Cinta Dan Identitas Rahasia

Cinta Dan Identitas Rahasia
Cemburunya seorang pria


__ADS_3

"Aku ingin masuk!" ucap Vernon


"Tapi disini sangat bagus, kita duduk disini saja ya?" bujuk Adriana tapi tak berhasil pikiran Vernon selalu terbayang Fiyah sedang bermesraan dengan Hendry


"Apa yang terjadi padaku, baru sehari saja wanita itu berkerja tapi dia sudah mengalihkan pikiranku!" batin Vernon


"Hendry!" panggil Vernon yang saat ini asistennya itu sedang duduk dengan Fiyah, itupun mereka berjauhan tetapi entah mengapa pria tampan itu masih tidak menerimanya.


"Iya tuan!"


"Kembali ke Mension sekarang juga!" perintahnya


"Untuk apa tuan!"


"Jangan bertanya lagi dan cepat kembali!"


"Baik tuan"


Sebelum pergi Hendry berpamitan pada Fiyah sedang mata Vernon seolah ingin keluar karena tak beralih menatap mereka berdua, ada rasa tak suka dalam dirinya pada kedekatan Fiyah dengan pria lain.


"Aku sedang tidak enak badan hari ini jadi kamu kembali saja, aku ingin istirahat" ucap Vernon pada Adriana


"Aku antar ya?" pinta Adriana


"Tidak perlu biar nona itu yang mengantarku!"


"Tapi--" ucapan Adriana terhenti


"Biar dia yang mengantarku!" tegas Vernon


"Mengapa masih diam, cepat antar aku ke kamar!" perintah Vernon pada Fiyah


"Baik tuan"


Sesampainya di kamar pria tampan itu melihat Fiyah dengan tatapan marah.


"Apa maksudnya, seharusnya aku yang menatap seperti itu bukan dia, berani berciuman dan pelukan dihadapanku!" batin Fiyah


"Apa ada sesuatu yang tuan inginkan?" Fiyah berusaha mencairkan suasana


"Kamu datang kesini untuk bekerja bukan bermesraan!"


"Maksud tuan apa?"


"Aku tidak nyaman melihat kamu dan Hendry bermesraan dihadapanku!"


"Kapan kami bermesraan, bukannya dia yang bermesraan dengan Adriana!" batin Fiyah


"Kamu jangan salah paham, maksudku kalian berdua datang kesini untuk bekerja jadi harus profesional!" perjelasnya


"Dasar kanebo kering" gumam Fiyah


"Apa kamu mengerutukiku?"


"Tidak tuan mana berani saya melakukan itu" senyum wanita cantik itu


"Duduk!" perintah Vernon yang diikuti oleh Fiyah


"Apa yang kamu ucapkan tadi?" tanya ketua Big Move itu dan mendekati Huzafiyah


"Tidak ada tuan!"


Pria tampan itu semakin mendekat hingga kini jarak mereka hanya sejengkal, aroma tubuh Fiyah yang tak asing baginya membuat Vernon semakin ingin mendekat tetapi Fiyah mendorongnya.


"Maaf tuan tapi ini tidak sopan!"


"Bukankah ini yang kamu inginkan?" menggenggam tangan Fiyah dengan kuat membuat wanita cantik itu kesakitan.


"Sejak tadi kamu berusaha menggodaku!"


"Tidak perlu menahan diri nona, aku tau kamu ingin menggodaku karena mengetahui bahwa aku lebih menguntungkan daripada Hendry!"


"Aku tidak seperti itu tuan, sungguh. Dan lepaskan tanganku sakit!" pinta Fiyah


"Benarkah?" tatapan meremehkan dan salah satu sudut bibirnya terangkat

__ADS_1


Ia semakin mendekatkan wajahnya pada Fiyah dan membuat wanita cantik itu hanya terdiam.


"Lihat, bahkan engkau tak menghindar dariku!"


"Apa dirimu serendah itu nona, hingga saat aku ingin menciummu kamu tidak menghindar dariku. Tapi jangan berpikir macam-macam, aku bahkan tidak tertarik sedikitpun dengan wanita sepertimu!"


"Untung saja dia suamiku, jika tidak sejak tadi aku menyumpal mulutnya" batin Fiyah


"Kamu mengerutukiku dalam hati lagi ha?"


"Tidak tuan, sungguh!"


"Keluar sekarang juga!"


"Mengapa masih diam dan menatapku seperti itu, apa jangan-jangan kamu mengharap aku melakukan hal yang tidak sopan kepadamu?"


"Hai nona, bahkan seranggapun tidak tertarik pada wanita murahan!"


Ucapan Vernon membuat Fiyah tersenyum


"Wanita aneh, seharusnya ia marah kepadaku!" batin Vernon


"Keluar!" ucapnya agak keras


"Iya, bawel!" ucap Fiyah dan bangkit dari duduknya meninggalkan pria tampan itu


"Dasar tidak sabaran" gumamnya yang masih terdengar oleh suaminya


"Ada apa denganku!" batin Vernon


"Apa yang terjadi kepadaku, mengapa jika dekat dengannya seolah diri ini terhipnotis oleh wanita itu"


"Tapi mengapa aku sangat kasar kepadanya!" tak mengerti pada dirinya sendiri


"Siapa sebenarnya engkau Huzafiyah!" batin Vernon


"Maafkan aku Hendry entah mengapa aku sangat nyaman saat bersama nona itu!"


*Sedang di Mension*


"Untung kamu datang, jelaskan kepadaku mengapa wanita yang ada dalam bank memori tuan adalah putri Adriana?"


"Maafkan aku, tapi tuan Francois yang memintaku melakukannya dan aku tidak bisa menolak. Tuan tenang saja aku tidak menghapus tentang nyonya" jelas Afton


"Kirimkan kepadaku!"


"Baik tuan"


"Tapi pertanyaanku belum tuan jawab!"


"Oh, aku juga tidak tau mengapa tuan memintaku datang kesini!"


"Bagaimana kondisi Zeron dan anak buahnya, apa kalian memberi makan dan melaksanakan perintahku dengan baik!" ucap Hendry yang saat ini duduk di kursi kebesarannya.


"Ia tuan, kami memperlakukan mereka dengan baik"


"Walau bagaimanapun mereka adalah manusia, biar hukum yang akan menghakimi mereka!"


"Saat ini menjadi tahanan Big Move aku rasa itu lebih baik, dan tinggal menunggu permainan mereka selanjutnya!"


"Pria maniak, kalian akan mengetahuinya apakah sekutu kalian setia atau tidak!"


"Dan Nicolous apa pria itu sudah sadarkan diri?"


"Belum tuan"


"Tetap awasi dia!"


"Siap tuan"


"Tuan apa mau bergabung dengan kami" ajak Cello yang saat ini mereka sedang main games dan ngemil santai


"Baiklah, hanya satu ronde saja!"


"Ok" spontan Cello

__ADS_1


"Payah, kamu sangat payah!" ucap Hendry setelah beberapa jam bermain game dengan Cello


"Apa ada diantara kalian yang hebat!" tantang Hendry pada anggota Big Move lainnya


"Cello itu pemain pemula tuan jadi pantas saja dia kalah!" ucap Afron yang membuat Hendry berpikir, bagaimana tidak seorang pemain pemula saja butuh berjam-jam untuk mengalahkannya apalagi pemain handal.


"Aku balik sekarang!" pamit Hendry


"Bukannya tuan ingin bermain lagi? Faris paling jago diantara kami!" tunjuk Afron


"Lain kali saja!" alasan Hendy karena tidak ingin kalah nantinya, bukan tidak percaya diri tapi sudah lama ia tidak bermain game sedangkan anggota Big Move lainnya tiada hari tanpa bermain games.


"Mengapa kamu kembali lagi kesini Hendry?" tanya Vernon saat asistennya itu muncul


"Aku harus selalu mengawasi tuan!"


"Sungguh kamu datang untukku bukan untuk nona itu?"


"Tentu untuk tuan dan untuk nona Fiyah, aku rasa sudah malam dan waktunya nona Fiyah pulang setelah menyiapkan makan malam untuk tuan!"


"Dia akan tinggal disini!" jelas Vernon


"Baik tuan!"


"Baik tuan? apa kamu tidak ingin bertanya padaku?" Heran Vernon dengan sikap Hendry yang seolah tidak cemburu dan mencurigainya


"Apa tidak ada perasaan tidak suka dalam hatimu, atau apalah itu yang tak terima atas ucapanku!" perjelas Vernon


"Perasaan tidak suka, aku tidak paham tuan!" bingung Hendry dan menggaruk kepalanya karena merasa aneh pada tuannya itu.


"Sudahlah, aku juga bingung saat menjelaskan ini kepadamu. Lebih baik ceritakan tentang kejadian mengapa aku sampai koma!"


"Baik tuan" Hendry pun menceritakan semua hal itu kepada ketuanya


"Mengapa aku harus tinggal di rumah ini" ucap Fiyah yang saat ini merebahkan tubuh diatas kasur dalam kamarnya sekarang, sedang tuan Francois selalu memperingatinya agar tidak berbicara apapun mengenai ia dan Vernon.


"Aku tidak mengusikmu karena Vernon, jadi jangan pernah berucap apapun itu tentang kamu dan dia, jangan merusak masa depan cucuku. Ingat hal itu!" ucapan tuan Francois selalu terngiang-ngiang


"Abi, umi aku sangat merindukan kalian!"


"Ternyata benar kata Abi, suatu saat nanti ada waktunya yang engkau anggap istimewa hari ini ternyata biasa saja, yang engkau kira selalu bersama ternyata pergi juga, yang kau pikir akan selamanya ternyata hanya sementara. Karena sejatinya keabadian hanya milik Allah dan Rasulullah. Berulang kali kita menghiyanatinya tapi ia tak pernah melupakan kita sebagai hamba dan umatnya. Abi saat ini aku merasakan hal itu, merasa sangat asing dihadapan seseorang yang paling berharga dalam hidupku!"


"Ya Allah kuatkan hati ini agar tidak tergoyahkan akan penolakan dari keluarga suami hamba"


*Keesokan harinya*


"Sayang" panggil Adriana pada Vernon


"Mana Vernon?" tanya Adriana pada Fiyah


"Aku tidak tau dia dimana!"


"Kamu perawatnya dan itu adalah tugasmu mengetahui keberadaan Vernon!"


"Mungkin didalam kamarnya"


"Tidak ada, aku sudah kesana!"


"Aku juga tidak tau!"


"Dasar, tidak ada sopan-sopannya" kesal Adriana pada Fiyah


"Oh ternyata kamu disini" ucap Adriana saat melihat Vernon berada di ruangan kerjanya bersama Hendry


"Au" teriak Adriana saat berbalik badan dan menabrak Fiyah yang membawa teh hangat dan tertumpah padanya


"Maafkan saya nyonya saya tidak sengaja!" ucap Fiyah


"Lain kali hati-hati!" ucap Vernon dan menghampiri Adriana memegang tangan wanita itu, melihat apa tunangannya terluka


"Hanya air hangat segitunya, malah semua orang juga pernah mandi dengan air hangat!" batin Fiyah


"Apa yang kamu lihat, cepat ambilkan obat!" ucap Vernon agak teriak yang membuat mata Fiyah berkaca-kaca sedang ia menuntun Adriana duduk di kursi dan masih memegang tangan gadis itu.


"Ini tuan" Hendry menyodorkan kotak obat

__ADS_1


__ADS_2