
"Apa tuan cemburu?" goda Fiyah
"Apa maksudmu nona?"
"Aku cemburu kepadamu? itu tidak mungkin!"
"Selain itu aku sudah memiliki tunangan"
"Oh, semoga tuan hidup bahagia dengan tunangan tuan!" ketus Fiyah
"Aku rasa engkau yang cemburu nona!"
"Benarkah, jika memang aku cemburu lalu apa yang akan tuan Vernon lakukan. Apa tuan akan memutuskan pertunangan itu dan memilihku!"
"Jaga ucapanmu nona, hal itu tidak akan pernah aku lakukan dan ingat kamu ini sudah memiliki kekasih walaupun terpaksa seperti yang engkau ceritakan, tetapi engkau sendiri yang berkata bahwa cepat atau lambat engkau akan jatuh hati pada Hendry. Jadi mohon ingat ucapanmu itu nona!"
"Tentu aku ingat tuan, dan aku adalah wanita yang paling setia pada pasanganku. Hanya saja orang yang aku cintai mudah melupakanku!
"Aku lapar" Vernon mengalihkan karena ia tidak tahan lagi berbicara dengan wanita aneh menurutnya.
"Baiklah, tunggu disini tuan muda!" ucap Fiyah dan tersenyum menggoda.
"Dasar, jika terus seperti ini aku tida tahan lagi. Dia terus menggodaku dan entah mengapa hatiku seolah ingin lebih dekat dengan wanita penggoda itu!" gumam Vernon
"Hendry ke ruanganku sekarang" perintah Vernon yang saat ini menghubungi Hendry.
*Setiba di ruangan kerjanya*
"Sebenarnya siapa wanita itu?" ucap Vernon yang membuat Hendry kaget
"Dia adalah tunanganku tuan!"
"Lalu kenapa dia berkata bahwa dia hanya seorang gadis penebus hutang!" jelas Vernon yang membuat Hendry tidak bisa menahan tawanya
"Aku serius Hendry!"
"Ia tuan, karena aku sangat mencintainya makanya aku menjebak keluarganya!" bohongnya lagi
"Matilah aku sudah membuat diri ini dalam bahaya, jika ingatan tuan kembali entah apa yang akan ia lakukan kepadaku, karena berakta mencinta nyonya Huzafiyah berkali-kali" batin Hendry yang mungkin jika bukan ruangan ber-AC ia pasti sudah mengeluarkan keringat dingin.
"Aku rasa dia bukan wanita yang baik"
"Dia sangat baik tuan, bahkan sangat sopan!" ucap Hendry yang membuat Vernon menyipitkan mata tidak terima, bagimana tidak sikap yang Fiyah tujukkan kepadanya seolah ia adalah wanita penggoda dan sangat tidak sopan.
"Tuan ternyata disini" ucap Fiyah yang membawa nampan berisi makanan
"Sebaiknya aku keluar tuan" pamit Hendry yang di balas tatapan penuh makna Vernon, ia bermaksud agar asistennya itu tidak keluar meninggalkan ruangan. Dan Fiyah memberi senyuman pada Hendry yang dilirik oleh ketua Big Move itu.
"Apa perlu saya suapin tuan?" tawar Fiyah
"Tanganku masih berfungsi!"
"Oh" singkatnya dan duduk di kursi berhadapan dengan Vernon memperhatikan pria tampan itu.
"Kamu bisa keluar sekarang!"
"Tidak apa-apa aku disini saja tuan"
"Aku tidak bisa makan jika terus kamu perhatikan seperti itu" Vernon yang kesal bagimana tidak wanita itu membuatnya tidak bisa menggerakkan tangan karena tatapan Fiyah tak lepas darinya.
__ADS_1
"Anggap saja aku tidak ada tuan!" spontan Fiyah yang membuat Vernon frustasi
"Gampang sekali dia berucap seperti itu!" gumam Vernon
"Apa tuan mengucapkan susuatu?"
"Tidak, mohon nona keluar sekarang!" ucap Vernon penuh penekanan dan tersenyum terpaksa
"Tapi aku takut pada tuan Francois, dia sepertinya tidak menyukai keberadaanku. Jadi aku mohon biarkan aku bersama tuan!"
"Berani sekali dia menjelekkan kakekku!" batin Vernon
"Terserah nona" pasrah Vernon
"Tapi jangan menatapku lagi!"
"Baik, aku akan duduk menghadap kebelakang" ucap Fiyah dan memutar kursinya membelakangi Vernon, membuat pria itu tersenyum tipis.
"Aku akan membuatmu mengingat tentang kita suamiku!" batin Fiyah
Beberapa menit kemudian
"Kamu boleh berbalik sekarang" ucap Vernon tetapi tak mendapat respon dari wanita cantik itu
"Ada apa dengannya" gumam Vernon lalu menghampiri Fiyah, tak disangka sang istri telah terlelap.
"Dasar wanita aneh, berani sekali dia tidur ditempat pria yang baru saja dikenalnya"
"Entah mengapa aku sangat nyaman saat melihat wajah teduhmu!" batin Vernon dengan tatapan tak teralihkan dari wajah wanita manis itu. Saat tangannya ingin menyentuh Fiyah hendak membangunkannya tapi Hendry mengetuk pintu yang membuat Fiyah terbangun, pandangan merekapun tertuju satu sama lain membuat Fiyah tersenyum sedang Vernon salah tingkah.
"Tadi aku hanya ingin membangunkanmu!" gugupnya
"Masuk!" perintah Vernon mengalihkan pembicaraan
"Ada apa Hendry?"
"Ada tamu tuan"
"Siapa?"
"Putri Adriana" ucap Hendry tapi pandangannya tertuju pada Huzafiyah
"Hendry saja yang membantuku kesana, engkau tetap disini nona!" perintah Vernon
"Mengapa aku tidak boleh ikut, aku hanya ingin melihat tunangan tuan!"
"Jangan sampai aku mengulangi ucapanku nona!" peringati Vernon
"Baiklah" pasrah Fiyah
Dua pria tampan itu menuju ruang tamu yang disana sudah ada tuan Francois menemani putri Adriana dan kedua orangtuanya.
"Vernon" ucap Adriana yang bangkit dari duduknya menghampiri pria tampan itu memeluk dan menciumnya, sedang dari jauh Fiyah melihat hal itu.
"Jaga sikapmu dan jangan berbuat seperti ini lagi!" jelas Vernon
"Baiklah tapi aku tidak janji!"
"Bagaimana kondisimu nak!" tanya tuan dan nyonya Paxton
__ADS_1
"Baik"
Setelah ngobrol banyak Adriana mengajak Vernon ke taman dan tanpa memperdulikan penolakan pria tampan itu putri Adriana mendorong kursi roda menuju taman belakang Mension.
"Hendry bisakah membawakan kami teh!" pinta Adriana
"Jangan memerintahnya seperti itu!"
"Tidak apa tuan, aku akan meminta nona Huzafiyah membawakannya untuk nyonya Adriana" ucap Hendry lalu pergi
"Mengapa harus aku yang mengantarkan ini?" tak terima Fiyah karena saat ini sedang cemburu
"Apa nyonya ingin mereka selalu berduaan seperti itu!"
"Baiklah, aku pergi tapi kami juga harus ikut bersamaku!"
"Iya nyonya"
"Ini tuan"
"Dia siapa?" tanya putri Adriana pada Vernon
"Yang merawatku, tapi tugasnya hanya menyediakan makanan!" ucapan Vernon membuat Fiyah mengerucutkan bibirnya karena kesal
"Mengapa dia harus menjelaskan sedetail itu kepada wanita ini" batin Fiyah
"Tapi dia sangat tidak sopan kepadamu!"
"Tidak sopan dari mananya?" batin Fiyah
"Vernon apa kamu tidak ingin mengganti perawat? aku bersedia merawatmu!" ucap putri Adriana
"Tidak perlu hiraukan dia, biar saja nona ini yang merawatku!" Jelas Vernon
"Tapi dia tidak sopan kepadamu!"
"Aku akan mengajarinya sopan santun!"
"Mengapa Vernon membela wanita ini" batin putri Adriana yang tidak terima jika Fiyah menjadi perawat tunangannya
"Kamu harus bersikap sopan kepada calon suamiku dan jangan tebar pesona!"
"Baik nyonya" dengan senyum terpaksa
"Seharusnya kata-kata itu untuk dirinya" batin Fiyah
"Sayang aku suapin ya?"
"Aku bisa sendiri"
"Kamu tidak boleh menolakku, kita akan segera menikah!" ucapan Adriana membaut Vernon mengikutinya sedang Fiyah dan Hendry hanya menyaksikan.
"Sayang aku haus" ucap Hendry memecahkan kesunyian diantara mereka, membuat Fiyah tersenyum sedang Vernon entah mengapa sangat jengkel kepada Hendry saat ini.
"Sebaiknya kita masuk saja dan aku akan membuatkan minuman untukmu calon suami ku!" ajak Fiyah pada calon suami pura-puranya itu yang membuat Vernon semakin jengkel. Mereka berdua sengaja melakukan itu agar tuan mudanya cemburu.
"Tuan dan nyonya kami masuk duluan yah, calon suami saya haus!" pamit Fiyah membaut Vernon melirik dengan tatapan tajam kepadanya sedang yang ditatap hanya tersenyum semanis mungkin.
"Dasar suka pamer" batin Vernon
__ADS_1
"Mengapa aku tak terima akan kemesraan mereka, ingin sekali aku mencabik-cabik tubuh Hendry" batin Vernon