Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)

Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)
Jangan Ada Yang Ikut Campur!


__ADS_3

Bagh...


Bugh...


Sreet...


Duagh...


Suara itu adalah suara aduan otot serta katana hasil dari perkelahian, antara si Triplets dan Matin cs yang masih di atas rooftop yang luas. Hanya ada tank fiberglass besar yang ada di sudut bangunan.


Belen adu jotos dengan Pe. Matin bersama Topan. Sisanya, sikopet Badai dan Jerry yang sudah buntung tangannya terlebih awal, oleh kesadisan Topan sebelumnya.


Para Kurcil lainnya pun baru selesai menghabisi semua anak buah Matin. Oleh sebab itu, mereka bergegas berlomba-lomba untuk menggapai rooftop.


Di sebelah tank fiberglass, ada seseorang yang bersembunyi di balik tampungan air besar itu dengan cahaya minim sekali, sehingga tidak ada yang mengetahui keberadaannya sedari awal. Ia adalah adik Embun-Erlan. Sedang mencari celah untuk menembak Pelangi dari kejauhan.


Padahal, sang kakak-Embun sedang dalam pencariannya yang berada dilantai tiga. Di mana keberadaan adiknya itu?


"Jangan ada yang ikut campur!"


Pekik Topan ke para Kurcil lainnya yang baru menginjakkan kaki mereka di rooftop. Pasalnya, Guruh, Ama, serta si Twins kompak ingin menembak Matin cs yang masih dalam buruan si Triplets.


Kurcil pun mengindahkan peringatan tegas Topan. Itu tandanya, si simba Topan tidak mau berbagi daging. Pasti, si Pe dan Badai pun sama...pikir mereka. Akan hal itu, Ama, Guruh, serta Twins menaruh kembali senjatanya masing masing.


"Jadi, kita akan jadi penonton saja, nih?" tanya Vay ke Petir yang berada di sebelah kirinya. Sebelah kanannya pun ada Lautan yang sedang mengamati jurus Pe yang masih menggunakan capoeranya.


Rekam ah, batin Lautan iseng. Lumayan pikirnya untuk dijadikan latihan jurus barunya. Dia tidak menyangka kalau Oma-Vay mewariskan jurus itu ke Pelangi. Curang! Lautan ingin protes jadinya ke wildflower itu.


"Seperti itulah. Tau sendiri, si Triplets kalau sedang mengincar musuh maka jangan ada yang boleh meminta. Ibaratkan, mangsa itu adalah kue black forest yang khawatir akan diambil oleh kita," seloroh Petir menyahut.


Vay tersenyum tipis mendengarnya dengan iris mata amber langka itu, setia memperhatikan Topan yang hampir saja menebas kaki Matin.


"Uh, ngeri..." lenguh lirih Vay. Pasalnya, Matin pun melayangkan katananya ke arah kepala Topan.


Tetapi tidak semudah itu, Topan jelas berkelit bak menyerupai kecepatan angin. Adanya, Matin tertipu gerakan.

__ADS_1


Topan yang tadinya mengelak, segera berputar kebelakang tubuh Matin. Dan bugh... Aksi flying kick-nya amat keras mengenai kepala belakang Matin. Sampai, sang empu kepala langsung tersungkur kedepan dengan wajahnya terbentur lantai keras. Hidung, bahkan sebagian besar wajah itu sudah berdarah darah.


Tidak mau menyerah, Matin bangkit lagi. Lalu melawan Topan kembali.


Di sisi Badai, sikopet itu tidak suka main main. Maunya to the point. Sehingga ujung katana yang digunakannya, sebelumnya sudah diolesi hasil projek zat kimia yang diinginkan oleh Jerry dan Matin.


"Katana ku sudah mengandung zat lho, Tuan! Mau membuktikan keampuhannya?" Badai berseru seraya menangkis senjata tajam Jerry yang terarah ke perutnya.


Mendengar itu, lantas membuat Jerry was was seketika.


Jangan sampai tergores barang sedikit pun, batinnya sudah kicep kalang kabut. Pelipis yang tadinya berkeringat karena adu jotos, kini menjadi keringat dingin mengalir. Tangannya pun jadi bergetar membuat katana itu ikut bergerak-gerak sendiri dalam genggamannya.


Badai yang melihat air muka ketakutan Jerry, tentu sangat menikmatinya. Jelas dia akan menang dari si tua itu, karena fisik Badai belum ada kata luka di inci kulitnya. Beda dengan Jerry yang sudah buntung satu tangannya.


"Buktikanlah sendiri, sekarang!"


Jleeb.... Sudah bosan memberi nafas bebas untuk Jerry, Badai segera menggores sedikit bagian lengan Jerry, hanya sedikit! Nunggu efek kecanggihan kekuatan racikan mereka beraksi sendiri. Bibir tengil itu seketika bersiul siul seraya perlahan lahan mundur dari posisi tiga langkah dari Jerry.


Ama dan Kurcil lainnya yang menjadi penonton, tidak mau berkedip ke arah korban Badai. Pasalnya, mereka belum menguji coba zat tersebut sebelum digunakan. Kurcil lainnya masih ragu karena tidak memakai kisi kisi yang terdeteksi di dalam chip.


"Oh, tidak.... Aaargh," Jerry terpekik sesaat. Selanjutnya, bibir itu bungkam is dead. Seiring perlahan-lahan bangaka* Jerry, meleleh bak balok es batu mencair menjadi air. Bedanya, mencairnya lebih cepat dan cairan tubuh Jerry mengeluarkan bau anyir.


Berhasil.... lirih sisa Kurcil yang sedang menonton itu. Mimik mereka terlihat jijik, mual pun menyertai dikala melihat tubuh Jerry sudah tidak berbentuk lagi.


Dalam aksi Pe dan Belen...


Praang...


Aksi cantik. Ujung katana Pe berhasil melukai tangan Belen yang terpecahkan perhatiannya ke arah Jerry yang sudah meleleh.


Hingga, senjata panjang nan tajam berkilau itu, jatuh dari genggaman Belen. Pe tersenyum puas. Niatnya sih, ingin mengakhiri hidup Belen sekarang juga, karena khawatir efek obat nyeri itu akan habis. Namun tidak sesuai ekspektasi, Belen ternyata sangat lihai dalam berkelahi serta main katana pun.


"Shiiit...!" umpat kesal Belen. Dia ingin kembali meraih katananya di lantai itu. Namun.... Sreeettt...Pelangi malah bertingkah lagi dengan cara mau menebasnya.


Tak mau mati payah seperti Jerry, Balen segera berguling ke arah kiri.

__ADS_1


Tentu, Pe tidak mau membuang kesempatan emas. Saat Belen ingin bersalto bangun dari lantai, Pe memutar tendangannya ke arah perut Belen.


Alhasil...


"Uhuuuk." Belen batuk-batuk darah. Terhempas jauh akan hasil kekuatan tendangan bertenaga capoera Pe.


"Aku belum kalah!" Belen murka. Segera bangkit karena Pe kembali mendekatinya dengan katana masih tergenggam erat di tangan lembut Pe.


" Ah, sial! obat nyerinya sudah mulai habis." Batin Pelangi gusar. Namun dengan keras kepalanya yang ingin membunuh Belen, Pe tidak memperdulikan tubuhnya yang sudah mulai sedikit goyah.


Kedua wanita itu saling adu kekuatan lagi. Bedanya, Belen tidak menggunakan senjata apapun, hingga hanya sibuk berkelit dan sesekali melawan Pelangi dengan kekuatan beladirinya. Itupun Belen takut terkena katana tajam Pe.


"Hiaaakkk..." Masih punya tenaga meski sedikit. Pe segera menggunakan sebaik mungkin untuk menyerang Belen dengan membabi buta.


Badai yang sudah santai, ikut menjadi penonton aksi Pe dan Topan. Badai sedikit curiga akan gerakan Pe yang sudah tidak prima seperti tadi. Dengan itu, dia sudah mengambil ancang-ancang menyediakan senjata apinya bilamana Belen mengalahkan Pe.


"Jaga tangan mu yang sudah berani mencambuk ku!" Pe memberi aba aba Belen. Padahal, lain di mulut lain pula bidikannya.


Aaaarghhhh, sampai akhirnya lolongan keras pun terdengar pilu dari mulut malang Belen. Dia ditipu Pe.


Pe menggunakan kepicikanya. Katanya saja jaga tangan mu, tetapi yang di tebas oleh Pe adalah kaki kanan Belen. Berlanjut lagi menusuk perut Belen, hingga goodbye tuh nyawa.


Sejurus, Pe pun terduduk lemah. Para Kurcil yang tadinya sibuk menonton, akhirnya menghampiri Pe. Erlan terhalang lagi oleh punggung Vay. Padahal, sedari tadi kesempatan untuk menembak Pe sangat susah.


"Beleeeen....!" Matin yang tadinya terpental karena tendangan Topan lagi, tidak sengaja melihat wanitanya itu sudah merenggang nyawa dengan mata melotot ke arahnya.


"Mati mu akan lebih sadis lagi, Pak Tua." Topan pun sudah mulai bosan untuk bermain-main. Topan sudah pernah berjanji kepada dirinya sendiri kalau dia akan memutilasi Matin dan berakhir akan mencairkan tubuh itu seperti nasib Jerry.


Matin mundur mundur dengan cara ngesot di lantai itu, dikala Topan berjalan pelan dengan ujung katana pria itu sengaja digeretnya di lantai tersebut. Sangat menakutkan bagi Matin, karena di matanya Topan itu sudah macam pembunuh berantai.


"Tunggu Topan!"


Topan menoleh ke asal suara bariton itu, ingin mengetahui suara asing yang mau mencegahnya untuk membunuh Matin.


Para Kurcil pun menoleh kompak dan itu adalah Guntur.

__ADS_1


__ADS_2