Cinta Dan Identitas Rahasia

Cinta Dan Identitas Rahasia
pertemuan kita


__ADS_3

Setelah Abi dan Umi memeluk putri cantiknya itu, kini Fiyah berjalan menuju pesawat yang akan mengantarkannya ke Jerman.


Sebelum Huzafiyah menonaktifkan ponselnya terlihat pesan dari Adam membuat ia tersenyum tipis.


"Bukan apa-apa hanya membayangkan saja, ketika kita ditakdirkan tak bersama lalu ada anak kecil memanggilmu dan berkata Abi siapa aunty itu?


Lalu akupun berkata lirih dalam hati, dia adalah wanita yang membuat doaku mati syahid ketika bertarung dengan doanya di jalur langit.


Aku setiap waktu berdoa agar dijadikan imam untuknya, tapi ia berdoa agar dijauhkan dariku.


Tapi apa semua itu mungkin Fiyah?


Mungkinkah takdir mengkhianati usahaku saat ini?


Aku tidak memiliki keberanian Fiyah, menganggap bahwa saat ini aku adalah pemenang atas dirimu, sebelum aku menjadi imam disetiap waktu sholat mu, mengumandangkan doa yang disambut Amin mu.


Huzafiyah wanita yang membuat aku terdiam seribu bahasa jika itu tentang perasaan. Aku mohon, jaga dirimu dan kesucianmu sebagai seorang wanita. Bukannya aku menginginkan wanita suci sebagai pendamping dalam hidupku, tapi aku ingin engkau tetap menjadi Huzafiyah gadis yang tidak tersentuh laki-laki yang bukan mahramnya.


***Di bandara Berlin Tempelhof***


Hani sudah menunggu kedatangan sahabatnya itu. Gadis cantik yang kini memegang kertas besar bertuliskan selamat datang wanita hebatku.


Dengan penuh haru dan bahagia mereka berpelukan yang membuat Alfaro dan ayahnya terabaikan.


"Percuma kita ikut Al, tidak dihiraukan juga" singgung Carlen kepada istrinya dan Fiyah


"Apaan sih sayang" ucap Hani yang membuat pria keren itu tersenyum kepada mereka berdua


"Aku kira kamu akan tinggal di rumahku tapi ternyata malah memilih hotel" kecewa Hani


"Maaf Han, itu bukan pilihanku semua kegiatanku selama 1 pekan ke depan harus sesuai jadwal"


"Janji ya, selesai semuanya kita liburan berdua" pinta Hani yang diterima anggukan oleh gadis cantik itu sedang suami dan putra Hani Mahendra itu hanya mampu menerima keputusannya, karena ia yang paling berkuasa dalam pertahtahan rumah tangga. Bukannya pria berkebangsaan Jerman itu takut kepada istrinya tapi lebih tepatnya ia sangat mencintai Hani. Saat istrinya liburan palingan Carlen dan Alfaro main games seharian malah lebih senang maminya tidak di rumah karena tidak ada yang akan melarang mereka, bahkan mereka berdua bisa dengan bebas memesan makanan dari luar tanpa ada yang berteriak tidak sehat atau tinggi kalori.

__ADS_1


"Ya Allah tampannya MasyaAllah bertubi-tubi" ucap Hani pelan takut terdengar oleh suaminya, biasa istri Sholehah menjaga perasaan suami walau dibelakangnya mengagumi yang lain.


"Ini cucu mantan Jenderal Farancois Adhulpus orang terkaya di Dunia" tunjuk Hani pada poster yang terlihat disepanjang jalan yang dilewati tapi Fiyah tak menghiraukannya


"Dan itu gadis cantik yang disampingnya putri Adriana anak tuan Paxton pemimpin saat ini mereka pasangan yang sangat serasi" lanjut Hani yang tak henti kagum


"Fiyah" panggilnya karena sedari tadi ucapnya tidak mendapatkan respon


"Ia" Fiyah yang baru tersadar karena ia sejak tadi fokus mendengarkan materi yang nantinya akan ia sampaikan kepada mahasiswa disini, saat ini Fiyah menggunakan headset menghemat waktu istirahat dalam mobil sekalian belajar.


"Aku dari tadi ngomong tapi kamu cuma diam"


"Maaf tadi aku lagi dengerin materi" jelas Fiyah


"Oh"


"Emangnya kamu ngomong apa tadi?"


"Itu tentang putri Adriana" jelas Hani


"Menurutku Vernon pria paling tampan di Dunia?" bisik Hani pada sahabatnya itu


"dia siapa?" Fiyah baru mendengar nama itu


"Ya ampun kamu bilang sudah nonton beritanya tapi masa Vernon tidak tau, tuan Vernon Adhulpus tunangan putri Adriana Paxton " jelas Hani


"Oh soalnya aku nontonnya cuma sekilas" jelas Fiyah yang membuat Hani tertawa


"Nonton kok sekilas, apa yang dilihat coba?"


"Maksudnya lihatnya sekilas dan selebihnya cuma mendengarkan itupun aku sudah lupa karena tidak fokus" jelas Fiyah


"Memang kamu mah gitu sesuatu yang tidak menarik bagimu pasti dilupakan begitu saja" singgung Hani

__ADS_1


"Ya Allah ada apa?" lanjut Hani yang melihat suasana didepan sudah sangat kacau mobil-mobil terhenti dengan kasar membuat saling bertabrakan untung di jalur mereka agak lumayan walaupun depan mobil Carlen lecet karena berhenti mendadak.


"Astaghfirullah pasti di depan ada kecelakaan" khawatir Fiyah


Dengan segera Hani dan Fiyah berlari keluar sedang Carlen menggendong Alfaro menyusul maminya.


Hani adalah seorang dokter oleh karena itu ia buru-buru menghampiri tempat kejadian.


"Fiyah aku butuh benda tajam" ucap Hani setelah meminta seseorang menghubungi tim medis dan saat ini ia sibuk menangani pasien, dengan segera Fiyah mengeluarkan sesuatu yang diperlukan Hani untung didalam mobil Carlen tersedia perlengkapan medis dan saat mereka berlari Hani memegangnya.


"Apa yang akan kamu lakukan?" ucap pria tua pada Hani


"Pasien tidak bisa bernafas jadi aku harus melakukan hal ini agar ia terselamatkan" jelas Hani


"Apa kamu seorang dokter amatir?" marah pria itu


"Maaf tuan tolong berhenti memojokkan teman saya biarkan dia konsentrasi, jika tuan banyak bicara bagaimana pasien ini bisa selamat?" jelas Fiyah


"Kamu!" ucap pria itu lagi tapi terhenti saat seseorang datang dan membuat ia terdiam


"Aku seorang dokter dan apa yang dilakukan wanita ini adalah hal yang tepat" ucap pria tampan itu walau memiliki banyak tato ditangannya dan anting-anting di telinganya tetapi aura cool dan sangat keren terpampang nyata.


"Apa benar dia seorang dokter tapi penampilannya seperti preman" batin Fiyah


"Hai sayang, tangan kamu kakak obati ya?" bujuk Fiyah pada bocah yang saat ini menangis


Fiyah terpaksa menggunakan cadarnya membungkus luka bocah pria itu karena perban roll habis. Huzafiyah memang sering menggunakan cadar jika bepergian dan melepasnya saat berada dalam ruangan saat sedang memberi materi atau mengadakan pertemuan dengan kliennya masih dalam area penulis dan penerbit. Dan saat jalan-jalan santai ia lebih memilih menggunakan cadar agar melindungi dirinya yang saat ini belum memiliki mahram.


"Kakak sangat cantik" puji bocah itu kepada Fiyah yang membuat gadis cantik itu tersenyum padanya


"Hai boy bagaimana lukamu?" dengan suara bassnya ucap pria tampan bertato itu tapi pandangannya tertuju pada Fiyah


"Sudah sembuh" jelasnya dengan menunjukkan luka yang diperban

__ADS_1


"Hum sudah sembuh rupanya" pria itu mengikuti alur dan mengelus kepala bocah itu dengan sangat lembut


"Hai kenalkan aku Zetas" ucap pria itu menyodorkan tangan pada Huzafiyah dengan tatapan yang tak teralihkan


__ADS_2