
"Uh..."
Gerhana baru siuman, dia melenguh lirih. Terasa, kepalanya masih berdentam hebat.
Pergerakan itu disaksikan Topan yang duduk datar di sofa tak jauh dari bed Gerhana.
"Sudah bangun, Nona?" tanya Topan tapi enggan untuk beranjak dari sofa. Gerhana menoleh ke suara datar tanpa adanya emosi apapun, pokoknya tanpa gelombang. Dia 'kan juga malas untuk menyahut.
"Kenapa diam saja?"
"Kamu buta?" cetus Gerhana. "Mata aku sudah melek lebar begini, itu tandanya sudah bangun. Gimana sih? kamu bodoh atau apa?"
Ini kenapa si Inces lemot yang jadi ketus? harusnya aku yang marah akan kejadian di kolam buaya, batin Topan bersabar.
"Kenapa kamu mencoba melarikan diri, hah? hingga melakukan hal bodoh seperti dua hari yang lalu di kolam buaya? kamu bosan hidup?" cerca Topan seraya beranjak dari sofa dan mengikis jarak ke bed.
"Dua hari?" ulang Gerhana. Dia nampak terkejut, ternyata dia tidak sadarkan diri dalam dua hari? Oh My God! itu tandanya dia bolos kerja selama itu.
"Ya, dua hari!" Topan sudah berdiri di sisi bed. Suaranya mengejek Gerhana yang cengong.
"Aku mau pergi__ dan ah, kalian kenapa sih punya peliharaan berbahaya seperti buaya jelek itu? kalian tuh seram tau nggak. Wajah rupawan tapi aslinya macam ghost, mengerikan dari apapun."
Gerhana mengoceh tanya, tanpa ingin tahu jawabannya karena dia terburu buru mau meninggalkan tempat yang menurutnya neraka di alam dunia ini. Pekerjaannya lebih penting saat ini. Lagian kalau dia dipecat, siapa coba yang akan memberinya makan?
"Mau kemana? kamu pikir akan mudah lari dariku, hah?" Topan menahan lengan Gerhana yang mau pergi.
"Aku mau pergi!" Gerhana menepis tangan Topan. "Jangan sentuh aku," warning-nya dengan tatapan tajamnya.
Topan malah menyeringai, cepat-cepat ke arah pintu dan menguncinya rapat rapat. Gerhana mendelikkan matanya.
"Enak saja setelah kekacauan menegangkan yang ditimbulkan olehmu, dan berharap bisa main pergi begitu saja. Tidak akan!" Apalagi chipku ada pada dirimu, sambungnya dalam hati.
__ADS_1
Topan merasa belum saatnya untuk menceritakan tentang chip itu yang tertanam di dalam tubuh Nana.
"Yeakh, aku mau pergi. Tolong biarakan aku pergi!" pinta Gerhana. Dia berusaha ingin membuka pintu. Merasa percuma dia kembali berbalik menatap Topan yang sudah kembali duduk datar di sofa.
Gerhana mengikis jarak.
"Mau kamu apa sebenarnya? kita tidak saling kenal? jadi kamu tidak berhak menahan ku di sini. Masalah kekacauan di kandang buaya, itu 'kan di luar keinginan ku."
Topan menulikan telinganya akan ocehan Gerhana. Dia justru sengaja memakai earphone musik agar tidak mendengar mulut bawel Gerhana. Pokoknya, dia akan mengurung Gerhana bagaimana pun caranya. Dan ini adalah cara dia yang terkesan sangat menyebalkan bagi Gerhana.
"TOPAN!" Gerhana geram tertahan. Dia duduk di sisi Topan dan mengangkat tangannya seperti mau meremasss wajah Topan yang datar sekali.
Topan hanya menatap acuh tak acuh tangan di atas udara tepat di hadapan wajahnya. Sejurus dia menoleh ke samping dan membuka earphonenya.
"Kamu mau meraih wajah ku untuk di cium, eum? silakan saja, aku pasrah." Topan menggoda. Memasang wajahnya agar lebih dekat lagi di hadapan wajah Gerhana. Jurus ampuh untuk membuat sebagian wanita bungkam adalah kemesuman.
"Cabul!" kesal Gerhana memukul wajah Topan dengan majalah yang diraihnya asal asalan di meja kaca hadapannya.
"Kamu itu__"
"Aaargh, nyebelin___Hmpppp"
Topan tidak pernah berucap omong kosong tentang ancaman yang sudah terlontar dari mulutnya. Dia seketika menarik tengkuk Gerhana dan melahap bibir itu rakus-rakus. Hatinya selalu berdegup kencang, bila mana bersentuhan oleh gadis masa kecilnya ini. Dalam hidupnya, ini memang hal gila baginya. Tapi Gerhana sudah menebarkan racun sialan yang di sebut benih cinta di hati Topan. Maka maaf Nana, aku tidak akan melepaskanmu barang sedikit pun, batinnya sudah posesif mengubun.
Hmmmpp...
Gerhana meronta, berusaha lepas dari belitan bibir Topan dengan cara memukul dan mendorong-dorong dada bidang itu. Hmm, tapi nihil! Bukannya terlepas, justru pagutan itu lebih diperdalam oleh kegilaan Topan.
Apa boleh buat, Gerhana yang sudah lelah hanya pasrah diam, tapi ogah juga membalas ciuman itu. Mata itu hanya terbelalak dengan sinar kekesalannya, membiarkan Topan mencuri kemanisan bibirnya. Tapi dalam hatinya berucap sumpah serapah menghardik Topan. Tidak manusiawi.
Karena sudah tidak ada perlawanan, Topan akhirnya melepaskan bibirnya dan berkata santai. " Ini sudah malam, tidurlah!" katanya tidak mau dibantah. Wajah itu pun menampilkan wajah tak berdosanya, padahal Nana sudah mangap mangap mencuri nafas yang hampir habis dicuri Topan.
__ADS_1
"Jangan berisik lagi, karena aku tidak suka mendengar beo wanita yang
cerewet. Kalau masih membangkang maka kejadian barusan akan terulang dan takutnya menuntun meminta lebih dari sekedar bertukar saliva."
Mendengar ancaman sialan itu, Gerhana akhirnya menzipper mulutnya. Naik ke peraduan empuk dan menenggelamkan seluruh tubuhnya dengan selimut.
" Aku harus memikirkan cara untuk kabur dari sini. Tapi bagaimana caranya? Di sini banyak perangkap mengerikan, iiihhh."
Dalam selimut itu, Gerhana berpikir keras tentang pelariannya dari jeratan Topan. Dia tidak mau gila di buat kelakuan Topan yang tidak terbaca sebelumnya, misalnya seperti tadi. Ngeri bagi kesehatan bibir dan tubuh lainnya. Oh big no!
"Tidak usah pusing-pusing untuk berpikir kabur dari sini." kata Topan sudah berdiri di dekat tempat tidur. Air muka itu memang sangat miskin ekspresi emosi apapun.... Datar beut!
Aih ding, macam kuyang eh paranormal saja bisa menebak pikiran orang. Batin Gerhana di dalam selimut.
"Tidurlah, jangan terus mendumel kesal kepada ku. Atau___"
Tempat tidur di sisi kiri melesat seketika ulah Topan yang merebahkan tubuhnya di dekat Nana. Gadis itu langsung menahan nafasnya dan membuka kasar selimutnya, siap protes ketus. wajah mereka saling berhadapan di satu bantal bersama.
Topan menaikkan satu alisnya, menunggu suara Gerhana yang menampakan air muka merah padam, karena marah akan ulah Topan yang seenaknya main tidur di sebelahnya.
"Kamu itu bukan siapa-siapa aku. Jadi sangat tidak sopan bila mana kita tidur bersama." cetus Gerhana masih sedikit bersabar.
"Oh, begitu! Baiklah, sekarang kita adalah pasangan kekasih. Jadi, kelar masalah," santai Topan sudah mengklaim Gerhana begitu mudahnya tanpa mau mendengar kesediaan Gerhana yang sudah kempas kempis itu hidung macam banteng siap menyeruduk.
"Teori macam apa yang Anda terapkan, hah? tidak__"
"Tidur atau kita akan memadu kasih saat ini juga," tandas Topan menjeda Gerhana yang bernada ketus. "Kamu sekarang kekasihku, ingat itu!" Klaimnya. Dia sebenarnya sudah bucin tapi tidak mau diperlihatkan secara terang-terangan, gensih coeg! apa kata para rekannya nanti coba?
" Ya Tuhan, dia manusia atau batu sih? kok gitu amat, sial benar hidupku dipertemukan manusia kaku seperti dia. Bahkan, nembak seorang gadis tidak ada manis-manisnya sama sekali. Dasar batu!"
Gerhana hanya mampu protes dalam hati, dia takut akan ancaman Topan yang mempunyai sifat menang sendiri dan Gerhana pun menebak kalau orang kepribadian seperti Topan itu adalah orang yang langsung bekerja dari pada membuang kata basa-basinya. Itu artinya, Topan bisa saja menindihinya saat ini juga kalau dia banyak protes.
__ADS_1
Mata itu pun dipaksanya untuk tidur, padahal tidak mengantuk sama sekali. Yailah! secara, Topan kini memeluk perutnya erat erat. Cabul 'kan si batu ini, tapi sayangnya....sangat tampan untuk di benci.
Aku akan menjagamu, Nana. Secara tidak langsung, kamu sudah terseret masuk kemasalahku.