
Seorang pria gagah yang kini berkepala empat keluar dari kamar mandi mewah itu. Kini tuan Adhulpus terlihat sepuluh tahun lebih muda, ia berjalan kearah Vernon yang sedari tadi tersenyum melihat sang ayah.
Vernon pamit pulang pada tuan Adhulpus dan benar saja pria yang semakin karismatik itu tidak menghalangi putra tampannya. Setelah berpamitan pada sang ayah, Vernon melanjutkan langkahnya menuju carport menaiki mobilnya melaju meninggalkan kediaman semasa kecilnya itu.
Setibanya di mension sang kakek, Vernon langsung menuju kamar pribadinya tapi disana ia tidak mendapati istri tercintanya. Ia pun segera menuju kamar Fiyah, tapi rupanya ruangan itu dikunci. Tidak ingin membangunkan orang-orang disana jadi Vernon mencari sendiri kunci kamar itu.
Ia terlihat bingung karena ada banyak kunci yang ia dapati, mencobanya satu-persatu rasanya sampai pagi pun ia tidak akan menemukan nya. Mata Vernon kini fokus mencari tanda atau kode pada semua kunci itu, pasti ada petunjuk yang akan ia dapatkan, dan benar saja semua kunci telah diberikan nomor pada masing-masing ujungnya.
Ia membawa semua kunci-kunci itu dan setibanya didepan pintu kamar Fiyah, Vernon kembali memperhatikan setiap detail pintu dan mendapati apa yang ia inginkan yaitu nomor pintu agar ia bisa membukanya.
Beberapa menit kemudian, ia sudah bisa membukanya dan terukir senyum manis di wajah tampan Vernon. Ia pun memasuki ruangan dan menguncinya kembali.
Melihat sang istri tertidur dengan lelapnya senyum manis kembali terbit dari bibir indahnya, perlahan mendekati Fiyah dan mengecup keningnya, membelai lembut pucuk kepala istri tercintanya.
Setelah melakukan ritualnya di kamar mandi membersihkan diri, ketua Big Move itu berbaring didekat Fiyah dan memeluknya pelan agar wanita yang ia cintai itu tidak terganggu atas sikapnya.
Badan Fiyah terasa berat seperti ada yang bersandar di tubuhnya, ia perlahan membuka mata dan menyaksikan tangan kekar melingkar di pinggang rampingnya. Perlahan Fiyah membalikkan tubuhnya melihat siapa yang berani melakukan hal itu padanya, karena seingatnya Hendry menyampaikan jika sang suami akan bermalam di mension tuan Adhulpus.
"Balim!" lirih Fiyah yang saat ini jarak mereka hanya sejengkal.
Wajah tampan dan hembusan nafas beraromakan mint itu membuat pandangan Fiyah tak teralihkan darinya. Dengan pelan wanita cantik itu mengelus lembut wajah Vernon mencium suami tercintanya, tapi sang empu tubuh tidak menyadari akan hal itu, ia masih terlelap dalam tidurnya.
Rangkulan Vernon semakin kuat membuat Fiyah sedikit mundur darinya, tidak di Dunia nyata maupun Dunia mimpi perlakuan pria tampan ketua Big Move itu sama saja, selalu ingin lebih dekat dengan wanita yang paling berharga dalam hidupnya.
Fiyah menusuk-nusuk lembut pipi Vernon dengan salah satu jari nya agar suaminya itu terbangun karena alaram pemberitahuan akan waktu subuh telah berbunyi, kini saatnya mereka melaksanakan sholat subuh berjamaah.
Usahanya sedari tadi tidak berhasil, dan kembali Fiyah menjaili sang suami dengan membuka paksa salah satu mata Vernon membuat pria tampan itu tersenyum atas kejailan sang istri tercinta. Ia pun kembali mengeratkan rangkulannya membuat Fiyah kaget akan ulahnya. Bercanda dengan wanita yang ia cintai, dan membuat Fiyah tertawa lepas sampai meneteskan air mata, memegangi perutnya karena merasa sudah tidak sanggup tertawa lagi atas apa yang suaminya lakukan itu, setelah itu mereka melaksanakan sholat subuh berjamaah dilanjutkan dengan membaca kita suci Al-Qur'an dengan penuh kebahagiaan.
__ADS_1
Selesai menunaikan kewajiban sebagai umat muslim dan atas dasar kecintaan mereka pada Allah, Vernon bercerita pada Fiyah akan semua hal yang ia alami hari ini.
Wanita cantik nan anggun itu dengan lembut mengutarakan rasa bangga pada sang suami tercinta, karena memiliki pemikiran yang sangat dewasa dan menjadi anak berbakti pada orang tuanya. Disetiap doa-doa yang dipanjatkan pria tampan itu, yang ia prioritaskan adalah keselamatan dan kebahagiaan orang tuanya.
Rasanya Vernon saat ini sama kedudukannya dengan sang ayah, mereka tidak bisa memilih antara nyonya Azqila dan Ayeleen karena kedua-duanya sangat berarti dalam hidupnya dan memiliki tempat yang sama di hati pria tampan bertubuh ideal itu.
Kini ia tinggal memikirkan cara bagaimana agar menolak pernikahan yang kakeknya selama ini telah rencanakan tanpa menyinggung keluarga tuan Paxton sahabat sang ayah dan tuan Francois.
Hari ini Vernon meminta izin pada Fiyah bertemu dengan Adriana untuk menjelaskan semua hal tentang mereka, dan tentu saja Fiyah memberi izin pada suaminya.
***
Waktu menujukkan 13:00 setelah meminta Hendry untuk menghubungi Adriana bertemu di tempat yang sudah mereka sepakati, dua pria tampan itupun segera menyusul.
Di sebuah restoran mewah, setelah memasuki pintu ruangan megah itu yang sudah Hendry booking untuk pertemuan tuannya, takutnya Adriana mengamuk jadi asisten dari ketua Big Move itu melakukan tugasnya dengan baik, menyediakan payung sebelum hujan, selain itu ia juga menjaga perasaan Adriana agar nantinya tidak malu jika menangis dan dilihat banyak orang.
Setelah mereka duduk dan Hendry dari jarak dua puluh meter mengintai, Vernon pun langsung menjelaskan semuanya. Menjelaskan bahwa ia sudah memiliki istri, dan waktu itu ia telah hilang ingatan jadi menyetujui permintaan kakeknya. Melihat ekspresi Adriana terlihat biasa-biasa saja tidak seperti apa yang dipikirkan Hendry membuat Vernon tersenyum ramah padanya.
"Terimakasih atas pengertiannya!" ucap Vernon
"Tidak ada yang gratis di Dunia ini tuan Vernon!" jelas Adriana
"Maksud kamu apa?" bingung Vernon karena tidak mungkin Adriana meminta bayaran darinya. Wanita itu putri dari seseorang yang tidak kekurangan dalam hal materi.
"Aku ingin kamu membantuku agar bisa lebih dekat lagi dengan asisten polosmu itu!" jelasnya membuat salah satu sudut bibir Vernon terangkat.
"Ok!" kesepakatan mereka
__ADS_1
Sedang dari jauh Hendry terlihat bingung atas apa yang ia saksikan, padahal sedari tadi ia menunggu wanita itu marah dan menangis agar bisa ia pinjamkan bahunya untuk bersandar.
"Apa yang mereka diskusikan, mengapa putri Adriana terlihat sangat bahagia?" penasaran Hendry
Setelah ketua Big Move itu memberi kode pada sang asisten pribadinya, Hendry pun mendekat dan Vernon memintanya agar duduk menemani Adriana dan ia sendiri akan pulang duluan.
"Maksud tuan apa?" bisik Hendry
"Turuti saja apa perintahku!" bisik Vernon
"Tapi bagaimana jika dia melampiaskan kemarahannya padaku?" bisik Hendry lagi
"Tenang saja dia tidak akan membunuhmu!
"Tapi tuan---" ucapan Hendry yang saat ini sedang bisik-bisik tetangga dengan bosnya itu terhenti, karena Adriana melototi nya.
"Baik tuan!" spontan Hendry saat melihat ekspresi wajah Adriana
Setelah Vernon meninggalkan mereka berdua, wanita cantik itu bertanya pada asisten yang menurutnya polos itu tentang apa yang mereka bicarakan tadi, dan Hendry tidak bisa berbohong jika berhadapan dengan putri Adriana.
"Apa menurutmu aku menakutkan?" marah putri Adriana
"Tidak!" spontan Hendry dengan wajah tertekan
"Sungguh?" perjelas wanita cantik itu
"Iya!" dengan anggukan kepalanya
__ADS_1
"Apa aku cantik malam ini?" ucap putri Adriana