Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)

Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)
Lompat Ke Sungai


__ADS_3

"Gerhana...."


Duaaarghh...


Pluungg...


Sebelum ledakan mobil membakarnya, Topan tidak pikir panjang. Sangat cepat, dia menyambar tubuh Gerhana untuk dibawanya terjun bebas ke sungai yang alirannya sangat deras.


Mereka hanyut.


" Damn!" Umpat sang musuh dari atas jembatan.


" Lebih baik kita melapor, percuma terjun kebawa. Target sudah jauh terbawa arus deras."


" Tetapi wanita itu tidak akan mati 'kan? Ingat! Bos menginginkan wanita itu."


" Ku rasa tidak akan mati, laki laki itu sepertinya bukan orang biasa."


Para anak buah Jerry pun pergi setelah berandai-andai.


...****...


"BODOH! BODOH! BODOH!"


Plak plak plak plak plak plak plak.


Jerry mengamuk kepada anak buahnya yang gagal menangkap Gerhana. Tangannya terasa panas setelah menampar keras tujuh kepala kacungnya.


Di ruangan itu, ada Matin dan Belen yang duduk mesra di sofa.


"Jelas akan gagal, Jerry. Pria yang di dalam foto ini adalah salah satu team Kurcil," terang Matin seraya melepaskan rangkulannya di pinggang Belen. Lalu, menjejerkan foto foto Gerhana dan Topan yang ada di pasar.


"Dan lihatlah ini juga." Belen membuka laptopnya, menekan beberapa kode di keyboard itu.


Jerry yang penasaran tentang isi laptop Belen segera mengambil duduk, hingga Belen berada di antara Jerry dan Matin di sofa itu.


"Setelah hackerku memperdalam lagi pencariannya terhadap foto pria yang bersama Gerhana, maka inilah hasilnya... Kurcil Smart."


Jerry dan Matin sejenak saling pandang, sejurus kompak menatap bulat bulat matanya ke layar laptop. Identitas Kurcil Smart berhasil di bobol oleh hacker Belen.


"Wanita ini." Matin dan Jerry kompak menunjuk foto Pelangi.


"Ya, dia salah satunya...teman perempuan Guntur. Dan aku ingin dia mati." Belen tersenyum jahat seraya menatap sinis foto Pelangi yang sedang dirangkul oleh si Topan dan Badai.


"Aku juga menginginkannya, gara gara wanita itu, Tommy-anak ku mati mengenaskan oleh mereka." Jerry memancarkan binar peperangan.


"Aku punya ide bagus!" kata Matin. Dia akan memakai kartu As-nya.


"Apa, Dad?" penasaran Belen. Jerry pun demikian. Tapi Matin yang ditatap tanya hanya menyeringai jahat dengan memikirkan nama Guntur.


...*****...


Di sisi Topan. Saat ini, dia berusaha melawan arus sungai yang hanyut jauh dari jembatan awal jatuhnya.

__ADS_1


Sekuat tenaga, dia berenang mengejar tubuh Gerhana yang terlepas dari dekapannya.


Topan terus berenang, sementara Gerhana hampir kehabisan nafas. Dia ingin berenang tetapi tidak kuat melawan arus, apalagi kakinya cedera terbentur batu batu runcing yang berada di dalam air. Hingga, dia berharap Topan segera menolongnya.


" Nana!" Topan mempercepat ayunan tangan dan kakinya agar bisa menangkap Gerhana yang kebetulan ujung baju Gerhana yang rupanya sudah pingsan itu tersangkut di batu.


Akhirnya, dalam perjuangannya melawan arus. Topan berhasil menangkap Gerhana. Sekali lagi, Topan berjuang berenang ke tepi dengan tangan satu mendekap Gerhana dengan kuat agar pujaan hatinya tidak lepas lagi.


"Na! Nana!"


Sampai di tepi, Topan menepuk pelan pipi Gerhana yang tidak tersadarkan diri.


"Nana, bangun!" Bentak Topan, panik. Sejurus, dia menekan dada Gerhana, berharap air yang mungkin tertelan, keluar.


Tidak berhasil, dengan itu Topan segera memberikan nafas buatannya... Bibir ketemu bibir.


Terus menerus, dia memberi nafas buatannya, dan sesekali melepaskan bibirnya hanya untuk menekan dada Gerhana. Topan tidak menyerah, hingga Gerhana terbatuk mengeluarkan air dari mulutnya.


"Haaa, syukurlah." Topan bernafas lega yang tadinya sangat cemas. Sebagai rasa leganya, dia reflek memeluk Gerhana yang baru duduk dari rerumputan. Sesekali pun dia mencium kepala Gerhana yang basah.


"Kita ada di mana?" tanya Gerhana yang masih didekap kepalanya di dalam dada Topan.


Pertanyaan itu lantas membuat Topan menggerlya ke sisi penjuru sungai. Tidak ada bangunan, hanya ada perkebunan tebu di antara kedua sisi sungai.


"Tidak usah takut, ada aku. Kita akan keluar dari sini," ujar Topan tersenyum paksa agar Gerhana tidak merasa takut maupun tegang.


Diam-diam, jam tangan bersistemnya dia tekan sebagai tanda ke Kurcil lainnya kalau dia membutuhkan bantuan. Titik GPS-nya pun otomatis terbaca oleh Charel dan Guruh yang sedang bersantai di markas. Kedua pria itu segera beranjak menggunakan helikopter.


"Ya, aku tidak takut lagi." Gerhana pun tersenyum paksa. "Terima kasih sudah melindungi ku, tapi...."


Sejurus, Gerhana memukul kesal dada Topan. "Aku tidak suka tindakan kamu yang sok jago tadi, dengan memasang tubuh mu di depan penjahat itu. Memangnya kamu pikir kulit mu itu besi, hah? Kalau tertembak bagaimana? aku takut kamu kenapa-kenapa?"


Ocehan Gerhana malah membuat Topan tersenyum dan ingin menggoda si Inces lemot ini.


Bahkan, setelah mengoceh kesal karena aksi Topan. Gerhana segera memeluk erat Topan. Sungguh, Gerhana sangat takut Topan akan terluka.


"Takut? kenapa harus takut, eum? apakah kamu sudah punya rasa untuk ku?" Goda Topan seraya membalas pelukan itu.


Gerhana tersadar dengan tingkahnya yang tidak bisa dikontrol. Beginikah reaksi cinta itu? Karena malu, dia pun merenggangkan pelukannya dengan bola mata tidak mau menatap Topan.


"Diam, berarti iya!" Topan menyimpulkan sendiri. Dia ingin mendengar kata hati Gerhana saat ini, bagaimana pun caranya.


"Ayo kita pergi dari sini, Topan!" Gerhana yang malu, sengaja mengubah topik. Dia ingin berdiri yang saat ini masih duduk di tepi sungai bersama Topan.


"Tunggu dulu," Topan menahan tangan Gerhana. Hingga, Gadis itu kembali duduk. "Kita tidak akan kemana mana sebelum kamu mengutarakan isi hati mu," paksa Topan. Dengan santai, Topan justru selonjoran di atas tanah.


"Ck, nyebelin! Ini bukan waktunya untuk bersantai lho," ujar Gerhana memutar matanya malas.


"Ya, terserah. Pokoknya aku sih tidak mau kemana mana kalau kamu tidak mengakui cinta mu kepadaku."


Bagi Gerhana, Topan ngelunjak.


"Ish, Topan!" rengek Gerhana. Topan menggeleng kekeuh.

__ADS_1


"Lagian apa susahnya bilang Iya atau tidak? mudah 'kan?"


Sebelum menjawab, Gerhana menghela nafas dalam-dalam, lalu matanya menengadah keatas langit. Topan setia menatap wajah itu yang seketika redup.


"Bukannya katamu, aku itu adalah incaran penjahat?" Kali ini, Gerhana menatap berani mata Topan. Hingga, mata mereka bertemu.


"Aku tidak mau membuat keselamatanmu dalam bahaya karena ku. Harusnya, aku pergi dari sisimu saat ini juga," sendu Gerhana. Hatinya sebenarnya sangat berat untuk berkata pergi.


"Cukup katakan.... Aku juga mencintaimu. Tidak usah paranoid berlebihan. Aku ada untukmu, selalu."


Topan mengelus pipi Gerhana, amat lembut dan penuh kasih sayang. Sejurus, tangannya digenggam oleh Gerhana.


"Iya, aku mencintaimu juga," ungkap Gerhana. Bibir tanpa lipstik itu tersenyum manis, sangat manis. Hingga membuat Topan berdebar debar tidak menentu, apalagi ungkapan hati Gerhana yang langsung membuatnya meninju ninju udara kosong karena bahagia.


"Yeah," pekik Topan. Suaranya menggema di udara.


"Astaga, lebay amat sih." Gerhana menutup mulut Topan yang memang lebay. " Aku kira batu itu terus cool. Ternyata, Ck... pencitraan publik doang," ledek Gerhana tersenyum geli.


"Ish, perusak suasana aja." Dengus Topan dengan senyum nakal menatap Gerhana. "Na, kamu dingin tidak? kalau iya, aku peluk sini. Kita berbagi kehangatan."


Sebelum menerima tawaran empuk Topan. Gerhana menoleh sana sini terlebih dahulu.


Aman tidak ya? aku nggak mau ada yang video-in. Yang ada nanti di lebih lebihin dengan memberi caption... Sepasang kekasih wik wik di pinggir sungai. Begitulah pikiran Gerhana, takut digerebek.


"Ck, lama amat sekedar peluk doang." Topan menarik tubuh itu, bukan untuk dipeluknya, tetapi untuk beradu bibir penuh kemesraan.


Saat keduanya asyik berciuman, helikopter bantuan telah sampai tepat di atas posisi mereka duduk di pinggir sungai itu.


Mereka pun melepaskan diri masing-masing, dengan wajah berbinar layaknya pasangan abege.


"Woii," teriak Guruh dari atas seraya melempar tangga monyet yang akan digunakan Topan dan Gerhana naik ke helikopter, yang tidak bisa mendarat karena tidak ada tempat strategis.


Topan dan Gerhana pun tersadar dari kemesraannya.


"Duluan, naik."


Gerhana mengangguk dan memberanikan diri untuk bergantungan di udara dengan bantuan tali tangga itu.


"Hati hati," kata Gerhana berteriak kebawah yang sudah selamat naik ke helikopter.


Topan pun segera menyusul.


"Charel, jalan Rel!" Titah Guruh mau iseng.


"Tapi, Bos Topan masih bergantungan."


"Biarkan, dia itu superhero, tidak akan mati hanya karena ayunan bayi."


Tadinya, Guruh itu panik mendapat sinyal bahaya dari Topan. Tetapi saat melihat dari jauh kalau Topan dan Gerhana sedang bermesraan, yakh....jadi iseng deh.


"Baiklah," kata Charel menurut.


"Woyyy, Guruh! Charel!" Topan berteriak di tengah tengah udara. "Sialan kalian," pekik Topan seraya berpegangan kencang di tangga monyet itu.

__ADS_1


Gerhana sendiri sudah memukul bahu Guruh yang terkekeh geli. " Kalau jatuh bagaimana," cemberut Gerhana. "Rel, hentikan lajunya. Kamu mau di tembak mati oleh Topan, hah?"


"Eeh, tidak. Maaf!" Charel yang jadi serba salah. Sementara Guruh masih asyik terkekeh.


__ADS_2