
"Fatih memang pria yang hampir sempurna dari segi manapun tapi kurasa dia akan bahagia jika kamu menemukan penggantinya. Jangan menunggu seseorang yang telah tiada di Dunia ini, apa kamu lebih menantikan takdir berjodoh dengan kematian Fiyah? aku tau kamu wanita yang sangat taat beribadah tapi kamu harus jalani hidup seperti yang lain memiliki keluarga kecil yang diimpikan semua wanita" mendengar hal itu Fiyah hanya tersenyum tipis
"kamu terlalu dramatis Hani menantikan berjodoh dengan kematian sedikit menakutkan, untung jika amalku cukup mengantarkan aku kesyurga tapi jika tidak maka hanya tinggal penyesalan. Aku akui masih sangat mencintai Fatih walau dia belum resmi menjadi suamiku tapi hatiku sudah sepenuhnya ia miliki, sangat sulit untuk menghapusnya dari ingatanku. Walau pertemuan kami sangat singkat tapi itu meninggalkan kesan yang mendalam dan hati ini menganggap dia milikku saat ia menemui Abi untuk melamarku, aku salah Hani telah menganggap dia milikku" air mata Fiyah dengan deras mengalir dan diikuti oleh Hani yang tak dapat membendung air mata memeluk sahabatnya itu.
...***Enam tahun yang lalu***...
Dikediaman kyai Husein telah sibuk mempersiapkan acara pernikahan, kini Huzafiyah wanita cantik nan anggun telah mengenakan pakaian pengantin.
Semua persiapan telah selesai hanya menunggu pengantin pria untuk dilaksanakannya akad tapi takdir berkata lain Jirayu Thanit atau bisa dipanggil Al Fatih mengalami kecelakaan yang mengakibatkan ia pergi untuk selamanya.
Pria berkebangsaan Thailand yang tertarik pada Islam karena pertemuannya dengan Huzafiyah wanita cerdas dan sholeha.
***Pertemuan pertama mereka***
Terlihat empat orang pria tampan yang sedang asyik ngobrol disebuah restoran.
"Gue yang menang permainan ini" ucap Tom bahagia
"Lo curang" Son yang tak terima saudara kembarnya menang
"Diam Lo" ancam Tom
"Cepat apa taruhannya" Win yang tak sabar
"Thanit Lo yang gue pilih" pria tampan itu hanya bisa pasrah
"Traktir kita selama disini" lanjut Tom
"Ok"
"No, gue ganti tantangannya tadi itu cuma bercanda gue lupa kalau Lo itu kaya" ucap Tom polos yang membuat mereka tertawa
"Gue mau Lo deketin cewek yang pertama kali masuk dari pintu itu dan buat dia jatuh cinta" Tom mengarahkan pandangannya ke pintu masuk diikuti ketiga sahabatnya itu
"Ini Dubai cuy, kebanyakan orang asing disini apalagi yang pake penutup kepala huh jabat tangan saja mereka tidak mau, tapi itu yang buat gue penasaran" ucap Win
__ADS_1
"Ok tunggu dan lihat" Thanit yang mulai tertantang
Saat seorang wanita berpakaian serba hitam memasuki restoran walau pakaiannya over size dan menggunakan kerudung tetapi kecantikannya tak tertutupi.
keempat cogan itu terpanah dan hanya terfokus pada Huzafiyah yang berjalan kearah meja kosong terutama Thanit ia jatuh cinta pada pandangan pertama disitulah awal pertemuan mereka tapi Fiyah tak menyadarinya dan pria tampan itu mulai mencari informasi tentang Huzafiyah mengikutinya sampai ke Kairo belajar Islam dan menjadi mualaf cerdas.
Meyakinkan keluarganya dengan pilihan saat ini datang ke Indonesia menemui keluarga wanita yang ia cintai dan meminang Huzafiyah putri semata wayang kyai Husein seorang wanita cerdas berparas cantik ahli tafsir tapi memilih menjadi dosen sastra Indonesia karena hobi menulisnya, karena ia lebih senang berdakwah lewat tulisan dengan kalimat yang indah puitis tapi bermakna mendalam.
Takdir memisahkan mereka dan mulai saat itulah Fiyah menjadi sosok yang pendiam semakin menutup diri dan jarang tersenyum.
...***Di kediaman kyai Husein***...
"Fiyah tadi kyai Thoriq kesini sayang" ucap umi Salma
"Oh silaturahmi ya umi?" tanya Fiyah balik
"Ia lebih tepatnya mau meminang Fiyah untuk Adam" sontak gadis manis itu mengkerutkan keningnya
"Kok begitu ekspresinya Adam itu laki-laki yang di idam-idamkan banyak wanita, sangat beruntung seorang wanita yang nantinya menjadi pendampingnya" singgung umi Salma
"Putri Abi kok kelihatan murung seperti ini?" kyai Husein yang baru pulang dari masjid
"Ini lo Abi anakmu yang keras kepala tidak mau menerima niat baik orang lain"
"Aku tidak ingin dijodohkan Abi tolong jelaskan kepada umi" pinta Fiyah
"Umi" ucap kyai Husein mengarahkan pandangan penuh makna pada umi Salma karena ia tau bahwa saat ini Fiyah harus dibujuk pelan-pelan tapi rupanya umi Salma tidak sabaran.
"Mau sampai kapan Abi membiarkan Fiyah seperti ini, umi sudah muak dengan gosip tetangga mengatakan anak kita akan menjadi perawan tua jika dibiarkan terus seperti ini" ucap umi Salma saat Fiyah masuk ke kamarnya
"Astaghfirullah umi tidak boleh berkata seperti itu, umi tau dengan jelas bahwa anak kita masih trauma"
"Astaghfirullah maaf Abi umi kelepasan" sesal Umi Salma
Sedang didalam kamarnya Fiyah menenangkan diri mengadu pada sang pemilik alam sholat dengan khusyu berdoa dengan deraian air mata.
__ADS_1
"Ya Allah aku tau umi dan abi pasti sangat kecewa kepadaku tapi aku tidak bisa memaksakan diri saat ini" ucapnya penuh kebimbangan
...***Di meja makan saat sarapan pagi***...
"Hari ini kamu pulangnya jangan sampai telat ya sayang" umi Salma mengingatkan putrinya
"Ia umi"
"Abi dimana?" lanjut Fiyah
"Dari pagi buta abimu pergi menemui ustad Halik"
"Memangnya ada hal yang penting umi sampe segitunya?"
"Ia ini semua untuk kamu kan sebentar lagi mau lamaran" keceplosan umi Salma
"Maksud umi apa?" Fiyah yang mulai mengerti maksud uminya tapi masih pura-pura bertanya
"Tentang Adam yang ingin melamar Fiyah dan umi mohon jangan tolak dia, ini permintaan umi dan abi yang terakhir"
"Umi" Fiyah yang tak bisa lagi menahan air matanya
"Aku tidak ingin menikah dengan Adam aku mohon umi jangan memaksaku, jangan buat aku bersalah umi aku mohon" ucapan Fiyah yang mulai terbata-bata karena kesedihannya
"Fiyah umi selama ini tidak pernah meminta apa-apa padamu, sekali ini saja umi mohon jangan menjadi anak yang tidak berbakti" umi Salma yang mulai terpancing emosi
"Selama ini aku menuruti kemauan umi dan abi tanpa memintaku melakukannya, dan hanya karena satu kesalahan umi berkata aku adalah anak yang tidak berbakti?" Fiyah yang sudah tak bisa menahan emosinya
"Fiyah maafkan umi bukan maksud umi seperti itu, hanya ingin kamu bahagia sayang" peluk umi Salma dan menghapus air mata di wajah putrinya
"Maafkan umi"
"Umi salah tidak mengerti perasaan kamu"
"Aku yang salah umi"
__ADS_1
"Maafkan aku, tapi umi tidak perlu khawatir jodoh adalah takdir yang telah ditetapkan Allah jika Adam memang jodohku pasti hati ini akan menerimanya. Tapi untuk saat ini aku belum bisa, aku takut menjadi istri yang durhaka karena mencintai orang lain bukan suamiku, hati dan pikiranku belum bisa melupakan Fatih umi" luapan hati putri kyai Husein itu