
*Di Indonesia*
"Kenapa nak, dari tadi umi perhatikan kok Fiyah melamun terus?" khawatir umi Salma
"Perasaanku tidak enak umi dan selalu terbayang mas Vernon"
"Maklum kan Fiyah masih pengantin baru, jadi masih bucin" goda umi Salma
"Bukan itu maksudku umi, tapi entah mengapa aku sangat khawatir"
"Bukankah nak Vernon hanya ingin menyelesaikan beberapa pekerjaannya saja, jadi putri umi ini tidak perlu sekhawatir ini?"
"Entahlah umi, pernikahan ini sangat mendadak hingga aku tidak mengetahui tentang suamiku. Bahkan keluarganya saja tidak aku ketahui selain kakeknya" jelas Fiyah
"Berdoa saja yang terbaik untuk keselamatan suamimu nak, dan umi juga akan selalu mendoakan kalian berdua agar diberikan kesehatan dan kebahagian."
"Tidak perlu cemas berlebihan sayang, kan nak Vernon bilang akan menjemputmu jika semua urusannya telah ia selesaikan" ucap umi Salma saat melihat kegelisahan di wajah putrinya itu.
*Di Jerman*
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Hendry pada Afron
"Sangat baik tuan"
"Bagaimana tuan muda kita?" khawatir Afron pada Vernon
"Operasinya sudah selesai dan dokter berkata kita hanya bisa menunggu tuan muda melewati masa kritisnya dan saat ini ia masih koma" jelas Hendry yang membuat Afron sangat terkejut
"Kamu dan sebagian tim berjagalah disini dan jangan pernah meninggalkan ruangan tuan sedetikpun, setiap dokter yang merawat tuan mempunyai kartu identitas dan sidik jari yang bisa membuka ruangan tuan. Jika ada yang tidak bisa masuk kedalam ruangan itu, kalian taukan apa yang harus dilakukan!" jelas Hendry walaupun para dokter itu adalah orang-orang mereka tetapi ia tidak ingin terlalu mempercayai bisa saja ada yang menyamar menjadi salah satu dari mereka karena lawan Big Move bukan sembarangan.
"Siap tuan!"
"Aku akan menjemput nona Huzafiyah dan jangan memberi tahukan keluarga tuan muda sebelum ia sadarkan diri!" tegas Hendry
"Siap tuan!"
"Peristiwa ini hanya anggota big move yang mengetahuinya, sedang anggota kepolisian yang ikut serta dalam pertempuran itu tidak mengetahui hal ini dan untuk Nicolous, pria itu berada di ruangan sebelah. Dan kalian harus mengawasi ruangannya!" jelas Hendry walaupun rumah sakit itu adalah rumah sakit pribadi untuk para anggota agen rahasia Big Move tetapi ia tetap waspada.
"Siap tuan!"
__ADS_1
*Di Indonesia*
Hendry yang saat ini turun dari helikopter dan sengaja datang di malam hari agar tidak menyita perhatian para warga, dan diuntungkan dengan tempat disana lapangan pesantren yang agak jauh dari area pemukiman penduduk, hanya rumah kyai Husein yang lumayan dekat darinya.
"Assalamualaikum" ucap Hendry setelah mengetuk pintu
"Waalaikumsalam" jawab umi Salma
"Silahkan masuk nak" ramah umi Salma karena telah mengenal Hendry walau hanya beberapa menit saat datang menjemput tuan mudanya, tetapi pria bertubuh ideal itu memperkenalkan diri dan sangat ramah.
"Nona Huzafiyah ada aunty?"
"Tunggu ya nak, saya panggilkan dulu" pinta umi Salma yang diikuti anggukan kepala Hendry
"Fiyah!"
"Ia umi"
"Ada tamu nak"
"Siapa umi?"
"Hendry!" ucap Fiyah yang membuat pria itu dengan segera berdiri dari duduknya dan memberi hormat
"Tidak perlu seperti itu, dimana mas Vernon?"
"Dia di Jerman nyonya, dan memerintahkan saya menjemput nyonya"
"Tuan sangat sibuk, maka dari itu ia memerintahkan saya untuk menjemput nyonya" bohong Hendry yang tidak ingin membuat Fiyah khawatir
"Baiklah, tunggu sebentar ada hal yang harus aku siapkan"
"Baik nyonya"
Andai Fiyah tidak menuruti uminya tadi mungkin ia akan meminta pada Aisyah untuk membawa surat pengunduran dirinya sebagai dosen tapi gadis cantik itu membawanya sendiri saat pagi tadi.
Setelah pamit pada umi Salma, Fiyah dan Hendry pun bergegas menaiki helikopter dan menuju pada penerbangan mereka yang utama menaiki pesawat pribadi itu menuju Jerman. Beberapa jam dalam perjalanan akhirnya sampai di Jerman dan tempat tujuan.
"Ini tempat apa?" tanya Fiyah karena memang rumah sakit itu lebih seperti tempat penelitian untuk para profesor.
__ADS_1
"Mohon nyonya masuk dan menemui tuan!" ucap Hendry yang tidak bisa jujur pada Fiyah saat ini
Saat melihat nyonya Vernon memasuki lorong menuju ruangan itu, sontak semua anggota agen rahasia Big Move berdiri dari duduk mereka memberi hormat sama seperti saat mereka melihat tuan mudanya. Fiyah semakin penasaran mengapa suaminya itu berada dalam ruangan yang harus dijaga oleh banyak orang.
Saat memasuki ruang seluruh tubuh wanita cantik itu seolah tak bertenaga melihat suaminya terbaring dengan berbagai alat medis yang berada di tubuhnya. Dengan langkah berat ia mendekat kini air mata tak mampu lagi terbendung dan membanjiri pipi Fiyah, menangis dengan menahan suaranya agar tidak keluar karena ia tidak ingin membuat pria yang ia cintai mendengar hal itu walau saat ini tidak sadarkan diri.
"Maafkan kami nyonya, karena tidak bisa menjaga tuan" ucap Hendry yang penuh penyesalan dan pamit meninggalkan ruangan itu.
"Sayang apa yang terjadi?" ucapan Fiyah disela tangisnya
"Jadi ini alasan kamu tidak menjemputku?" tangis Fiyah semakin tak tertahankan
"Mengapa saat aku mulai mencintai seseorang dengan sepenuh hati, selalu kesedihan yang menghampiriku ya Allah" batin gadis itu
"Astaghfirullah, maafkan aku ya Allah, sungguh aku tidak bermaksud meratapi nasibku, tapi aku mohon jangan biarkan suamiku seperti ini dan berilah kesembuhan" doa Fiyah disela tangisnya
Huzafiyah tak henti memandangi wajah tampan itu mengecup kening sang suami tercinta, yang saat ini menggunakan selang endotrakheal tube yang melewati mulut sebagai alat pernafasannya yang membuat hati Fiyah semakin sakit, tak tahan menyaksikan hal itu. Hati istri mana yang tak perih menyaksikan hal itu, apalagi mereka adalah pengantin baru yang seharusnya saat ini berbulan madu melewati hari-hari yang romantis tapi takdir berkehendak lain. Pria yang suka memerintah tapi saat ini tak lagi mempunyai daya untuk memaksakan kehendaknya pada sang istri.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat Fiyah tertidur, dan bangun saat Hendry datang mengantarkan makanan serta semua kebutuhan Fiyah.
"Apa nyonya akan tidur di ruangan ini?" ucap Hendry
"Apa aku boleh tidur disini?"
"Jika nyonya menanyakan itu kepadaku tentu bisa, tapi dokter berkata tidak boleh"
"Tapi nyonya jangan khawatir, ruangan sebelah adalah tempat nyonya" Hendry lalu berjalan membuka tirai yang menjadi penutup dinding kaca. Ia menunjukkan bahwa walaupun Fiyah berada di ruangan sebelah tetapi ia masih bisa melihat suaminya 24 jam karena hanya dinding kaca sebagai pemisah.
Wanita cantik itu tersenyum melihatnya, ternyata pertanyaan konyol Hendry ini adalah jawabannya.
"Syukurlah nyonya tersenyum, jika tidak mungkin tuan muda akan membunuhku. Karena melihat air mata di wajah perempuan yang sangat ia cintai ini" batin Hendry
"Jika ingin istirahat silahkan lewat sini nyonya" tunjuk Hendry pada pintu otomatis ruangan itu. Semua hal yang berkaitan dengan Vernon seolah magic.
Hari-hari berlalu, Fiyah hanya sibuk memperhatikan suaminya dan meminta pada dokter agar dia sendiri yang mengurus dan membersihkan tubuh suaminya.
"Mengapa tidak memberitahu keluarga mas Vernon yang lain?" tanya Fiyah pada Hendry
"Belum waktunya nyonya" ucap pria tampan itu yang sebenarnya ia mengetahui bahwa keluarga tuan mudanya belum bisa menerima Fiyah sebagai menantu mereka.
__ADS_1