
"Hendry apa maksudmu menyembunyikan semua ini padaku?" marah tuan Francois saat mengetahui informasi tentang cucu kesayangannya
"Maaf tuan, aku hanya tidak ingin membuat tuan khawatir"
"Mulai sekarang aku tidak ingin lagi mendengar kebohongan darimu!" ucap tuan Francois yang diterima anggukan oleh Hendry
Saat melihat mereka Fiyah mendekat dan mencoba untuk sopan mencium punggung tangan tuan Francois tapi tangannya malah ditepis kasar.
"Aku peringatkan kepadamu jangan pernah mengharap pengakuanku menganggap engkau adalah istri dari cucuku, itu tidak akan pernah terjadi. Saat itu aku hanya menghargai Vernon dan tidak mungkin aku menolakmu dan memperlakukan engkau dengan buruk dihadapannya. Tapi saat ini aku mohon tinggalkan cucuku, aku akan memberikan apa yang kamu inginkan!" ucap tuan Francois melempar cek pada Fiyah dan memintanya untuk mengisi nominal yang ia inginkan tapi dengan syarat harus meninggalkan Vernon.
Mata yang tadinya berbinar karena kedatangan sang kakek kini berubah menjadi berkaca-kaca menahan perih dalam hati dan tak menyangka akan seperti ini. Dengan suara yang gemetar Fiyah memberanikan diri.
"Aku tidak akan pernah meninggalkan suamiku!"
"Beraninya kamu tidak mendengarkan perintahku!"
"Aku mohon, kakek jangan pernah pisahkan aku dengan suamiku" pinta Fiyah yang mulai berlinang air mata
"Apa engkau sadar dengan ucapanmu nona? status kalian sangat berbeda dan tak layak untuk bersanding!"
Sedang Hendry tidak bisa membantu Fiyah dan hanya menyaksikan hal itu
"Hanya karena keegoisan Vernon yang ingin menunjukkan bahwa tidak ada seorangpun yang bisa menolaknya oleh karena itu ia menikahimu!"
"Aku tidak perduli tentang hal itu, yang aku tau ia adalah suamiku dan memperlakukanku dengan sangat baik, aku mohon biarkan aku menjaga suamiku kakek!" pinta Fiyah
"Itu karena pernikahan kalian belum lama nona, jadi sikapnya kepadamu masih sopan dan saat ia menyadari semua hal bahwa tidak ada satupun yang sepadan diantara kalian berdua cucuku pasti akan meninggalkanmu!"
"Engkau adalah wanita pembawa sial bagi Vernon!"
"Jika hari itu terjadi dimana ia akan pergi meninggalkanku maka aku ikhlas, tapi saat ini aku tidak akan meninggalkan suamiku!"
__ADS_1
"Kakek, aku mohon biarkan aku merawatnya hanya sampai Vernon sembuh dan setelah itu jika ia tidak menginginkanku, aku terima"
"Percuma engkau bersikap seperti itu aku tidak akan luluh, malah semua kenangan dan sesuatu tentangmu akan aku singkirkan dalam kehidupan Vernon, ia tidak pernah sesial ini tapi sejak bertemu denganmu kehidupannya berubah, tidak ada lagi Vernon yang dulu. Aku berbuat seperti ini demi kebaikannya jika engkau mencinta cucuku aku mohon tinggalkan dia, jangan menjadi kelemahan untuknya. Sebelum semua orang mengetahui tentangmu maka tinggalkan cucuku!"
"Aku mohon kakek, hanya sampai ia membuka mata. Maka saat itu aku akan pergi" pinta Fiyah dan bersimpuh di hadapan tuan Francois.
"Aku tidak ingin mendengarnya lagi, Hendry keluarkan wanita ini dan jangan sampai aku melihatnya lagi disini, jika itu terjadi aku tidak akan segan berprilaku kasar padanya!"
Sedang Fiyah tidak bisa lagi menahan tangis saat ini perasaannya sangat hancur, bagimana tidak ia harus meninggalkan suami tercinta dalam keadaan masih koma.
"Aku mohon kakek!" ucap Fiyah disela Isak tangisnya dan masih bersimpuh meminta belas kasih tuan Francois tapi rupanya keputusan pria itu tidak bisa diubah.
"Walupun engkau menangis darah sekalipun, aku tidak aku mengizinkan engkau menyentuh bahkan melihat cucuku saja aku tidak mengizinkannya!"
"Hendry apa engkau tuli, tidak mendengar ucapanku? bawa wanita ini keluar dan aku tidak ingin melihat wajahnya lagi disemua tempat yang aku lalui!"
"Tapi tuan!"
"Aku mohon tuan jangan melakukan ini" pinta Hendry
"Engkau membangkang?"
"Tuan Vernon sangat mencintai nyonya dan jika ia tau tuan memperlakukannya seperti ini maka tuan muda akan sangat kecewa!"
"Aku tidak butuh nasehatmu itu, yang aku ingin sekarang bawa wanita ini keluar dan pergi dari sini!"
"Tuan mohon pikirkan sekali lagi!" pinta Hendry yang mulai bersimpuh karena tidak mungkin ia membawa Fiyah jauh dari tuannya sedang ia sangat tahu betul sifat tuan Francois. Bahkan pria tua itu lebih tegas dari Vernon, dan tak segan menyingkirkan sesuatu yang tidak ia sukai.
"Apa ini yang diajarkan oleh Vernon padamu? memiliki hati yang rapuh, mudah tersentuh oleh sesuatu yang sama sekali tidak berguna!"
"Ini adalah amanah dari tuan Vernon dan aku sudah berjanji, bahkan nyawa sekalipun aku rela korbankan demi melindungi nyonya Huzafiyah!" tegas Hendry yang membuat tuan Francois semakin tak terkendali
__ADS_1
"Pergi kalian dari sini, dan jangan pernah menginjakkan kaki lagi disini Hendry, terutama engkau nona Huzafiyah yang seharusnya sadar diri bahwa tak sepadan dengan Vernon!"
Hendry membuat Fiyah berdiri dan memberi hormat pada tuan Francois sebelum meninggalkan tempat itu. Sedang Fiyah seolah seperti mimpi ia masih tak percaya dengan semua ini.
"Nyonya, tidak perlu khawatir aku janji bagaimanapun caranya nyonya pasti akan bersama tuan kembali!" menguatkan wanita cantik itu
"Nyonya ikut denganku untuk saat ini dan tenang saja, bukan hanya kita berdua. Adikku juga tinggal disana dan dia pernah bertemu dengan nyonya saat di Mension" jelas Hendry tapi saat ini Fiyah seolah kehilangan arah dan hanya berlinang air mata.
"Nyonya tolong jangan seperti ini, jika tuan mengetahuinya maka aku dalam masalah besar, bahkan ia tidak akan segan mematahkan tulang-tulangku" candaan Hendry yang ingin membuat Fiyah tersenyum tapi untuk saat ini nyonya mudanya itu tidak bisa, bahkan rasa sakit yang ia rasa seolah semakin bertambah. Baru saja kehilangan ayahnya dan sekarang harus jauh dari suami tercinta bahkan status yang tak sepadan menuntut ia harus melupakan pria itu.
"Apa di Dunia ini sangat penting status bangsawan ataupun uang Hendry?" tanya Fiyah diselah tangisnya dan pria tampan itu hanya terdiam
Huzafiyah sangat mengerti dan sadar diri saat Hendry menjelaskan tentang Vernon kepadanya, pria keturunan bangsawan yang memiliki kemewahan dan kedudukan tinggi tidak sebanding dengannya yang hanya seorang dosen itupun dulu dan saat ini tidak memiliki pekerjaan selain menulis. Orang tuanya pun tidak bergelimang harta dan hanya sebagai pengurus pesantren menjadi guru disana. Karena pesantren didirikan untuk membantu masyarakat disana agar tidak jauh dalam menimba ilmu bagi anak-anak mereka. Dan itu milik keluarga yang sudah disepakati hanya mengutamakan sedekah tanpa mengambil keuntungan.
Sesampainya di Apartemen pribadi Hendry, pria itu memperlakukan Fiyah dengan sangat baik dan sopan. Sedang Clara sedari tadi menunggu mereka mempersiapkan hidangan spesial untuk Fiyah.
"Selamat datang di kediaman tuan Hendry Poseidon" candaan Clara yang belum mengetahui bahwa saat ini Fiyah sangat terpuruk. Dan selalu memanggil abangnya itu Poseidon karena menurutnya Hendry cocok menjadi raja laut. Memiliki emosi seperti ombak yang bisa menenggelamkan semua yang dilaluinya.
"Eh, kak Fiyah kenapa?" bisik Clara pada Hendry
"Biar dulu ia sendri dan jangan pernah panggil kakak pada nyonya Fiyah!" perintah Hendry
"Kak Fiyah sendiri yang meminta itu kepadaku bahwa ia harus dipanggil kakak dan bukan nyonya!" ucap Clara dan pergi meninggalkan Hendry membuat ekspresi wajah yang membuat kesal abang tampannya itu.
"Kak Fiyah!" ucap Clara setelah mengetuk pintu tak berapa lama ia membukanya
"Maaf mengganggu kakak, tapi aku hanya ingin mengantarkan makanan saja, sedari tadi kakak belum makan"
"Terimakasih" ucap Fiyah dan tersenyum walaupun senyumannya masih terlihat getir
"Apa aku boleh masuk?" pinta Clara dengan senyum manisnya yang tak bisa ditolak oleh Fiyah dan wanita cantik itu hanya mengiyakan.
__ADS_1