
"Apa yang kamu pikirkan putraku?" ucap tuan Francois saat melihat Darelano hanya termenung di kursi dekat kolam
"Ayah!" bangkitnya dari duduk tapi tuan Francois mengisyaratkan agar putra bungsunya itu tetap duduk.
"Putraku maafkan ayah" ucapnya yang saat ini ikut duduk disamping putra tampannya.
"Tidak perlu membahas itu lagi, masa lalu biarlah berlalu. Ayah tidak perlu merasa bersalah!"
"Putraku, aku tidak pernah menyia-nyiakanmu. Saat itu aku tidak ingin kamu--" ucapan tuan Francois terhenti saat Darelano membahas topik yang lain, ia tidak ingin mendengar penjelasan apapun.
"Bagaimana jika kamu memimpin salah satu perusahan keluarga kita nak?" harapan tuan Francois agar Darelano ingin bergabung melanjutkan bisnis keluarga mereka.
"Aku tidak tertarik akan hal itu, aku sudah sangat sibuk dengan bisnisku ayah!"
"Maaf, tapi aku sungguh tidak bisa!" jelasnya
"Jika itu yang kamu inginkan ayah tidak bisa memaksamu!" pasrah tuan Francois pada keputusan putranya itu
Putra bungsunya itu merupakan salah satu pengusaha sukses tapi dibalik semua kesuksesan itu ia juga melakukan bisnis ilegal, seorang mafia yang selama ini menjadi buronan polisi. Ayahnya seorang jenderal tapi karena kecerdikan Darelano identitas rahasia itu tertutup rapat, hingga keluarganya tidak mengetahui akan hal itu.
***
Di mension pribadi tuan Adhulpus
"Hay boy, anak tampan saatnya makan!" Ayeleen yang sibuk pada bayi Vernon
"Anak tampan siapa ini?.......Anak tampan kakak ya?"
"Cup---cup---cup---cup" Ayeleen asik bermain dengan bayi tampan itu
"Ma-ma" ucap bayi lucu itu membuat mata gadis cantik itu membulat dengan sempurna
"Apa sayang?" tak percayanya
"Ma-ma" ucap bayi Vernon lagi membuat Ayeleen tersenyum sangat bahagia.
"Anak tampan coba panggil papa!"
"Pa-pa!" ucap Ayeleen ingin mengajari bayi yang berusia delapan bulan itu agar menyebut papa. Tapi Vernon kecil selalu memanggil mama.
"Sayang coba panggil papa, pa-pa!" berharap bayi tampan itu berucap demikian.
"Ma-ma" kata yang selalu Vernon kecil ucapkan
Sedang di perusahaan tuan Adhulpus disibukkan dengan kliennya dan menandatangani dokumen-dokumen penting perusahaan.
__ADS_1
Waktu begitu cepat berlalu kini menujukkan 16:00 karena sibuk pada kliennya tuan CEO itu lupa belum melaksanakan shalat Ashar.
Saat mengingat hal itu ia segera istighfar dan meminta Brayen menggantikannya untuk sementara waktu, meninggalkan ruangan yang menjadi tempat pertemuan mereka itu, menuju ruangan pribadinya yang disana ia bisa melaksanakan sholat.
Seseorang yang mencurigakan mengalihkan perhatian Azqila, wanita cantik itu secara diam-diam mengikutinya. Pria yang berpakaian cleaning servis itu memasuki ruangan tuan Adhulpus, ia tersenyum ala Joker saat melihat sang empu ruangan masih khusyu dalam sholatnya.
Saat pistol ia arahkan pada CEO muda itu dengan cepat Azqila berlari kerah tuan Adhulpus, menghalangi tembakan itu.
"Dor!"
Dengan sekali tembakan wanita cantik itu jatuh berlumuran darah, saat itu pula Adhulpus selesai dalam sholatnya. Ia gemetar dengan wajah memerah, amarahnya menjadikan pria tampan itu tidak bisa berpikir jernih lagi dengan cepat tuan Adhulpus berlari kearah pria asing itu. Dengan sekali tendangan lawannya jatuh dan mengambil alih senjata menembakan pada salah satu kaki pria asing itu.
Karena ruangan CEO kedap suara jadi tidak ada yang bisa mendengar suara tembakan.
"Siapa yang menyuruhmu?" ucap Adhulpus dengan tatapan menakutkan
"Siapa yang menyuruhmu?" ucapnya lagi dengan teriak tapi pria itu tidak ingin bicara, bahkan ia rela mati demi melindungi identitas orang yang memerintahkannya itu.
Setelah menghubungi dokter pribadinya dan Brayen beberapa menit kemudian mereka datang.
"Apa yang terjadi?" kaget Brayen saat melihat Azqila terbaring berlumuran darah di salah satu lengannya.
Kini wanita cantik itu berbaring di sofa karena tadi Adhulpus mengangkatnya ketempat itu. Sedang pria yang ingin membunuhnya saat ini diamankan di tempat rahasia oleh bodyguard tuan CEO tampan itu.
"Perintahkan pada pihak keamanan perusahaan agar mereka lebih waspada dan cari bodyguard yang ingin diperkerjakan sebagai scurity, lebih banyak lebih baik!" perintah Adhulpus membuat Brayen menatapnya
"Tidak, saya sudah paham bro!" ngeri pada tatapan CEO tampannya itu
"Bagaimana keadaannya dokter?" ucap Adhulpus
"Dia baik-baik saja tuan, untungnya tembakan itu hanya mengenai lengannya. Hanya saja mungkin dia syok atas kejadian tadi" jelas dokter pribadinya
"Terimakasih" ucap Adhulpus dan dokter itu pamit karena tugasnya sudah selesai, hanya datang mengobati Azqila.
"Sebenarnya apa yang terjadi bro?" penasaran sedari tadi Brayen
"Minta agar mereka mengirimkan rekaman Cctv secepatnya!" perintah Adhulpus dan Brayen melaksanakannya
Beberapa menit kemudian dua pria itu menyaksikan hal tersebut.
"Oh ****!" umpat Brayen saat ia kesal dan memukulkan tangannya ke meja, pria tampan itu merasakan sakit sedang tuan mudanya hanya menatapnya dingin.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?"
"Pelankan suaramu!" ucap Adhulpus dan melirik kearah Azqila yang masih terlelap
__ADS_1
"Maaf aku lupa!" merasa bersalahnya
"Dimana sekarang pria berengsek itu?" ucap Brayen
"Di gudang tua, aku sudah meminta agar mereka membawanya kesana. Pria itu rela mati demi melindungi identitas orang yang menyuruhnya" merasa kesal tuan Adhulpus
"Perintahkan anak buahmu untuk mencari lebih banyak bodyguard!" jelasnya yang diikuti anggukan kepala Brayen
"Siapa yang kamu curigai dalang dibalik semua ini bro?" ucap Brayen
"Aku mencurigai Darelano, tapi saat ini ia sudah berubah menjadi baik!" tidak yakinnya
"Bukankah ini sangat mendadak, karena selama ini dia selalu ingin mencelakakanmu!" tidak percaya Brayen
"Aku juga berpikir hal yang sama, tapi kita tidak boleh mencurigainya tanpa bukti yang kuat!"
"Perintahkan mereka agar menyelidiki kasus ini!" jelas Adhulpus agar anak buahnya bergerak secara diam-diam, memata-matai Darelano.
Sedang disetiap sudut mensionnya CEO tampan itu sudah memasangkan Cctv yang saat ini ia bisa melihatnya dengan jelas dilayar laptopnya. Ia tidak ingin hal buruk terjadi pada putranya.
"Bukankah ini aneh?" kembali curiga Brayen
"Mengapa pria itu sangat berani datang ketempat ini, bukankah itu sama saja dengan menyerahkan diri?" curiganya
"Ada dua alasan, mungkin mereka tau jika pada saat kamu sholat maka kamu hanya terfokus pada Tuhanmu bro, dan alasan lainnya mungkin orang itu tidak punya pilihan lain yang ada dipikirannya adalah membunuhmu, sedang keselamatannya tidak penting!
"Apa menurutmu seseorang yang menyuruhnya mengancam pria itu?"
"Tentu saja, jika hanya karena uang maka dia masih bisa berpikir, mencari tempat yang aman untuk melakukan aksinya. Mungkin keselamatan keluarganya menjadi alasan ia melakukan semua ini!" curiga Brayen
"Tenang bro, aku akan membuat pria itu berbicara kebenaran dari semua ini!" ucap asisten pribadinya dan menepuk pundak Adhulpus
"Azqila!" ucap Brayen yang melihat wanita cantik itu mulai membuka mata
"Jangan banyak bergerak dulu, tangan kamu masih terluka!" ucap tuan CEO-nya
"Apa masih sakit?" khawatir Brayen dan Azqila menggelengkan kepalanya
"Goblok, tentu masih sakit!" bisik Adhulpus pada sahabatnya itu
"Aku sangat khawatir bro, mengapa dia yang harus tertembak. Jika hanya mengenai lengan saja akan lebih baik jika kamu yang tertembak!" bisik Brayen membuat tuan mudanya itu tersenyum
"Aku akan mengantarmu pulang" ucap Adhulpus
"Lebih baik aku yang mengantarnya pulang, nantinya dia dalam bahaya lagi jika ikut denganmu!" candaan Brayen
__ADS_1
"Azqila biar aku yang mengantarmu!" lanjut Brayen
"Bro biar aku yang mengantarnya!" bisik asisten pribadinya itu, membuat Adhulpus mengalah.