
"Ternyata kamu sangat bahagia dengan kehidupanmu sekarang, aku kira kamu akan tersiksa sepertiku Fiyah!" batin Vernon yang saat ini duduk bersandar di bibir tempat tidur king size-nya.
Dering handphone berbunyi
"Assalamualaikum tuan, kami sudah mendapatkan informasi tentang Dragon tapi mengenai janin yang dikandung nyonya Huzafiyah kami belum bisa memastikannya tuan. Dragon meninggal terbunuh setelah berselisih dengan Darelano, hal itu karena Darelano ingin membunuh bayi yang dikandung nyonya Huzafiyah. Dragon rela mengorbankan nyawanya untuk bayi itu tuan dan tidak mungkin ia tidak memiliki hubungan dengan janin yang dikandung nyonya Huzafiyah. Dia sangat membenci tuan mana mungkin dia akan mengorbankan nyawanya hanya untuk bayi dari musuhnya!" ucapan Hendry seolah memberi penjelasan yang sangat nyata baginya.
"Ternyata janin yang kamu kandung adalah darah daging Dragon, bodoh!....... Mengapa aku harus mencari tahu sesuatu hal yang melukai hatiku lagi. Hah, luar biasa Fiyah, kamu sangat berhasil membuatku kembali menjadi pria yang tidak lagi berperasaan. Hatiku telah hancur tidak ada lagi cinta atau kasih sayang didalam diri ini, hatiku sudah mati, tapi akan aku pastikan engkau menerima rasa sakit yang pernah kamu berikan kepadaku. Aku ingin kamu merasakannya, merasakan setiap inci rasa sakit itu!"
Setelah Hendry mengirimkan alamat apartemen yang menjadi tempat tinggal wanita cantik berkebangsaan Indonesia itu Vernon langsung menuju carport menaiki salah satu mobil mewahnya melaju dengan kecepatan tinggi.
Mendengar bunyi bel berkali-kali Fiyah yang baru saja hendak mencicipi masakannya bergegas membuka pintu tanpa melihat terlebih dahulu siapa orang dibalik pintu itu dari layar monitor.
"Ada apa lagi tuan pelit!" ucap Fiyah saat pintu terbuka karena ia berfikir itu adalah Zetas.
Mata wanita cantik itu membulat dengan sempurna, ia tidak menyangka pria tampan yang saat ini berdiri dihadapannya adalah Vernon. Senyum penuh makna terlukis dari wajah tampan itu.
"Tuan Vernon!" spontan Fiyah
Vernon tertawa kecil tak menyangka dengan apa yang ia dengar, istri sahnya saat ini memanggilnya dengan sebutan tuan, seolah mereka adalah orang asing.
"Kenapa tuan kemari?" kembali ucap Fiyah
"Untuk menjemput istriku nona!" ucap Vernon dengan sedikit bercanda
"Apa ini nyata ya Allah?" batin Fiyah dengan mata berbinar-binar
__ADS_1
"Walaupun bayi yang ada dalam kandunganmu bukan darah dagingku tapi kamu masih menjadi istri sahku Huzafiyah Nurul Husein. Aku sangat berhak atasmu dan mengenai bayi itu jika engkau masih ingin kita kembali seperti dulu lagi maka gugurkan janin itu!" penjelasan Vernon membuat hati Fiyah sangat sakit.
"Apa maksudmu, ini adalah bayi kita mengapa aku harus menggugurkannya?" ucapnya dengan mata berkaca-kaca
"Kamu tidak perlu berbohong kepadaku, aku tau bahwa bayi yang kamu kandung adalah darah daging Dragon, oleh karena hal itu ia rela mengorbankan nyawanya demi janin yang ada dalam kandunganmu!"
"Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun menggugurkan kandunganku. Ini adalah bayiku, aku yang paling berhak atasnya dan tidak butuh pengakuan dari siapapun termasuk ayah kandungnya sendiri!" jelas Fiyah
"Baiklah, aku akan menuruti kemauanmu tidak akan memintamu menggunakan janin itu lagi, tapi jangan salahkan aku jika berprilaku kasar terhadapmu Fiyah, selagi janin itu ada dalam kandunganmu maka bayang-bayang penghianatanmu kepadaku tak akan hilang dan menjadi duri diantara kita berdua!" ucap Vernon dan menggendong Fiyah ala bridal style tapi sedikit kasar.
"Lepaskan, aku tidak ingin ikut denganmu!" teriak Fiyah
"Bibi tolong aku!" kembali teriaknya membuat bibi itu keluar secepat mungkin tapi apalah daya ia tidak bisa menghentikan langkah Vernon
"Ya Allah nyonya diculik!" paniknya dan segera menghubungi Zetas
"Nyonya Fiyah diculik tuan" dengan nada panik
"Apa?" kaget Zetas
"Pria tampan yang menculik nyonya tuan, aduh saya tidak bisa mengingat wajahnya karena hanya sekilas melihatnya tapi dia sangat tampan tuan, melihat punggungnya saja saya sudah tau bahwa dia pria yang sangat tampan tuan!" penjelasan bibi itu membuat Zetas tahu siapa pria yang dimaksud.
"Vernon!" ucapnya setelah mematikan panggilan itu.
"Apa-apaan dia menculik istri sendiri, setidaknya jangan memaksa Fiyah seperti itu, dia sedang mengandung dan sangat sensitif!" kesal Zetas dan segera menyusul ke mension pribadi Vernon
__ADS_1
"Aku mohon jangan sakiti bayi yang ada dalam kandunganku!" pinta Fiyah yang saat ini berada dalam salah satu kamar mewah di mension pribadi suaminya.
"Aku beri pilihan sekali padamu Fiyah, gugurkan kandungan itu dan kita akan kembali hidup seperti dulu lagi, atau tetap mempertahankannya tapi hidup kamu akan aku pastikan menderita setiap harinya!" tegasnya
"Apa maksudmu, ini adalah bayimu Vernon!" teriaknya
"Cukup, aku tidak ingin mendengarkan hal itu lagi darimu, dan jangan berharap karena sampai kapanpun aku tidak akan membuktikan lagi bahwa bayi itu adalah darah dagingku. Semua bukti sudah nyata Fiyah, aku tidak ingin lagi melakukan kesalahan berulang yang melukai perasaanku!" jelas Vernon
"Sampai kapanpun aku akan mempertahankan janin ini, tidak akan menggugurkannya!" tegas Fiyah
"Akan aku pastikan hidupmu menderita setiap harinya!" kembali tegas Vernon yang saat ini mencengkeram erat wajah cantik wanita yang masih menjadi istri sahnya itu.
"Mulai sekarang kamu adalah pelayanku di mension ini, panggil aku tuan dan jangan pernah berani menyebut namaku dengan mulut kotormu itu. Aku sangat benci wanita pembohong menyebut namaku!" jelasnya
"Apa perasaan belas kasihmu sudah tidak ada sama sekali, kenapa kamu lebih mempercayai ucapan orang lain daripada ucapanku. Aku tidak berbohong, sungguh demi Allah aku tidak berbohong!" lirih Fiyah disela isaknya
"Jangan membawa-bawa Allah dalam hal ini, jangan mencoba mengelabuiku dengan itu. Apa engkau tau betapa menderitanya diriku saat itu?" amarah Vernon semakin meluap
"Hanya kamu saat itu yang menjadi penyemangat hidupku, hanya kamu yang bisa membuat hari-hariku berwarna, aku bisa tersenyum dan melupakan semua masalah dalam hidupku. Keluargaku semua meninggal ditempat yang sama karena kecerobohanku, aku menderita Fiyah, hatiku sangat sakit saat itu. Aku bodoh karena mempercayai seseorang yang membuat seluruh keluargaku musnah. Disaat itu kamu malah menghiyanatiku dan pergi bersama laki-laki lain hanya demi harta, apa engkau tau penderitaanku!" teriak Vernon
"Karena engkau tidak mengetahui bagaimana hari-hariku saat itu, jadi mulai hari ini akan aku pastikan kamu akan mengalami hal yang sama sepertiku dulu Fiyah!" tegasnya dengan tatapan menakutkan, tangan istri manisnya yang sedari tadi ia genggam kuat kini mulai memerah dan sedari tadi Fiyah menahan rasa sakit.
"Aku adalah tipe orang yang benar-benar menjunjung tinggi harga diri. Harga diri jauh diatas apapun, bahkan lebih tinggi daripada hanya sekedar cinta, walaupun pada hakekatnya cinta dan harga diri seharusnya berkesenambungan, siapapun yang menyanjungku akupun akan menyanjung orang tersebut, siapapun yang menghormatiku aku akan menghormati orang tersebut dan siapapun yang membenciku dalam keadaan diam tidak mengucapkan sepatah katapun, maka wallahi aku akan tetap menghormati orang tersebut. Namun apabila engkau mencampakkanku menjatuhkan harga diriku, sekalipun engkau adalah kekasihku, istriku. Sekalipun engkau adalah orang yang aku cintai maka jangan pernah berharap, bukan berarti aku senang tiasa menutup pintu kasih sayang tapi itu adalah prinsip hidupku Fiyah!"
"Pantang pohon pisang berbuah dua kali, pantang diri ini menelan ludah yang sudah aku keluarkan. Rasa cinta untukmu sudah lama menghilang dan hanya rasa benci yang sangat dalam tersisa untuk dirimu Fiyah. Camkan itu!"
__ADS_1
"Saat ini kamu hanyalah sekedar wanita murahan di mataku!" ucapan Vernon seolah sayatan di hati istri kecilnya itu
"Ingat kamu hanyalah pelayan di apartemen ini, dan jangan pernah bermimpi menjadi nyonya seperti dulu lagi. Hatiku sudah mati untukmu Fiyah, dan engkau sangat menjijikan bagiku, aku tidak pernah akan menyentuh sesuatu yang menjijikan sepertimu!" kembali perjelas Vernon dan meninggalkan istri kecilnya yang saat ini menangis terisak-isak.