
Di mension pribadi Darelano
"Apa yang kalian lakukan, menjaga satu gadis kecil saja kalian tidak becus!" marah pria tampan itu
"Maaf tuan wanita itu mengelabui kami"
"Aku tidak ingin mendengar alasan kalian, cepat cari dia dan bawa kehadapanku. Jangan kembali sebelum kalian menemukannya!"
"Baik tuan!" ucap mereka dan dengan segera melaksanakan tugas.
"Ayeleen ternyata kamu ingin bermain-main denganku!"
"Sialan!" marah pria tampan itu
"Perintahkan seluruh dark mafia cari wanita itu dan bawa kehadapanku sekarang juga!" ucapnya pada seseorang yang saat ini mereka sedang melakukan panggilan telepon.
"Aku bersikap lembut padamu tapi mengapa kamu melakukan ini!" kesalnya karena merasa dikhiyanati
***
Di ruang tamu yang mewah terlihat seorang wanita cantik sedang bermain dengan bocah tampan, walaupun bayi itu belum mengerti apa-apa tetapi Ayeleen tetap bercerita banyak hal padanya.
"Tuan!" dengan segera ia berdiri saat menyadari kedatangan Adhulpus
"Aku hanya ingin bertemu putraku" ucapnya dan menggendong bayi tampan yang belum cukup satu tahun itu.
"Hai boy, apa anak papa ini tidur dengan nyenyak tadi malam?" ucap tuan CEO itu dan Ayeleen tersenyum.
"Maaf papa hari ini tidak bisa pulang cepat, jadi anak tampan papa jangan rewel ok!" candaan tuan Adhulpus, setelah membaringkan putra kecilnya ia pun pergi tanpa menyapa atau permisi pada baby sitter baru itu.
"Ternyata ayah kamu sangat cuek sayang!" ucap Ayeleen dan tersenyum manis pada bayi tampan itu.
Di perusahaan
"Selamat pagi bro!" ucap Brayen saat Adhulpus memasuki ruangan
"Ngapain kamu di ruangan saya?"
"Menunggu CEO tampan kami untuk menandatangani dokumen-dokumen ini!" mengarahkan pandangannya pada tumpukan map yang ada diatas meja.
"Tumben kamu terlambat datang ke kantor bro!"
"Saya tidak enak badan pagi ini!"
"Benarkah?" ucap Brayen dan beralih mendekati tuan mudanya memijat punggung CEO-nya itu.
"Lebih keras bro!" merasa nyaman Adhulpus
"Sebaiknya kamu menikah lagi supaya ada yang memijatmu!" ucapan Brayen membuat tuan muda sekaligus sahabatnya itu menjauh darinya.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu keluar sekarang!"
"Aku akan hubungi jika semuanya sudah ditandatangani!" ucapnya tanpa beralih pandangan pada dokumen-dokumen penting perusahaan.
"Maaf bro!" Brayen merasa bersalah, niatnya ingin bercanda tapi malah membuat mood sahabatnya itu berubah.
"Goblok, mengapa mulutku ini tidak bisa dikontrol jika mengenai hal ini!" batin Brayen
Tidak mendapat jawaban dari tuan mudanya itu, iapun keluar dengan perasaan bersalah.
"Hah" menarik dan menghembuskan nafas dengan berat
CEO perfeksionis itu membuka salah satu laci meja kerjanya, mengambil selembar foto memandangi wajah cantik itu, membuat air matanya mengalir dengan deras.
"Aaaaaaaaa.......Ya Allah bukannya aku tidak menerima takdirmu, tapi terlalu cepat engkau memisahkan kami!" ucapnya lirih
"Ya Allah rasanya aku tidak sanggup lagi menjalani hari-hariku, terlalu dalam kerinduan ini hingga rasanya aku tidak mampu lagi bertahan!"
"Aku merindukannya, sangat merindukannya!"
Walau Adhulpus terlihat kuat dan tegar saat ini, tapi sebenarnya ia sangat rapuh seolah kesedihan menjadi selimut yang tidak berbatas waktu.
"Engkau telah menjadikan Duniaku sunyi Azqila, engkau berhasil membuatku seolah gila akan cintamu. Kamu tidak ada didepan mataku, tapi hanya kamu yang aku lihat!"
"Jika kerinduanku selamanya akan sesakit ini, mungkin aku akan kehilangan nyawa hanya karena merindukanmu istriku!" tangis pria tampan itu.
Dua jam berlalu
Brayen kembali mengetuk pintu dan masuk
"Bro waktunya kita makan siang!" ucap Brayen menyandarkan kedua tangannya diatas meja CEO dinginnya. Adhulpus yang kala itu sedang sibuk menandatangani dokumen-dokumen hanya mengangguk tanpa beralih pandangan dan tetap fokus menandatangani dokumen-dokumen penting perusahaan.
"Wajah kamu kelihatan sedih gitu bro, maaf tadi aku----" ucapan Brayen terhenti saat tuan CEO-nya itu tersenyum manis.
"Jadi kamu tidak marah lagi?"
"Kapan aku marah?"
"Kirain kamu marah bro" ucap Brayen dan salah satu sudut bibir Adhulpus terangkat tersenyum tipis.
Beberapa menit kemudian iapun berdiri dari kursi empuknya, mengenakan kembali jas mahal yang diletakkan pada gantungan baju yang dilengkapi setrika uap, agar penampilan selalu perfect semua yang Adhulpus kenakan harus rapi.
Saat sebelum bertemu dengan klien Fino asisten kedua sekaligus sopir pribadinya terlebih dahulu merapikan jas CEO tampannya itu, padahal sudah rapi dari rumah tapi sudah menjadi kebiasaan yang tidak bisa dilewatkan.
Kebetulan Paxton datang dan mereka bertiga pergi ke restoran dekat kantor untuk makan siang, seketika semua mata tertuju pada ketiga pemuda tampan yang baru saja masuk, mengalihkan pandangan pengunjung restoran terutama kaum hawa.
Mereka bertiga mulai duduk dan memesan makanan.
***
__ADS_1
“Jangan mendekat!” teriak seorang wanita dengan penuh amarah dan ketakutan
“Gadis cantik jangan galak-galak sama om!” ucap pria tua genit.
“Anda itu sudah tua seharusnya banyak-banyak Istighfar!” ucap wanita itu dengan nada marah dan ketakutan
“Jangan sok suci kamu, toh kamu sendiri yang masuk kedalam sini!” balas pria itu
“Ini toilet pria dan kamu masuk ingin menggodaku kan?” lanjut pria tua genit
“Ya Allah kenapa aku bodoh sekali salah masuk toilet!” batin Ayeleen dan matanya sudah mulai berkaca-kaca karena pria tua itu menghalangi pintu keluar.
“Jangan mendekat!” teriaknya lagi
Seseorang keluar dari salah satu toilet yang ada dibelakang Ayeleen, pria tua yang sedari tadi menghalangi pintu keluar tiba-tiba menundukkan pandangan dan meminta maaf lalu pergi, seolah ia sangat ketakutan melihat pria itu.
Tanpa berbicara dan hanya tatapan dingin yang ia berikan pada Ayeleen pria itupun keluar.
Setelah tadi salah masuk toilet Ayeleen menuju toilet wanita. Saat keluar dari toilet itu ia dikejutkan oleh seseorang yang tadi menyelamatkannya walaupun tanpa berbuat dan berucap apa-apa.
“kamu kenapa ada disini?” ucap Adhulpus tapi Ayeleen tak memperdulikannya
“Kamu tidak ingin mengucapkan terimakasih padaku?” lanjut tuan CEO itu
“Untuk apa aku berterimakasih pada tuan?” cueknya
“Apa maksud kamu?”
“Kenapa sejak awal tuan tidak keluar dan hanya mendengarkan?” dengan tatapan kesal
Pria tampan itu hanya terdiam mendengar ucapan Ayeleen, karena percuma ia menjelaskan pada wanita yang menurutnya masih bocah.
“Dasar tidak tau berterimakasih mana mungkin aku keluar disaat lagi kebelet dan tidak mungkin aku membiarkannya dilecehkan oleh pria tua bangka itu!” batin Adhulpus melihat raut wajah Ayeleen yang masih ketakutan.
"Kenapa kamu ada disini?" tanyanya lagi
"Aku tadi diminta mengantarkan ini pada tuan!" ucapnya dengan pandangan mengarah pada map yang ia pegang.
"Aku menyuruh Fino bukan kamu!" jelas Adhulpus tapi wanita cantik itu hanya terdiam, melihat wajah yang masih ketakutan tuan CEO itu tidak melanjutkan ucapannya.
"Kamu kenapa setakut ini?"
"Apa hanya karena pria tadi?" ucapnya dan Ayeleen menggelengkan kepala.
"Lalu karena apa?"
"Aku tadi melihat bodyguard seseorang yang pernah menculikku, mereka menyebar gambarku. Jadi aku masuk ketempat ini" jelas Ayeleen
"Sekarang kamu ikut aku ke kantor, nanti kita pulang sama-sama!" merasa kasihan pada gadis muda itu.
__ADS_1
Adhulpus menghubungi Brayen memberitahukan agar dua sahabatnya itu kembali duluan ke perusahaan.