Cinta Dan Identitas Rahasia

Cinta Dan Identitas Rahasia
Saling tersakiti


__ADS_3

Keesokan harinya


"Lepaskan, mengapa kamu melakukan ini kepadaku. Bukankah seharusnya wanita itu yang kamu nikahi?"


"Sebelum aku menikahinya, maka kamu yang pertama akan aku jadikan istri!" senyum jahat Zetas


"Bukankah engkau sangat membenciku, lalu mengapa ingin menikahiku. Aku lebih baik mati dari pada menjadi istrimu!" ucap Jesika penuh penekanan


"Aku ingin hidupmu penuh dengan penderitaan, dan tetap berada disisiku adalah penderitaan yang paling pedih untukmu!" jelas Zetas dengan tatapan menakutkannya


"Aku memang mencintaimu, tapi tetap berada disisimu membuat kita berdua saling tersakiti karena dendam yang ada dalam dirimu. Aku selalu berkata bohong jika perasaanku untukmu telah mati, tidak ada kebahagian di matamu, entah sampai kapan kebencian itu bertahta di hatimu. Aku tidak ingin kamu tersakiti oleh dendammu jadi biarkan aku pergi darimu" batin Jesika yang kini sesak menahan tangisnya.


"Aku sangat mencintaimu tapi hal itu engkau anggap kutukan, bahkan saat ini aku juga mulai membencimu!" ucap Jesika disela tangisnya


"Cuih, sampai kapanpun aku tidak akan pernah mencintai wanita yang dalam darahnya mengalir darah pembunuh seluruh keluargaku!"


"Bahkan jika nyawamu engkau berikan untuk mengganti penderitaanku selama ini tidak akan cukup!"


"Apa engkau paham?" teriak Zetas memegang tangan Jesika sekuat tenaganya membuat wanita itu merintih kesakitan.


"Apa engkau tau, kenapa ibumu meninggal?"


"Itu semua karena ulah ayahmu!" jelas Zetas


"Engkau bukan saja seorang pembunuh, tetapi kamu juga seorang pria yang kejam. Belum cukup bagimu membunuh ayahku dan sekarang engkau memfitnahnya!"


"Apa kamu baru menyadari hal itu?" tawa Zetas


"Akhirnya matamu terbuka juga, yang selama ini berkata bahwa aku adalah pria yang baik dan sangat kamu cintai. Bahkan saat kamu menyaksikan aku membunuh banyak orang tanpa mengetahui kesalahan mereka, tetap saja kamu membelaku. Tapi saat pria bejat itu aku musnahkan dan kamu sudah mengetahui kebenaran bahwa dia yang membunuh seluruh keluargaku, kamu berkata aku jahat, seorang pembunuh!"


"Apa engkau lupa bagaimana liciknya ayahmu. Dia yang membuatku seperti sekarang ini!"


"Dia yang membunuh seluruh keluargaku, ingat itu!"


"Apa engkau sudah paham sekarang?"


"Jawab!" teriak Zetas dan kembali mencengkeram wajah Jesika dengan kasar


"Aku akan buat hidupmu sangat menderita, tidak akan aku biarkan senyum terlukis di bibirmu!" tegas Zetas

__ADS_1


Mendengar hal itu wanita malang yang kini hanya sebatang kara itu tak sanggup lagi membendung air matanya.


"Tangisanmu adalah bahagia untukku!" jelas Zetas meninggalkan Jesika


"Hapus air matanya, aku tidak ingin dihari pernikahan ini melihat wajah sedih darinya!" perintahnya pada pelayan itu


Pernikahanpun berlangsung dan hanya dihadiri oleh anggota Broken Flower. Janji suci terucap oleh dua insan yang saat ini entah itu pernikahan yang harus disambut dengan senyuman atau tangisan. Tapi yang pastinya saat ini mempelai wanita sangat terpaksa melakukan hal itu, sedang sang pangeran berniat menikahinya hanya untuk balas dendam.


Acara pernikahan telah selesai kini Zetas dan Jesika berada dalam kamar pengantin. Entah siapa yang menghias kamar itu, padahal Zetas tidak pernah memerintahkan anak buahnya melakukan hal itu.


"Aku mohon lepaskan aku!" pinta Jesika disela tangisnya


"Jangan meminta hal yang tidak akan pernah aku berikan kepadamu!"


"Apa yang akan membuat hatimu puas kakak, bahkan nyawaku sekalipun tidak berharga lagi bagimu?"


"Jika air mataku membuat senyum terukir di bibirmu, maka aku rela menangis darah setiap hari untukmu!" ucap Jesika dengan menahan sesak di dada


"Kakak, aku mohon hapus dendam itu dari hati dan pikiranmu!"


Mendengar hal itu membuat sayatan di hati Zetas. Sudah lama sekali ia tidak mendengar panggilan kakak dari Jesika.


Bunyi pintu yang ditutup kasar, Zetas keluar mencari udara segar, menjernihkan pikirannya yang saat ini sedang kacau.


"Tuan" panggil seseorang padanya membuat yang dimaksud menoleh.


"Mengapa kamu belum tidur?"


"Aku tidak bisa tidur" Jelas Agatha


"Apa boleh aku bertanya?" ucapnya dan mendapat persetujuan dari Zetas


"Mengapa tuan menikahi wanita itu jika membencinya?"


"Tanyakan hal lain saja, aku tidak ingin menjawabnya"


Agatha menarik dan menghembuskan nafas pelan


"Kapan tuan akan menikahiku?"

__ADS_1


"Apa kamu sudah sangat tidak sabar sayang?" mendekati Agatha dan membelai lembut wajah gadis itu, perubahan mendadak Zetas karena saat ini ia melihat Jesika yang baru saja keluar dari kamarnya dan tidak sengaja menyaksikan kemesraan mereka, tapi ia bersikap seolah tidak perduli atas apa yang dilihatnya.


Saat Jesika ingin meneguk minumannya, Zetas menarik tangan wanita cantik itu dan membuat gelas terjatuh, percikan beling mengenai kaki Jesika membuatnya menahan rasa sakit, Zetas tak puas akan hal itu ia kembali menggenggam kuat tangan istrinya yang membuat bekas kemerahan.


Saat Jesika hendak melangkah barulah Zetas sadar bahwa kaki wanita yang ia benci itu terluka. Pria dingin yang arogan rupanya tak tega melihatnya, dan menggendong Jesika menuju kamar untuk mengobatinya.


Entah apa yang dipikirkan seorang ketua mafia itu saat ini, tapi seolah ia memiliki dua kepribadian yang tidak dimengerti oleh Jesika.


"Apa sakit?" ucapnya lembut dan Jesika hanya menggelengkan kepala.


"Lalu mengapa kamu menangis, apa sudah mulai terasa sakitnya?" kembali bertanya tapi Jesika hanya terdiam


"Aku ingin kembali ke kamarku" pintanya


"Hum" singkat pria dingin itu


Saat Jesika melangkah Zetas menarik kedalam dekapannya, memeluk dengan erat membenamkan wajah di balik tubuh istrinya.


"Tetaplah disini" ucap tulus Zetas


Ingatan saat ayahnya ditempak oleh pria yang saat ini sedang memeluknya terlintas, membuat ia memberontak, melepas pelukan suaminya.


Zetas sangat tidak menyukai penolakan dan mencium paksa istrinya itu, tetapi Jesika malah mencakar lehernya. Apalah daya ia hanya seorang perempuan yang tidak sebanding dengan pria, apalagi itu adalah Zetas seseorang yang tidak ingin kekalahan.


Tangisan Jesika semakin menjadi, ia sangat benci dan muak atas perlakuan pria itu. Bahkan hanya sekedar kecupan singkat ia tangisi.


Bayang-bayang saat peluru menemb*s kepala sang ayah terlihat jelas dimemorinya.


"Apa kamu sebenci itu kepadaku, hingga hanya kecupan singkat membuatmu histeris seperti itu?" tak terima Zetas


"Bukankah kamu yang berkata jijik untuk menyentuhku, tapi kenapa kamu melakukannya. Bahkan sehelai rambutku saja aku tak sudi engkau menyentuhnya!"


"Aturanku dan hidupmu adalah milikku jadi kapan saja aku ingin mengubah hal itu, terserah padaku!"


"Aku benci kepadamu, sangat membencimu. Kamu telah menghapus impianku!" teriak Jesika yang sudah tidak bisa menahan amarahnya.


"Apa engkau tau betapa berharapnya diriku, agar ayah mendampingiku saat dihari kelulusanku nanti. Aku ingin melihat tatapan bangga darinya, tapi engkau menghancurkan semua itu. Aku tau ayah sangat bersalah tapi bisakah kakak memberi kesempatan untuknya berubah, tapi hal itu mustahil bagimu!" ucap Jesika dengan air mata yang mengalir deras di pipinya.


Mendengarnya Zetas hanya terdiam, menatap wajah sembab itu.

__ADS_1


__ADS_2