
Darelano tak puas hati pada pilihan Dragon yang sangat melindungi Fiyah bahkan ketua dari dark mafia itu mencintainya.
Darelano membuat rencana agar bisa memasuki mension pribadi Dragon, untuk membunuh wanita yang tidak berguna baginya itu. Ia sudah mengumpulkan para anak buah rahasianya yang terkenal sadis dalam melenyapkan lawannya.
Penjagaan sangat ketat pada mension itu membuat mereka harus mengubah rencana, dan hanya seoranglah yang bisa memasuki kediaman mewah Dragon, menyamar menjadi seorang pelayan agar bisa masuk.
Saat ini Dragon dan kawan-kawan mafianya sedang mengadakan pesta di mensionnya dan saat itulah Darelano menjalankan rencananya, bawahannya yang sudah ia pilih untuk melenyapkan Huzafiyah kini siap melaksanakan tugas, menyamar menjadi pelayan.
Kamar pribadi Fiyah yang berada di lantai tiga dengan penjagaan ketat disemua pintu menuju ketempat itu, dan hanya Dragon dan seorang pelayan pribadi Fiyah yang pria tampan maniak itu percayai bisa menemui wanita yang sangat penting dalam hidupnya saat ini.
Pesta yang mereka adakan bertempat di lantai bawah yang menjadi tempat umum dalam mension, dan tidak akan mengganggu kenyamanan Fiyah, semua itu sudah dipikirkan oleh Dragon.
Seseorang yang Darelano perintahkan untuk membunuh Huzafiyah, menginformasikan kepadanya bahwa mereka harus membuat kekacauan terlebih dahulu agar bisa menemui targetnya. Mengetahui kondisi disana Darelano langsung menuju kediaman Dragon dengan membawa para bodyguard yang sebenarnya adalah para pembunuh bayaran.
"Wow luar biasa pengaruh wanita itu kepadamu, Kamu mengadakan pesta semewah ini tapi tidak mengundangku, apa hubungan kita selama ini telah terlupakan hanya karena seorang wanita tidak berguna itu Dragon?" ucap Darelano saat ia tiba di mension pribadi ketua dark mafia tampan itu.
"Jaga ucapanmu Darelano, jangan membuat kekacauan disini. Duduk dan minumlah agar bisa menghentikan mulut kotormu itu, jika tidak maka aku sendiri yang akan membuatmu tidak bisa bicara untuk selamanya!" jelas Dragon dan Darelano tersenyum sinis.
"Aku yang selama ini susah payah berjuang membebaskanmu Dragon, dan ini balasan yang aku dapatkan darimu?" tak terima atas ucapan rekannya tadi.
Salah satu sudut bibir Dragon terangkat dan berjalan pelan mendekati rekannya itu, menepuk pundak Darelano.
"Itu adalah tugasmu sebagai bawahanku, dan semua yang kalian lakukan ada imbalannya. Ingat Darelano posisi yang kamu capai saat ini atas bantuan dariku, tanpa diriku kamu bukan siapa-siapa, camkan itu!" jelas Dragon membuat darah Darelano mendidih
"Berengsek, bocah sialan ini berani berucap seperti ini padaku!" batin Darelano dengan mengepal kuat kedua tangannya.
Beberapa menit kemudian pesta menjadi kacau dan terjadinya perselisihan diantara dua rekan kerja dark mafia itu, bunyi tembakan tak henti-hentinya terdengar. Kini dark mafia terbagi menjadi dua kubu dan saling menyerang tanpa ampun. Dengan segera Dragon meminta pada pelayan pribadi yang ia percayai untuk menjaga Huzafiyah membawa wanita itu ketempat aman, dan mencari waktu yang tepat untuk kembali ke Jerman.
Pelayan wanita itu dengan segera melaksanakan perintah dan membawa Fiyah ketempat teraman yang sudah Dragon siapkan untuk mereka tanpa sepengetahuan siapapun.
Saat Darelano mamasuki kamar pribadi Fiyah dan ia tidak melihat siapapun di ruangan itu, kekesalan dalam dirinya semakin bertambah karena telah dibohongi oleh Dragon.
"Cari wanita itu, pasti dia belum jauh dari sini, dan bawa dia kehadapanku secepat mungkin!" jelas Darelano
Dragon dan anak buahnya yang tersisa menyusul Fiyah dan ternyata diantara mereka ada seorang penghianat. Darelano saat ini mengetahui keberadaan Fiyah dan menyusulnya.
__ADS_1
"Sialan!" kesal Dragon saat melihat Darelano datang menyusul mereka.
"Apa kamu sudah sadar dari mimpimu Dragon, lihat bahwa akulah yang lebih berkuasa darimu. Anak buahmu sendiri lebih memihakku dari pada pemimpin bodoh mereka!" jelas Darelano membuat salah satu sudut bibir Dragon terangkat.
Pertarungan sengit kembali terjadi ditempat itu, Dragon rela mati hanya untuk melindungi Fiyah. Kini tersisa mereka berdua yang masih saling menodongkan pistol dengan sekujur tubuh dipenuhi darah.
"Menyerahlah Dragon dan serahkan wanita itu kepadaku!" ucap Darelano
"Tidak akan, langkahi dulu mayatku jika kamu ingin menyakitinya!" jelas Dragon
"Apa istimewa wanita itu untukmu hingga kamu seperti ini Dragon!" teriaknya
"Aku tidak akan segan melenyapkan seseorang yang menghalangi jalanku!" jelas Darelano
"Sampai kapanpun aku akan selalu melindunginya!" tegas Dragon
Peluru terakhir dua pria sadis itu yang saling menyerang membuat mereka saling menghembuskan nafas terakhirnya. Kini ruangan mewah yang bermarmer putih berubah menjadi merah darah. Menyaksikan hal itu Fiyah dan pelayannya sangat kaget mereka seolah sedang bermimpi buruk saat ini.
"Dragon!" lirih Fiyah dan mengangkat kepala pria yang selama ini sangat baik padanya membaringkan dipangkuannya. Kini tangan Fiyah dipenuhi darah dan air matanya mulai membanjiri wajah cantik itu.
"Maafkan aku, aku selama ini tidak pernah bersikap baik dan sopan kepadamu. Aku selalu membantah dan berucap semauku tanpa perduli perasaanmu" tangisnya
Sedang disaat yang tepat Zetas datang ketempat itu, ia selama ini mencari keberadaan Darelano untuk membalaskan dendamnya karena telah membunuh semua orang yang sangat berharga dalam hidupnya.
Bahkan Darelano tega membunuh anak kandungnya sendiri yaitu Jesika. Untuk menyelamatkan Zetas Jesika dan Agatha menjadi korban atas kelicikan Darelano.
Setelah mendapat informasi mengenai pria maniak itu dengan cepat Zetas menuju ketempat kejadian dan syukurlah ia datang setelah semua kekacauan itu terhenti, dan hanya menyaksikan wanita yang pernah menjadi cinta pertamanya itu menangis tersedu-sedu dengan tangan yang dipenuhi darah.
"Apa yang terjadi disini?" ucap Zetas pada pelayan itu dan iapun menceritakan semuanya.
"Fiyah lebih baik kita meninggalkan tempat ini, polisi akan segera kesini dan biarkan mereka yang menanganinya!" jelas Zetas
Fiyah tak bisa berucap sepatah katapun dan hanya mengikuti Zetas yang membawanya masuk ke mobil dan melaju menuju kediamannya saat ini.
"Syukurlah kamu baik-baik saja!" ucap Zetas yang saat ini duduk di dihadapan Fiyah
__ADS_1
Tapi wanita cantik nan anggun itu masih seperti orang ketakutan, seolah ia belum bisa melupakan kejadian tadi, tangannya yang dipenuhi darah perlahan Zetas bersihkan.
"Tenanglah semuanya akan baik-baik saja, mereka semua pantas mendapatkan itu!" ucapan Zetas membuat air mata Huzafiyah tak bisa dibendung lagi, ia sangat merasa bersalah atas sikapnya selama ini pada Dragon
"Apa ada yang salah dengan ucapanku?" panik Zetas dan Fiyah menggelengkan kepalanya, menatap pria itu dan perlahan berucap bahwa Dragon adalah pria yang baik.
"Cukup, jangan menyebut nama pria maniak itu lagi di hadapanku. Mengapa kamu membelanya, apa karena kamu mencintainya?" ucap Zetas dengan penuh penekanan.
"Mengapa Fiyah, mengapa kamu mencintai pria maniak itu?" tatapan Zetas semakin tajam padanya
"Aku tidak pernah mencintainya, aku menangis karena menyesali sikapku yang selama ini cuek dan tidak menghargainya. Dragon sangat menghormatiku, dia melindungiku seperti seorang kakak, dan semua ini karena aku!" tangis Fiyah
"Karena aku ia seperti ini, aku yang menyebabkan kematiannya!" menangis terisak-isak Fiyah
"Ini bukan salahmu, mereka pantas mendapatkan hal itu. Ingat Fiyah, pria maniak itu sudah banyak membunuh dan sangat pantas menerima balasan seperti ini!" jelas Zetas
Ia baru menyadari bahwa Huzafiyah sedang mengandung saat Fiyah berlari ke kamar mandi dan Zetas mengikutinya, melihat bahwa wanita yang pernah dicintainya itu sedari tadi menujukkan gejala kehamilan.
"Apa kamu hamil?" tanya Zetas saat Fiyah keluar dari kamar mandi mewah itu
"Siapa ayah dari bayi itu?" dengan tatapan penuh makna tapi Huzafiyah hanya terdiam.
"Jawab, siapa ayah dari bayi yang kamu kandung itu!" kembali ucap Zetas dengan penuh penekanan
"Apa itu penting bagimu?" ucapnya dengan mata berkaca-kaca, karena ia tahu Zetas mencurigai bahwa janin yang dikandungnya adalah anak dari pria maniak itu. Semua orang akan berpikir hal yang sama karena mengetahui bahwa Huzafiyah meninggalkan Vernon hanya karena harta.
Disisi lain Fiyah tidak ingin ada yang mengetahui bahwa ayah dari janin yang dikandungnya adalah Vernon, ia takut suatu saat nanti akan dipisahkan dengan calon buah hatinya.
"Aku tidak akan membiarkan ia lahir ke Dunia jika anak itu adalah darah daging Dragon!" jelas Zetas yang saat ini seperti orang yang frustasi.
"Ikut aku!" kembali ucapnya dengan penuh penekanan
"Apa yang akan kamu lakukan Zetas, ini adalah bayiku dan siapapun ayahnya tidak pening bagi kalian semua. Aku yang mengandungnya dan tidak perlu pengakuan dari siapapun, aku bisa merawatnya sendiri tanpa bantuan dari siapapun!" jelas Fiyah dengan mata yang masih berkaca-kaca
"Aku tidak akan membiarkan darah daging Dragon lahir ke Dunia!" kembali Jelas Zetas
__ADS_1
"Apa hanya dendam yang kamu pikirkan, apa kematiannya tidak bisa menghapus kebencian itu di hatimu. Sampai kapan kamu akan membencinya!" teriak Fiyah
Zetas meninggalkannya dan mengunci ruangan itu, ia ingin menenangkan diri terlebih dahulu sebelum memaksakan kehendaknya, menggugurkan kandungan Fiyah.