
Separuh dedaunan yang ada di pesisir pantai, terlihat bergoyang. Terhembus angin dari baling baling helikopter Pe dan Dibi, yang baru saja mendarat sempurna di pulau tersebut.
"Pe!" Tahan Dibi di bahu Pe yang akan turun dari helikopter.
Pe pun menoleh dan mengurungkan niatnya terlebih dahulu.
"Ada apa? aku tidak punya banyak waktu, Kak. Obat anti nyeri di tubuhku, mempunyai kelemahan waktu. Jadi, katakan segera!" Seru Pe, cepat.
"Tidak ada apa apa. Cuma mau mengingatkan, hati hati selalu. Kamu harus janji tidak akan terluka lebih dari luka cambukan itu. Kamu tahu sendiri, Topan akan mengamuk menyalahkan aku yang tidak bisa melaria mu untuk datang kemari," ujar Dibi dengan kecemasannya ke Pe.
"Eum, pasti. Ayo bergerak!" Seru Pelangi menjawab singkat.
Setelah menepis tangan Dibi dari bahunya, Pe secepat lompat dari helikopternya. Katana yang tergantung di punggung, serta senjata api pun sudah siap di tangannya. Rambut panjang yang dikuncir kuda terlihat bergoyang, seiras dari langkah cepatnya menuju markas. Dibi pun setia berjalan disisi Pe, untuk selalu menjaga gadis yang sudah dianggapnya adik sendiri.
Pe dan Dibi, tepat mengambil arah jalan yang Topan dan Badai bantai.
"Hais, mereka sudah memakan korban banyak," ucap Pe seraya berlompat untuk menghindari mayat yang terkepar.
"Terpenting, mayat itu bukan dari pihak kita," Dibi tersungging puas akan kerjaan si setan setan Kurcil.
...***...
Di sisi Belen cs, ketiganya itu berada di atas gedung markas yang bertingkat lima, untuk menyiapkan serangan balik buat Kurcil terima.
"Sialan! Kenapa mereka bisa mengetahui tempat terpencil ini," marah Matin tidak habis pikir. Sejurus, doaaar... dia menembakkan senjata peledak berjenis basoka untuk menjatuhkan helikopter anak buah Topan, yang sedari tadi melempar bom dari atas. Alhasil, helikopter itu meledak di udara.
Topan yang melihat dari darat. Segera mencari si pelaku, tetapi belum melihatnya karena ada musuh yang membuat kefokusannya buyar. Topan pun kembali membantai musuh yang tidak kunjung habis. Katana dan pistol bergantian dia gunakan yang berada ditangan masing-masing.
"Mati kalian!" Di sudut bagian barat, Belen pun memposisikan senjata peledak hebat itu, ke arah gerombolan Topan dan Badai pimpin. Dia masih mencari target strategisnya.
"Aku yang akan menang, dan kalian hanya akan dikenang nama saja!" Geram Jerry pun yang sama saja menggunakan basoka. Bedanya, dia memposisikan senjata itu ke gerombolan Guruh dan Lautan pimpin.
__ADS_1
Dan blussss....
Belen dan Jerry tanpa janjian, mereka kompak meluncurkan peledak itu ke arah bidikan masing-masing.
Boooomm... Dua gerombolan di tempat berbeda terpanggang. Syukurnya, Kurcil yang memimpin pasukan berada jauh dari bidikkan basoka, sehingga hanya terkena uap panasnya saja. Belen dan Jerry tidak peduli, kalau anak buahnya pun ada diantara orang orang yang di bomnya.
Shiiiit...
Damn it...
Umpat Topan, Badai serta Lautan, dan Guruh di posisi mereka. Anak buahnya banyak yang mati, walaupun hanya sekali ledakan.
Topan menangadakan kepalanya ke roof top markas. Dia menebak, arah tembakan basoka berasal dari sana.
"Hati hati, Kurcil! tembakan basoka berasal dari roof top. Aku serahkan para anak buah yang banyak itu ke tangan sadis kalian. Aku akan mencoba menggapai roof top," terang Topan melalui earphonenya.
Seruan setuju pun kompak terdengar menyahut Topan.
"Dai, tolong cari Gerhana untuk ku! aku mempercayaimu!" pinta Topan melalui earphone lagi.
"Baiklah," sahut Badai setuju. Dia paham maksud Topan yang segera ingin mencari Matin cs tanpa berlama-lama. Badai pun, berlari cepat untuk menggapai masuk ke dalam markas.
Sementara, Kurcil lainnya memutuskan untuk membantai anak buah musuhnya yang masih saja terbilang banyak seperti gerombolan semut, tidak ada habis habisnya.
"Badai!"
"Pe...." lirih Badai. Terpaku di pintu masuk, dia pun berbalik cepat. "Ternyata benar, kamu?" Tanyanya dengan nada tidak percaya.
Dari sudut mata Badai pun, ada Dibi yang sedang berkelahi bersama musuh yang mencoba mengganggu Pe.
"Berjongkok!"
__ADS_1
Pe yang tadinya tersenyum tipis ke Badai, tetiba terpekik memberi titah ke Badai yang masih terpaku saja karena melihatnya di tempat peperangan ini.
Badai yang terkesiap, segera menuruti perintah Pe. Kakak kembarnya itu dengan cepat, menembak satu musuh yang akan menebas kepala Badai dari arah belakang.
"Hampir saja kepalamu hilang," ujar Pelangi seraya menampar pipi Badai yang masih cengong saja.
"Aku bukan, hantu!" Seru Pe dengan suara tegasnya agar Badai tersadar dari kekonyolan kagetnya.
"Hais, sakit!" Ringis Badai.
Pelangi tidak memperdulikan nya. Gadis yang dendam ke Belen dan Jerry itu, melangkah cepat masuk kedalam markas, meninggalkan Dibi yang masih beradu katana.
Badai pun masuk dengan sudut mata elangnya sesekali waspada, takut takut ada musuh yang tidak terduga.
"Aku akan menyusul Topan ke roof top, kamu pergilah menjalankan tugasmu," ujar Pe seraya mengambil jalan dimana ada tangga darurat.
Pe tidak mau membuang waktu terbatasnya, akan obat anti nyeri di tubuhnya yang mungkin saja habis sebelum memberi pelajaran ke Belen.
"Hais, ternyata Pe sedari tadi sudah bergabung?" tanya Badai pada diri sendiri yang sudah mengambil arah lain pun. "Bukti nya, dia tahu kalau Topan menuju roof top," sambungnya. Dia sebenarnya ingin memarahi aksi nekat Pe yang main datang ke tempat berbahaya, dalam keadaan tidak terlalu fit. Tetapi, ini bukan waktu tepat untuk marah marah.
"Pe!" Dibi baru kehilangan sang empu nama, ketika baru selesai menghabisi musuh.
Dibi pun memutuskan untuk masuk ke markas tanpa arah tujuan, karena tidak tahu Pe akan menuju kemana.
Di sisi Badai yang sudah berkeliling dari ruangan demi ruangan untuk mencari Gerhana. Kini, dia tidak sengaja melewati ruangan khusus medis, di mana ada Gerhana yang sedang ditangani Embun yang belum berhasil mengeluarkan chip itu.
Peluh sudah membasahi seluruh kening Embun yang kualahan tanpa adanya bantuan dari pihak medis lainnya.
Ceklek...
"Gerhana!" Seru Badai. Air mukanya langsung mengeras dikala melihat seseorang yang menggunakan masker serta atribut kedokteran lainnya, yang sedang membedah kekasih kakak kembarnya.
__ADS_1