Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)

Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)
Mengambil Alih Anjungan Kapal


__ADS_3

Tak...


Tak...


Tak...


Topan dan Badai berjalan santai di dalam kapal dengan penyamarannya yang menggunakan seragam kapten kapal. Pikir mereka sih biar kagak dicurigai.


"Kapten? kok__"


Dua ABK kapal menyapa si Triplets, namun sejurus mereka mengerutkan keningnya karena baru melihat ada kapten lain yang berwajah asing bagi mereka.


Bughh..


Bughh...


Badai dan Topan segera melumpuhkan dua ABK itu dengan cara memukul tengkuk tersebut , amat keras.


"Menyusahkan," beo Topan. Dia dan Badai menyembunyikan orang yang sudah pingsan itu masuk ke toilet. Lalu menguncinya rapat rapat.


"Ayo, Dai! kita harus bergegas mengendalikan kemudi kapal ini."


"Ayo!" setuju Badai. "Lewat sini saja." Badai memimpin jalan menaiki tangga menuju ke anjungan kapal, di mana itu adalah tempat Nakhoda mengemudi.


"Hais, Pan... Mundur! ada ABK, kali ini banyak," ujar Badai. Segera turun tangga lagi.


Topan pun menurut, dan segera menarik tangan Badai bersembunyi dibelakang tangga.


Tak...


Tak...


Tak...


Awak kapal yang berjumlah delapan orang itu, menuruni tangga dengan obrolan tujuan berlayar mereka yang katanya akan berlapak di Asia terlebih dahulu.


" Yang ada mayat kalian akan dimakan hiu dalam beberapa jam lagi," lirih Topan dalam hati.


"Sudah aman! Dan aku tidak suka berkucing-kucingan seperti ini." keluh Topan seraya berjalan ke arah tujuannya.


Dia lebih suka baku hantam bersama musuh secara jantan dari pada tipu tipu macho dalam menjalankan misi. Tetapi, mau bagaimana lagi? dia hanya menuruti plan plan yang dititahkan Dibi.


"Sudahlah! intinya mereka pasti akan mati tanpa beradu otot. Hitung-hitung ini berhemat tenaga," sahut Badai.


Ahhh, uhhh...yes. Ohhh...


Sampai di depan pintu anjungan kapal. Topan dan Badai saling kode mata. Entah apa yang dilakukan oleh Nakhoda di dalam sana? suara laknat kepedesan terdengar mengema.

__ADS_1


Penasaran, Badai mengintip ke cela pintu yang terbuka sedikit.


Shiiit... umpatnya menarik kembali kepalanya, lalu melirik Topan yang menyunggingkan senyum miring nya.


" Mereka pesta se*, satu cewek dua lakik eh tiga ding. Cuma satunya lagi mengemudi kapal seraya menonton secara live. Tetapi sama saja cabul, ia hanya menggunakan celana pendek doang. Gilak badan mereka seperti buyutnya gorila," bisik Badai menjelaskan sedatail mungkin.


Tuinggg... Topan malah menoyor jidat adiknya.


"Aku tau, suara begitu jelas lagi wik wik. Lagian pakai ngintip segala, mata bintitan tau rasa." Topan menggeleng geleng bodoh... apakah iya, adiknya sepolos itu? batinnya bertanya tanya.


" Mana aku tau...aku 'kan masih polos. Secara, aku tidak punya pacar untuk diajak mendesssah bersama ." Badai sok lugu. Padahal, dalam otaknya terlintas pada wanita yang sudah pernah memuaskannya.


Dan Embun yang berada jauh dalam kesibukannya, tetiba bersin bersin tidak jelas.


Huawaaaciii... Huawaaaciii....


"Virus sialan!" oceh Embun seraya melempar tissue bekas pakainya.


Kembali ke Triplets. Kedua pria itu masih di depan pintu anjungan kapal, berbisik bisik.


" Jadi bagaimana?" Badai ragu untuk masuk menyerang. Masalahnya, nanti kalau dia On, gimana coba? Topan 'kan punya Nana, sementara dia kagak punya wanita, ogah juga wanita bayaran.


Dan toyoran kedua kembali menghardik jidat nya.


"Dari tadi toyor mulu sih, ah! kesal gue," omelnya dengan bibir itu cemberut.


"Lagian, pakai nanya bagaimana? Ya kita masuklah! Seperti ini...."


Tanpa ba bi bu, Topan main menendang pintu itu. Sang empu anjungan amat sangat terkejut. Tetapi sang wanita ogah turun dari salah satu tubuh pria berkulit hitam itu.


"Wow, ada dua Nakhoda, lagi. Apakah mereka juga yang akan aku puaskan? kemarilah tampan, kita menikmati nya bersama sama," sang wanita melambai mesra ke Triplets.


Topan-Badai mual, jadinya. iya kali berbagi lubang. Hancurlah pamor si Juni, iye kan? Yang ada bukannya puas malah penyakitan.


"Kalian siapa? apakah bos merekrut anggota baru?" tanya salah satu pria itu.


"Dan sialnya, bukan..."


Dor...


Dor...


Topan menggantung ucapannya, menggantinya dengan dua letusan senjata api, mengenai dua pria yang lagi wik wik itu.


"Kalian penyusup!"


Pria yang masih hidup segera menyerang Topan, dengan cepat senjata Topan sudah terpental jauh. Dan akhirnya, mereka beradu otot.

__ADS_1


Badai sendiri dihadapkan oleh wanita yang bernaked, tanpa malu berdecak pinggang penuh kemarahan karena sudah diganggu kesenangannya.


"Penyusup sialan, pengganggu! matilah kamu..." Maki perempuan itu seraya maju bermaksud menghajar Badai.


"Topan, tolong! Tokeknya kagak kuat!"


Badai malah kabur dari serangan sang wanita, bermaksud bersembunyi ke Topan yang masih adu kekuatan.


Dari pada berkelahi bersama wanita yang ehem naked, yang mungkin bisa membuatnya galfok karena dua balon besar di dada itu serta bagian ehem yang ada hutan Amazon nya, mending Badai memilih berkelahi dengan pria Afrika itu.


"Shiitt, Badai!" bentak Topan. Adik kurang ajarnya main tendang bokongnya, hingga terhempas dan terhenti tepat di hadapan dua gundukan sang wanita.


Bughh... wanita itu murka.


Hingga, Topan dapat tonjokan kuat tepat pada wajahnya karena sempat galfok. Tidak sempat mengelak, dia pun tersungkur ke lantai dengan hidung sudah berdenyut sakit.


"Tuh, kan!" racau Badai. Sempat sempatnya melirik Topan yang oleng karena pemandangan gratis. Padahal, dia juga dalam adu otot yang lawannya sangat kuat.


"Ini meresahkan!" Topan mimisan. Ternyata wanita itu bukanlah wanita sembarangan, melainkan cukup terlatih. Oke... dia tidak akan galfok lagi. Dalam hatinya mensugesti otaknya, itu hanya patung yang sering dilihatnya di ruangan Dokter Badai.


"Hiaaakkk," wanita itu maju lagi. Membawa tonjokan demi tonjokannya membabi buta ke segala kesempatan untuk membunuh Topan.


Tetapi dengan lincah, Topan pun menangkisnya. Hingga dapat kesempatan untuk memutar tendangannya ke arah kaleng sus*.


Terjeda, Topan menahan kakinya agar tidak menyentuh dua kaleng sus* itu. Jangan sampai kakinya ternodai, sayang karena masih perjaka, pikirnya begitu.


Akhirnya, Topan memutuskan menggerakkan kaki kuatnya turun tepat di kulit perut sang wanita. Hingga....


Braakk, Uhuuuk Uhuuuk...


Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Itulah yang terjadi pada sang wanita. Tersungkur, jatuh tepat di sebuah pecahan beling kaca, hingga perut itu tertancap membunuh nya.


"Huu, sangat menyusahkan!" keluh Topan menyeka darah yang keluar lagi dari hidungnya. Diapun melirik Badai yang hampir keinjak perutnya oleh pria jelek itu, yang sebelumnya adiknya terhempas kuat ke lantai.


Badai mengelak, lalu mengayunkan kakinya yang terbaring. Braakk...Sang pria lawan nya terjatuh karena tulang keringnya di sandung oleh Badai.


"Mati kamu!"


Secepatnya, Badai menduduki perut musuh nya, lalu menancapkan pisaunya ke mata sang lawan. Hingga, darah yang muncrat dari pria tersebut, mengenai wajah serta sebagian baju putihnya.


Tentu saja orang itu langsung skakmat.


"Iyuuuhh, sangat menjijikan!" keluh Badai seraya wajahnya dia seka asal asalan menggunakan lengan bajunya yang bersih dari darah.


Topan yang sedari tadi sudah santai, tercengir bodoh ke Badai yang bergidik terus seraya menurunkan kecepatan kemudi, agar kapal tidak terlalu jauh berlayar.


"Kemudi kapal sudah di tangan kami." Topan melapor melalui earphonenya.

__ADS_1


" Laporan terdengar!" jawab Dibi di seberang earphonenya. Kurcil lainnya pun menyahut lirih yang sama-sama sibuk menaruh bom di tempat tertentu.


Ama? jangan ditanya. Penyamarannya yang terbatas karena ogah jadi kuli panggul jelek, akhirnya bersembunyi yang tidak sengaja memasuki dapur kapal. Dia duduk di samping kulkas besar, dengan satu piring kue coklat kesukaannya. Mumpung dapur sepi, katanya.


__ADS_2