Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)

Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)
Sikopet!


__ADS_3

Dan bugh...


Tommy memang berhasil melayangkan balok itu ke kepala Badai. Namun, Badai tidak mudah tumbang. Hebatnya, Badai tidak terlihat meringis padahal dia yakin kepalanya saat ini telah berdarah. Tetapi, kemarahan yang menguasainya seakan-akan menjadikan kekuatan besar bak robot yang tidak bisa tumbang hanya karena kayu balok. Justru, balok yang setengah gosong itulah yang patah beriringan darah merembes ke pelipisnya.


Sementara, disisi Guntur. Pria itu menguatkan satu bahunya yang tertembak demi menggendong Pelangi untuk segera diberi pertolongan medis.


Guntur pun berjalan pergi ditengah derasnya hujan dengan Pelangi di dalam gendongannya.


Lain di sisi Guntur dan Badai. Kini, suasana markas itu hening oleh kelakuan Topan dan Kurcil lainnya yang sedang kehilangan Pelangi.


"Kita akan mencari kak Pe di mana? Ini hujan deras lho!" Tanya Angkasa yang tentu saja ikut cemas karena Topan benar benar terlihat khawatir saat ini yang tidak tahu harus kemana untuk mendeteksi keberadaan Pelangi. Vay saja angkat tangan karena Pelangi tidak membawa elektronik sistem satu pun untuk dilacak keberadaannya.


"Ayolah, Pan! Pelangi sudah besar. Kamu tahu, kalau dia jago beladiri." Ujar Guruh menepuk pundak Topan dengan nada menenangkan.


Topan tidak bergeming, tatapan matanya terlihat kosong yang menghadap ke jendela, berharap hujan badai itu bukanlah pertanda buruk. Sungguh, dia amat merasakan sesak saat ini. Tapi anehnya, ada apa?


"Kalian istrihatlah, aku baik baik saja. Tinggalkan aku sendiri, biarkan aku menunggu adik adik ku pulang tanpa ada suara berisik."


Kurcil lainnya pun mengerti, mereka meninggalkan Topan seorang diri. Bertepatan, Gerhana datang membawa secangkir teh hangat.


"Aku bilang jangan ganggu___" suara Topan menggantung saat berbalik ternyata Gerhana-lah yang telah mengganggu lamunannya.


"Maaf, aku hanya mengantar ini. Minumlah dan permisi!" Gerhana menaruh cangkir putih itu di meja dan segera berbalik berniat untuk tidak menggangu Topan. Tapi, tubuhnya tertahan karena Topan menyentuh pundak kanannya dari belakang.


"Bolehkah aku meminjam pahamu sebagai bantalku untuk sesaat? aku lelah."


Sejenak, Gerhana mencerna permintaan penuh kelirihan suara Topan. Apakah ini si batu yang dia kenal beberapa hari lalu? sekeras kerasnya batu tidak selamanya kokoh, rupanya. Ada batu kapur yang bisa hancur dengan mudah. Itulah Topan saat ini... Dia mengeluarkan sisi manjanya ke orang lain yang biasanya hanya Pelangi dan Mentari yang tau itu.


Mengerti keadaan Topan, Gerhana mengangguk begitu saja. Dan segera duduk di sofa panjang untuk memasang pahanya sebagai bantalan Topan. Puasa ngambeknya saat ini, buka dahulu. Kasihan Topan.


Tidak ada suara yang keluar dari Topan. Dengan rebahan menghadap langit-langit seraya tangan dia lipat keperut, serta kepalanya sudah berbantal paha, mata itu pun terpejam. Berharap rasa sakit tidak menentu di dadanya, hilang setelah membuka matanya. Walaupun jujur, mata itu tidak bisa tidur pulas sama sekali.


Tangan Gerhana reflek mengusap usap ujung kepala Topan. Berharap, Topan tidur biar tidak mengaum kagak jelas karena kehilangan Pelangi. Lihatlah ruangan saat ini, sudah berantakan ulah Topan. Tadi, diacak acak seperti indukan yang kehilangan anaknya.


Kembali ke TKP kegaduhan.


Badai sengaja membiarkan Tommy memainkan baloknya yang tersisa separuh itu untuk memukul tubuhnya. Dia ingin merasakan luka fisik yang dialami Pelangi saat ini yang entah keadaannya bagaimana?

__ADS_1


"Pelangi." Lirih Badai menjatuhkan air matanya tanpa sadar. Dengan kelopak terpejam karena merasakan pedih mata yang tidak jelas main menetes buliran itu, Badai kini reflek menahan balok yang dilayangkan Tommy ke arah wajahnya.


Cukup sudah permainan dia memberikan kesempatan Tommy untuk memukulnya.


"Bersiap siaplah!"' kata Badai dengan masih menahan balok tersebut, seraya memberi flying kick-nya ke wajah Tommy, hingga pria itu langsung tersungkur ke lantai kotor. Darah seketika berjujuran dari lubang hidung Tommy.


"Jangan macam-macam! aku adalah anak Mentri di Negara ini. Kamu tidak akan lolos dari hukum bila mana membunuh ku." Tommy sengaja mengungkit sedikit identitasnya. Harapannya, agar Badai kicep.


Tapi salah besar! Badai kian mendekat ke Tommy yang merangkap mundur mundur mencoba menjauhi Badai.


"Anak Mentri? Biar ku tebak? pasti orang tuamu yang telah kamu banggakan kekuasaannya itu sama saja hinanya seperti dirimu, betulkah itu?" Badai bertanya seraya mengeluarkan pisau lipatnya. Kilatan benda tajam itu amat menyilaukan mata Tommy yang kian ketakutan hingga ke ubun-ubun.


Tangan kanan Badai pun masih membawa senjatanya.


Sialnya, punggung Tommy kini terkunci ke dinding hingga tidak bisa berkelit lagi.


Dor...


Aaargh.


Tommy berteriak sakit. Lututnya kini tertembak oleh sikopet Badai.


Dor...


" Aaaaaaargh, Sakiiiiiit!" pekik Tommy mengerang hebat. Badai amat menikmati ringisan itu.


"Berteriaklah meminta bantuan ke orang tuamu itu, sebelum aku mengirim potongan tangan mu dan kepala atas bawah mu ke orang yang katanya pejabat penting Negara ini."


Tangan Badai semakin kuat memegang gagang pisau kecilnya namun penuh ketajaman.


Dan, jlebbb... Badai menancapkan pisaunya kepunggung tangan Tommy.


Aaaarghhhh...


"Ya, terus berteriak! Bukannya tangan itu yang sudah berani melukai saudari emas ku? maka sebagai balasannya ini."


Sreeettt...

__ADS_1


Dengan keji, Badai tanpa jijik segera memotong tangan kanan Tommy. Lolongan memilukan kian terdengar mengiris bawang eh hati bagi yang mendengarnya. Tetapi sayangnya, tidak ada orang yang iba karena hanya mereka yang berada di gedung gosong itu.


"Bunuh sa_saja!" Tommy pasrah. Suara itu kian melemah.


"Oh, jelas! tapi aku ingin kamu merasakan akibat perbuatanmu yang mencari gara gara duluan. Kamu akan mati tapi tidak dengan cara biasa biasa saja."


Aaaarghhhh.


Tangan satunya pun sudah buntung seketika.


Sreeettt, sreeettt, sreeettt...


Badai bak kesetanan yang terus mengayunkan pisaunya ke tubuh Tommy sebagai tanda kemarahannya. Dia amat keji bila mana sedang murka. Perangai yang kadang tengil humoris itu ternyata mempunyai jiwa sikopet menyetarai Topan.


Tommy sudah kian melemah... Matanya semakin terpejam karena sayatan demi sayatan terpatri di tubuhnya. Bahkan, gilanya! Badai telah mencabik cabik benang nya hingga tubuh yang berdarah-darah itu naked seketika.


"Niatnya, aku ingin mengulitimu! Tetapi kelamaan, aku hanya mau ini."


Sikopet Badai main nebas leher Tommy hingga kepala itu terlepas dari tubuh tanpa sedikitpun rasa kasihan apalagi ampun.


Tommy jelas sudah keok tak bernyawa lagi.


"Kamu tadi bilang apa, hah? mau memakan kakakku, lalu membunuhnya? Si loyo ini kah yang kamu mau gunakan untuk menikmati saudariku? Cuih!"


Badai bak iblis yang berdecih. Saat kata loyo itu keluar dari mulut tajamnya, Badai mensentil junior Tommy menggunakan pisau tajamnya yang sudah terlumuri darah.


Sreeettt..


Tadi, Badai sudah berkata mau menebas kepala atas bawah Tommy, bukan? Sekarang sudah dilakukannya. Si Gila Badai motong barang Tommy hingga darah segar tersembur ke wajahnya.


"Kelinci yang malang. Kamu akan bertemu dengan keluarga mu."


Badai membungkus satu tangan Tommy, kepala, serta junior Tommy menggunakan bajunya yang sebelumnya sudah dia lepas.


"Hadiah untuk__" Jeda Badai yang telah menggeledah dompet Tommy untuk mencari identitas mayat tak berbentuk itu. Dia berniat mengirimkan bingkisannya ke rumah Tommy.


"Oh, apakah kartu nama ini milik orang tuanya? kurasa iya! Ok, Jerry! paket akan datang atas nama pengirim Kurcil Smart."

__ADS_1


...****...


__ADS_2