
Di Mension tuan Francois
"Sayang" panggil Vernon
"Dimana istriku?" khawatirnya setelah memeriksa semua ruangan
"Tuan!" tak percaya Hendry saat melihat tuan mudanya sudah bisa berjalan dan refleks memeluk Vernon
"Aku tidak menyangka kamu akan sebahagia ini saat mengetahui bahwa aku sudah bisa berjalan" Vernon merasa sangat beruntung memiliki asisten yang perhatian seperti Hendry
"Tentu aku sangat bahagia karena tuan akan beraktifitas seperti biasanya lagi, dan itu berarti pekerjaanku akan berkurang" fakta yang tidak bisa ia sembunyikan
"Oh, jadi kamu bahagia hanya karena hal itu?" tak percaya dengan apa yang selama ini asistennya itu pikirkan
"Aku kira kamu tulus bahagia karena melihatku sudah bisa berjalan"
"Bu---bukan begitu tuan" gagapnya
"Sudahlah, aku pikir kamu sangat perhatian kepadaku, tapi ternyata kamu bahagia hanya karena sekarang tidak lagi mengerjakan pekerjaanku. Selama ini aku menambah tiga kali lipat gaji dan bonusmu, tapi mengapa kamu masih terbebani?"
"Otakku tidak secerdas tuan, jadi sangat sulit bagiku menjadi multitasking. Lama-lama aku bisa depresi karena stress berlebihan" curhatan Hendry
"Kamu sudah lama bersamaku tapi otakmu masih saja payah!" candaan tuan mudanya yang sebenarnya adalah ungkapan hati terdalam
"Dia kira mudah apa menjadi seperti dia, selain mengurusi urusan perusahaan yang menyebalkan itu, aku juga harus memimpin Big Move yang tiap hari selalu saja ada masalah besar yang harus dipecahkan" batin Hendry
"Rupanya kamu berani memakiku dalam hati. Bulan ini tidak dapat bonus dan gajimu dipotong!" jelas tuan mudanya, mendengar hal itu sontak Hendry melemas dihadapan tuannya.
"Tuan janganlah seperti itu, saya mengumpulkan uang untuk istri dan anak saya kelak"
"Selain itu untuk modal nikah tuan" jelas Hendry
"Ngumpulin uang tapi calonnya belum ada percuma, pasti uangnya kamu habiskan belanja peralatan games. Kasihan anak istrimu nanti"
"Selagi masih sendiri puaskan diri dulu tuan, jika sudah punya istri pasti tidak bebas lagi beli itu dan ini" jelas Hendry
"Memangnya seperti itu?" penasaran Vernon
"Iya kebanyakan gitu tuan, anggota Big Move yang sudah menikah berkata seperti itu" rumpi Hendry
"Malah ya tuan, mereka berkata uang suami adalah uang istri dan uang istri adalah milik istri sendiri" jelas Hendry
"Hah, aku rasa kamu perlu belajar lagi cara memuliakan seorang istri menurut Islam. Apa kamu tidak pernah mengikuti kajian yang setiap hari Jum'at ustad datang di mension?" pertanyaan Vernon membuat Hendry tersenyum penuh makna
"Aku ingin jawaban darimu, bukan senyum menyebalkan itu!"
"Aku kira tuan hilang ingatan" gumam Hendry yang masih terdengar oleh Vernon
"Heh, saya yang hilang ingatan tapi guru agama yang sudah saya kontrak seumur hidupnya tidak hilang ingatan!" jelas Vernon yang selalu berkomunikasi dengan Afron tentang suasana yang terjadi di mension pribadinya
__ADS_1
"Saya mengikutinya tuan, tapi saat menjelaskan hal itu saya tidak ikut, toh saya juga belum punya istri jadi tidak perlu mendengarkan hal itu" alasan Hendry
"Ilmu itu jadi bekal kamu nanti, biar kalau sudah punya istri tau memperlakukannya harus bagaimana. Ingat, istri adalah tulang rusuk suaminya yang harus dijaga dan dimuliakan. Tulang rusuk bengkok dan tidak boleh kita paksa agar lurus, jika dipaksa maka akan patah. Begitu pula dengan perasaan seorang wanita tidak bisa dibantah dengan cara kasar harus mengikuti alur mereka, nanti jiga emosinya sudah reda baru kita berubah menjadi seseorang yang puitis, bersikap romantis, meminta maaf walau sebenarnya bukan kita yang salah" penjelasan tuan mudanya
"Baiklah tuan, saya akan mempelajarinya"
"Hum" singkat Vernon dan pergi meninggalkan asisten pribadinya itu
"Sayang ternyata kamu disini" bisik Vernon yang saat ini memeluk Fiyah dari belakang
"Lepas, malu dilihat banyak orang" spontan Fiyah yang merasa canggung karena banyak pelayan disitu. Dengan sekali lirikan mata dari pria tampan itu para pelayan terburu-buru meninggalkan ruangan.
"Balim, mengapa mengusir mereka?" ucap Fiyah penuh penekanan yang saat ini berbalik badan menghadap suaminya.
"Jika tidak ingin aku mengusir mereka maka kita ke kamar" ajak Vernon membuat Fiyah berpikir yang tidak-tidak
"Hay nona cantik jangan berpikiran mesum, aku hanya ingin mengajak istriku tercinta ke kamar" goda Vernon
"Kita mau apa disana?" ucap Fiyah dengan senyum malu
"Mengapa wajah nona ini memerah?" goda Vernon lagi
"Balimku, ih" ucap Fiyah malu dan menutup wajah dengan kedua tangannya
"Lama!" bisik Vernon dan mengangkat istri tercinta ala bridal style membawa ke kamar pribadinya.
"Turunkan aku"
"Balim turunkan aku"
Sesampainya di dalam kamar pribadinya, Vernon mendudukkan Fiyah di kursi dan memberikan wanita cantik itu kota kecil, memintanya untuk membuka hadiah darinya.
"Cincin?" tanya Fiyah mengapa suaminya itu memberikan cincin lagi
"Iya sayang" ucapnya dan mengambil cincin itu berlutut dihadapan wanita cantik itu
"Istriku tercinta maukah engkau menjalani hari-hari indah dan romantis bersama suamimu ini?" ucap Vernon membuat senyum manis terlukis di wajah cantik itu
"Semua waktu saat bersamamu adalah indah balimku" bisik Fiyah membuat salah satu sudut bibir Vernon terangkat
"Jawab pertanyaanku sayang" perjelas Vernon dan diterima anggukan oleh Fiyah
"Aku mengantuk" ucap Vernon yang ingin dimanja
"Tidur" singkat Fiyah yang seolah tidak perduli
"Belum cukup dua menit tapi istriku ini sudah melupakan jawabannya"
"Aku harus apa?" bingung Fiyah
__ADS_1
"Sayang semua yang aku lakukan harus ada kamu, dan kamupun begitu harus ada aku. Dengan kata lain kita harus selalu bersama" jelas Vernon
"Apa?" kaget Fiyah
"Apa sulit?" menyerngitkan dahinya
"Bukan seperti itu"
"Lalu seperti apa?"
"Balim, bukankah kita sementara waktu harus menjaga jarak, bagaimana jika ada yang memberitahu kakek tentang kemesraan kita?" khawatir Fiyah
"Semua orang yang ada dalam mension ini dipihakku jadi tidak perlu khawatir lagi sayang, jika mereka berani melakukan hal itu maka aku tidak akan segan mem---" ucapan Vernon terhenti saat Fiyah mencium keningnya.
"Balim, aku tidak menyukai bicara kasar"
"Maafkan aku sayang, aku khilaf"
"Tapi jika aku khilaf lagi, apa akan mendapatkan ciuman?" pertanyaan Vernon membuat Fiyah menutup wajahnya malu.
"Sayang aku sangat menyayangimu" ucap Vernon yang saat ini memeluk istrinya, berbaring ditempat tidur king size.
"Hmm, belum cukup lima menit tapi istriku sudah tertidur. Perasaan aku yang meminta untuk ditemani tidur" kecewa Vernon dan menyusul tidur siang bersama istrinya tercinta.
Beberapa menit berlalu
"Apa tuan muda ini sudah tidur?" ucap pelan Fiyah dan bangun dari pura-pura tidurnya itu, berniat untuk keluar tapi Vernon menghentikannya.
"Sayang mau kemana?" ucapnya dengan suara serak
"Mau ke kamar mandi" alasan Fiyah
"Aku temani"
"Balim sebaiknya tidur saja lagi, nanti aku kembali tidur juga kok" ucap Fiyah yang sebenarnya tempat yang ia ingin tuju masih dalam ruangan itu hanya beberapa langkah lalu sampai, tapi terlanjur bucin jadi ia maklumi saja.
"Astaghfirullah" kaget Fiyah yang baru keluar dari dalam kamar mandi melihat suaminya saat ini sedang menunggunya didepam pintu, bersandar disamping pintu itu dengan mata terpejam.
"Ya Allah apa yang terjadi pada suami hamba, mengapa sikapnya sangat manja sekali" heran Fiyah dan kembali mereka merebahkan diri, melanjutkan tidur siangnya.
Beberapa jam berlalu
"Sayang" mengecup pipi istrinya, membelai dengan lembut
"Ya Allah sudah jam berapa, aku belum sholat"
"Tidak terlambat sayang, aku mau mandi dulu setelah itu kita sholat" ucap Vernon dan Fiyah hendak meninggalkan ruangan itu
"Mau kemana?"
__ADS_1
"Balim, mukenahku ada di kamar jadi aku wudhu disana saja setelah itu baru kesini" jelas Fiyah dan Vernon pun setuju, sebelum pergi ia mencium kening istrinya.