
"Apa yang harus aku lakukan!" bingung Zetas karena ia tahu saat ini Vernon tidak ingin lagi membahas tentang Huzafiyah.
Setelah ia mengingat kembali masa lalunya, Zetas pamit secara baik-baik pada kedua orang tua angkatnya itu, dan kembali menjalankan tujuannya yang tertunda. Membalaskan dendam pada orang yang sudah membunuh seluruh keluarganya. Tapi karena janjinya pada Jesika, pria tampan bertato itu tak bisa membunuh Darelano dengan tangannya sendiri.
Ia berjanji tidak akan pernah lagi membunuh dan bergabung dengan kelompok kejahatan, itulah janji seorang ketua broken flower diakhir hembusan nafas wanita yang paling ia cintai, tapi cinta itu terlambat Zetas sadari.
"Aku tidak bisa melakukan ini, walau bagaimanapun bayi itu tidak berdosa. Tapi aku tidak mungkin membiarkan keturunan pria maniak itu tetap hidup!" perdebatan batin Zetas
"Vernon!" lirihnya saat ia baru menyadari bahwa Fiyah masih sah menjadi istri ketua agen rahasia itu.
"Bersiap-siaplah, hari ini kita kembali ke Jerman!" jelas Zetas yang saat ini berada di ruangan yang sama dengan Fiyah.
"Aku tidak ingin kembali ke Jerman, aku ingin pulang ke Negara ku!" jelas Fiyah membuat Zetas menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Fiyah aku mohon katakan sejujurnya padaku, siapa ayah dari bayi yang kamu kandung!" ucapnya dengan tatapan tak teralihkan
"Jawab Fiyah!" pelannya
"Dia pria yang baik, tidak pernah menyentuhku sedikitpun!" lirih Fiyah dengan derai air mata
"Aku mohon jangan beritahu Vernon semua ini, aku mohon Zetas!" tangisnya
"Tapi kamu harus berkata jujur padaku, mengapa kamu meninggalkan Vernon. Fiyah, aku tahu kamu tidak mungkin melakukan semua ini tanpa alasan!" jelas Zetas
"Aku tidak punya pilihan lain saat itu, melihat suamiku mendapat masalah aku tidak bisa hanya diam sedang saat itu ia baru saja kehilangan seluruh keluarganya. Semua bukti mengarah pada suamiku Zetas, dan tidak ada seorangpun yang percaya bahwa bukan dia pembunuhnya. Dragon datang dan membawa bukti yang membebaskannya tapi dengan syarat aku harus meninggalkan suamiku dan ikut bersamanya. Aku terpaksa melakukan semua ini, aku tidak ingin pria yang aku cintai menanggung kesalahan orang lain, bukan dia yang membunuhnya Zetas, suamiku bukan pembunuh!" jelas Fiyah dengan derai air mata
"Aku tau hal itu, dan sangat mempercayai Vernon. Fiyah tenanglah, aku tidak akan menceritakannya pada Vernon. Aku janji!" jelas Zetas
"Jangan menangis lagi, aku akan melindungi kalian berdua. Aku janji!" meyakinkan Fiyah
"Tapi kita harus kembali ke Jerman" bujuk Zetas
"Fiyah, aku mohon jangan mempersulit keadaaan saat ini. Jika kamu kembali sekarang ke Indonesia maka keluargamu pasti akan khawatir dan menanyakan hubunganmu dengan Vernon!" jelasnya
"Fiyah!" bujuk Zetas dengan penuh harap, dan wanita cantik nan anggun itu mengiyakannya, senyum manis terlukis di wajah tampan Zetas.
Disepanjang perjalanan pria tampan bertato mantan ketua broken flower itu tak henti-hentinya memperhatikan semua gerak-gerik Fiyah, ia seperti seorang ibu yang menjaga anak bayinya.
"Apa ada yang sakit?" panik Zetas saat Fiyah memegangi perutnya
"Tidak" ucap Fiyah dengan senyuman, merasa aneh dengan tingkah Zetas
"Jika kamu butuh apa-apa beritahu aku!" jelasnya
__ADS_1
"Apapun yang kamu rasakan beritahu aku, seperti ingin mual atau apalah itu yang membuat kamu tidak nyaman!" khawatir pria tampan bertato itu
Sesampainya mereka disebuah gedung mewah bertingkat.
"Apartemen kita bersebelahan, jadi jika butuh apa-apa kamu hubungi aku. Besok aku akan mencarikan seorang pelayan untuk menyediakan semua kebutuhan baby itu, dan ibunya jika perlu apa-apa bilang saja kepadaku!" jelas Zetas dan sedikit bercanda, membuat Fiyah tersenyum tipis.
"Kamu istirahat saja, dan aku ke apartemenku. Ingat, jika butuh apa-apa beritahu aku!" jelas Zetas kembali dan melangkah keluar
"Jangan lupa kunci pintunya!" datang kembali mengagetkan Fiyah
"Iya!" spontan wanita cantik itu
"Ok, aku pergi!" kembali pamit Zetas dan menerima anggukan dari Fiyah
***
Sedang saat ini Vernon mengadakan pertunangan dengan Ela, mereka merayakan hari bahagia itu di hotel mewah milik keluarga Ela.
Berita tentang pertunangan seorang putri billionaire dan pria tampan yang merupakan CEO muda kembali menghiasi layar tv. Pemberitaan seperti itu sudah menjadi hal biasa, seseorang yang memiliki kekayaan seperti keluarga tuan Avens akan menjadi bahan pembicaraan dan pusat perhatian media.
Melihat semua itu Zetas langsung berlari ke apartemen Fiyah, ia tidak ingin wanita cantik itu merasa sedih jika menyaksikan pertunangan Vernon dengan wanita lain.
Bunyi bel dan ketukan pintu tak henti-hentinya terdengar, Fiyah yang baru saja selesai dari aktivitas mandinya dan saat ini sedang menggunakan pakaian tidurnya, secepat mungkin kembali mengenakan pakaian syar'i nya dan melihat siapa yang jail itu.
"Ada apa tuan Zetas Gang, bukankah Anda sendiri yang berucap agar saya istirahat!" kesal seorang wanita hamil.
"Maaf aku hanya ingin melihat keadaanmu, tadi aku mendengan bunyi teriakan dari apartemen ini, apa kamu sedang menonton film?" alasannya
"Tidak, lebih baik tuan kembali ke apartemen tuan, saya ingin beristirahat!" jelas Fiyah tapi Zetas masih termenung.
"Zetas Gang!" dengan suara agak keras
"Iya, maaf. Aku hanya ingin memastikan itu!" salah tingkahnya
"Mohon kembali ke apartemen tuan, dan jangan membunyikan bel atau mengetuk pintu lagi, karena saya tidak akan membukanya!" jelas Fiyah yang sudah sangat lelah dan ingin istirahat.
"Baik nona!" jelasnya dan pergi
"Jangan menyalakan tv atau menonton berita apapun di handphone!" jelas Zetas yang kembali dengan tingkahnya datang mendadak, menghentikan Fiyah yang hendak menutup pintu apartemen.
"Tuan, lama-lama aku bisa jantungan jika tinggal disini!" kesalnya yang entah mengapa semenjak kehamilannya Fiyah tidak suka dikagetkan dan mendengar suara kencang dari siapapun.
"Maafkan aku, dan ingat jangan menonton berita apapun!" kembali jelas Zetas membuat Fiyah penasaran. Larangan dari pria tampan bertato itu seperti perintah baginya.
__ADS_1
Setelah Zetas kembali ke apartemennya
"Kenapa dia melarangku menonton berita, apa jangan-jangan kami menjadi buronan atas kematian Dragon?" curiga Fiyah
"Ya Allah bagaimana dengan anakku nanti jika aku yang tertuduh dalam hal ini. Apa aku akan melahirkannya di dalam penjara?" pikiran aneh Fiyah
"Aku tidak membunuhnya tapi karenaku ia mengalami semua ini, ya Allah terimalah amal ibadah Dragon dan jauhi dia dari segala siksaan, aamiin" doa Fiyah
"Dragon aku akan menceritakan tentangmu pada anakku nanti, jika ada seseorang yang rela berkorban untuk melindungi keselamatannya ketika ia masih dalam kandungan. Pria baik itu rela mengorbankan nyawanya hanya demi bayi yang belum lahir ke Dunia ini!" jelas Fiyah dengan mata berkaca-kaca
"Sayang, mama janji akan menjagamu dan tidak pernah akan membiarkan siapapun memisahkan kita berdua selagi masih hidup di Dunia ini!" jelas Fiyah dan mengelus lembut perutnya yang semakin hari semakin membesar.
hari-hari berlalu seperti biasa, wanita cantik yang memiliki wajah teduh itu hanya melakukan aktivitasnya di apartemen, sedang Zetas sibuk pada pekerjaannya di kantor.
Sama halnya dengan Vernon yang kini semakin disibukkan dengan pekerjaan, setiap hari selalu ada pertemuan penting dan menandatangani dokumen penting perusahaan.
"Tuan ada hal yang harus saya sampaikan pada tuan!" jelas Hendry
"Katakanlah!" ucap Vernon tanpa beralih dari layar laptopnya.
"Dragon dan Darelano telah meninggal Dunia, mereka ditemukan di kediaman pribadi milik Dragon di Dubai tuan!" jelas Hendry membuat Vernon bangkit dari duduknya dan menatap tajam pada asisten pribadinya itu, seolah ada hal yang ingin ia tanyakan tetapi pria tampan itu mengundurkan niatnya.
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un" ucap Vernon
"Hanya itu yang ingin kamu sampaikan, apa tidak ada hal yang lain?" ucapnya lagi yang seolah ia ingin mendengar informasi lain yang sangat penting baginya.
"Tidak ada tuan hanya itu!" jelas dan singkat dari Hendry. Asisten pribadinya itu pamit keluar dari ruangan CEO tapi langkahnya dihentikan oleh Vernon.
"Tunggu!" spontan Vernon
"Ada apa tuan?" sengaja Hendry karena ia tahu maksud arah tujuan pembicaraan tuan mudanya itu.
"Apa tidak ada informasi lain yang ingin kamu sampaikan?" tanya Vernon lagi
"Walaupun informasi tidak penting aku ingin mendengarnya!" ucap CEO mudanya itu
"Oh, tadi nyonya Ela ingin saya menyampaikan bahwa tu---" ucapan Hendry terhenti saat Vernon menyuruhnya segera keluar.
"Kenapa menatapku seperti itu, keluar!" ucap Vernon dengan kesal
"Ada apa dengannya, dia sendiri yang mengatakan bahwa walaupun informasi tidak penting aku ingin mendengarkannya!" ucap Hendry dengan dialog khas milik Vernon
"Aku tidak akan memberikan informasi apapun tentang nyonya Huzafiyah. Jangan harap tuan, karena tuan sendiri yang berkata tidak sudi mendengar namanya lagi!" jelas Hendry yang masih mempercayai Fiyah.
__ADS_1