
"Boleh aku bertanya?" ucap Zetas pada gadis yang menyita perhatiannya itu
"Ia, silahkan"
"Kenapa nona menggunakan kain itu?" penasaran Zetas karena pemandangan asing baginya tetapi sangat menarik.
"Bukan bermaksud buruk hanya ingin mengenal nona dengan lebih dekat lagi" lanjutnya
"Maksud tuan jilbab ini? menggunakannya adalah suatu kewajiban bagi semua wanita dalam Islam, dan keyakinan kami tidak memaksakan jika sebagian tidak ingin menggunakannya. Bagi seorang wanita yang menginginkan kemuliaan maka ia akan melindungi dirinya dari padangan yang tak layak ia dapatkan, karena wanita adalah godaan terbesar bagi seorang pria. Bukannya seorang wanita yang tidak mengenakan jilbab tidak memuliakan dirinya, tapi lebih tepatnya pakaian adalah tameng pelindung bagi seorang wanita. Aku secara pribadi jauh lebih nyaman mengenakan penutup kepala yaitu jilbab dan berpakaian secara tertutup karena kenyamanan jauh lebih penting dari pada penampilan bagus, jika sudah nyaman maka akan indah dipandang" jelas Fiyah agar mudah dipahami oleh Zetas pria yang saat ini tidak miliki keyakinan
"Kamu adalah wanita sempurna yang pernah aku temui dalam kehidupanku Huzafiyah" batin Zetas
"Lalu kenapa nona memilih Islam?" pertanyaan yang membuat senyum menenangkan Fiyah terlukis indah membuat hati pria tampan bertato itu semakin tak karuan
"Aku awalnya Islam karena keluargaku semua memeluk kepercayaan yang sama, tapi saat aku mulai mengenal tulisan dan belajar tentang apa itu Islam sejak saat itu aku jatuh cinta kepadanya. Aku jatuh cinta kepada Allah, kepada Rasulullah dan kepada semua aturan yang ditetapkan dalam agamaku. Jika keluargaku bukan Islam maka perasaanku tetap akan sama yaitu sangat mencintai kepercayaanku." Jelas Fiyah
Zetas semakin penasaran sehebat apa Islam sehingga wanita yang bersamanya saat ini dengan bangga mengatakan bahwa ia sangat mencintai agamanya.
"Jika suatu saat diberi pilihan antara memilih kepercayaan dan orang yang di cintai, apa yang akan nona pilih?" penasaran Zetas
"Tentunya kepercayaanku" senyum Fiyah
"Sungguh?" perjelas Zetas
"Karena aku akan menjatuhkan hatiku kepada seseorang yang mampu menuntunku, dan membuka pintu hatinya untuk Tuhanku." jelas putri kyai Husein itu
__ADS_1
"Apa hebatnya Tuhan dari agama gadis ini hingga setiap ucapannya selalu berlandaskan kepercayaannya" batin Zetas
"Apa nona percaya Cinta?"
"Tentu" spon Fiyah
"Apa tuan tidak percaya Cinta?" lanjut Fiyah
"Hum, aku tidak percaya cinta sama halnya aku tidak percaya kepada Tuhan" jelas pria tampan itu
"Tapi sekarang aku menemukan hal yang menarik yang membuatku ingin tau lebih banyak tentang sebuah kepercayaan dan mengenai cinta aku rasanya itu hanya nama lain dari sebuah ketertarikan yang jika sudah bosan akan berakhir penghianatan" lanjut Zetas
"Anda salah tuan, cinta adalah sebuah keikhlasan, pengorbanan, kepercayaan dan ketulusan. Jika seseorang terluka karena cinta berarti ia belum mengerti apa makna dari cinta itu" jelas Fiyah yang bermaksud pada dirinya sendiri karena ia masih terluka saat ini. Gadis anggun itu rasanya belum mengikhlaskan akan takdir cinta pertamanya.
"Walau waktu berlalu tapi tetap menyakitkan, aku berpura-pura melupakannya tapi dalam hati yang terdalam sangat perih" batin Fiyah
Huzafiyah menginginkan seseorang yang bisa membimbingnya, menjadi imam yang baik dan memiliki cukup ilmu dan akhlak baik. Tapi hati sangat mudah berubah hanya menunggu garis takdir menuntun saja. Jika seseorang ingin berubah kearah yang lebih baik mengapa tidak, Allah saja maha pengampun dan penyayang, mengapa manusia harus banyak tuntutan bukankah kesempurnaan hanya milik Allah. Oleh karenanya jalani hidup dengan iman menerima dan mengikhlaskan.
Dengan panjang lebarnya mereka berbincang-bincang ada sosok pria tampan lainnya yang mengawasi bahkan saat ini tatapan tajamnya tak teralihkan, terlebih ia mengenal pria yang saat ini bersama Fiyah.
"Semakin menarik, pria manik ternyata bisa tersenyum semanis itu" ucap Vernon yang baru menyadari bahwa Zetas Gang ternyata manusia, bisa jatuh cinta maksudnya.
"Apa boleh aku mengantar nona pulang?" tawar Zetas yang sebenarnya sangat berharap
"Terimakasih, tapi tidak perlu aku datang kesini bersama sahabatku, dan sampai bertemu kembali" ucap Fiyah dan menghampiri Hani, sedangkan sahabatnya itu sedari tadi sibuk membaca buku yang menarik perhatiannya.
__ADS_1
"Huzafiyah" panggil seseorang yang hendak memperkenalkan gadis cantik itu kepada putri Adriana
"Kenalkan ini adalah Huzafiyah salah satu penulis muda dari Indonesia" ucap wanita itu memperkenalkan Fiyah
"Senang berjumpa dengan anda" ucap Adriana
"Senang juga bertemu dengan anda" balas Fiyah dengan ramah sedang pria yang sedari tadi tidak memperdulikan putri Adriana hanya menatap dari kejauhan. Saat ini ia harus berhati-hati karena Zetas juga berada disana dan besar kemungkinan sekutu pria itu juga berada di tempat yang sama.
Hari ini mereka memang bermain cantik mereda sesaat dan akan menyulutkan api secepat mungkin hingga membakar semua yang dilaluinya tapi tenang saja pihak Big Move setiap saat sedia menunggu aksi kejahatan mereka.
Terlebih pihak Nicolous saat ini mungkin merancang sesuatu yang sangat besar, hingga beberapa hari ini mereka tak bersuara.
Terlebih pertunangan Vernon yang penuh penolakan dari pihak yang tak menginginkan tuan Francois bertambah besar kekuasaannya, tentunya jebakan akan mereka siapkan dengan sangat hebat.
"Tuan, ini adalah pertemuan kedua Zetas dengan wanita itu" jelas Hendry melalui panggilan yang saat ini Veron menggunakan airpods.
"Saat kecelakaan beruntun adalah pertemuan pertama mereka" lanjutnya
"Dan tampaknya Zetas sangat tertarik padanya, ia bahkan membatalkan pertemuannya hari ini dengan Mazoya" jelas Hendry
"Mazoya!" nama yang membuat keluarga Adhulpus hancur
"Ia tuan, pria tua itu rupanya tidak insyaf"
"Selidiki Mazoya!" perintah Vernon
__ADS_1
"Baik tuan" spontan Hendry dan memberi perintah kepada bawahannya.