
Bugh...
Saat pintu penjara itu terbuka, Xian segera melayangkan tendangan kerasnya tepat di perut Jerry. Tidak mau memberi Jerry kesempatan untuk membawa anaknya.
Sang empu perut, terhempas kebelakang dengan punggung terkena jeruji besi.
"Aww..." ringis Jerry. Secepatnya, dia mengambil kuda kuda dikala Xian kembali bermaksud menendangnya.
"Kamu ingin mati lebih cepat, hah?" marah Jerry seraya menghindar dari tendangan Xian.
"Mati sudah ada jalannya masing masing," ujar Xian tidak takut. Kali ini, Jerry yang berhasil meninju dan kembali menendang bagian wajahnya hingga tersungkur ke lantai. Hidung Xian berdarah darah.
Jerry yang tidak mau membuang-buang waktu lagi, segera saja mengeluarkan senjata apinya.
"Tolong, jangan tembak Daddy-ku!" pinta Gerhana dengan tangan mengatup bersatu ke dadanya, untuk memohon dengan sangat.
Gerhana yang tidak sanggup melihat Daddy-nya yang akan ditembak oleh Jerry, sesegera mungkin mengambil sikap dengan cara memasang tubuhnya di depan Xian, bermaksud menjadi tameng untuk sang Daddy.
"Saya akan bersedia amat manis ikut dengan Anda, bilamana masih memberi kesempatan hidup bagi Daddy saya. Kumohon," sambungnya dengan merelakan nyawanya terlebih dahulu.
Bukannya, salah satu hal menyakitkan itu adalah melihat orang tersayang kita meninggal di hadapan kita? lebih lebih matinya sangat mengenaskan. Tentu, Gerhana tidak tega akan hal buruk itu yang terjadi kepada Xian tepat di depan matanya pula.
"Baiklah, kali ini aku berbaik hati. Meskipun nanti, aku tetap akan membunuh Daddy-mu," ucap Jerry. Sejurus, mengkode Gerhana dengan kepalanya untuk ikut dengannya.
"Jangan, Gerhana! Jangan,Nak!" Xian menggenggam tangan Gerhana agar tidak pergi bersama Jerry yang waktunya pembedahan tiba.
"Dad..." Gerhana menarik tangannya, lalu masuk kedalam pelukan Xian untuk yang terakhir kalinya. Dia pun kemudian merenggangkan pelukannya, dan mengatakan perasaannya. "Aku menyayangimu, Dad."
"Buruan!" Bentak Jerry. Gerhana segera bangkit meninggalkan Xian yang menangis pasrah.
"Maafkan, Daddy-mu, Nak!" seru Xian merasa tidak becus menjaga anaknya yang dalam bahaya.
...*****...
Di sisi Kurcil, kecuali Dibi yang menjaga Pe karena masih terbaring lemah.
Saat ini, mereka telah berada di sebuah ruangan khusus yang dipenuhi oleh beaker glass dan alat alat laboratorium lainnya. Macam-macam zat senyawa-pun memenuhi sudut ruangan teritori Topan.
Mereka semua akan membuat project kimianya lagi, tanpa bantuan kisi kisi yang ada pada chip tersebut. Setelah selesai membuat, baru akan berencana menyerang musuh menggunakan hasil projek berbahayanya itu.
"Uhh, semoga komposisinya tidak lebih atau pun kurang, walau setetes saja," takut Angkasa yang sedang menggantikan posisi Pe. Pipet tetes dia pegang yang sudah terisi zat HCI, ada juga gelas gelas beaker yang sudah diisi cairan senyawa berbahaya lainnya....seperti H2SO4 dan lain lainnya di atas meja itu.
Angkasa berkeringat dingin, padahal dia belum memulai mencampurkan zat demi zat itu. Masalahnya, kalau dia sampai salah maka bisa bisa ledakan pada beaker glass akan terjadi, dan berakhir fatal bagi dirinya meskipun memakai pelindung tangan serta wajah.
"Biarkan kakak yang melakukannya!" Topan menggeser paksa Angkasa. Lalu menarik pipet tetes itu.
__ADS_1
"Pan, pakai pengamanan tangan. Ini bahaya lho, tangan kamu bisa saja melepuh bila mana gagal," kata Vay mengingatkan.
"Bisakah kita kerjanya lebih cepat dari biasanya, kita tidak punya waktu banyak."
Topan tidak menghiraukan kekhawatiran Vay dan kawan-kawannya. Dia memulai mencampur adukkan beberapa jenis zat senyawa kedalam gelas gelas beaker. Dia sudah tidak sabar untuk memakai hasil projek tersebut untuk membantai musuh musuhnya.
" Jerry, Matin dan Belen! aku pastikan, kimia yang kalian inginkan akan mencairkan tubuh kalian bak air dalam waktu sekejap." batin Topan yang sudah menyeringai kejam.
"Oke, mari bekerja lagi! hari inipun kita harus membantai mereka." Ama menggebu. Kalau menyangkut perang, dia amat antusias.
Mereka pun kembali ke kerjaan masing masing dengan wajah serius. Topan terlihat cekatan mencampur adukkan zat demi zat senyawa tersebut, tanpa takut melukai tangan dan bagian tubuh lainnya. Dia hanya menggunakan kaca mata khusus agar terhindar dari uap zat berbahaya itu.
...*****...
Kalau di markas kurcil, sedang membuat projeknya tanpa menggunak chip itu. Berbeda di markas Matin dan Jerry yang masih menunggu dokter bedahnya, tidak kunjung datang untuk mengeksekusi Gerhana.
"Anak buah tidak ada yang becus, bila mana sedang diburu buru! selalu saja lelet," oceh Jerry mendumel di hadapan Matin dan Belen. Pasalnya, helikopter yang di tugaskan untuk menjemput dokter bedahnya, belum terlihat mendarat di pulau itu.
Padahal, Gerhana sudah stay di dalam ruang operasi khusus Matin dengan bius sudah tersuntikan.
"Dad, bukannya kita punya Dokter yang ahli di tahanan." Belen mengingat Embun.
Matin yang mendengar itu tersenyum lebar, lalu mengecup bibir Belen di depan mata Jerry. "Kamu benar juga, Sayang." katanya setelah kecupan itu usai.
"Segeralah bawa kemari tahanan kalian itu, aku sudah tidak sabaran ingin membuat senjata mematikan dari bantuan kisi kisi chip itu." ungkap Jerry yang menggebu-gebu ingin membantai musuhnya terkhusus The Kurcil Smart.
"Oke, ayo kita bawa Embun kemari!" Belen segera beranjak di susul Matin dan Jerry. Para anak buah dua kubuh yang menyatu itu, terlihat menunduk hormat ketika berpapasan oleh para bosnya.
Sampai di penjara, salah satu anak buahnya segera membuka sel yang mengurung tiga orang di dalamnya, yang masih saja termakan bius berdosis panjang.
"Kamu akan bangun duluan, Embun." kata Belen seraya menyuntikan jarum berisi penawar bius berdosis tinggi itu, ke kulit bagian lengan Embun.
Menunggu beberapa menit, suntikan itupun bereaksi. Embun terdengar melenguh dengan tangan itu segera menyentuh kepalanya yang terasa berat. Netranya belum menangkap keadaan sekitar, rasa rasanya dia masih linglung.
"Sakit sekali kepalaku," lirihnya seraya menggelengkan pelan kepalanya, berharap rasa yang berdentam itu hilang.
" Cepatlah sadar dari mimpimu!" bentak Jerry. Sontak Embun sadar seratus persen dari kelinglungannya, dan sudah mengingat apa yang terjadi di ruangan gas beracun itu. Tapi, di mana ini? tanya dalam hati.
"Cih, kalian!" Embun berdecih dengan memutar mata malasnya ke tiga orang yang berdiri sombong dihadapan terbaringnya. Dia pun memutuskan untuk berdiri walaupun kepalanya masih tidak bersahabat.
" Kalian beraninya bius membius kami, itu tandanya kalian takut berperang." kata Embun seraya menghampiri Erlan dan Guntur yang terbaring di pojok penjara. Embun menepuk nepuk pipi kedua pria tersebut secara bergantian untuk membangunkan mereka.
"Hahahaha...." Belen, Jerry dan Matin kompak menertawakan Embun yang terus berusaha membangunkan rekannya.
"Sampai lebaran monyet pun mereka tidak akan bangun kecuali suntikan anti bius ini," jelas Belen seraya tangannya memamerkan sebuah jarum suntik yang baru dikeluarkan dari kantong jaket kulit modisnya.
__ADS_1
"Berikan!"
Sekonyong konyongnya, Embun sudah berada di depan Belen untuk mencoba merebut jarum itu di tangan Belen. Namun, Belen dengan keahliannya pun segera mengelak dan segera melayangkan jabnya ke Perut Embun, hingga rekan Guntur itu terhempas dua langkah kebelakang.
Jerry dan Matin hanya penonton seru.
"Kamu pikir mudah merebutnya dariku, hah?" ejek Belen tersenyum miring ke Embun. "Stop!" Bentaknya kemudian saat Embun kembali maju untuk merebut jarum itu. Embun pun terhenti.
"Kalau masih nekat memaksa, maka suntikan matilah yang akan di terima oleh adik serta gebetan tersayang mu." Ancam Belen. Mulutnya saja yang mengatakan suntikan, padahal dia sedang menodongkan senjata ke arah Guntur dan Erlan.
"Hah, menyebalkan!" Dengus Embun yang tidak berkutik karena dibawah ancaman Belen.
"Apa mau kalian, hah? aku yakin, pasti ada bangkai yang tersembunyi dalam otak kalian sehingga aku di beri obat penawar bius kalian," tebak Embun sudah khatam betul orang orang yang ambisius seperti mereka yang selalu tuntunan timbalbaliknya.
"Kami membutuhkan keahlian Dokter mu, untuk mengambil chip itu di dalam tubuh Gerhana..."
"Tidak___"
"Tidak ada penolakan, dan tidak ada banyak pertanyaan atau apapun itu," serga Jerry. Karena air muka Embun sudah sangat bisa ditebak yang ingin menolak mentah-mentah.
"Atau...." Belen sengaja menjeda ucapannya, namun tangannya siap menarik pelatuk nya ke arah Erlan.
"OKE! PUAS KALIAN? DASAR!!!" Embun berteriak kesal. Ketiga orang dihadapannya malah tertawa jahat.
Dia pun pasrah digiring keluar dari sel.
Saat Belen berjalan di hadapannya, Embun sengaja berjalan cepat untuk menubruk punggung Belen. "Jalan kok lelet amat!" Embun yang menabrak tetapi dia yang marah marah, saat Belen berbalik menatapnya horor.
Dalam hati nya, Embun menyeringai lebar karena berhasil mencuri dua suntikan anti bius yang baru ditarik nya dalam jaket Belen.
"Sudahlah, Belen. Biarkan dia bertingkah sedikit untuk saat ini. Nanti juga akan mati bersama yang lainnya." Jerry membujuk, demi waktu berharganya tidak terbuang lebih banyak lagi.
"Baiklah! aku masih bersabar, Embun." Ujar Belen menahan emosi nya. Dia pun berjalan cepat agar Embun tidak mencari gara gara terus.
"Ayo jalan, Ibu Dokter!" titah Matin yang sedari tadi hanya diam.
"Iya__ eh, tali sepatuku copot. Tunggu...." Embun berdusta. Dia segera berjongkok dan berpura pura membetulkan tali berwarna putih itu.
Jerry yang tidak sabaran, malah meninggalkan Embun dibawah pengawasan Matin. Belen sendiri sudah sedari tadi jauh melangkah.
Dapat kesempatan karena Matin tidak memperhatikan nya, Embun segera membidik suntikan itu ke sela jeruji, arah tangan Guntur dan lengan Erlan secara bergantian yang sebelumnya sudah di setting olehnya jarum tancapnya, agar cairan itu mengalir sendiri tanpa ditekan ujungnya.
Bluuus... Blusss....! Tertancap sempurna. Embun langsung berdiri kembali.
"Sudah.... Ayo!" Embun segera berjalan cepat agar Matin tidak menyadari kalau Guntur dan Erlan akan sadar sebentar lagi.
__ADS_1