Cinta Dan Identitas Rahasia

Cinta Dan Identitas Rahasia
Takdir


__ADS_3

"Assalamualaikum" ucap kyai Husein saat tiba di kediamannya


"Waalaikumsalam" jawab bersamaan Vernon dan ustadz Halik


"Rupanya ada tamu, MasyaAllah siapa pria tampan ini?" tanya kyai Husein dan Vernon dengan sopan memperkenalkan diri dan mencium punggung tangan mertuanya itu.


"Aa, ada yang ingin aku bicarakan, bisakah kita keruangan tengah?" ajak ustad Halik dan kyai Husein mengiyakannya, setelah pamit kepada Vernon iapun masuk ingin membersihkan diri karena dari luar.


"Assalamualaikum" ucap Yakub


"Waalaikumsalam" jawab mereka bersamaan


"Kebetulan kamu datang nak, temani dulu kakakmu ini!" pinta ustad Halik kepada putra bungsunya itu.


"MasyaAllah, siapa pria tampan ini Abi?" kagum Yakub


"Kalian ngobrol saja, abi mau menyusul Aa Husein"


"Kakak ini manusia atau bukan, boleh aku cubit pipinya sedikit kak?" polos Yakub membuat Vernon tidak bisa menahan tawanya


...*...


(Author cuma mau menginformasikan bahwa kenapa Vernon dkk tidak menggunakan bahasa Inggris atau bahasa negaranya, karena jika dipakaikan bahasa Inggris atau Jerman maka ceritanya dominan ke bahasa Vernon dkk. Dan akan ribet nantinya jadi Author ratakan saja pake bahasa Indonesia. Yang lebih pentingnya karena pembaca adalah orang Indonesia. Jadi jangan bingung ya, kenapa orang asing kok pake bahasa Indonesia)


...*...


"Kakak ini asalnya dari mana?" penasaran Yakub


"Jerman" spontan Vernon


"Oh Jerman, tapi kakak sangat tampan aku kira blasteran kayangan" goda Yakub bercanda


"Ibuku berkebangsaan Turki" jelas Vernon


"Pantas sempurna seperti ini" ucap Yakub yang membuat Vernon menarik nafas dengan berat mau sampai kapan ia berbicara dengan orang seperti ini.

__ADS_1


"Maaf kak, ini pertamanya aku melihat pria setampan kakak. Apa jangan-jangan kakak mau melamar mbak Fiyah?"


"Ia" Vernon mengikuti alur agar Yakub tidak banyak tanya lagi


"Belum terlambat kak masih ada kesempatan, untung mbak Fiyah belum menikah!" jelas Yakub


"Abi" ucap Fiyah dan memeluk abinya yang saat ini mereka berada diruang keluarga


"Ini putri abi?" tak percaya kyai Husein


"Ia abi ini Fiyah" jelas umi Salma


"Kenapa cepat pulang?" tanya kyai Husein


"Ada hal yang ingin Fiyah sampaikan" jelas umi Salma


"Paman sebaiknya aku saja yang sampaikan" pinta Fiyah pada ustad Halik


"Ada apa ini, perasaan Abi tidak enak apa terjadi sesuatu pada Fiyah?" khawatir kyai Husein


"Maaf aku masuk tanpa izin, tapi ini adalah tanggung jawabku biar aku yang berbicara dengan ayahmu nona!" pinta Vernon yang membuat kyai Husein semakin penasaran


"Aku minta maaf karena menikahi putri anda tanpa sepengetahuan, dan restu anda tuan" jelas Vernon


"Apa maksud pria ini Fiyah?" tak percaya kyai Husein yang saat ini memegang dadanya


"Abi maafkan aku, tapi ini adalah kesalahpahaman dan membuat kami harus menikah saat itu" jelas Fiyah


"Aku yang seharusnya minta maaf Aa, karena aku yang berani menikahkan mereka di belang Aa. Saat itu Fiyah dan Vernon tertuduh melakukan hal yang keji dan karena ingin melindungi marwah Fiyah aku menyerahkan hak wali hakim kepada tokoh agama disana, aku takut saat mengetahui hal ini akan berdampak pada kesehatan Aa. Oleh karenanya aku meminta Fiyah agar memberitahukan pada waktu yang tepat."


Kyai Husein masih memegang dadanya yang membuat umi Salma khawatir dan hanya terdiam menatap putrinya itu.


"Astaghfirullah Al-adzim" batin kyai Husein berkali-kali mengucapkan istighfar


"Maafkan aku tuan, ini semua kesalahanku. Jika tuan rasa pernikahan kami tidak sah, aku siap mengucapkan akad ke dua kalinya. Dan saat ini aku ingin melamar Huzafiyah secara resmi di hadapan kedua orang tuanya" ucap Vernon

__ADS_1


"Izinkan aku menikahi putri tuan, aku berjanji akan membahagiakannya selama sisa hidupku. Walaupun hanya janji Allah yang abadi tapi aku mencintai putri tuan atas nama Nya, selagi iman dan akal sehat bertahta dalam diri ini, tidak akan pernah aku menyia-nyiakan putri tuan. Sungguh, ini adalah ungkapan hatiku yang paling dalam" jelas Vernon yang menerima anggukan pelan kyai Husein dan sedari tadi umi Salma mengusap lembut tangan suaminya itu.


"Huzafiyah Nurul Husein maukah engkau menikah denganku? serumit apapun jalannya kamu adalah satu-satunya wanita yang ingin aku ajak dalam segala hal!" lamar Vernon


"Apa-apaan dia, bukankah ini hal yang bodoh. Karena jawabannya sudah tentu aku menerimanya, mana mungkin aku menolak dalam keadaan yang rumit seperti ini" batin Fiyah dan hanya mengiyakan dengan anggukan kepala dan tersenyum agar abi dan umi nya tak khawatir.


"Abi harap kamu menjaga putri abi dengan baik, jadilah laki-laki yang takut kepada Allah maka engkau akan takut menyakiti istrimu, jika engkau marah jangan menghinanya, dan buktikan cintamu dengan cara memuliakannya.


Huzafiyah memang bukan seorang wanita yang berdarah biru keturunan bangsawan, tetapi dia adalah putri yang paling berharga bagi kami.


Ia bahkan tidak pernah mendengar suara teriakan atau bentakan dari kedua orang tuanya, hati Fiyah sangat rapuh jadi abi mohon sayangilah dia sepenuh hatimu.


Jika suatu saat nanti ada keraguan dalam hatimu tentangnya atau rasa cinta itu telah pudar bahkan menghilang, pulangkan lah ia pada kami karena kasih sayang dan cinta kedua orang tua kepada anaknya tak mengenal batas waktu." nasehat kyai Husein dengan derai air matanya dan memeluk Vernon.


"Abi percaya padamu nak, bisa menjaga dan membahagiakan putriku" ucap kyai Husein saat memeluk Vernon


"Aku akan menikahkan kalian selesai sholat isya nanti, nak Vernon apa mau menjadi imam shalat?"


"Tidak abi, aku sangat merindukan abi menjadi imam di masjid" ujar Fiyah yang tentunya tidak bisa ditolak oleh kyai Husein.


Masjid Darul Ar Rahman kini dipenuhi oleh para santri dan santriwati. Setelah Vernon mengumandangkan adzan dengan suara yang sangat merdu membuat jamaah semakin banyak.


Kyai Husein mulai mengumandangkan takbir dan sampailah pada sujud terakhir.


"Subhanallah"


"Subhanallah"


"Subhanallah" ucap ustad Halik


"Allahuakbar" ucap Vernon yang saat ini menjadi imam menggantikan kyai Husein yang telah terbaring tak berdaya


"Assalamualaikum warahmatullah" salam kekanan


"Assalamualaikum warahmatullah" salam kekiri.

__ADS_1


Semua jamaah panik dengan segera Vernon memeriksa kondisi kyai Husein tapi takdir Allah telah tetapkan, kematian tak ada yang bisa menghalangi.


__ADS_2