Cinta Dan Identitas Rahasia

Cinta Dan Identitas Rahasia
Pria dingin


__ADS_3

Keesokan harinya pernikahan kedua dari ketua Broken Flower itupun berlangsung, demi mencapai tujuannya Zetas harus menikahi Putri tuan Jarel.


"Ya ampun, badan non panas sekali" panik bi Rose


"Tidak apa bi, aku masih sanggup sampai acaranya selesai" tentu Jesika harus kuat karena Zetas ingin ia menyaksikan hal itu


"Non sebaiknya kita kembali ke kamar untuk istirahat, biar nanti saya yang akan memberitahu tuan tentang kondisi non"


"Tidak perlu bi"


Beberapa jam berlangsung setelah kedua mempelai mengucapkan janji suci, ruangan besar itu perlahan kosong karena para mafia yang diundang ketua Broken Flower itu  meninggalkan kediamannya.


Kepergian tuan Jarel menguntungkan bagi Zetas karena tanpa repot-repot ia bisa mengendalikan para geng mafia yang dibawah kendali tuan Jarel, selain itu harta dan anak buah mertuanya menjadi milik pria misterius itu.


Pandangan Jesika mulai buram, tubuh melemah tidak mampu lagi berdiri.


"Non baik-baik saja?" panik bi Rose saat nyonya mudanya itu terlihat sangat pucat


"Tunggu sebentar bi!" menahan tangan bi Rose yang hendak membantunya berdiri.


"Nyonya ayo kita kembali kedalam" ucap Zegos sang asisten


"Nyonya?" panik Zegos saat Jesika semakin pucat dan bersandar pada bi Rose


"Non!" panggil bi Rose sedang Jesika suda tidak sadarkan diri


Zegos hendak menggendong ingin membawa nyonya mudanya itu kembali ke kamar, tapi melihat kejadian itu Zetas marah membuat Zegos sangat ketakutan.


"Zegos, apa yang sedang kamu lakukan?" teriaknya dan menghampiri


"Maaf tuan, tapi saya hanya ingin membawa nyonya masuk" menunduk ketakutan


"Jangan pernah menyentuhnya, dan ini berlaku untuk kalian semua!" jelas Zetas kepada seluruh anak buahnya


"Panggilkan dokter!" perintah Zetas yang saat ini menggendong Jesika membawa ke kamar pribadinya.


Sedang Agatha sangat kecewa menyaksikan hal itu, jika bukan karena ia terlanjur mencintai Zetas, pernikahan ini tidak akan pernah terjadi. Wanita baik-baik pasti tidak ingin dijadikan yang kedua, tapi apalah daya hati tidak bisa memilih kepada siapa ia harus berlabuh. Jatuh cinta itu rumit, karena seseorang yang benar-benar terperangkap didalamnya tidak mengetahui sebab mengapa ia jatuh cinta.


Cinta bukanlah ketika kamu tertarik pada penampilan, kebaikan, harta, tahta atau karena seseorang itu mencintai kamu. Tetapi cinta adalah ketika kamu bingung mengapa dia yang bisa menaklukkan hati dan pikiranmu, bingung mengapa mencintainya.


"Aku tidak berhak cemburu, aku hanyalah istri kedua!" batin Agatha dan kembali ke kamarnya mengganti pakaian


"Apa kamu mencintainya?" pertanyaan Agatha membuat Zetas menatapnya tajam yang saat ini mereka berada di ruang tengah

__ADS_1


"Aku tidak mencintainya, dan tidak akan pernah mencintainya!"


"Sungguh?" tak percaya Agatha


"Lalu kepanikanmu tadi itu pertanda apa suamiku?" batin Agatha


"Kamu tidak perlu khawatir, aku tidak akan mencintai dia!" yakin Zetas


"Sayang, kamu pernah berjanji kepadaku akan memberikan apa yang aku inginkan!" ucap lembut Agatha


"Aku tidak akan mengingkari janjiku!"


"Aku ingin kamu perlakukan Jesika dengan baik, dia masih terlalu muda untuk menjalani hidup seperti ini"


Salah satu sudut bibir pria tampan itu terangkat, ia tidak menyangka bahwa wanita yang ada dihadapannya saat ini akan berkata seperti itu.


"Non" ucap bi Rose dengan mata berkaca-kaca saat melihat nyonya mudanya sudah sadarkan diri.


"Mengapa aku ada disini bi?"


"Aku ingin kembali ke kamarku!"


Bi Rose membangunkan Jesika dengan pelan dan menuntunnya ke kamar. Sedang Zetas yang baru kembali dari ruang tengah mencari keberadaan istrinya itu.


Keheningan diantara mereka berdua terjadi, tidak ada yang ingin memulai pembicaraan terlebih dahulu. Zetas yang egonya terlalu tinggi dan Jesika takut bicara dan mendapat kemarahan suaminya lagi.


"Aku minta maaf!" ucap tiba-tiba Zetas, pria yang enggan untuk mengakui kesalahannya dan mungkin ini adalah perkataan maaf pertama kalinya selama ia hidup.


Jesika hanya diam dan masih berbaring membelakangi Zetas yang duduk disampingnya.


Gadis berusia 18 tahun tapi harus memikul beban hidup yang sangat berat, sang ibu sudah lama meninggalkannya sedangkan ayah tercinta ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri dibunuh oleh orang yang paling ia cintai.


"Apa kamu mendengarku?" ucap Zetas lembut


Cairan bening mengalir di wajah cantik Jesika, entah mengapa ia saat ini merasa sangat sedih. Mungkin air mata bahagia karena mendengar ucapan permintaan maaf dari pria yang selalu bersikap kasar kepadanya.


"Kamu boleh minta apapun kepadaku, asal jangan pernah meminta agar aku menjauh dari hidupmu!" ucap lembut pria dingin itu


"Bisakah kamu menatapku?" pintanya tapi Jesika masih nyaman dengan posisinya yang sekarang


"Aku akan kembali saat kamu sudah ingin bicara denganku" ucapnya lalu pergi


Dua jam berlalu

__ADS_1


"Bibi!" Panggil Zetas saat melihat bi Rose membawa nampan berisi makanan


"Biar saya saja" ucapnya dan mengambil nampan itu menuju kamar Jesika


Melihat suaminya datang Jesika bangun dari baringnya dan duduk bersandar karena masih lemah.


"Biar aku saja!" ucap Jesika yang tidak mau Zetas menyuapinya.


"Um" anggukan Zetas mengiyakan


"Mengapa sedari tadi kamu tidak ingin menatapku hum?" Zetas mendekat, memegang dagu istrinya mendongakkan wajah wanita cantik itu agar semakin jelas ia pandangi. Tapi Jesika melepas tangannya pelan menjauh dari pria tampan itu.


"Apa kamu masih marah kepadaku?" tanyanya dengan tatapan sendu dan Jesika menggelengkan kepalanya


"Lalu kenapa kamu tidak ingin menatapku dan tidak mau disentuh olehku?"


"Aku boleh meminta apapun asal jangan menjauh dari kakak, apa itu benar?" ucap Jesika yang mulai menatap mata suaminya.


"Iya"


"Aku ingin tinggal di paviliun belakang dan bisakah aku kembali kuliah seperti biasa?"


"Um" singkatnya


Senyum manis terlukis di wajah cantik itu, membuat senyum tipis di wajah Zetas.


Saat ketua Broken Flower itu ingin memperbaiki rambut istrinya agar tidak terlihat terlalu berantakan, Jesika menghentikannya tak sengaja menepis tangan Zetas dengan kasar membuat pria tampan itu ingin sekali marah tapi ia tahan dan hanya mengepalkan tangan, pura-pura tersenyum.


"Kakak keluar saja, aku ingin istirahat!" ucap Jesika


"Aku akan keluar saat kamu tidur"


Zetas menunggu sampai Jesika tertidur, tapi rupanya kantuk mulai menghampirinya berkali-kali ia menguap dan tanpa sadar tertidur di samping istrinya.


"Uh" keluh Jesika rasanya ada sesuatu yang berat menimpa tubuhnya, gadis cantik itu mulai membuka mata dan ia dikejutkan dengan pemandangan yang tak pernah ia bayangkan, pria dingin bak kutub selatan menjadikannya sebagai bantal guling. Jesika perlahan melepaskan pelukan Zetas darinya, membuat pria tampan itu membuka mata.


"Mengapa kamu memelukku?" ucap Zetas tak terima


"Lepaskan pelukanmu, tubuhku sakit!" pinta Jesika, barulah Zetas tersadar ternyata dia yang berulah.


"Aku tidak bermaksud memelukmu!" jelasnya segera bangkit dari tidurnya dan kembali ke kamarnya.


"Sial, ini kedua kalinya aku menyentuh wanita itu!" gumam Zetas yang mengingat kejadian waktu itu ia memberi kecupan singkat pada istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2