
"kakak" kaget Jesika yang tiba-tiba Zetas memeluknya dari belakang
"Aku sangat merindukanmu sayang" bisik Zetas
"Mengapa perasaanku belum yakin sepenuhnya dengan perubahan mendadakmu kakak" batin Jesika
"Apa kamu tidak merindukanku sayang?"
Kini Jesika berbalik menghadap suaminya itu
"Mengapa istriku ini terlihat murung, apa ada masalah sayang?" tanyanya dengan suara lembut
"Aku sangat mencintaimu, tapi entah mengapa hati ini masih ragu dengan sikapmu padaku" batin Jesika
"Kenapa diam sayang, katakan padaku siapa yang membuat istri cantikku ini bersedih?" memegang wajah istrinya dengan lembut
"Apa kakak ingin makan, aku sudah masak makanan kesukaan kakak" mengalihkan pembicaraan, dan ketua Broken Flower itu hanya mengikuti kemauan istrinya.
"Ternyata kamu sudah pulang sayang" ucap Agatha dan berlari memeluk Zetas
"Agatha lepas" ucap Zetas dan menghampiri Jesika yang sedang mempersiapkan makanan.
"Biar aku saja yang melayani suamiku" pinta Agatha pada Jesika
"Ya ampun, aku lupa kalau sekarang ada kelas online. Maaf kakak aku harus segera pergi" pamit Jesika pada mereka
"Sayang tapi kamu---" ucapan Zetas terhenti saat melihat istri kecilnya itu berlari, perlahan hilang dari pandangannya.
"Biarkan dia pergi sayang, kita lanjutkan makan malamnya" bujuk Agatha
"Maafkan aku kakak harus berbohong kepadamu" batin Jesika
"Aku sangat ingin bersamamu, tapi entah mengapa aku menjadi seorang pecundang yang takut terluka dan melukai"
"Aku mencintaimu dengan hati, tapi pikiranku menjadi pemisah kita. Hatiku adalah batu sedang pikiran ini adalah palu, aku bingung pada diriku."
"Kasih sayangmu lebih kejam dari pedang, begitu kejamnya sehingga membuatku menjadi seperti musuh bagimu. Aku tidak ingin terjebak dalam hal itu lagi"
"Aku adalah putri dari seseorang yang menghancurkan keluargamu, aku takut jika suatu saat engkau kembali mempermasalahkan itu"
Kekhawatiran terlintas di benak Jesika yang saat ini wanita cantik itu berbaring dalam kamarnya di paviliun.
__ADS_1
Bunyi pintu terdengar, langkah seseorang semakin mendekat tapi Jesika abaikan dan menyangka itu bi Rose.
"Jangan bakar hatimu yang sudah terbakar dengan pemikiran seperti itu sayang" bisik Zetas yang saat ini berbaring disamping istrinya dan memeluknya.
"Kakak" kaget Jesika yang kedua kalinya oleh pria tampan itu
"Aku sangat mencintaimu, jangan pernah berpikir untuk mendekatkan aku dengan Agatha" jelas Zetas
"Hatiku hanya segenggam, tak cukup ruangĀ untuk mencintai dua wanita sekaligus, dan aku hanya mencintaimu" bisik Zetas lembut
"Aku mohon jangan ragukan cintaku kepadamu!" bisiknya lagi
Setelah melewati malam yang romantis, keduanya pun terlelap dengan tangan yang melingkar di pinggang ramping istrinya.
Kecupan selamat pagi dari seorang pria tampan membangunkan istrinya
"Pagi sayang" ucap Zetas dan memberi sekuntum mawar pada Jesika, wanita cantik nan anggun.
Kini Jesika sangat yakin pada suaminya itu dan mulai membuka hati sepenuhnya, tanpa ada keraguan sedikitpun. Permintaan Agatha padanya agar cuek kepada suaminya itu terpaksa ia ingkari. Walau bagaimanapun Jesika menjauhi Zetas, pria itu akan selalu mendekatinya.
Setelah pria tampan itu mengucapkan selamat pagi pada istri tercintanya, iapun segera menuju kamar mandi dan setelah itu ia memasuki walk in closet untuk memilih pakaian resmi, tak lama kemudian Jesika datang dan memasangkan dasi padanya. Hari ini ada pertemuan penting, dan malam ini adalah acara besar para mafia. Seluruh mafia akan berdatangan dari Negara yang berbeda membahas sesuatu hal yang penting bagi mereka.
Ia menatap mesra istrinya dan bercanda dengannya. Setelah itu Zetas melihat penampilannya di cermin merapikan rambut dan memberinya sedikit pomade agar terlihat rapi dan tidak berantakan walau tertiup angin kencang, dan sentuhan terakhir ia menyemprotkan parfum mahal keseluruh tubuhnya.
Beberapa jam berlalu setelah kepergian ketua Broken Flower dan asisten pribadinya itu.
"Apa sangat sulit menepati janjimu?" pertanyaan Agatha menghentikan langkah Jesika dan berbalik memandangi wanita itu
"Maafkan aku, aku tidak bisa bersikap cuek kepada suamiku" jelas Jesika
"Dia juga suamiku, tapi mengapa hanya kamu yang dianggap sebagai seorang istri?" teriak Agatha
"Maafkan aku" merasa bersalah Jesika
"Aku yang seharusnya minta maaf karena telah berucap kasar kepadamu, aku bingung harus menyalahkan siapa. Ingin sekali hati ini menyalahkan kamu tapi pikiranku menyadarkan bahwa aku yang salah, mencintai seseorang yang tidak mencintaiku!" jelas Agatha
Waktu berlalu begitu cepat, kini menujukkan 22:00
"Nyonya, hotel yang dijadikan tempat untuk pertemuan bos besar dengan para rekan kerjanya terbakar" jelas salah satu bodyguard membuat Jesika dan Agatha buru-buru ketempat itu.
Mobil mewah yang ditumpangi Agatha kini mulai melaju, sedang Jesika dihentikan oleh Orion dan pria itu yang akan mengantarnya ketempat Zetas yang sesungguhnya.
__ADS_1
"Kenapa kita kesini?" bingung Jesika mengapa Orion membawanya kesebuah tempat hiburan malam
"Zetas ada disini" ucap Orion
"Bukannya kakak akan menemui rekan kerjanya di hotel itu?"
"Pertemuan mereka tiga jam yang lalu" jelas Orion
"Kamu sangat lugu hingga dengan mudahnya tertipu oleh Zetas"
"Ikut aku dan saksikan sendiri apa yang pria tercintamu itu lakukan, tapi sebelum itu aku ingin kamu berjanji kepadaku!" pinta Orion dan Jesika menatap pria itu bingung
"Tinggalkan Zetas dan ikut bersamaku, ada hal penting yang harus kamu ketahui"
"Apa kamu bercanda, dan hal penting apa yang kamu maksud?"
"Aku tidak bisa menceritakannya, setelah ini ikut denganku dan ayah yang akan menceritakannya"
"Pria penakut kita sekarang tumbuh dengan baik dan sudah bisa menjaga rahasia" ejek Jesika pada Orion.
"Ayo kita masuk, aku ingin menemui suamiku" ucap Jesika dan dituruti oleh pria tampan itu
Senyum manis terlukis di wajah cantik Jesika saat melihat suaminya itu duduk bersama dengan Zegos. Ia hendak ingin mendekati tapi Orion menahannya memasangkan topi pada Jesika. Penyamaran merekapun berhasil, kini duduk membelakangi Zetas yang saat ini pembicaraannya didengar oleh Jesika.
"Sampai kapan aku harus berpura-pura baik, berpura-pura mencintai wanita menjijikan itu. Aku muak pada semua ini, mengapa selalu aku yang harus berkorban" curhatan Zetas yang saat ini mabuk berat
"Ayahnya adalah musuhku, sedang orang yang membesarkannya adalah pembunuh seluruh keluargaku dan bajingan bangsat itu yang memerintahkannya"
"Aku ingin sekali membunuh putrinya dihadapan pria bangsat itu" teriak Zetas
"Bahkan sampai detik ini mereka masih menjadikan kita alat untuk menghancurkan seseorang yang bukan sasaran kita, pria maniak itu sangat pandai memanipulasi keadaan"
"Jesika adalah senjata mematikan untuk pria maniak seperti Darelano!" jelas Zetas yang membuat Jesika tak bisa menahan tangisnya. Ternyata wanita menjijikan yang dimaksud Zetas adalah dirinya.
"Orion bawa aku pergi dari tempat ini!" pinta Jesika yang menahan tangisannya agar tidak dicurigai
"Jelaskan kepadaku apa maksud semua ini?" ucap Jesika saat mereka sudah berada dalam mobil
"Tuan Darelano adalah ayahmu, jangan bertanya lagi padaku hanya sebatas itu yang aku ketahui, terlalu rumit masalah mereka" jelas Orion
"Sekarang tepati janjimu padaku!" ucap Orion
__ADS_1
Jesika hanya diam dengan air mata yang mengalir deras di pipinya. Orion melempar handphone milik wanita cantik itu.
"Zetas telah memasang pelacak di handphonemu" jelas Orion walaupun Jesika tidak meminta penjelasan, karena saat ini ia masih larut dalam kesedihannya, tak percaya dengan apa yang dialaminya saat ini.