Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)

Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)
Hanya Tipuan Belaka Untuk Vay


__ADS_3

"Vay, lo di dalam sana tidur apa mandi sih? lama amat hanya sekedar mandi saja. Buru dong keluar! Nih, makanan juga uda datang, nanti keburu dingin kagak enak jadinya. Gue baik lho mesenin makanan yang bergizi agar lo prima ngelayani gue."


Petir berteriak di depan pintu kamar mandi, sudah satu jam setengah, Vay berada di dalam sana tanpa ada tanda-tanda terbuka. Dia jadi gemas dan sesekali menggedor pintu tersebut.


Dengan apa boleh buat, Vay yang kicep sebenarnya, mau tidak mau keluar dari kamar mandi itu. Toh, sekarang atau nanti... Petir tetap saja memakannya. Dasar memang tidak ada belas kasihnya ke sahabat. Kagak pandang bulu bagi si kilat Don Juan itu, yang penting ada lubangnya. Vay jadi kesal mengubun, mau marah ke Petir, ini juga kebodohan terhakikinya yang main duel saja. Mau pasrah sajalah si Neng Bule ini.


Saat ini, Vay hanya menggunakan bathrobe hotel yang kedodoran menyelimuti tubuh kecilnya, tali handuk itu dia ikat sekenceng-kencengnya.


Aroma makanan yang menyeruak di kamar itu, seakan menghipnotis perutnya.


"Keluar juga," kata Petir seraya menatap penampilan Vay. Katanya mandi? rambut kok setia kering yang di cepol tinggi tinggi.


"Apa lihat lihat, mau ku colok?" sarkas Vay.


Petir malah mengangguk manis dan berkata. "Mau dong di colok, sebelum gue nyolok lo." Godanya memajukan wajahnya sesaat ke Vay dan segera mungkin mengelak menuju sofa saat Vay sudah memasang jarinya.


"Mesum!" ketus Vay. Segera menyusul Petir di sebuah sofa panjang dengan meja yang sudah terisi beberapa jenis makanan. Vay pun duduk manis dengan lidah sudah tidak sabaran mau mencicipi makanan lezat di hadapannya.


Kalau soal makan bagi Vay, juara! kagak nolak. Rasa kesalnya dia kesampingkan dahulu. Lapar oh lapar!


"Makan menggunakan handuk itu kagak nyaman ya, ribet." Petir menggoda, handuk yang masih melilit di pinggangnya berangsur dia lepas.


"Ehh, jangan!" Vay segera menahan Petir dengan tangannya yang sudah berkeringat dingin. Rasa laparnya jadi menguap lagi.


"Ayolah, Vay! tidak usah malu-malu, cepat atau lambat itu ku akan bersatu hangat penuh nikmat dengan itu mu."


Dalam hati, Petir amat riang sudah membuat Vay masuk ke dalam perangkap manisnya. Bahkan, Neng Bule ini tidak bisa bersuara sama sekali karena godaan agresifnya. Ituku dan Itumu! Neng Bule butuh air, mendadak haus.


Pergerakan cepat, Petir main tarik handuknya sendiri. Vay sampai memejamkan matanya, masa iya dalam keadaan makan disertai pemandangan Juni-or Petir sih? Yang ada salah fokus, coeg.


"Vay, apa sudah tidak sabar ingin diserang, hingga pasrah menutup mata begitu? Makan dulu!"


Vay merinding tatkala Petir berbisik di telinganya. Ragu ragu dengan wajah sudah memerah tomat busuk, Vay pun membuka matanya. Dan....ah, lega! Ternyata Petir menggunakan celana pendek, tapi ya.... tetap saja meresahkan, karena Petir tetap saja ber shirtless bin bertelanjang dada.

__ADS_1


"Ayo, makan ini! kamu bukannya sangat suka makan olahan udang galah 'kan? ini khusus untuk mu. Dan jus jeruk itu juga khusus pakai benget, yang ku sediakan hanya untuk Neng Bule."


Dengan tubuh bertelanjang dada, Petir amat cekatan melayani Vay dalam piring itu.


Mereka pun makan dalam diam masing-masing. Vay sengaja melambatkan cara makannya, padahal udang saos mayonaise itu serasa mau kabur karena tidak buru buru dihabiskan.


"Eeh, enak saja! ini punya ku." Vay menepis tangan Petir yang ingin menandas licinkan olahan udang itu. Dan segera mungkin, Vay melahapnya cepat... dari pada direbut Petir, sayang.


"Vay, Vay!" Petir terkekeh geli. Neng Bulenya ternyata lucu. Badan aja kecil, tapi makannya melebihi pekerja kebun.


Uhuuuk...


Keselek kan!


Petir terkekeh kembali, dan segera menarik satu gelas jus khusus untuk Vay minum.


"Ayo, habiskan!"


Vay yang memang batuk batuk butuh air, segera saja meneguk jus itu. Rasanya, seperti ada bubuk bubuk pahit yang tertinggal di lidahnya. Tetapi, karena nervous akan Petir yang terus menatapnya penuh arti, dia jadi mengabaikan rasa obat tidur yang memang sengaja di taruh oleh Petir di jus tersebut.


Glek...


Vay serasa menelan batu. Aaargh, matilah aku kali ini! Adakah ibu peri? batin Vay meracau asal asalan.


"Oh, ya ampun! mejanya kok jorok amat ya. Tidak baik setelah makan mengabaikan bungkus makanan serta piring kotor. Mejanya juga butuh di lap biar bersih dan nyaman terlihat."


Alasan, Vay menyibukkan dirinya sendiri biar bisa mengulur waktu pertempuran. Bahkan saking rajinnya, meja yang tidak ada noda pun dia lap lap pakai tissue.


"Kenapa harus repot repot membersihkannya? Ini tugas bill hotel."


Vay tertahan, saat melangkah ke arah tempat sampah. Kini, perutnya sudah dipeluk erat Petir dari belakang. Bulu kuduknya pun kian berdiri tatkala nafas Petir menelusuri tengkuknya. Bahkan, Petir sengaja menelusupkan wajah tampan itu ke lehernya, dan sesekali memberi tanda merah di sana.


Mungkin ini lah detik detik tubuhnya akan dijamah. Vay ingin memberontak dengan tangan sudah mengepal kuat ingin men-jab wajah Petir. Tetapi....rasa rasanya, matanya kian terpejam, rasa kantuknya melemahkan saraf sarafnya hingga kepalan itu sudah terjatuh lemah.

__ADS_1


Sebelum kesadarannya habis, Vay juga merasakan kakinya sudah tidak berpijak, dia seakan melayang oleh tangan seseorang.


"Jangan sakiti aku, ku mohon. Jangan, jangan." Vay menceracau yang dia pun tidak tahu berucap apa. Bahkan dalam gendongan itu, bulir air matanya menetes sedikit membasahi telinganya.


Masih setengah sadar. Entah benar, Vay merasakan keningnya dikecup hangat. Lalu, gelap! dia sudah memejamkan mata seutuhnya.


"Aku tidak akan mencurangi mu sampai di luar batas, Vay. Cuma sedikit saja. Tenanglah dan maafkan aku yang sudah membuat rencana licik ini demi mendapatkan mu. Cole tidak pantas memiliki mu. Cole pria bejat, Vay. Cinta besarmu ke dia membutakan mata mu. Kamu di sini setia, tetapi aku yakin... Cole sekarang bersama wanita lain di Belanda sana."


Petir berucap lirih di sisi telinga Vay yang sudah terbaring di atas kasur. Tangannya pun menghapus buliran air mata Vay yang mengenang di sudut sudut mata itu. Ternyata, wanita yang di juluki ratu hacker ini, takut dijamah rupanya.


Petir memang mempunyai mata mata terpercaya di Belanda sana untuk mengikuti Cole. Dia ingin tahu, seberapa cintanya pria itu kesahabat terkasihnya? Kalau cinta Cole begitu tulus, maka dengan lapang dada... Petir akan mengubur dalam-dalam perasaan sukanya ke Neng Bule-nya ini. Tetapi faktanya, Cole tidak setia...Vay ditipu cintanya.


Mau menjelaskan ke Vay, mana percaya si Vay kepada-nya. Bukannya ada pepatah mengatakan, Cinta itu buta! Dan Vay memang buta sekarang yang tidak bisa melihat kecurangan Cole. Biarkan waktu terciduk itu datang sendirinya untuk Vay ketahui. Petir masih setia menunggu.


Sesuai rencana, Petir sudah mengatur sedemikian mungkin kameranya untuk mengambil gambar yang seolah-olah bercinta begitu panas.


Petir pun perlahan menarik tali bathrobe Vay. Menghela handuk itu hingga memperlihatkan dada Vay. Sedikit terbuai dengan pemandangan bongkahan kembar Vay yang masih menggunakan kacamata. Petir menggelengkan kepalanya untuk membuang pikiran mesumnya.


"Jangan Petir! Jangan sentuh, jangan tergoda walaupun dibawah sana sudah memberontak. Bisa ada perang dunia antara Batara dan Abraham, nanti."


Petir memperingati diri sendiri. Agar cepat kelar urusannya yang bisa saja berubah pikiran untuk menjamah tubuh empuk itu, Petir segera naik ke tubuh Vay, dan mengambil posisi yang bisa ditangkap kamera, seolah olah sedang melakukan aktivitas panas.


Shiiit, saat dada bidangnya tersentuh gundukan Vay yang masih berkacamata, dia tetiba khilaf pemirsa. Tidak kuat juga kalau tidak mencicipi bibir ranum itu. Coba seupil bolehlah!


Dan akhirnya, Petir sedikit mencuri kecupan manis bibir Vay. Masih kurang, Petir jadi ketagihan, dari kecupan sedikit akhirnya menjadi lamutaaan liar sendiri yang tentunya tidak ada balasan dari Vay.


Saking panas rasa laki itu, tangan Petir ingin menelusup masuk ke kacamata Vay. Namun....


PETIR... Nyawa Lo ada berapa?


Petir sadar dari kekhilafannya yang sedang memejamkan mata untuk meresapi ciuman liarnya. Kupingnya itu seakan akan mendengar suara gelegar Nata-Ayah Vay. Tapi mana?


"Gila, kesadisan Om Nata sampai dimari!"

__ADS_1


Petir bergegas membetulkan kembali bathrobe Vay. Setelahnya, dia ngebirit masuk ke dalam kamar mandi. Main solo bersama....Ya, sejenis Tante Lux, karena hotel tidak memakai merk itu melainkan lebih elit lagi dengan logo hotel itu tersendiri.


__ADS_2