
"Tundukkan kepalamu, jangan bergerak satu langkahpun, dan jika kamu mendongak walau hanya satu inci saya tidak akan segan menghabisimu!" murka seseorang pada Zetas
Ketua Broken Flower itu hanya bisa pasrah dan mematuhi semua perintah pria tua itu, karena bagaimanapun ia yang membuat Zetas masih bisa menghirup udara segar.
"Jangan menganggap remeh hal ini!" peringatan pria tua itu
"Apa engkau lupa bagaimana aku membawamu dalam keadaan berdarah, apa engkau lupa bagaimana seluruh keluargamu dimusnahkan?"
"Ingat itu, jangan menjadi pria lemah dan memberi ampun pada lawanmu!"
"Aku ingin engkau menyadari kelemahan itu!"
"Zetas, aku sudah menganggap kamu sebagai putraku sendiri. Tapi kamu menghiyanatiku dengan semua ini!"
"Bicaralah, sekarang kamu sudah bisa memberi penjelasan!" ucap tuan Aaric ayah angkat Zetas yang memiliki kebiasaan setelah marah baru ia bisa membiarkan lawan bicaranya membela diri.
"Kita tidak boleh gegabah, yang dihadapi adalah Mazoya, ia yang berada dibalik semua ini dan dark mafia dibawah kendalinya" jelas Zetas yang baru mengetahui kebenaran
"Tapi sikapmu sangat berubah, biasanya aku melihat tatapan yang mengerikan di matamu tapi saat ini tatapan itu seolah berubah menjadi pria yang lemah!"
"Apa ada yang menggoyahkan konsentrasimu Zetas?"
"Ini masalah pribadiku jadi tidak perlu engkau mencampurinya pria tua!" ucap Zetas dan tuan Aaric hanya tersenyum mendengarnya karena sudah biasa pria tampan itu bersikap kasar padanya tetapi sebenarnya ia sangat perhatian.
"Aku hanya ingin mengingatkan tujuan utama kita!" jelas tuan Aaric
"Tenang saja, aku tidak akan mengubah arah jika sudah memutuskannya!" ucap Zetas
"Jika tidak ada lagi yang ingin engkau bicarakan, aku pergi sekarang!" pamit pria tampan itu
"Apa engkau tidak ingin makan malam denganku, dan Jesika sangat merindukanmu"
"Aku sibuk!" singkatnya
"Baiklah" pasrah tuan Aaric
"Kakak!" panggil seorang wanita cantik yang menghentikan langkah Zetas
"Ayah tadi menghubungiku dan berkata engkau akan pulang dan dengan segera aku kesini, tapi mengapa sekarang kakak akan pergi lagi?"
__ADS_1
"Aku hanya ingin bertemu pria tua itu, dan sekarang tidak ada urusan lagi!"
"Apa kakak tidak merindukanku?"
"Untuk apa aku merindukanmu!"
"Sampai kapan kakak akan mengikuti permintaan ayah dan membuat kakak seperti sekarang ini?"
"Apa aku pernah baik sebelumnya?" ucap Zetas dengan tatapan tajam yang mengarah pada Jesika
"Bagiku kakak adalah pria yang baik!" jawabnya dengan mata yang berkaca-kaca
"Jangan pernah menatapku seperti itu!"
"Karena aku lebih menyukai semua orang memandangku dengan tatapan kebencian dari pada tatapan kasihan!" jelasnya
"Pernahkah sekali saja kakak memikirkan perasaanku?"
"Aku sangat tulus pada kakak tapi ketulusanku selalu kakak balas dengan kebencian!"
"Kakak aku sangat perduli padamu!"
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu kakak!" ucap Jesika dengan derai air mata dan menundukkan kepalanya
"Jangan mencintaiku, jangan pernah berharap lebih terhadapku. Tidak ada yang bisa dibanggakan dariku, aku hanya seorang pria jahat yang tak segan membunuh, bahkan aku tidak tau sisi baikku dimana. Aku tidak pernah perhatian kepadamu dan selalu bersikap kasar, lantas apa yang membuatmu masih mencintaiku? jika engkau masih memiliki kewarasan maka jangan pernah memperdulikan ku, apalagi mencintaiku!"
"Ini terlalu menyakitkan, kakak selalu menolakku dan tak pernah sedikitpun perduli kepadaku. Tapi tidak apa-apa, aku baik-baik saja mentalku sudah terbiasa diperlakukan seperti ini oleh orang yang aku cintai!" ucap Jesika disela isaknya
"Saat seseorang sudah membuat keputusan dengan matang, ia akan siap dengan semua resikonya, meskipun itu sangat menghancurkan hatinya. Ia memilih untuk menderita sebab penyesalan lebih menyakitkan!"
"Bukankah itu yang engkau ajarkan padaku kakak?"
"Gadis bodoh!" gumam Zetas dan pergi meninggalkan Jesika, sedang yang ditinggalkan hanya bisa menangis.
"Sampai kapan kakak akan seperti itu?"
"Ayahpun sama hanya memikirkan dendam saja tanpa memperdulikan perasaanku!"
*Flash back*
__ADS_1
Tujuh tahun yang lalu saat tuan Aaric membawa Zetas ke Mensionnya dan dikenalkan pada Jesika. Zetas adalah pria yang hangat dan penuh perhatian, ia sangat lembut dan menganggap Jesika sebagai adiknya sendiri, tapi rupanya wanita cantik itu jatuh hati padanya. Ia memendam rasa cinta itu karena tidak ingin hubungan mereka renggang, hingga tiba saatnya setelah kelulusan Zetas sebagai dokter tuan Aaric menjalankan rencananya. Mengubah pria tampan yang awalnya ramah penuh kasih sayang menjadi seseorang yang tidak dikenali lagi, berubah menjadi kejam tak berbelas kasih.
Walaupun seperti itu tapi Jesika tetap memandang kakak angkatnya itu dengan sangat hormat. Dan saat perasaan yang selama ini ia pendam tak bisa ditahan lagi, perempuan cantik itu pun memberanikan diri mengungkapkan apa yang selama ini ia rasakan. Walaupun balasan dari Zetas sangat menyakitkan tapi ia tahu bahwa kehidupan kakaknya saat ini lebih menyakitkan karena pria tampan itu sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi selain mereka.
***
"Dihargai atau tidak itu sama sekali tidak penting, aku hanya tidak ingin diri ini menyesal karena tidak jujur padamu kakak, yang pasti aku sudah berusaha semampuku selebihnya itu tinggal menunggu balasan baik darimu." ucap Jesika disela tangisnya
"Aku hanya ingin engkau tahu bahwa masih ada seseorang yang sangat perduli dan mencintaimu kakak!" batinnya
"Bisakah ayah melupakan dendam itu?" ucap Jesika yang saat ini berada dalam ruangan kerja ayahnya.
"Apa maksudmu putriku?"
"Aku mohon hentikan semua ini!" pintanya dengan wajah yang masih sembab
Tuan Aaric terdiam sejenak memandang wajah putri satu-satunya itu, mendekapnya dan berbicara dengan lembut menjelaskan dan mengingatkan tentang ibunya yang dilenyapkan tanpa belas kasih.
"Tapi aku ingin ayah dan kakak tidak terlibat kejahatan lagi!"
"Sayang sabar, ayah janji suatu saat nanti akan menghentikan semua ini!"
"Kapan hari itu ayah?" batin Jesika
"Bukankah engkau merindukan kakakmu? besok ayah akan meminta ia untuk makan malam bersama kita" bujuk tuan Aaric pada putri kesayangannya itu.
"Bukankah putri ayah ini sedang kuliah, tapi mengapa pulang secepat ini?"
"Oh ayah lupa, karena ulah ayah membuat putri cantik ini bolos, andai tadi tidak menghubungi berkata bahwa kakakmu ada disini pasti anak manja ini masih fokus menerima materi." goda tuan Aaric
"Ternyata karena itu putri ayah pulang dengan cepat" basa-basi tuan Aaric karena mengetahui bahwa saat ini Jesika sedang bersedih.
"Apa tidak ada senyum untuk ayah?" candaannya membuat putri semata wayangnya itu tersenyum
"Ayah janji suatu saat nanti akan menghentikan ini semua sayang!" batin tuan Aaric
Setelah Jesika masuk dalam kamarnya barulah perasaan pria itu terasa lega, menyandarkan kepala di kursi kerjanya, memejamkan mata beristirahat sejenak.
"Maafkan aku, maafkan aku Alvira karena membuat anak kita bersedih" ucap tuan Aaric
__ADS_1
"Ini semua aku lakukan untuk menemukan keadilan bagimu, walau aku tau engkau tidak menyukai caraku ini." batinnya