantai.


Keduanya sudah sama-sama polos, pemirsa!


"Aww, baso panjang ber-urat!" Benak mesum Embun yang sudah kembali menyentuh inti Badai.


Penggkk... Kepala Badai semakin kosong dibuat melayang oleh wanita seksi ini. Dia semakin memperdalam ciumannya, mengabsen satu persatu rongga mulut Embun tanpa jijik juga tanpa cela tertinggal. Jari lihainya pun telah tertanam di bawah sana.


Tidak mau kalah ganas dari Badai...tangan nakal Embun pun amat liar naik turun mengurut si Juni. Mana tau keseleo sebelum menusuknya, iya kan? maka dari itu dia baik hati mengurut sensual si Juni, pintar kan dirinya? pelayanannya tidak akan meragukan kok, jadi Pria tampan ganas ini tidak akan rugi kehilangan uang sepuluh M-nya. Embun membanggakan dirinya dalam ketidak sandarannya karena alkohol.


Bosan dengan posisi itu, Badai melepas diri. Sejenak, saling bersibobrok mesra dengan penuh binar kegelapan karena tersulut hasrat.


"Kita ke intinya, Nona!"


Badai mendorong Embun sedikit kasar ke kasur, hingga wanita itu terjengkang seperti kodok yang terbalik tubuhnya.


"Tunggu apalagi? mendekatlah dan buktikan apa yang kamu ingin buktikan, Bung!"


Badai tersenyum nakal, dia ternyata mendapat wanita liar dan tidak ada malu malunya di atas ranjang. Wanita seperti inilah yang di sukai semua pria...liar menggairahkan di atas kasur.


"Tanpa kevirginan, maka uang 10 M akan raup, adanya kamu yang akan aku cekik, Nona."

__ADS_1


Embun hanya tersungging santai akan kesarkasan Badai yang masih sibuk berdiri gagah di sisi kasur, seraya mata nakal pria itu terus menatap intinya yang seakan akan menilai bentuknya.


"Katakan pada ku, Bung! apakah bentuk milikku berbeda dengan milik wanita lain sehingga kamu hanya sibuk menatapnya, eum?"


Embun berpose mesra, dia memiringkan tubuhnya dengan sisi kepala kanannya dia tumpuh satu tangan. Wajahnya sangat dekat dengan si Juni. Pengin narik deh! Batinnya terkekeh geli.


"Aku__" Badai terjeda akan Embun yang mendahuluinya.


"Soal, cekik mencekik, kita bisa lakukan itu di lain waktu." Racau Embun seraya jari lentiknya mensentil si Juni, gemas karena dia melihat inti Badai berkedut kedut sendiri.


"Hais__"


Badai terpekik protes, sejurus... Ah-uhhhh, ohhh, bibir itu meracau karena si Juni telah diurut mesra oleh Embun begitu tiba-tiba.


"Aku suka caramu kamu Ahhhkh sepertinya pelayanan publik yang eumm___Ohh"


Badai yang selalu dapat serangan dari Embun, menghentikan kecerewetannya. Dia segera menindihi wanita tersebut.


"Awww, Pelan-pelan Bego!"


Aih ding, Ternyata mulut wanita ini amat kasar. Badai sampai menghentikan aksinya yang mencoba menerobos masuk ke lubang sawah Embun. Tapi kok susah amat ya?


"Ini tidak bisa masuk, bagaimana dong?" Badai mengeluh yang sudah berposisi pas di antara belahan kaki jenjang Embun.


"Juni mu kebesaran, kamu cocoknya nyari nenek nenek yang ehm sorry, lebar kadaluarsa, atau kamu iris dulu Juni mu agar sedikit kecil."


Embun memang tidak tau apa yang diracaukannya.


"Enak saja, dari pada Juni cacat, mendingan aku yang merobek sawah mu agar melebar."


Seraya mengobrol konyol dan ledek meledek. Badai tetap berusaha membobol gawang Embun.


Dan


Jlebbb...


Awwww...


Akhirnya gol juga seraya beriringan kepekikan sakit Embun terdengar. Badai merasakan sedang merobek sesuatu, tapi bodo amat, enak ini dijepit.


Perlahan-lahan dari suara sakit Embun kini terganti seperti Ahhhkh, eummm, Ohhhh, kepedasan enak telah menggema merdu saling bersahutan.


Dan sepanjang malam, keduanya sibuk ber ah uh eh oh sampai peluh membasahi mereka. Dari beberapa gaya sudah mereka jajal, hingga keduanya tidak sadar telah tidur di lantai yang keras dan dingin. Kasur dianggap oleh mereka sebagai lantai dan lantai dianggapnya sebagai kasur. Begitulah kira-kira arti dari nge-fly, semuanya serba terbalik.


Auh ah, gelap... Author kabur...

__ADS_1


__ADS_2