
"Jangan pernah bersikap manja padaku, karena aku bukan lagi seorang pria yang mencintaimu!" Jelas Vernon saat Fiyah hendak memeluknya untuk meredam amarahnya.
"Harga diri letaknya jauh dari kata cinta, walaupun cintaku sangat besar padamu tapi kau telah merendahkan harga diriku dengan meninggalkanku, memilih seseorang yang telah memb*nuh seluruh keluargaku. Maka detik itu juga kamu bukan siapa-siapa lagi bagiku!"
"Aku hanya ingin melihatmu menderita!" Jelas Vernon yang sebenarnya ucapan dan kata hatinya berbeda.
Didalam ruang kerjanya Vernon sangat menyesali perbuatan dan ucapannya yang menyakiti wanita yang masih sangat ia cintai itu.
Tapi rasa kecewa atas penghianatan muncul saat melihat wajah yang dulunya terlihat sangat teduh itu tapi kini tak lagi sama, dan berakhir menjadi amarah yang tidak bisa terbendung. Sikap dan perkataannya yang kasar terhadap Fiyah disatu sisi membuat ia merasa kekecewaannya selama ini terbalaskan, tapi disis lain batinnya sangat tersiksa karena ia masih sangat mencintainya.
"Ya Rabb, maafkan aku karena telah menyia-nyiakan kesempatan yang telah engkau berikan. Tidak sepantasnya aku berbuat seperti ini pada istriku, tapi kemarahanku membuatku berlaku tidak adil padanya" Isak tangis dan berakhir membuat ruangan kerjanya seperti kapal pecah.
Sedang di ruangan lain wanita cantik yang saat ini sudah terlelap tapi masih mengalir air mata di wajah lembutnya, entah apa yang sedang ia mimpikan bahkan dalam tidurnyapun masih merasakan kesedihan.
Entah sejak kapan seorang pria tampan dengan raut wajah yang penuh dengan penyesalan berdiri dihadapan Fiyah dengan pandangan tak teralihkan, dari sorot matanya yang indah masih terlihat cinta yang begitu besar saat menatap tajam Fiyah.
Vernon duduk di samping sang istri yang saat ini terlelap tapi air mata tak henti mengalir. Perasaannya sangat hancur melihat hal itu, bahkan dalam mimpinya wanita yang ia cintai itu masih merasakan kesedihan.
Vernon menghapus air mata di wajah teduh itu, dengan penuh kelembutan mencium kening sang istri dengan hati-hati.
"Kamu adalah seseorang yang paling berharga dari semua hal yang Allah titipkan padaku, kenangan indah kita dahulu tidak pernah hilang dari benakku. Aku masih sangat mencintaimu bahkan rasa cinta itu bertambah setiap detiknya, oleh karenanya aku tidak bisa menghapus rasa kecewa ini karena cemburu padamu Fiyah. Kamu sangat berarti bagiku, tatapan kemarahanku padamu itu hanya kebohongan untuk menutupi perasaanku, kamu adalah ratu satu-satunya di hatiku. Aku ada dalam hidupmu bukan untuk mengendalikan mu tapi untuk mencintaimu, aku sangat bahagia saat mendapati wanita yang membuatku jatuh cinta sedalam ini membuat Duniaku terasa sangat indah, tapi patah hati beribu-ribu kali lipat mengubah hidupku. Ingin sekali aku menjadi pria berengsek di matamu, dan membuat engkau membenciku tapi aku tidak ingin menyakitimu dengan cara itu. Cukup aku saja yang merasakan sakitnya cemburu padamu istriku" Ucapan pelan Vernon dan kembali mencium pipi lembut istri tercintanya.
Keesokan paginya selimut hangat masih menutupi sebagian tubuh Fiyah, mimpi yang menyedihkan semalam berubah menjadi mimpi indah saat sang suami tercinta menenangkannya, walaupun ia tidak mengetahuinya tetapi keberadaan Vernon walau hanya sesaat membuat ia merasa tenang.
"Ya Allah!" Ucap Fiyah dengan beristighfar dan segera bergegas menuju kamar mandi berwudhu setelah itu menunaikan sholat subuh yang baru saja terlewatkan nya.
Sedang di meja makan Vernon sedari tadi menunggunya, ingin menghampiri sang istri tetapi egonya terlalu tinggi. Padahal semalam saat Fiyah terlelap ia berani menciumnya dan kini seolah menjadi orang yang berbeda.
__ADS_1
"Apa yang dilakukannya mengapa sangat lama apa dia tidak lapar, dia sedang mengandung tapi sangat lelet seperti ini!" ucap Vernon dan meminta seorang pelayan memanggil Fiyah
"Apa kamu lupa nona bahwa saat ini kamu adalah pelayanku!" ucapnya dengan wajah datar dan meminta Fiyah untuk melayaninya
Menu sarapan sejak tadi tersaji dengan indah dihadapannya tetapi tuan CEO tampan itu ingin dilayani oleh sang istri, bahkan ia sama sekali tidak beranjak dari tempat duduknya dan hanya menunggu Fiyah meletakkan makanan dan minuman itu untuknya.
Seorang chef pribadi dikediaman tuan Vernon sedari tadi senyum melihat tingkah tuan mudanya yang meminta ia menyiapkan menu sarapan untuk ibu hamil tetapi enggan untuk mengajak wanita yang ia cintai itu sarapan bersama.
"Aku tidak menyukai menu pagi ini dan kamu harus menghabiskannya, aku tidak ingin mubazir karena itu perilaku setan!" Ucapnya dengan salah satu sudut bibir terangkat tersenyum tipis setelah ia berbalik badan membelakangi Fiyah dan meninggalkan Mension menuju perusahaan.
Mobil mewah melaju disepanjang perjalanan, wajah tampan tuan CEO tak henti-hentinya tersenyum, semua itu adalah bentuk perhatiannya yang tidak ingin ia tunjukkan secara langsung.
Sekali lama ia menantikan momen ini yaitu kembali berkumpul bersama istri tercintanya.
Belum sempat Vernon memasuki ruang kerjanya ia segera berlari kembali memasuki lift menuju pintu keluar dan menaiki mobil mewahnya melaju dengan kecepatan tinggi.
"Maaf tuan jumlah mereka sangat banyak dan langsung menyerang kami, tidak sempat mengabari tuan saat itu" jelas salah satu bodyguard dengan gemetaran yang kini mereka semua babak belur
"Berani sekali dia membawa istriku pergi dari kediamanku sendiri!" Amarah Vernon
"Perintahkan pada semua anggota big move untuk mencari keberadaan Zetas!" ucap Vernon pada Hendry yang sedari tadi mengikutinya dari belakang
Setelah mendapat perintah Hendry langsung bergegas melaksanakan tugas.
Pergerakan Zetas Gang sangat cepat dan teliti hingga tidak ada jejak yang bisa ditemukan tentang mereka oleh anggota big move.
"Aku sangat benci pengkhianatan!" Kesal Vernon yang selama ini menganggap Zetas teman dan mempercayai bahwa pria maniak itu telah berubah.
__ADS_1
Waktu terasa begitu cepat berlalu kini hari semakin gelap tapi anggota big move belum juga memberikan informasi tentang kemana Zetas membawa Huzafiyah.
"Jika dia berani menyentuh istriku bahkan hanya sehelai rambutnya saja tersentuh olehmu Zetas maka kamu harus membayarnya dengan seluruh hidupmu!" Amarah Vernon yang semakin menjadi
Hendry tidak menemukan petunjuk apapun tentang Zetas, bahkan kini mereka masih berada di apartemen milik mantan ketua broken flower itu. Perusahaan tempat ia bekerja kini kepemimpinannya beralih pada seseorang yang sama sekali tidak mengenal Zetas secara pribadi hanya sebatas hubungan bisnis.
"Rupanya ini sudah direncanakan olehnya!" Gumam Hendry yang bingung harus berbuat apa lagi karena ia sangat tahu bagaimana kondisi tuan mudanya saat ini.
Anggota big move lainnya telah memastikan bahwa saat ini Zetas dan nyonya muda mereka masih berada di Negara itu.
"Apa yang harus kita lakukan tuan?" ucap salah satu anggota big move pada Hendry
"Entahlah aku juga bingung harus berbuat apa sekarang, jika kita memberi tahukan tuan muda sekarang maka akan membuatnya semakin hancur!" Jelas Hendry yang tak tahu lagi harus berbuat apa
"Ya Rabb kemana sebenarnya Zetas pergi membawa nyonya Fiyah?"
Sedang di Mension Vernon hanya terdiam seolah tak menyangka bahwa wanita yang ia cintai meninggalkannya yang kedua kalinya.
"Mengapa kamu tidak menolak saat orang lain membawamu pergi Fiyah?" pertanyaan-pertanyaan itu seolah membuat ia sadar akan kesalahan yang telah ia perbuat karena telah memaksakan kehendaknya sendiri tanpa memikirkan perasaan wanita yang ia cintai.
"Aku yang salah, aku mencintainya tapi tidak membiarkannya memilih kehidupan yang membuatnya nyaman" Sesal yang datang terlambat
"Hendry pulanglah, hentikan semua pencarian kalian. Biarkan dia memilih kehidupannya sendiri jika dia masih mencintaiku maka aku yakin dia pasti akan kembali padaku!" Perintah Vernon dan mengakhiri panggilannya.
"Walaupun tidak ada jaminan bahwa penantian ku tidak akan sia-sia tetapi aku sangat yakin bahwa takdir Allah yang terbaik!"
"Aku pastikan kamu akan kembali padaku Fiyah!" Ucapnya yang seolah memiliki dua kepribadian.
__ADS_1