
Badai menabuh genderang perang tanpa berkucing-kucingan. Secara jantan dia memberi kode untuk Jerry terima, dengan tulisan pisau di potongan tangan Tommy... KURCIL SMART.
Lagian, siapa yang tidak kenal Mentri itu? Vay dengan keahlian retasnya pernah menjelaskan identitas busuk orang orang penting di Negara ini. Termasuk Jerry yang mempunyai organisasi Mafia, bergerak di pasar obat terlarang. Dia yakin, Jerry Mentri ini adalah Jerry yang sama dalam pasar narkoba yang tidak bisa diendus oleh polisi, karena kekuasaan Jerry sebagai Mentri penting yang sudah membeli mulut pihak berwajib.
Kalau kekuasaan sudah dibeli maka apapun bisa dilakukan oleh penjahat kakap untuk menguasai keinginannya, bukan? Dengan itu, Badai ingin bermain dengan orang orang yang busuk seperti orang tua Tommy.
"Carilah nama ini! kalau kalian bisa menemukannya berarti kalian hebat. Lawan yang sepadan bagi Kurcil." Sudut bibir Badai tersungging tajam seraya menulis huruf-huruf itu di kulit tangan putih Tommy.
Badai ini tidak akan takut untuk bersenggol bacok ke orang siapapun yang menurutnya patut untuk disembelih... salah satunya Jerry itu.
Sesuai niatnya, Badai membawa separuh potongan tubuh korbannya dengan bungkusan asal asalan, tubuh lainnya dia tinggal begitu saja. Dan cara membawanya pun sangat tidak manusiawi, sikopet ini main geret saja baju yang berisi daging alot Tommy.
"Bos, saya mencari Anda sedari tadi."
Bantuan transportasi datang dari Miko yang amat heran melihat penampilan Badai seperti setan berdarah-darah.
Wajah bos-nya yang tadinya tampan rupawan kini tidak berbentuk bidadara lagi, melainkan singa yang rupa rupanya habis mencabik cabik mangsanya. Rambut basah lengket penuh bercak darah, pokoknya wajah Badai seperti di siram oleh darah segar dengan tubuh bertelanjang dada. Ngeri amat, iiiihh! Batin Miko yang mual karena bau amis darah itu menyeruak. Bahunya pun nampak bergidik jijik.
"Miko! kirim bingkisan ku ke alamat yang tertera di kartu nama tersebut sekarang juga, Ayo!"
Badai acuh akan mimik Miko yang ketahuan sekali menatapnya jijik. Dia lekas masuk ke mobil setelah bungkusan spesialnya di ambil alih tangan Miko.
Isinya kepala! Iiuhhh, sangat mengerikan.
Miko menahan nafasnya dalam-dalam saat mengintip sedikit isi bungkusan baju Badai. Tanpa manusiawi pun karena kaget, Miko melempar bungkusan itu masuk kedalam bagasi mobil. Sebenarnya Miko menahan isi perut nya yang ingin mencelat dari kerongkongannya.
__ADS_1
...*****...
"Lempar!"
Bugh....
"Woi, siapa itu?"
Miko menuruti perintah Badai yang menyuruhnya untuk melempar bungkusan penuh darah itu, melalui pagar tinggi di hadapannya. Rumah tersebut adalah rumah pribadi Jerry.
Sebelum ketahuan oleh penjaga pagar yang terdengar berteriak kaget. Miko segera masuk ke mobilnya dan menancap pedal gasnya untuk meninggalkan tempat.
Hoeeek...
" Hoekkk, siapa pelakunya yang amat keji melakukan ini?"
"Tidak perlu memikirkan itu terlebih dahulu, yang terpenting kita gegas lapor ke bos. Ini adalah kepala Tuan To-Tommy."
Salah satu orang itu mengenali wajah Tommy yang sudah tidak berbentuk karena darah di mana-mana.
"A-APA? Ke-kepala Tom_Tommy?"
Jerry tergagap setelah mendengar laporan anak buahnya. Dia pun bergegas ke halaman rumah untuk memastikan itu.
Kaki Jerry terpaku, rasa mual di perutnya kini menyapa saat matanya disuguhi pemandangan yang hasil kekejian Badai.
__ADS_1
"Tommy! Tom_my, ini...."
Semua saraf saraf Jerry terasa lumpuh seketika. Suaranya pun tercekat, tidak mampu melihat anak tersayangnya menjadi korban mutilasi, dia sampai memejamkan matanya.
"Aaaarghhhh, siapa yang melakukannya? Aaaarghhhh, sialan! bacingan! biadab! bedebah!"
Jerry murka! rasa rasanya seluruh darahnya mendidih ingin mengamuk saat ini juga. Beberapa anak buahnya perlahan mundur pelan. Tidak mau menjadi sasaran empuk sang bos.
"AKU AKAN MEMBALAS SEMUA INI KE ORANG TERKUTUK ITU. SIAPAPUN PELAKUNYA! AAAARGHHHH!!!"
Jerry meraung-raung amat geram seraya meninju ninju tanah yang saat ini sedang berlutut di hadapan potongan tubuh Tommy.
"Maafkan, Daddy, Nak. Daddy bersumpah akan memotong kepala orang yang telah melakukan ini kepadamu. Dan pasti karena perburuan mu terhadap gadis itu bukan?"
Seperti orang gila, Jerry berbicara pilu ke daging anaknya. Rasa sesal telah menelisik perasaannya karena tadi dia tidak ikut menemani Tommy dalam berburu gadis yang diinginkan anaknya.
"Ayo katakan! Gadis itu pelakunya, kan? Daddy___ Kurcil Smart?"
Jerry terhenti dari racaunya saat matanya menangkap tulisan itu dari tangan anaknya. Serasa, nama klan tersebut tidak asing baginya.
"Aaaarghhhh, mereka pelakunya?! Pembuat chip itu pelakunya! aaaarghhhh, Sialan kalian!"
Sekali lagi, Jerry berteriak-teriak marah. Buku buku jarinya sampai memutih dalam kepalan tangannya yang siap berperang mencari si pelaku.
"TUNGGU PEMBALASAN KU!"
__ADS_1