
"Aku tidak memintamu tapi dia!" arah pandangan Vernon tertuju pada Fiyah
"Kamu harus tanggung jawab atas perbuatanmu!" tegas Vernon
"Nona Huzafiyah, apa engkau akan selamanya mematung disitu?"
"Apa yang harus aku lakukan, kotak obat sudah ada dihadapan tuan, dan tunangan tuan itu hanya tersiram air hangat sedikit bukannya tertusuk!" tak terima Fiyah melihat tingkah manja dan kepura-puraan Adriana
"Begini caramu berbicara dengan atasanmu ha?" bentak Vernon
"Minta maaf pada Adriana!" perintahnya
"Jangan membuatku semakin marah kepadamu!"
"Jika kamu tidak ingin minta maaf maka sekarang juga aku akan memecatmu!"
"Maaf" ucap Fiyah terpaksa
"Lihat, bahkan dia tidak tulus meminta maaf kepadaku" adu Adriana kepada Vernon
"Abaikan saja yang penting dia sudah meminta maaf kepadamu!" malas pusing pria tampan itu
"Tapi--" ucapan putri tuan Paxton terhenti saat pria tampan yang menjadi tunangannya itu memberi tatapan tajam
"Kalian berdua keluar!" perintah Vernon yang diikuti oleh Hendry dan Fiyah.
"Huzafiyah kamu tetap disini!"
"Sayang maksudmu aku yang keluar?" tak terima Adriana
"Menurutmu siapa lagi?" tegas Vernon, dengan kesal gadis cantik itu meninggalkan ruangan.
Setelah mereka keluar kini hanya ia dan Fiyah yang berada dalam ruang kerja itu.
"Dan engkau nona Huzafiyah apa orang tuamu tidak pernah mengajarkan sopan santun kepadamu?" ucapan Vernon membuat Fiyah semakin kecewa.
"Jaga ucapan tuan, orang tua saya mendidik dengan penuh kasih sayang. Dan sopan santun yang tuan tanyakan itu seharusnya tanyakan pada diri tuan sendiri!" ucap Fiyah dan meninggalkan ruangan.
"Apa aku salah bicara?" tanya Vernon pada dirinya sendiri dan keluar menemui Hendry
"Maaf tuan saya harus menyusul nona Huzafiyah" pamitnya
"Wanita itu selalu saja merepotkan" batin Vernon
"Kamu sebaiknya pulang, aku ingin istirahat!" ucap Vernon pada Adriana
"Tapi--" belum sempat ia menyelesaikan ucapannya Vernon sudah pergi dari ruangan itu, untung saja ia menggunakan kursi roda elektrik yang memudahkannya.
Dengan terpaksa ia menuruti kemauan calon suaminya itu.
"Nyonya maafkan tuan muda, ia tidak bermaksud berkata seperti itu dan membela putri Adriana" jelas Hendry yang saat ini dalam kamar Fiyah
"Aku ingin sendiri Hendry, pergilah pada tuan mudamu itu!"
"Tapi--" ucapan Hendry terhenti saat Vernon menghampiri mereka memberi isyarat pada Hendry agar keluar.
"Maaf, tadi aku tidak bermaksud berkata kasar padamu" jelas Vernon dan Fiyah tidak memperdulikannya
"Nona, jika seseorang berbicara denganmu alangkah baiknya nona memperhatikan lawan bicara nona agar terkesan sopan"
"Aku sudah memaafkan tuan!" spontan Fiyah yang kini beralih menatap pria tampan itu
"Mengapa hatiku sakit saat melihat kesedihannya?" batin Vernon
"Apa ini pertama kalinya nona bekerja?" pertanyaan Vernon membuat gadis cantik itu Mengiyakannya
"Pantas sikapnya seperti ini, yang mudah tersinggung" gumam Vernon
"Aku pernah menjadi dosen" jelas Fiyah
"Dosen?" tak percaya
"Iya, kenapa tuan sangat terkejut seperti itu, aku tidak berbohong!"
__ADS_1
"Sikap nona seperti seorang anak kecil yang suka ngambek, kenapa bisa menjadi seorang dosen!" kecoplosan Vernon
"Apa katamu tuan!"
"Tidak" ucapnya dengan senyuman bersalah.
"Sekali lagi maaf"
"Mengapa aku seperti ini lagi, yang biasanya berat mengucapkan kata maaf dan benci akan perasaan bersalah, tapi dengannya aku menjadi pribadi yang berbeda" batin Vernon
"Aku sudah bilang tadi sudah memaafkan tuan jadi tidak perlu berucap kata maaf seperti itu lagi!"
"Aku merindukanmu, namun aku juga tak mampu mengatakannya, andai kau tau tuan aku sangat ingin memelukmu meluapkan kerinduanku tapi aku takut karena engkau masih belum mengingatku!" batin Fiyah yang matanya mulai berkaca-kaca kembali
"Apa aku salah lagi?" panik Vernon membuat Fiyah tersenyum
"Tidak, hanya saja aku sedang mengingat seseorang"
"Siapa?"
"Yang paling berharga dalam hidupku!"
"Apa itu Hendry?"
"Apa menurut tuan aku sedang memikirkannya?"
"Aku bertanya kepadamu, mengapa bertanya balik padaku?"
"Atau kamu menghiyanatinya dan memikirkan laki-laki lain?"
"Aku memang membayangkan laki-laki lain"
"Pantas seseorang berkata jangan mudah mempercayai siapapun, bahkan gigi kita saja bisa menggigit lidah sendiri jika kehilangan kendali!" singgung Vernon
"Nona memang penuh kejutan, mengakui hal yang seharusnya menjadi rahasia nona!"
"Tapi itu adalah perbuatan seorang pecundan dan penghianat!"
"Aku merindukan ayahku dan mengingatnya apa itu layak disebut sebagai penghianat?"
"Tidak apa tuan, karena tuan hanya mengamatiku tanpa mengetahui semua hal tentangku, aku sangat berbeda dari yang tuan lihat jadi mulai saat ini jangan pernah menerka tentang diriku!" ucap Fiyah dan Vernon hanya menatap wanita itu.
"Apa kamu sungguh ada hubungan dengan Hendry?"
"Apa kalian sepasang kekasih sungguhan?"
"Tatap mataku nona dan katakan sejujurnya!"
"Jika aku mengatakan bahwa semua ini hanya kebohongan apa tuan percaya?"
"Nona Huzafiyah aku peringatkan kepadamu jangan mempermainkan Hendry dia sangat berarti bagiku, jika nona berani mempermainkannya berarti ingin pembalasan dariku!" jelas Vernon yang membuat Fiyah tersenyum
"Aku sangat setia kepada pasanganku tuan, jadi tidak perlu repot mengingatkan hal itu!" ucap Fiyah yang membuat Vernon pergi tanpa berkata sepatah pun.
Di ruangan gym dalam Mension, dokter Felix sudah menunggu Vernon untuk melakukan fisioterapi.
"Tuan hari ini ada jadwal fisioterapi" ucap Hendry
"Besok saja aku ingin istirahat sekarang!"
"Baik tuan" pamit asistennya itu dan menyampaikan pada dokter Felix
"Apa yang terjadi pada diriku" ketua agen rahasia itu mengerutuki dirinya sendiri karena terlalu terbawa perasaan pada perawatnya itu.
Keesokan harinya
"Pagi tuan" sapa Fiyah dengan ramah
"Pagi" ucap Vernon cuek
"Ada apa dengannya?" batin Fiyah
Setelah meletakkan menu sarapan diatas meja dalam ruangan kerja pria tampan itu, Huzafiyah pun keluar.
__ADS_1
"Apa yang terjadi padanya, mengapa tiba-tiba menjadi pendiam?" ucapan Fiyah yang heran karena tuan mudanya itu selalu saja marah. Seolah wanita cantik itu penuh dengan kesalahan di matanya bukan karena Fiyah tak pandai tetapi ia yang terlalu perfeksionis.
Beberapa menit setelah sarapan
"Tuan mau kemana?" tanya Fiyah saat melihat Vernon keluar dari ruang kerja.
"Bukan urusanmu!" cueknya
"Saya perawat tuan dan ini menjadi tugas saya"
"Tidak perlu perhatian berlebihan pada calon suami saya!" ucap Adriana yang baru saja memasuki ruangan
"Dia lagi!" gumam Fiyah
"Biar aku yang antar kamu sayang" ucap manja Adriana dan mendorong kursi rodanya
Saat ini mereka dalam ruangan gym yang disana Vernon akan melakukan fisioterapi yang didampingi oleh dokter Felix.
"Bagus tuan" ucap dokter Felix melihat perkembangan pada tuan mudanya yang saat ini sudah bisa berdiri.
Putri Adriana mengisyaratkan dengan matanya agar dokter Felix meninggalkan ruangan memberi mereka kesempatan untuk berduaan.
"Mengapa dokter keluar apa sudah selesai latihannya?" tanya Fiyah
"Belum nyonya tapi putri Adriana memintaku keluar"
"Maafkan saya, bukan bermaksud membiarkan mereka berduaan tapi saya tidak bisa menolaknya nyonya" jelasnya
"Tidak apa-apa" ucap Fiyah dan memasuki ruangan
"Cih, dasar. Mengambil kesempatan dalam kesempitan" batin Fiyah saat melihat Adriana memapah Vernon
Gadis cantik itu duduk di kursi dan hanya memperhatikan kemesraan mereka berdua.
"Apa kamu lelah sayang?" ucap manja Adriana yang saat ini mereka sudah duduk
"Tidak"
"Apa mau minum?"
"Um" ucap Vernon membuat tunangannya itu bergerak cepat mengambil botol air mineral yang ada di meja samping Fiyah.
"Mengapa kamu kesini?" tanya Adriana
"Tuan putri lupa jika pekerjaan saya adalah sebagai perawat tunangan anda, jadi tentu saya harus berada disini!" ucap Fiyah yang membuat Vernon beralih menatapnya
"Kamu libur hari ini dan terserah ingin kemana bukan urusanku!" jelas tuan mudanya
"Kamu libur dan silahkan tinggalkan ruangan ini!" perjelas Adriana
Fiyah menarik dan menghembuskan nafas dengan kasar lalu pergi dari ruangan itu.
"Mereka berdua sangat menjengkelkan!" gumam Fiyah
"Nyonya" panggil Hendry
"Aura disini sangat berbeda" goda Hendry saat melihat kemarahan diwajah cantik itu
"Aku sangat marah pada tuan mudamu!"
"Memang apa lagi yang dilakukan tuan?"
"Dia seenaknya memerintahkanku untuk libur sedang dia saat ini bermesraan dengan calon istrinya itu!"
"Oh jadi nyonya sedang cemburu?" goda Hendry
"Tidak, bahkan aku tidak sudi cemburu kepadanya!"
"Sungguh?" godanya lagi membuat mereka berdua terlihat sangat akrab dan saat itu juga Vernon bersama Adriana keluar dari ruangan menyaksikan candaan asistennya itu yang terkesan sedang bermesraan.
"Hendry mengapa kamu disini?" dengan suara agak keras
"Menemui tuan"
__ADS_1
"Lain kali jika ingin datang menemuiku jangan mendatangi orang lain terlebih dahulu walaupun itu tunanganmu!"