
"Umi Safa ibunda Adam Umi" ucap gadis manis itu
"Nak Fiyah semakin cantik saja" ujar umi Safa
"Umi mau menemui Abi, kamu ngobrol dulu dengan umi Safa" rencana umi Salma agar Fiyah ngobrol dengan calon mertuanya
"Ia umi" jawab Fiyah tanpa ada rasa curiga
"Bagaimana keadaan kamu nak?" tanya umi Safa
"Alhamdulillah baik kalau Tanta gimana? aku dengar dari umi akhir-akhir ini tanta sibuk menjalankan bisnis busana muslimah dan hasil desain tanta sudah menjadi brand busana terkenal di berbagai negara, selamat ya tanta semoga kedepannya tambah sukses"
"Alhamdulillah itu hanya sekedar hobi dan cita-cita tanta sejak dulu ingin semua wanita muslimah mengenakan pakaian terbaik mereka tetapi tetap modis tidak ketinggalan zaman" Jelas umi Safa wanita cantik yang kini berumur itu
"Tapi nak Fiyah yang sangat hebat, sekarang tanta jadi pecandu novel karena nak Fiyah. Berdakwah lewat tulisan sangat membantu generasi muda kedepannya" lanjut umi Safa
...***Di ruangan lain***...
Muhammad Adam Thoriq adalah sosok laki-laki yang didambakan kaum hawa ia memiliki ilmu agama yang cukup karena sejak kecil dididik dan diperkenalkan dengan agama, tetapi style berpakaian dan caranya memandang kehidupan membuat ia seperti pria biasa lainnya yang terkesan hanya mementingkan penampilan dari pada ilmu, padahal dibalik penampilannya yang keren dan mewah tersembunyi akhlak dan ilmu yang luar biasa. Oleh karena itu kebanyakan orang yang pertama melihatnya hanya memandang rupa yang nyaris sempurna dan berfikir bahwa Adam adalah bad boy suka mempermainkan perempuan karena tampangnya dan tatapan mata yang terkesan penggoda.
Adam yang kini telah ngobrol bersama kawan-kawannya menyita perhatian semua orang bagaimana tidak parasnya bak pangeran dengan pakaian ala aktor yang digemari saat ini style rambut dan tubuh ideal yang sangat mendukung membuat pandangan tak teralihkan darinya menjadikan ia seperti galeri pameran saat itu, karena disetiap sudut dirinya terkesan indah untuk dipandang.
"MasyaAllah sahabatku ini mengalahkan orang tertampan di Dunia saja" ucap Safik pada sahabat tampannya itu
"Kamu yang semakin tampan bro" ucap Adam ala anak gaul
"Pake bro-bro segala lagi" ucap Usman yang mulai berbaur
"Adam, itu Lo kan?" Bilal yang baru menyadari keberadaan Adam
"Ini gue masa mahluk halus?" candaan Adam
"Untung Lo datang jika tidak jadi kuper gue"
"Lah kenapa?" tanya Adam
"Teman gue disini hobinya menyendiri semua kudet" candaan Bilal
"Maksud dia kita pemuda baik-baik Dam cuma dia yang pecicilan" jelas Safik
"Apaan Lo, di Maroko dulu cuma Adam teman sefrekuensi gue"
"Kalau ustad Hamka dengar kamu pake bahasa Lo gue dia tidak mau jadikan kamu menantunya" ancam Usman yang seperti berada di tongkrongan anak gaul karena sahabatnya itu
"Jangan dong bro, Dinda itu masa depan gue" ucap Bilal sambil nyengir
"Cari siapa Dam?" Usman yang melihat pandangan Adam yang tak Fokus melirik kesana kemari
"Cari tempat yang bagus untuk makan" bohong Adam karena saat ini ia kepikiran pada Huzafiyah
__ADS_1
"Memang lo sahabat sejati gue tau aja perut ini sudah keroncongan" ucap Bilal dan mereka semua menghampiri meja makan yang full akan hidangan
"MasyaAllah" ucap Safik
"Ada apa?" tanya Usman
"Tuh lihat" pandangan Usman seketika tertuju pada wanita yang menyita perhatian Safik
"Oh itu Kirana anak ustadz Hamka saudari Dinda gadis yang disukai Bilal" jelas Usman
"Oh jadi ustadz Hamka punya dua putri?"
"Bukan dua tapi tiga" jelas Usman
Sedangkan Adam sedari tadi mencari-cari keberadaan Fiyah dengan mengarahkan pandangannya keberbagai arah
"Tadi aku bertemu dengan Huzafiyah putri kyai Husein MasyaAllah cantik sekali" ucap Usman yang membuat Adam menoleh kearahnya sedang Bilal tetap asik menyantap makanannya
"Dimana kamu bertemu Fiyah?" tanya Adam
"Tadi sih diruangan sebelah" jawab Usman
"Aku belum pernah bertemu dengan Fiyah" ucap Safik
"Beruntung kamu bertemu dengannya, aku dengar Fiyah gadis yang tertutup dan pemalu oleh karena itu terkesan sombong" lanjut Safik
"Habiskan dulu makanan dalam mulutmu itu baru nyosor" ujar Safik yang terkekeh oleh tingkah Bilal
"Memang faktanya gitu aku yang menyaksikannya sendiri pesona wanita lain pudar dimata Adam hanya Huzafiyah seorang yang bersinar" jelas Bilal
"Perasaan dari tadi kita bahas cewek mulu" Safik yang mulai tersadar
"Kalian yang bahas bukan aku" candaan Adam yang tak mau disalahkan
"Dasar, padahal kamu mau tau lebih dalam kan tentang pujaan hatimu itu?" Bilal yang membuat Adam tersenyum tak bisa berkata-kata bohong lagi
"Hari ini aku akan melamar Fiyah" ucap Adam yang membuat ketiga sahabatnya itu menghentikan aktivitas makannya
"Beneran Dam?" penasaran Usman karena ia juga sangat mengagumi Fiyah walaupun baru melihat wanita cantik itu tetapi cerita tentang Fiyah sudah ia ketahui sejak lama
"Memangnya wajahku kelihatan bercanda?" ucap Adam lalu tersenyum pada sahabatnya itu
"Wah selamat ya Dam semoga sukses" ucap Bilal
"Tapi putri kyai Husein itu tidak mudah didapatkan walaupun kamu pria yang nyaris sempurna tapi Fiyah selama ini selalu menolak laki-laki yang ingin meminangnya" lanjut Bilal
"aku sangat tau hal itu" jelas Adam
"Ternyata sahabat kita ini sudah melakukan riset terlebih dahulu" ucap Bilal
__ADS_1
"Semoga sukses lamarannya Dam" ucap Usman yang mulai tak bergairah karena pujaan hatinya akan dipinang oleh sahabatnya sendiri
"Ia terimakasih"
"Selamat Dam aku hanya bisa bantu doa saja" lanjut Safik
"Iyalah bantu doa masa lo mau bantu angkat galon" candaan Bilal
"Aku pernah melihat calon suami Fiyah orangnya tampan sekali 11 12 lah dengan Adam" ucap Usman
"Kasihan Fiyah tapi jika pria itu masih hidup Adam yang lebih kasihan" ucapan Bilal sontak membuat ketiga sahabatnya itu geleng-geleng kepala.
...***Di ruangan lain***...
Rombongan kyai Thoriq memenuhi ruangan besar itu membawa berbagai hantaran walaupun ini sangat mendadak untuk Fiyah tetapi tidak bagi Adam, hari indah ini sudah ia rencanakan sejak lama.
Kyai Husein kini sedang asik ngobrol bersama calon besannya membicarakan berbagai hal sebelum ke inti masalah karena umi Salma belum memberitahu Fiyah dan saat ini putri mereka sedang ngobrol dengan calon mertua yang tak ia sadar itu.
"Umi panggil Fiyah sekarang" bisik kyai Husein pada umi Salma kerena Adam dan kawan-kawannya sudah berada dalam ruangan itu
"Ia bi" sebelum umi Salma berdiri dari duduknya untuk memanggil putrinya umi Safa sudah membawa Fiyah keruangan itu.
"Semoga Fiyah tidak menentang keputusan kita abi" bisik umi Salma
"Duduk sayang" pinta umi Salma saat Fiyah mendekat padanya
"Ada apa ini umi?" tanya Fiyah yang mulai menyadari maksud kedua orang tuanya tetapi ia masih ingin penjelasan dari mereka
"Nak Fiyah kami kesini bermaksud menjalin hubungan yang lebih dekat lagi ingin melamar nak Fiyah untuk Adam" Ucap kyai Thoriq yang membuat Fiyah terdiam
"Bagaimana sayang" tanya kyai Husein
"Terserah Abi saja?" singkat Fiyah yang mulai tersadar dari lamunannya
"Alhamdulillah berarti lamaran kita diterima?" tanya kyai Thoriq
"Ia kyai" jawab kyai Husein
...***Dikediaman kyai Husein**"...
"Abi bagaimana ini Fiyah sejak tadi tidak mau keluar kamar" panik umi Salma
"Biarkan dia menenangkan diri dulu umi ini terkesan mendadak baginya"
"Tapi aku takut jika keputusan kita ini salah"
"Fiyah anak yang baik dan paham agama jadi umi tidak perlu khawatir seperti ini"
"Biarkan dia menenangkan diri umi" lanjut kyai Husein yang melihat istrinya itu mondar mandir sejak tadi.
__ADS_1