
Hendry menuntun Vernon keluar dari kamar mandi, duduk di sofa panjang yang ada di dalam ruangannya.
"Apa saya pangilkan dokter saja tuan?" khawatir Hendry tapi CEO tampan itu hanya menggelengkan kepalanya, saat ini ia hanya butuh istirahat.
Disaat Vernon menyandarkan kepalanya disofa, memejamkan mata beristirahat sejenak untuk menenangkan pikirannya, Hendry sibuk membereskan dokumen-dokumen yang berhamburan dan meminta cleaning servis untuk membersihkan pecahan cermin, menggantinya dengan yang baru.
"Apa tuan baik-baik saja?" tanya Hendry kembali saat Vernon mulai terjaga dari tidur beberapa menitnya.
"Aku baik-baik saja" ucap Vernon tapi ada sesuatu dalam dirinya yang tidak bisa ia ungkapkan, perasaan yang sangat ia benci, perasaan yang selama ini ia berusaha agar bisa melupakannya.
"Mengapa aku sangat merindukannya!" batin Vernon yang sedari tadi menyalahkan dirinya.
"Tuan!" ucap Hendry tapi tuan mudanya masih larut dalam lamunannya.
"Tuan, apa tuan ingin menemui nyonya Huzafiyah?" ucapan Hendry membuat Vernon beralih menatapnya
"Tuan sebagai pria kita memang harus mempunyai pendirian yang kuat, tapi bukan berarti kita harus menyiksa diri dan membenci sesuatu yang paling berharga dalam hidup ini hanya karena ego. Temuilah nyonya Huzafiyah tuan, bicarakan masalah ini dengan baik-baik!" jelas Hendry
"Apa dia masih ingin melihat wajahku, masih ingin menemuiku?" lirih Vernon yang tidak yakin akan hal itu.
"Jangan menyerah sebelum berusaha, tuan belum mencobanya dan aku pastikan nyonya masih memiliki perasaan yang sama terhadap tuan!" menguatkan CEO tampannya itu
"Tapi masalah ini akan sedikit rumit, mungkin hubungan kita dengan tuan Avens akan berakhir karena jika Ela kecewa maka ia tidak akan tinggal diam!" jelas Hendry
"Aku tau akan hal itu!" ucap CEO mudanya
***
Disebuah pusat perbelanjaan mewah di kota itu, Zetas membawa Fiyah untuk berbelanja kebutuhan ibu hamil dan segala jenis makanan yang mereka inginkan.
"Apa kita perlu ini?" ucap Zetas yang memegang mangga mentah dan jeruk
"Jika tuan pelit ini ingin memakannya maka taruh saja di troli belanjaan tuan, tidak perlu bertanya!" ucap Fiyah yang telah terbiasa memanggil Zetas dengan sebutan itu, padahal sifat pria tampan mantan ketua broken flower jauh dari tuduhan pria pelit.
"Oho, bukannya ibu hamil suka makanan yang seperti ini?" kembali ucapnya karena dalam artikel yang ia baca menjelaskan seperti itu.
"Tidak semuanya ibu hamil menyukai makanan yang seperti tuan baca setiap harinya di om google. Sangat beruntung istri tuan pelit ini nantinya, karena suaminya sangat perhatian membelikannya segala makanan kecut dan berujung di kamar mandi karena sakit perut, selain itu selalu mencari informasi tentang kehamilan, luar biasa tuan Zetas Gang!" jelas Fiyah dengan senyuman jailnya.
"Awas saja jika kamu menginginkan makanan kecut nona buncit, tidak akan aku berikan!" jelasnya
"Oho, sungguh tuan?" kembali goda Fiyah dengan meniru gaya bicara Zetas
__ADS_1
"Sungguh nona buncit, dan jangan merengek meminta hal itu kepadaku, karena aku tidak akan memberikannya!" tegasnya tapi hanya sebatas gertakan
"Ok tidak masalah bagiku, aku bisa memesannya sendiri tanpa bantuan dari tuan pelit ini!" mendorong troli belanjaannya meninggalkan pria tampan berwajah bad boy itu.
"Nona buncit apa sedang merajuk?" goda Zetas
"Hai nona buncit janganlah marah!" ucapnya membuat Fiyah bertambah kesal
"Ok aku serius, tidak akan bicara lagi!" jelas Zetas saat mendapat tatapan sinis dari nona buncit yang selalu ia ganggu itu.
"Aww!" meringis sambil mengelus pelan tangannya
"Ini semua karena kamu tuan pelit!" marah Fiyah menyalahkan Zetas yang saat ini ia masih kesakitan karena tangannya kepentok di troli belanjaannya.
"Hah, jarak kami tiga meter mengapa aku yang disalahkan. Aku hanya menatap dari jauh tapi aku yang tersangka?" merasa terfitnah
"Apa masih sakit?" kembali ucap Zetas yang saat ini jarak mereka sangat dekat
"Jauh-jauh dari saya tuan, mundur!" perintah Fiyah
"Ok, seperti ini?" mengikuti arahan karena takut ibu hamil itu ngamuk lagi
"Lebih jauh!" jelas Fiyah
"Ingat harus jaga jarak jangan dekat-dekat denganku, nanti aku kena sial lagi!" ucap Fiyah yang mendadak berubah menjadi pemarah
"Ya Allah apa kesalahanku, wanita sangat sulit dipahami. Saat ini bilang A, beberapa menit kemudian pasti berubah menjadi B dan kemauan mereka berubah-ubah sampai Z, membingungkan!" gumamnya sambil berjalan mengikuti Fiyah dari belakang dengan jarak yang wanita cantik itu telah tentukan.
Saat Fiyah ingin mengambil cemilan yang ia inginkan dengan gerakan refleks Zetas membantunya.
"Aku bisa sendiri!" jelas Fiyah
"Jika dilakukan bersama-sama akan terasa ringan nona!" jelas Zetas tak ingin kalah
"Ini hanya bungkusan kripik kentang tuan Zetas Gang, saya bisa mengangkatnya dengan jari kelingking, tidak perlu bantuan untuk mengambilnya!" ucap Fiyah membuat Zetas tertawa
"Apa ada yang lucu?" kesal Fiyah yang merasa diremehkan
"Cup---cup---cup---cup, ternyata adik buncitku ini sudah bisa mengangkat kripik kentang, aku kira mengangkat kapas saja perlu bantuan dariku!" kembali jailnya yang suka melihat Fiyah marah karena lucu baginya.
"Dasar pria---" ucapan Fiyah terhenti dan segera beristighfar
__ADS_1
"Dasar pria apa nona, jangan terlalu membenci nanti bayi nona buncit ini 100% mirip saya. Jika itu terjadi maka berbahagialah karena akan mempunyai putra setampan diriku ini!" candaan Zetas yang membuat Fiyah mengepalkan kedua tangannya karena ingin sekali melampiaskan kekesalannya pada pria tampan itu.
"Dasar narsis, amit-amit ya Allah jauhi anak hamba dari semua itu!" jelas Fiyah dan Zetas mengerucutkan bibirnya cemberut tapi berujung senyuman manis.
"Ingat jaga jarak!" perjelas Fiyah
"Selama ini wanita yang datang kepadaku, aku hanya sibuk menolak mereka. Tapi nona buncit ini melihatku seolah aku ini berbahaya!" gumamnya
"Nona buncit apa jarak kita harus sejauh ini?" ucap Zetas agak teriak
"Jauh-jauh, sepuluh meter dari saya tuan!" jelas Fiyah
"Dasar harimau betina!" lirih Zetas
***
Sedang di mension pribadi milik Vernon
"Sayang kita liburan ya, apa tidak capek kerja terus. Please kita liburan ya baby!" bujuk dengan tingkah manja Ela
"Aku sibuk, jika ingin liburan ajak saja teman-teman kamu, biar Hendry yang mengurus semua tiket dan hotel yang kalian inginkan!" jelas Vernon
"Aku ingin liburan bersama kamu sayang, bukan dengan teman-temanku!" kembali ucapnya dengan manja
"Aku sibuk!" kembali jelas Vernon
"Sayang aku mohon sebelum pernikahan kita aku ingin liburan!" membujuk dengan suara manja tapi tuan dingin itu tidak memperdulikannya.
"Tuan saat ini nyonya Huzafiyah sedang mengandung!" pesan yang masuk di handphone Vernon membuat pandangannya seolah gelap dan saat ini ia mengepalkan kedua tangannya, dengan mata berkaca-kaca.
"Sayang kamu baik-baik saja?" ucap Ela dan Vernon meninggalkannya menuju ruangan pribadinya, mengunci pintu dan meluapkan kemarahnya.
"Dasar bajingan!" teriak Vernon memukul tembok yang membuat tangannya kembali terluka.
"Aaaaaaaaa" melampiaskan kemarahannya
"Bajingan maniak, kamu berani menyentuhnya!" semakin tak terkendali
Dengan nafas yang memburu membuat dada bidang dari pria bertubuh ideal itu naik turun karena emosi yang meluap.
Saat ini Vernon duduk bersandar di tempat tidur king size dalam kamarnya itu. Matanya mulai memerah dengan pandangan menakutkan.
__ADS_1
"Aku berusah ingin memperbaiki kembali hubungan kita, tapi kamu malah menghancurkan semuanya. Wanita menjijikan!" teriak Vernon melempar vas bunga yang ada di atas nakas dekat tempat tidurnya.
"Menjijikan!" lirih Vernon yang tak menerima jika bayi yang dikandung oleh Fiyah adalah darah daging Dragon.