
"Mengapa hanya diam, bukannya tadi kamu bilang haus dan lapar?" ucap Zetas membuyarkan lamunan Jesika dan berjalan menghampirinya.
"Minum!" menyodorkan botol air mineral yang sudah ia buka tutupnya.
Jesika meneguk air dingin itu tapi tatapan Zetas tak berpaling darinya, membuat ia melirik dan senyum manis terlukis di wajah tampan itu.
"Sampai kapan aku harus berada disini?" batin Jesika
Zetas mengambil botol air mineral itu dan menghabiskan sisa minuman istrinya
"Mengapa menatapku seperti itu?" ucap Zetas
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu!" gumam Jesika
"Apa yang kamu ucapkan sayang, aku tidak mendengarnya?" lembut Zetas
"Aku tidak menatap kakak hanya melihat botol itu" alasan Jesika
"Benarkah, mengapa wajahmu sudah merah seperti cabe?" goda Zetas
"Mana ada seperti cabe"
"Aku tau kamu sangat menyukaiku!" percaya diri Zetas
"Perasaanku sudah mati untukmu kakak!" batin Jesika yang sebenarnya kebohongan
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu" bisik Zetas pada Jesika, membuat wanita itu tak percaya dengan apa yang ia dengar sekarang ini
"Aku takut kehilanganmu, aku tidak bisa menahan emosiku saat melihat dirimu bersama pria lain"
"Sayang, maukah engkau kembali mencintaiku seperti dulu lagi?" ucap Zetas dengan tatapan berharap.
"Apa ini nyata?" tanya Jesika dengan mata yang mulai berkaca-kaca, Zetas mencium kening istrinya, memeluk dan membelai lembut rambutnya.
"Iya sayang" ucap Zetas dan Jesika membalas pelukannya
"Aku sangat merindukan perhatianmu kakak" batin Jesika
Zetas mempererat pelukannya, entah apa yang dipikirkannya saat ini, yang jelas memeluk Jesika memberikan kenyamanan untuknya. Iapun menggendong istrinya ala bridal style, membaringkan diatas tempat tidurnya, menatap dalam netra yang berkaca-kaca itu, membelai dengan lembut wajah Jesika dan menciumnya.
Kewajiban sebagai seorang istri ia tunaikan, membuat ia menjadi istri seutuhnya. Semoga dendam diantara mereka ikut hanyut dalam kemesraan saat ini.
__ADS_1
"Pagi sayang" ucap Zetas dan memberi kecupan selamat pagi, tapi istri tercinta masih terlelap, melihat itu salah satu sudut bibir pria dingin itu terangkat melukis senyum penuh makna.
Iapun dengan segera menuju kamar mandi mewahnya, melakukan rutinitas setiap pagi membersihkan diri. Setelahnya lanjut menuju walk in closet memilih pakaian resmi, karena hari ini ada pertemuan penting dengan para rekan kerjanya. Sebelum keluar dari kamar ia tidak lupa mencium kening istrinya kembali yang masih terlelap.
"Sayang" panggil Agatha dan Zetas menoleh
"Hum" singkatnya
"Kita sarapan sama-sama" ajak Agatha
"Aku ada urusan penting, jadi kamu sarapan sendiri saja atau ajak pelayanmu untuk sarapan sama-sama" jelas pria tampan itu
"Apa kamu menikahiku karena terpaksa?" pertanyaan Agatha membuat langkah Zetas terhenti dan menatap tajam wanita itu.
"Apa karena amanah dari ayahku?" tanyanya lagi
"Agatha aku ada urusan penting, nanti saja kita membahas ini!"
"Cinta bukanlah sebuah keterpaksaan tapi cinta adalah ketulusan. Jika kamu hanya berpura-pura mencintaiku demi sebuah amanah, aku akan pergi!" teriak Agatha
Ia memang meminta Zetas untuk bersikap baik pada Jesika tapi bukan berarti mereka harus tidur bersama, apalagi dimalam pertama mereka, Zetas lebih memilih untuk tidur dengan wanita lain.
"Agatha aku tidak bermaksud menyakitimu, tapi ini semua ayahmu lakukan untuk melindungi dirimu dari pria berengsek itu. Hanya dengan aku menikahimu maka dia tidak bisa mendekatimu dan berbuat hal nekat."
"Hubungan kita hanya sebatas perjanjian, kamu bebas untuk melakukan apapun. Jika suatu saat sudah menemukan orang yang bersungguh-sungguh mencintaimu maka disaat itupun aku akan menceraikan mu" ucapan Zetas bagaikan tusukan mematikan untuk Agatha
"Dunia mafia sangat menakutkan, jika kami menginginkan sesuatu maka secepatnya harus kami miliki, tidak ingin mendengar penolakan. Kamu pahamkan maksudku, jika aku tidak melindungimu dengan cara ini maka Dargon tidak akan tinggal diam!"
"Aku tidak ingin mendengar semua alasanmu itu, aku hanya ingin kamu mencintaiku. Jika saat ini hatimu belum bisa, maka aku akan menunggu!" ucap Agatha disela isaknya
"Jangan berharap padaku Agatha, aku hanyalah seorang pria berengsek yang tidak pantas kamu cintai. Hatiku hanya mampu mencintai satu wanita!" Jelas Zetas lalu pergi
"Apa maksudmu hanya mampu mencintai satu wanita Zetas, apa dia adalah Jesika?" ucap Agatha yang saat ini meratapi nasibnya.
"Kakak kenapa?" tanya Jesika saat melihat air mata yang terus mengalir di wajah wanita cantik itu
"Aku salah menganggap kebencian Zetas kepadamu tidak bisa berubah menjadi cinta!"
"Aku terlalu percaya diri" sesak yang dirasakan Agatha semakin menyiksanya
Mendengar hal itu Jesika hanya membisu.
__ADS_1
"Aku bahagia melihat kalian baikan, tapi aku juga sangat sakit ketika melihat dia memperlakukanmu dengan mesra!" jelas Agatha
"Apa yang harus aku katakan?" batin Jesika
"Tapi aku tidak mudah menyerah, Jesika maukah kamu membantuku agar Zetas memperhatikanku?" ucapan Agatha seolah racun bagi Jesika, bagaiman tidak disatu sisi ia sangat kasihan pada Jesika tapi disisi lain ia tidak ingin berbagi suami dengan wanita lain.
"Jesika aku mohon, jika tidak lebih baik aku mengakhiri hidup ini!" nekat Jesika
"Aku harus berbuat apa?" ucap Jesika dengan penuh kebimbangan
"Bersikap cuek padanya" ucap Agatha dan terpaksa diterima anggukan oleh Jesika dan tersenyum getir.
"Terima kasih" memeluk Jesika
Sedang disebuah hotel mewah tepatnya di lounge, para mafia telah menunggu kedatangan seseorang yang sangat penting.
Pria tampan menggunakan setelan serba hitam, blazer jubah mewah menambah kesan elegan dan misterius. Dengan gaya rambut slicked back yang diberikan pomade agar tetap rapi walau badai menerjang. Wajah yang tampan tapi tercermin bad boy darinya siapa lagi kalau bukan Zetas Gang seorang pria yang memiliki vibes mematikan, berbuat sesuka hatinya dan tidak ingin mendengar penolakan, karakternya hampir sama dengan Vernon hanya saja seorang putra Adhulpus itu pria yang romantis dan penyayang. Bad boy diluar tapi good boy didalam.
Setelah beberapa jam membicarakan banyak hal penting dan disuguhkan dengan berbagai pilihan minuman keras.
"Apa tuan Zetas tidak menyukai minumannya?" ucap seseorang diantara mereka
"Maaf, tuan kami sudah lama tidak mengkonsumsi minuman keras tuan!" jelas Zegos yang sedari tadi mengikut seperti kacung tak ingin beralih dari tuannya.
"Hahaha, ternyata tuan Zetas sudah tobat!" tawa seseorang dan mendapat tatapan tajam dari Zetas, sontak membuatnya diam tertunduk dengan wajah pucat.
"Jika kamu masih ingin hidup diamlah!" bisik seseorang didekatnya
"Maafkan saya tuan"
"Tidak apa-apa, lanjutkan tertawamu!" ucapan Zetas seolah ancaman untuknya padahal pria itu tidak menggertaknya.
Dering handphone Zegos berbunyi membuat ia segera melihatnya. Iapun berbisik pada tuannya tidak lama setelah itu mereka meninggalkan lounge.
"Siapa yang memerintahkan kalian?" ucap Zetas memainkan pistol di tangannya, yang saat ini mereka sudah berada di markas Broken Flower.
"Kami lebih baik mati daripada memberi tahu tentang tuan kami!" tegas mereka
"Hari ini aku sedang dalam mood yang baik, jadi biarkan mereka istirahat. Jika besok tidak menjawab maka ikuti kemauan mereka!" jelas Zetas
"Maksud tuan keingin mereka yang mana?" polos Darel dan mendapat tatapan tajam dari Zetas, tuan mudanya tidak berucap sepatah katapun, hanya mengarahkan pistol pada Darel membuat ia sekarang paham apa yang dimaksud Zetas, tapi tubuhnya saat ini gemetaran dan wajah yang berubah menjadi pucat. Dengan senyum devil Zetas menurunkan pistolnya dan meninggalkan tempat itu.
__ADS_1