Cinta Dan Identitas Rahasia

Cinta Dan Identitas Rahasia
Terpuruk


__ADS_3

Memori kenangan Fiyah dan Fatih seolah terputar kembali


"Tuan tolong jaga pandangan Anda!" pinta gadis cantik yang duduk berdampingan dalam bus saat di Kairo


"Apa salah jika aku ingin melihat keindahan?" gombal pria tampan itu


"Pria yang berakhlak pasti mengetahui aturan" jelas Fiyah


"Aku tidak sealim itu, tetapi jika di izinkan aku ingin menjadi bagian halal dari perempuan yang mencuri hatiku"


"Aku menginginkan lelaki yang Sholeh bukan seseorang yang hanya berbekal rayuan. Tuan mulai sekarang tolong jauhi aku kita sangat berbeda, aku sangat mencintai agamaku melebihi apapun di Dunia ini!"


"Aku akan buktikan!"


"Jangan menjadi orang bodoh tuan, hanya karena seorang wanita tuan bersikap seperti ini"


"Bukankah semua akan menjadi bodoh saat jatuh cinta Nona?


"Tidak semua tuan, laki-laki yang baik masih menggunakan logika meskipun jatuh cinta, mereka masih bisa berpikir tentang status, harga diri dan ego" jelas Fiyah yang sudah muak karena tingkah Thanit pria yang selalu mengikutinya


"Suatu saat nanti kamu akan mengetahui bahwa tersenyum saat mengingat seseorang yang engkau cintai itu bukan suatu kebodohan nona! jika itu suatu kebodohan berarti kita sama, hanya tingkat kebodohan itu yang membedakan kita"


"Akan aku pastikan tidak akan mengalami hari itu, dimana hatiku diperbudak oleh kebodohan karena cinta!" jelas Fiyah


"Aku harap perkataanmu bisa engkau pegang nona. Tapi jangan salahkan aku jika suatu saat nanti engkau menginginkan aku tapi takdir memisahkan kita. Aku mohon pikirkan tentang niat baikku nona"


"Ketika nanti kamu melihatku sedang membahagiakan orang lain, ingatlah aku pernah memberimu kesempatan namun kamu sia-siakan, tapi itu belum sepenuhnya kepedihan kehilangan nona, bagaimana jika nanti hatimu sudah mampu aku curi dan takdir kematian memisahkan kita, bukankah itu suatu penyiksaan yang perih? jadi aku harap pikirkan sekali lagi niat baikku nona?"


"Kamu boleh datang menemui kedua orang tuaku tapi dengan syarat mampu menghapal setiap lembaran kitab suci agamaku dan memahami setiap makna darinya. Dan ingat ini tuan, aku tidak pernah memaksamu mengikuti kepercayaan ku yang aku inginkan tuan mampu menghapal dan mengerti setiap maknanya jika tuan sudah bisa, maka aku akan menerima tuan sebagai imamku" jelas Fiyah bermaksud menolak secara halus tetapi tidak disangka Thanit pria yang sangat cerdas bahkan ia lebih tertarik dengan Islam dan memeluk kepercayaan wanita yang ia cintai itu karena kekaguman pada Allah SWT bukan atas paksaan cinta dari umatnya.

__ADS_1


...***Kesedihan Fiyah***...


Sedang di dalam kamarnya Fiyah tak mampu membendung air matanya rasa sesak didada membuat ia sulit untuk bernafas.


"Kenapa ya Allah, kenapa abi dan umi tega sekali kepadaku, mereka adalah orang yang paling aku percaya di Dunia ini tapi mengapa mereka tega mengkhianati kepercayaan ku. Apa aku salah jika hati ini belum ingin menerima laki-laki lain?"


"Aku tidak bisa ya Allah, aku tau engkau tidak akan memberi cobaan diluar batas hamba mu. Ya Allah aku sakit sangat sakit ini seperti perih saat Fatih meninggalkanku"


Kini Fiyah seperti seorang yang kehilangan akalnya, rambut acak-acakan dan wajah yang sembab. Gadis cantik itu tak bisa menahan kesedihannya ingin sekali ia teriak sekeras mungkin tapi itu tidak akan terjadi pada wanita yang masih memiliki iman, ia hanya mampu menahan rasa sakit itu dengan isak sesekali.


"Abi aku belum bisa melupakan Fatih sangat sulit untukku melupakannya, entah apa yang terjadi pada hatiku tapi aku jatuh cinta padanya saat ia datang melamarku dan aku meminta syarat yang sangat berat padanya membuat ia terdiam malu tapi dengan senyum manis dan kata bijaknya mampu membuatku tertampar, ternyata meremehkan seseorang adalah prilaku yang paling buruk. Aku akui dulu aku sangat meremehkan pria itu tapi keadaan berbalik padaku kini aku seolah gila akan cintanya tapi kematian memisahkan kami"


"Aku sangat menantikan hari itu hari dimana aku akan dipersunting oleh seorang laki-laki yang memiliki kepribadian luar biasa, aku tertarik padanya bukan karena parasnya yang tampan tetapi karena dia adalah pria satu-satunya yang mampu menggetarkan jiwa ini saat ayat suci ia bacakan karena kebodohanku menganggap ia tak tau apa-apa tentang Islam tapi aku salah ia mengetahui semuanya lebih dari yang aku tau"


"Saat gaun pengantin aku kenakan rasanya aku adalah wanita yang paling bahagia di Dunia ini tapi berita itu membuat tubuhku lemah rasanya tulang-tulang ini tak lagi mampu menopang tubuh seketika pandanganku berubah menjadi gelap tapi rasa tak percaya akan seseorang mengatakan bahwa Fatih calon suamiku telah tiada membuat aku ingin membuktikannya. Aku mencoba melangkahkan kaki ini menemui dia yang terakhir kalinya. Saat tiba di rumah sakit entah mengapa firasat ini tak bisa lagi tertahankan ia membuat jiwaku semakin sakit dan ternyata itu benar bahwa seseorang yang hampir menjadi imamku kini telah terbaring tak bernyawa air mata ini semakin deras mengalir, kudekati pria yang telah menjanjikanku surga yang nantinya akan kami tuju bersama dalam membina rumah tangga"


"Muhammad Al Fatih itu nama yang sangat indah. Apa ini janjimu, bangun buka matamu engkau berkata akan menjadikan aku wanita paling bahagia di Dunia ini! Fatih bangun katakan pada mereka untuk diam jangan menangis seperti ini, katakan pada keluargamu yang nantinya akan menjadi keluargaku juga bahwa kamu baik-baik saja Fatih katakan!"


"Kamu pria jahat! semua wanita sangat bahagia dihari pernikahan mereka tapi mengapa aku tidak?"


"Mengapa? jawab Fatih!" teriak Fiyah seperti orang kehilangan akal


"Mengapa senyum bahagia ini engkau gantikan dengan tangis dan rasa sakit yang dalam?" tangis Fiyah yang semakin menjadi


Sejak saat itu Duniaku sudah tidak baik-baik saja.


Memori waktu itu terputar kembali membuat Fiyah semakin terpuruk, gadis cantik yang sekarang terlihat berantakan kini tak sadarkan diri lagi ia mulai terlelap dengan wajah sembabnya.


Sedang diluar umi dan abinya sangat khawatir

__ADS_1


...***Di meja makan***...


"Fiyah" ucap umi Salma saat melihat putrinya datang dan duduk bersama setelah Fiyah membersihkan diri menghilangkan jejak kesedihan yang mendalam pada wajahnya walau hati masih sangat perih.


"Umi ambilkan ya sayang?" bujuk umi Salma menyendok nasi beserta lauk pauknya untuk Fiyah


"Fiyah Abi dan umi minta maaf karena tidak memberitahu Fiyah jika hari ini akan diadakannya acara pertunangan dan secepat mungkin dilaksanakan pernikahan, ini untuk kebaikan kamu sayang karena Abi tidak ingin melihat kamu terus larut dalam masa lalu. Hidup ini berputar Abi mohon jangan memberikan hatimu pada seseorang yang telah tiada di Dunia ini" pinta kyai Husein


"Aku tidak apa-apa Abi, sudah terlanjur percuma meminta maaf atau meminta persetujuanku, masa depanku terserah pada Abi dan umi saja" jawaban gadis cantik itu membuat kedua orang tuanya bahagia sekaligus tertampar


"Fiyah marah pada Abi dan umi?" tanya umi Salma


"Aku tidak memiliki keberanian untuk marah kepada kedua orang tuaku, apa pantas aku berteriak pada umi dan abi? aku tau batasan umi"


"Aku tidak ingin menjadi anak yang durhaka karena menentang keinginan kalian oleh karena itu terserah umi dan abi saja. Tetapi bukan hanya seorang anak yang pernah melakukan kesalahan tapi orang tua juga bisa melakukan kesalahan" jelas Fiyah yang seolah mengingatkan bahwa keputusan kedua orang tuannya itu sangat menyakitinya.


"Aku akan menuruti semua keinginan Abi dan umi jadi tidak perlu menghawatirkan ku" jelas Fiyah yang membuat kedua orang tuanya terdiam karena tatapan putri mereka itu sama seperti saat kehilangan orang yang ia cintai.


"Semua hal di Dunia ini adalah titipan tidak sepatutnya merasa dimiliki" lanjut Fiyah yang mengetahui pikiran kedua orang tuanya sebelum ia dinasehati seperti itu Fiyah terlebih dahulu mengeluarkan kata-kata itu.


"Abi tau kamu anak yang cerdas dalam ilmu agama jadi Abi rasa menasehati dirimu sendiri lebih berpengaruh dibanding ucapan Abi" ucap kyai Husein yang kini merasa bersalah tetapi merasa sudah melakukan hal yang paling tepat untuk putrinya


"Umi harap mulai sekarang Fiyah menerima Adam" pinta umi Salma yang diterima anggukan kepala oleh Fiyah walau hatinya saat ini belum menerima tapi apa salahnya membahagiakan kedua orang tuanya karena jika ia menolak maka orang yang bersedih bukan hanya ia tapi kedua orang tuanya dan termasuk Adam dan keluarganya.


...***Di kediaman kyai Thoriq***...


Pria tampan sedari tadi menatap layar ponselnya


"Mengapa Fiyah tidak menghubungiku, setidaknya ia marah bahkan memakikupun tak apa aku akan sangat bahagia, itu pertanda ia sudah mengaggap keberadaanku" gumam Adam

__ADS_1


Ingin sekali ia mengetik isi pikirannya terhadap Fiyah tapi apalah daya keberaniannya seolah hilang padahal sebelumnya ia adalah sosok pria yang terang-terangan tentang perasaannya.


__ADS_2