
Disebuah hotel mewah milik keluarga Avens seorang billionaire yang saat ini mengadakan pesta mengundang para rekan bisnisnya termasuk Zetas Gang.
Tentunya Vernon sebagai tunangan Ela putri dari tuan Avens menjadi tuan rumah dari pesta mewah itu.
Sejak tadi pagi Zetas membujuk Fiyah agar ikut dengannya, menjadi pasangan dalam pesta yang diadakan rekan bisnisnya.
"Ayolah harimau betina ikut denganku, aku mohon. Semua orang mempunyai pasangan hanya aku yang tidak ada, jadi malam ini berpura-pura menjadi pasangan seorang pria tampan seperti diriku tidak akan merugikanmu sapi buncit!" bujuknya tapi semakin membuat Fiyah marah, bagaimana tidak seolah Zetas mengolok-oloknya, nama-nama hewan itu dengan jelas terngiang-ngiang di telinganya.
"Aku tidak mau, dan hanya ingin rebahan. Pergilah ke apartemenmu tuan Zetas Gang, jangan membuat keributan disini!"
"Bibi usir pria ini, aku ingin beristirahat!" teriak Fiyah yang sudah kehilangan kesabaran pada Zetas, karena sedari tadi ia merengek seperti anak kecil
"Ayolah Huzafiyah Nurul Husein, aku mohon sekali ini saja. Aku janji setelah ini tidak akan memaksa lagi!" jelasnya
"Aku tidak ingin pergi kepesta itu, jadi mohon tuan mengajak wanita lain saja. Katanya tampan dan banyak uang, tapi satu wanita saja tidak bisa didapatkannya!" ingin membuat Zetas kesal
"Aku hanya ingin kamu nona yang menemani aku kepesta itu dan bukan wanita lain!" tegasnya
"Mengapa harus aku tuan, tolonglah jangan mempersulit keadaanku. Apa tuan tidak kasihan denganku, yang saat ini sedang mengandung tapi harus keluar malam-malam hanya untuk kepesta?" tak ingin kalah Fiyah
"Nona aku mohon belas kasihmu temani aku, kita hanya datang sebentar dan setelah itu pulang!" membujuk dengan wajah memelas
"Ya Allah aku orangnya tidak tegaan, jika tuan narsis ini memaksa maka aku tetap menolaknya!" semakin jail Fiyah
"Nona ayolah jangan buat aku seperti ini, harga diriku sebagai seorang pria telah aku buang jauh-jauh hanya untuk membujuk seorang wanita buncit dihadapanku ini, dan aku sudah bersimpuh memohon belas kasihmu nona!" ucap lemas Zetas
"Dimana salahku dalam hal ini tuan, apa aku memintanya?" sengaja agar pria itu kesal lalu pergi
"Dasar keras kepala susah diatur!" batin Zetas tapi wajah tampannya dihiasi senyuman manis, dengan pandangan penuh harap tertuju pada Fiyah.
"Walaupun saya tidak suka diatur tapi saya tau aturan tuan!" jelasnya yang seolah mengetahui isi hati pria tampan bertato itu
"Wah ternyata nona buncit ini bisa membaca pikiran!" merasa takjubnya, tapi dengan ekspresi meremehkan.
"Minta maaf dulu padaku, baru aku mau menemani tuan pelit ini kepesta itu!" jelas Fiya yang merasa Zetas beberapa hari ini sangat menjengkelkan.
"Baiklah, nona buncit saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Mohon maafkanlah segala kesalahanku nona!" ucap Zetas dengan tingkah jailnya
"Aku memiliki permintaan lain, jika tuan menyetujuinya maka aku akan ikut kepesta itu!" kembali jail Fiyah
"Ada lagi, baiklah tapi ini yang terakhir nona!" pasrah Zetas
"Aku ingin melihat tuan pelit ini setiap pagi mukbang, dan jenis makanannya aku sendiri yang akan memilihnya!" jelas Fiyah yang entah mengapa ia sangat bahagia jika melihat seseorang makan dengan porsi yang banyak.
__ADS_1
"Hanya itu?" menganggap entengnya
"Iya hanya itu, apa perlu saya meminta yang lain lagi?"
"Tidak!" dengan cepatnya
"Kita sepakat malam ini nona buncit ikut denganku dan semua permintaan aneh nona ini saya laksanakan!" jelasnya yang mendapat anggukan dari Fiyah.
"Ah sialan, aku lupa jika tuan Avens adalah ayah dari tunangan Vernon yang berarti ia akan datang juga kepesta itu!" gumam Hendry
"Kenapa?" penasaran Fiyah karena ekspresi pria tampan itu berubah mendadak
"Apa persyaratanku sangat berat?" merasa kasihan pada Zetas
"Tidak sama sekali nona!" dengan penuh senyuman
***
Gaun merah berpadu dengan butiran berlianĀ membuat keindahan tersendiri menjadi pemandangan tak teralihkan, kini sang empu pemilik tubuh indah itu berjalan kearah tunangan tampannya.
"Sayang" ucap lembut Ela sedang sedari tadi semua orang terfokus padanya.
Kini Zetas sedari tadi mondar-mandir didepan pintu apartemen wanita cantik yang akan menjadi pasangannya malam ini.
"Ya ampun mengapa selama ini, apa sebenarnya yang ia lakukan didalam sana!"
Saat pintu apartemen itu terbuka tatapan takjub Zetas tak teralihkan dari nona buncit yang selalu ia jaili.
"Aku tau aku cantik jadi tidak perlu seperti itu memandangiku!" candaan Fiyah membuat salah satu sudut bibir Zetas terangkat senyum tipis
Setelah menuju lantai bawah menggunakan lift
"Silahkan menaiki kereta kencana tuan putri!" goda Zetas dan menarik nafasnya dengan berat. Mobil mewah itupun melaju dengan kecepatan sedang.
Mata Vernon membulat sempurna saat melihat wanita yang masih menjadi istri sahnya itu datang bersama sahabatnya. Sedang sedari tadi Ela tak melepas rangkulannya ditangan Vernon.
"Nyonya!" spontan Hendry
Kini dua insan yang baru saja memasuki tempat mewah milik keluarga Avens yang menjadi pusat perhatian para tamu saat ini.
"Selamat datang tuan Zetas!" sambut ramah tuan Aven dan memperkenalkan Vernon serta putrinya kepada tamu kehormatannya itu.
"Siapa wanita cantik ini tuan Zetas?" penasaran tuan Avens
__ADS_1
"Nona buncit ini siapa ya?" gumam Zetas dengan tatapan terfokus pada Fiyah, sedang yang ditatap pandangannya tak teralihkan dari suami tercintanya itu.
"Dia keluarga saya!" jelas Zetas
"Apa kabar tuan Vernon sudah lama kita tidak bertemu!" ucap kembali Zetas
"Baik, kabar tuan Zetas sendiri bagaimana?" basa-basi mereka berdua
"Sangat baik!" jelasnya
"Nona buncit sebentar lagi kedua bola matamu akan keluar karena memandangi suami tercinta seperti itu" bisik Zetas membuat Fiyah tersadar bahwa apa yang ia lakukan itu salah. Saat ini Ela kesal padanya karena merasa bahwa Fiyah tertarik pada Vernon.
"Dasar wanita mata keranjang, sudah punya pasangan tapi masih memandang pria lain seperti itu!" tak terima Ela
Sedang Vernon berusaha untuk terlihat baik-baik saja, cuek pada keberadaan istrinya itu.
Saat Zetas sibuk dengan rekan bisnisnya dan Vernon seolah ingin menunjukkan kemesraannya bersama dengan calon istrinya itu, membuat Fiyah hanya tersenyum kecut.
"Nyonya!" sapa ramah Hendry membuat senyum manis terlukis di wajah cantik Fiyah
"Hendry!" ucapnya
"Syukurlah nyonya masih mengingatku!" candaannya
"Tentu saja aku mengingatmu!" senyum Fiyah
Hendry merasa aneh pada tuan CEO-nya itu yang dulunya sangat menjaga jarak dengan tunangannya tapi malam ini malah menunjukkan kemesraan mereka dihadapan semua orang.
"Nyonya bertambah cantik saja!" goda Hendry yang membuat senyum manis kembali terbit di wajah meneduhkan itu
Pandangan Vernon tertuju pada perut Fiyah yang sudah mulai terlihat dengan jelas bahwa ia saat ini sedang mengandung. Walau jarak mereka lumayan jauh dan tuan CEO itu mencuri-curi pandang pada wanita yang membuat ia merasakan patah hati itu.
"Nyonya jangan mudah tertipu!" ucapan Hendry membuat Fiyah bingung
"Tertipu?" merasa anehnya
"Laki-laki itu kuatnya diluar saja nyonya, dalamnya sangat rapuh. Mungkin dia terlihat biasa saja seolah tak perduli, padahal sebenarnya dia yang paling tersiksa. Tersiksa akan perasaan sayang, perasaan sangat rindu, cintanya yang sangat dalam. Hanya saja dia bingung bagaimana cara melampiaskannya, bagaimana cara mengungkapkannya. Jadi jangan pernah menyepelekan cinta seorang laki-laki nyonya. Cuek bukan berarti wanita itu tidak lagi berharga baginya, tapi ia bersikap seolah tidak perduli hanya karena menahan kerinduan yang sangat menyiksanya!" jelas Hendry membuat Fiyah tersenyum penuh arti
Saat Zetas datang Hendry meninggalkan mereka berdua.
"Apa kamu cemburu?" bisik tuan pelit menurut Fiyah itu
"Tidak!" bohongnya
__ADS_1
"Yakin?" Zetas mulai berulah
"Awas saja jika bicara seperti itu lagi akan aku jahit bibir tuan pelit ini!" merasa kesal Fiyah, membuat Zetas tertawa kecil yang menyita perhatian Vernon.