Cinta Dan Identitas Rahasia

Cinta Dan Identitas Rahasia
Senyummu adalah racun bagiku!


__ADS_3

"Apa perlu kita menyapa calon menantu tampan tuan Avens yang kedua kalinya nona buncit?....... Ngobrol santai sepertinya menarik!" candaan Zetas yang membuat Fiyah dengan gerakan refleks mencubit pinggang pria tampan bertato itu.


"Aw!" rintihnya sengaja dengan ekspresi jail


"Aku mau pulang sekarang!" kesal Fiyah pada tingkah Zetas yang sudah kelewatan menurutnya


"Cup---cup---cup---cup, ternyata tidak semua wanita marah menjengkelkan, nona buncit ini malah menggemaskan!" candaan Zetas yang kesekian kalinya membuat Fiyah hanya tersenyum tawar dan pasrah pada keadaan sekarang, sedang pandangan Vernon semakin tajam padanya, seolah ingin sekali CEO tampan itu menghajar pria yang saat ini membuat istri kecilnya itu tak henti-hentinya bertingkah aneh yang membuat perasaan tercabik-cabik.


"Aku ingin ke toilet!" bisik Fiyah pada Zetas


"Mau aku antar nona buncit?" ajaknya dengan senyuman jail dan menggoda


"Tidak perlu, terimakasih tuan mesum!" bergegas pergi menuju toilet


Melihat Fiyah meninggalkan partner pura-puranya itu Vernon bergegas mengikutinya. Setelah beberapa menit berlalu wanita cantik yang masih menjadi istri sah dari CEO tampan putra tuan Adhulpus itu keluar dari toilet dan hendak kembali menuju ruangan yang dipenuhi tamu kehormatan tuan Avens.


"Apa hidupmu sebahagia itu, hingga tak berhenti tersenyum dihadapanku?" ucap Vernon yang sejak awal berada dibelakang Fiyah, membuat wanita cantik nan anggun itu bahagia tapi disisi lain ia merasa khawatir.


"Selamat atas kebahagiaanmu nona, dan selamat kamu sangat berhasil menghancurkan kehidupanku!" kembali ucap dan bertepuk tangan mengejek.


Sesaat setelah menghentikan langkahnya karena mendengar suara yang sangat ia rindukan. Bahkan setiap harinya kerinduan itu semakin dalam dan bayi yang ada dalam kandungan Fiyah seolah ingin merasakan pelukan hangat dari sang ayah, tapi apalah daya itu tidak mungkin terjadi.


Air mata wanita cantik itu tak tersadar kini semakin membanjiri pipinya, ia bahkan tidak berbalik sama sekali. Takut menatap wajah dan mata pria yang sungguh ia rindukan itu. Ia sadar pada statusnya saat ini yang memilih meninggalkan Vernon diasaat ia terpuruk dan butuh penyemangat tetapi dirinya malah menambah penderitaan itu. Disatu sisi kehidupan pria yang sangat ia cintai itu kini kembali seperti semula dan tidak mungkin ia menghancurkannya lagi. Menghancurkan hati yang selama ini berusaha untuk sembuh dari luka yang pernah nyaris membuat hidupnya berakhir.


Fiyah mengusap air mata di pipinya dan kembali melanjutkan langkahnya menuju Zetas.


"Aku ingin pulang sekarang!" jelasnya yang saat ini berada dihadapan pria tampan bertato itu.


Melihat mata berkaca-kaca di wajah cantik wanita yang saat ini meminta pulang padanya, Zetas langsung menuruti kemauan Fiyah. Pamit pada tuan Avens dan menuju apartemen mereka. Sedang ditempat lain Vernon meluapkan amarahnya tak terima akan semua hal yang ia saksikan malam ini, Huzafiyah wanita yang masih sangat ia cintai itu tersenyum lebar dihadapannya tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.

__ADS_1


Sedang dirinya belum menerima hal itu, ia bingung pada perasaannya sendiri yang kadang sangat membenci Fiyah tapi disisi lain ia tidak ingin melihat wanita itu bersama dengan laki-laki lain. Bibirnya selalu berucap sudah melupakannya, tapi hati seolah tidak bisa melakukan hal itu. Walaupun saat ini lebih besar kebencian daripada cintanya.


Sejujurnya ia sakit jika melihat wanita yang ia cintai itu menderita, tapi lebih sakit lagi saat ia melihat wanita yang dia cintai itu tersenyum untuk laki-laki lain.


"Tuan!" ucap Hendry yang saat ini menghampiri tuannya yang ada di rooftop.


"Nyonya Ela dan tuan Avens sedari tadi mencari tuan" kembali ucap Hendry


"Apa tuan baik-baik saja?" khawatirnya yang dibalas anggukan oleh Vernon tapi saat ini ia masih membelakangi asisten pribadinya itu, meletakkan kedua tangannya di pagar pembatas dengan pandangan kosong.


"Aku akan menyusulmu!" ucap Vernon yang membuat asistennya itu paham dan meninggalkan tuannya.


Setelah merasa tenang Vernon kembali ketempat keramaian itu, bergabung bersama keluarga besar dari calon istrinya. Ela sangat bahagia atas kehadiran pria yang sangat ia cintai itu, walau sampai saat ini belum juga adanya balasan cinta dari Vernon.


"Sayang, papa ingin bicara berdua dengan Vernon!" ucap tuan Avens dan dimengerti oleh putri kesayangannya itu.


Setelah putri satu-satunya itu meninggalkan mereka untuk ngobrol rahasia, tuan Avens berbicara langsung keinti permasalahan tanpa adanya basa-basi.


"Pernikahan kalian tinggal menghitung hari saja, jadi pikirkan ini baik-baik. Jika kamu belum yakin aku akan bicara pada putriku agar pernikahan kalian sementara ditunda hingga kamu benar-benar yakin dengan keputusanmu!" kembali ucap tuan Avens


"Maafkan saya tuan Avens, saya tidak ingin menyakiti perasaan Ela. Saat ini saya tidak bisa berhubungan dekat dengan seorang wanita, saya yang salah dalam hal ini. Maafkan saya karena harus membatalkan pertunangan ini!" jelas Vernon


"Apa maksudmu Vernon, aku hanya ingin kamu membatalkan pernikahan untuk sementara waktu sampai kamu yakin dengan perasaanmu kepada Ela. Bukan membatalkan pertunangan kalian!" tak terimanya seorang Ayah


"Maafkan saya!" ucap Vernon dan meninggalkan tempat itu menuju wanita cantik yang saat ini tersenyum manis saat melihat langkah pria tampan yang menjadi calon suaminya itu semakin mendekat ke arahnya.


"Sayang!" ucap manja Ela


"Aku ingin bicara sesuatu padamu?" yakin Vernon pada keputusannya

__ADS_1


"Apa sayang?" tak sabarnya ingin mendengar kabar bahagia dari Vernon karena ia selama ini telah membujuk ayahnya untuk bicara pada pria tampan itu agar mempercepat pernikahan mereka.


"Mulai saat ini pertunangan kita dibatalkan dan kamu bebas memilih pasangan hidupmu!" penjelasan Vernon membuat Ela tak percaya pada pendengarannya


"Sayang apa maksudmu, ini hanya bercandakan?"


"Bukannya papa sudah bicara padamu agar mempercepat pernikahan kita?" ucapnya dengan mata berkaca-kaca


"Sayang jawab!" air mata Ela mulai berderai


"Maafkan aku Ela tapi aku tidak bisa melanjutkan pertunangan ini, aku tidak ingin menyakitimu!" jelas Vernon dan meninggalkan putri tuan Avens itu seorang diri.


"Vernon!" teriak Ela dan tuan Aven yang sedari tadi menyaksikan dari jauh kini mendekati putrinya dan menuntun Ela kembali ke kamar VVIP yang ada di hotel mewah itu.


"Apa yang papa bicarakan pada Vernon, mengapa dia membatalkan pertunangan kami?" ucap Ela disela isaknya


"Dia bukan laki-laki yang baik sayang, mulai saat ini kamu harus melupakannya!" jelas tuan Avens yang sangat tahu bahwa pernikahan terpaksa itu sangat menyakitkan.


"Tapi kenapa?" tak terimanya


"Aku hanya mencintai dia papa, aku tidak ingin membatalkan pertunangan ini. Aku ingin pernikahan kami secepatnya dilaksanakan papa, aku mohon!" pinta Ela bersimpuh di hadapan tuan Avens


"Ela jangan membantah keputusan papa!" tegas tuan Aven dan mencoba menenangkan putri semata wayangnya itu.


***


Sedang di mension pribadi Vernon


"Cari tahu siapa ayah dari bayi yang dikandungnya, dan mengapa Zetas bisa sangat dekat dengannya!" perintah Vernon pada Hendry

__ADS_1


"Aku ingin informasi itu secepatnya!" kembali tegasnya membuat Hendry dengan segera melaksanakan perintah.


__ADS_2