Cinta Dan Identitas Rahasia

Cinta Dan Identitas Rahasia
Jodoh adalah takdir


__ADS_3

"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un" ucap Vernon dan semua orang saat mengetahuinya


Dari kejauhan aku mendengar ucapan itu kalimat yang membuat hati ini sesak bahkan sangat perih, kaki ini mulai terasa berat untuk melangkah, ku yakinkan diri ini agar tetap tegar, sayup-sayup tangis terdengar, ku langkahkan kaki menuju laki-laki yang sangat berarti dalam hidupku.


Semua pandangan tertuju kearahku, kini pria yang dulu gagah dan penuh senyuman terbaring tak berdaya. Pandangan ini semakin buram karena cair bening memenuhi mata, ku mencoba tegar dihadap Abi untuk yang terahir kalinya.Tapi aku tak bisa, Isak tangis ini semakin menjadi, aku melihat kearah umi yang saat ini matanya mulai bengkak.


"Abi siapa yang akan memperdulikan ku, siapa yang akan menyayangiku, siapa yang akan menjagaku dan umi!"


"Abi!" tangis Fiyah dan Vernon hanya bisa menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca


"Abi bangun, bukankah Abi ingin menikahkan aku setelah ini!" Isak Fiyah


"Abi bangun buka matamu, mengapa mengabaikan ku seperti ini?" tangisan Fiyah yang semakin menjadi


"Ini semua salahku, abi bangun!" histeris Fiyah


"Fiyah sudah, setelah kepergian mu saat itu abi jatuh sakit. Tapi ia memaksakan diri untuk melakukan semua aktivitasnya seperti biasa, umi sangat bahagia saat engkau pulang dan ini bukan karena kesalahanmu nak" umi Salma menenangkan putrinya itu


"Halik, tolong nikahkan putriku setelah menunaikan sholat isya!" ucapan Kyai Husein yang terlintas di benak ustad Halik


"Aku ingin istirahat dan hanya ingin menyaksikannya, rasanya tubuhku sangat lelah" ucapan kyai Husein seolah pertanda darinya


"Fiyah, paman akan menikahkan kalian saat ini!" ujar tiba-tiba ustad Halik


"Apa maksud paman, abi terbaring lemah tak berdaya seperti ini dan paman ingin menikahkan aku?"


"Ini adalah permintaan terakhir abimu kepadaku nak" jelas ustad Halik

__ADS_1


"Turutilah Fiyah!" lanjut umi Salma


"Paman Sam bukankah engkau seorang dokter tolong selamatkan abi ku!" pinta Fiyah yang belum bisa menerima kepergian kyai Husein


"Fiyah dengar umi, ini adalah takdir yang telah ditetapkan oleh Allah." menyadarkan putrinya itu sedang hati Vernon seolah hancur menyaksikan kesedihan wanita yang dicintainya itu.


Dengan disaksikan oleh para jamaah dan kyai Husein yang kini telah terbaring tak bernyawa, akad pun di lafaskan.


"Ananda Vernon Adhulpus bin Adhulpus Francois Hendrico saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Huzafiyah Nurul Husein binti Muhammad Husain dengan maskawin nya berupa seperangkat alat sholat dan cincin berlian senilai 1 miliar rupiah dibayar tunai" ucap ustad Halik


"Saya terima nikah dan kawinnya Huzafiyah Nurul Husein binti Muhammad Husain dengan maskawin nya yang tersebut, tunai" ucap Vernon


"Sah" ucap para saksi bersamaan tapi hari itu adalah hari paling menyedihkan bagi semua orang. Mereka kini telah kehilangan sosok pemimpin yang baik, berwibawa dan dermawan.


"Abi" tangis Fiyah dan kini Vernon mulai berani menyentuh istrinya itu, yang saat ini putri kesayangan kyai Husein meluapkan semua kesedihannya dalam pelukan Vernon.


"Perlahan kain putih tak terjahit menjadi pakain abi, dan aku harus merelakan dia seorang laki-laki yang sangat berarti dalam hidupku, rasanya separuh jiwa ini hilang. Dan kerinduan yang paling berat adalah kerinduan pada seseorang yang telah tiada untuk selamanya." jeritan hati Huzafiyah


"Fiyah, cium Abi untuk yang terakhir kalinya nak, kafannya sudah mau ditutup. Air matanya jangan sampai menetes sayang!" ucap umi Salma wanita kuat padahal sebenarnya ia yang paling merasa kehilangan, tapi harus terlihat tegar dihadapan putrinya itu.


Setelah dimandikan dan di sholat kan. keluarga, santri dan semua warga mengantar kepergian ulama besar mereka, termasuk Adam dan keluarganya datang di kediaman kyai Husein itu.


Dua hari berlalu setelah kepergian kyai Husein, keadaan umi Salma dan Fiyah sudah semakin baik kesedihan mereka perlahan terkikis oleh waktu dan hanya mendoakan yang terbaik untuk abinya.


Semua tetangga bergosip tentang pernikahan Huzafiyah yang mendadak, mereka mengatakan bahwa wanita cantik itu hamil diluar nikah, oleh karenanya kyai Husein meninggal akibat serangan jantung dan masih banyak gosip lainnya.


Fiyah dan umi Salma mendengar semua itu tetapi mereka pura-pura tuli saja, karena lebih baik dari pada meladeni orang yang kurang kerjaan hanya tau gosipin tetangga.

__ADS_1


Sedang Adam seolah tidak menerima keadaan ini, ia belum rela Fiyah menikah dengan pria lain.


"Apa salahku Fiyah? aku mengira engkau adalah wanita yang terhormat padahal engkau sama saja tidak memiliki adab! menggunakan tubuhmu untuk merayu pria asing itu, kesalehan mu hanyalah topeng!" kalimat yang Adam ucapkan tak menggambarkan bahwa ia adalah seorang pria yang terdidik seolah ilmu yang ia pelajari bertahun-tahun sirna karena nafsu yang kini bertahta.


"Maafkan aku Dam, ini bukan keinginanku dan aku tidak bisa melawan takdir" jelas Fiyah


"Pembohong, sangat pantas semua orang membicarakan mu. Engkau tidak lebih dari seorang wanita j*lang!" amarah Adam


"Apa engkau puas sekarang? apa engkau senang mendengar bahwa semua orang menceritakan ku?"


"Semua orang menatapku seolah aku ini adalah manusia yang paling buruk dan paling hina di Dunia" luapan hati Fiyah


"Hinalah aku sesukamu Adam, jika itu memuaskan perasaanmu!" pasrah Fiyah


"Aku tidak mau mempercayai siapapun lagi, aku tidak ingin terluka lagi!" ucap Adam dengan tatapan tajam kepada wanita yang sangat mengecewakannya itu


"Apa engkau tau perjuanganku untuk mendapatkan mu Fiyah?"


"Aku tidak tertarik dengan bisnis abi dan merasa tertekan atas segala aturannya, tapi karena engkau aku bersedia menuruti semua kemauannya. Aku mengorbankan cita-citaku demi engkau Fiyah!" jelas Adam yang berada di kediaman umi Salma sedang Vernon saat ini di Masjid mengikuti pengajian bersama ustad Halik dan Yakub.


"Aku yang salah Fiyah, cemburu dengan setiap orang yang mendekatimu, tanpa aku sadari aku hanyalah sebatas orang yang mengagumimu!"


"Maafkan aku Fiyah, aku khilaf telah berkata seperti itu kepadamu. Aku di buatkan oleh cinta yang terlalu dalam dan sangat mengharapkan dirimu!" Adam yang kini mulai bersimpuh dihadapan wanita yang ia cintai.


"Aku cemburu dengan air wudhu yang selalu menemani lima waktumu, aku cemburu pada sendalmu yang engkau ajak kemampuan, aku cemburu pada sajadah yang sering engkau cium, dan aku cemburu kepada orang yang mendapatkan mu tanpa berjuang sekeras perjuanganku!" ucap Adam dengan deraian air mata


"Maafkan aku, tapi ini adalah takdir yang telah ditetapkan Allah dan tak seorang pun bisa lari dari ketetapan itu." ucap Fiyah yang merasa bersalah.

__ADS_1


__ADS_2