
"Apa maksudmu Fiyah?" kaget Hani saat sahabatnya itu mengatakan telah menikah dengan Vernon
"Aku tidak bisa menolaknya!"
"Apa yang Vernon lakukan sehingga kamu harus menikah dengannya secepat ini Fiyah?"
"Ini seperti mimpi bagiku Hani, mimpi yang sangat buruk!"
"Bukankah pernikahan ini tidak sah secara agama karena bukan ayahmu yang menjadi wali hakim?"
"Aku sengaja tidak memberitahu abi dan umi karena aku takut sesuatu hal terjadi pada mereka. Abi mempunyai penyakit jantung, sedang umi pasti akan memberitahunya saat ia mengetahui hal ini" jelas Fiyah
"Lalu siapa yang menjadi wali mu?"
"Paman Armando, dia yang mewakili Abi, walupun Abi tak mengetahui hal ini tapi sebelum itu aku menghubungi paman dan ia sependapat denganku, agar tidak memberitahu Abi, karena jika Abi tau hal ini mungkin akan terjadi sesuatu yang buruk kepadanya dan aku tidak menginginkan itu" jelas Fiyah yang mendapat persetujuan dari ustad Halik dan menyerahkan hak wali hakim kepada tuan Armando.
"Apa sah dengan cara seperti itu Fiyah?"
"Entah, saat itu aku tidak memiliki pilihan dan hanya paman yang bisa aku hubungi untuk meminta saran padanya. Walau dengan terpaksa ia menyetujui hal itu, tapi aku tau ia tidak ingin marwah ku sebagai perempuan ternodai oleh karenanya ia mengambil alih hak Abi, padahal tidak terjadi apa-apa diantara aku dan Vernon!" jelas Fiyah
"Vernon sudah merencanakan semua ini dengan sangat sempurna, Bahakan ia sudah mendaftarkan pernikahan ini secara hukum" lanjut Fiyah
"Apa yang akan kamu lakukan sekarang Fiyah?"
"Aku ingin pulang ke Indonesia dan entah bagaimana aku harus menjelaskan ini semua kepada kedua orang tuaku. Aku bingung harus memulai dari mana dan pasti Abi akan menyalahkan paman nantinya"
"Aku akan ikut denganmu Fiyah dan membantumu menjelaskan semuanya!"
"Tidak Hani, aku yang akan menjelaskannya sendiri. Aku takut umi dan abi salah paham terhadapmu"
Dua gadis cantik itupun mengakhiri panggilan mereka.
Aroma mint yang berbaur dengan aroma aquatik ibarat ombak yang berdebur dan menghantam karang. Sangat maskulin, dan campuran dari aroma woody dan musky, berkarakter memberi kesan yang misterius tetapi tetap fresh dan menenangkan. Itu semua adalah aroma yang dimiliki Vernon pria tampan bermata biru, oleh karenanya sebelum melihat wajah pria tampan itu Fiyah sudah mengetahui keberadaannya.
"Mengapa kamu belum tidur nona, apa sedang menungguku pulang?" candaan Vernon
__ADS_1
"Aku ingin mengatakan sesuatu"
"Aku selalu siap mendengarkan mu" goda Vernon
"Aku serius!" jelas Fiyah
"Akupun sangat serius"
"Aku ingin pulang ke Indonesia besok" ucap Fiyah yang melukis senyum tipis di bibir Vernon.
"Ok" singkat pria tampan itu
"Ok?" tanya Fiyah
"Hum" dengan suara beratnya
"Tapi aku akan ikut denganmu" bisiknya dan hanya diterima anggukan oleh Fiyah
Vernon seketika merebahkan tubuhnya di kasur empuk yang berukuran king size itu.
... ...
...*...
...*...
...*...
"Aku tidak ingin terikat pada kepercayaan apapun, tapi aku sangat tertarik kepada wanita itu!" batin Zetas
"Aku sangat membenci basa-basi, tapi mengapa pada dia aku tidak memiliki keberanian. Seolah aku menjadi pribadi yang berbeda padanya" jelas Zetas yang saat ini berada di Kediamannya karena ada hal yang sedang ia rencanakan dan tidak bisa bertemu dengan wanita yang ia kagumi saat ini.
... ***Keesokan harinya***...
Di bandara Internasional Sukarno-Hatta pesawat yang ditumpangi oleh pasutri baru itu landing.
__ADS_1
Tidak ada yang datang menjemput mereka karena Fiyah memang tidak memberitahu siapapun atas kepulangannya.
Setelah sampai di kediaman kyai Husein, umi Salma dikagetkan oleh kedatangan putrinya yang tiba-tiba itu, dan belum cukup dua pekan Fiyah di Jerman bahkan baru empat hari tapi putri kesayangan umi Salma itu sudah balik ke tanah air tercinta.
"Anak umi kok balik tidak bilang-bilang?" penasaran umi Salma atas kepulangan mendadak Fiyah
"Maaf umi aku tidak memberitahu sebelumnya"
"Siapa pria tampan ini Fiyah?" ucap umi Salma saat melihat Vernon
"Saya Vernon, senang bertemu dengan aunty" spontannya
"Fiyah, Abi pasti akan sangat marah jika mengetahui kamu membawa pria asing ke rumah!" bisik umi Salma
"Umi, aku ingin mengatakan sesuatu" Fiyah mengajak umi nya ke dalam kamar sedang Vernon menunggu di ruang tamu
"Sebelumnya aku minta maaf kepada umi dan abi karena menikah tanpa sepengetahuan kalian?" ucapan Fiyah bagaikan sambaran petir bagi umi Salma, hal ini ia lakukan karena sudah melalui proses pertimbangan. Fiyah tidak ingin merahasiakan terlalu lama dan akhirnya pasti akan ketahuan dan menambah kekecewaan yang sangat besar.
"Apa maksudmu Huzafiyah, abi dan umi mendidik mu dengan penuh kebaikan agar akhlak dan kepribadianmu mencerminkan seorang wanita sholehah, tapi apa ini balasan yang engkau berikan kepada kami!" marah umi Salma
"Apa karena kamu tidak menerima perjodohan itu, hingga membuat keputusan sendiri seperti ini? abimu masih hidup Fiyah, tidak sah sebuah pernikahan tanpa adanya wali nasab!" jelas umi Salma
"Aku terpaksa umi, kami dituduh melakukan hal yang keji dan terpaksa menikah hari itu juga" jelas Fiyah
"Lalu mengapa engkau tidak menghubungi kedua orang tuamu Fiyah, apa kami sudah tidak berarti apa-apa bagimu?"
"Aku takut penyakit jantung Abi kambuh lagi dan hanya memberitahu paman agar menjadi waliku!"
"Aku tidak bisa berpikir hari itu umi, seolah aku hanyalah patung yang tak bisa berucap apa-apa"
"Abimu sangat mementingkan aturan agama Fiyah, walaupun ustad Halik mengetahui pernikahan kalian tapi abimu lah yang paling berhak menjadi wali mu!"
"Abi mu memang sangat mempercayai adiknya, tapi tidak berarti dia merahasiakan ini. Walupun aku tau hal itu ia lakukan agar tidak terjadi hal buruk kepada abimu tapi tetap saja ini tidak benar Fiyah!"
"Sampai kapan engkau akan menyembunyikan semua ini Fiyah?"
__ADS_1
"Aku akan memberitahu Abi saat ia pulang nanti umi, jika aku berhadapan langsung dengannya mungkin hati Abi akan luluh dan memaafkan aku" jelas Fiyah yang mengetahui kelemahan abinya adalah saat melihat wajah menenangkan putrinya itu.