Cinta Dan Identitas Rahasia

Cinta Dan Identitas Rahasia
Setelah masa lalu terungkap


__ADS_3

"Ini bukan kesalahan kakek!" ucap Vernon saat mengetahui semua itu


Ia pun segera pergi menuju ruang pribadi, menyandarkan diri di kursi kebesarannya itu, membuka salah satu laci meja kerja dan mengambil sesuatu yang membuatnya menyerngitkan dahi dengan penuh kesedihan.


"Maafkan aku, selama ini aku tidak tau jika papa sangat tersiksa!" ucapnya yang saat ini memandangi foto tuan Adhulpus


"Maafkan aku karena terlalu membenci segala hal tentang papa!" menyesalnya


"Seharusnya kebenaran ini papa ceritakan kepadaku, tapi mengapa menyembunyikan semua ini dariku?" lirih Vernon ingin sekali ia menanyakan hal itu pada tuan Adhulpus


Ketua Big Move itu segera bangkit dari duduknya, menuju carport dan menaiki salah satu mobil mewah, melaju meninggalkan kediaman tuan Francois.


Beberapa jam perjalanan kini ia telah sampai disebuah tempat yang mengingatkan ia pada masa lalunya, yaitu mension tuan Adhulpus. Sudah lama sekali ia tidak berkunjung ketempat masa kecilnya itu.


Vernon memandangi disetiap sudut luar mension, beberapa memori masa lalu seolah terputar begitu nyata dibenaknya, membuat salah satu sudut bibir pria tampan itu terangkat, tersenyum tipis. Tapi tujuan utamanya datang ketempat itu ialah untuk menemui sang ayah, yang entah mengapa tidak ingin menjelaskan masa lalunya pada putra semata wayangnya itu. Sedang sosok pria seperti Vernon yang keras kepala dan teguh pada prinsipnya, sangat butuh penjelasan.


Ia mulai memasuki mension, sejuknya udara tempat itu masih sama dan tak ada perubahan di dalamnya.


"Dimana papa?" ucap Vernon pada salah satu pelayan pria


"Tuan sudah satu minggu tidak pulang ke mension tuan!" jelas pelayan membuat pria tampan itu terlihat khawatir.

__ADS_1


Ia memasuki ruangan kerja sang ayah yang selama ini tempat itu hanya tuan Adhulpus yang boleh memasukinya. Disetiap dinding terpajang lukisan nyonya Azqila yang membuat Vernon semakin mendekat, memandangi setiap sudut wajah itu. Walaupun ini pertama kalinya ia melihat potret wanita cantik itu, tapi perasaan tak asing akannya membuat ia ingin menyentuh gambar sang ibu.


Tangan indah Vernon mulai bergerak kearah bingkai yang didalamnya terdapat foto sang ibu.


"Apa ini mama?" lirihnya dengan mata berkaca-kaca


"Apa ini wajah ibuku?" air mata yang tak bisa dibendung lagi kini perlahan mulai menetes.


Setelah puas memandangi foto itu, Vernon beralih pada meja kerja sang ayah yang terlihat sangat rapi seolah dabu saja takut memasuki ruangan itu, karakter mereka berdua sama yaitu pria yang perfeksionis, harga dirinya sangat tinggi oleh kerena itu terkesan egois.


Saat membuka brankas pandangan Vernon tertuju pada sebuah kotak, dan ia mengambilnya, mulai menduduki kursi kebesaran sang ayah, membuka kotak itu yang didalamnya terdapat banyak kertas note dan selembar surat. Ia mulai membaca satu-persatu kertas note itu.


"Saya sudah menyiapkan air hangat agar tuan bisa merilekskan tubuh, dan jangan lupa setelah itu makan malam, saya sudah siapkan. Semoga tuan menikmatinya!" lembaran note kedua


"Bekal makan siangnya jangan sampai ketinggalan, jika ada menu yang tuan inginkan tinggalkan catatan saja di meja" lembaran ketiga, dan masih banyak lembaran lainnya yang berisikan tentang keperdulian nyonya Ayeleen, ia mencoba untuk tetap perduli walau selama ini diabaikan, tapi usahanya tetap berujung menyakitkan.


Vernon mulai membuka lembaran surat itu dan membacanya.


"Maafkan aku, karena telah memasuki kehidupan tuan dan membuat segalanya menjadi rumit, membuat tuan merasa semakin bersalah. Akulah yang sebenarnya salah dalam hal ini, aku telah jatuh cinta pada laki-laki yang belum bisa berdamai dengan masa lalunya, seseorang yang berkata bahwa dia yang aku nikahi adalah pria yang telah mati, dan tidak akan pernah mencintai diri ini, perasaannya telah terkubur bersama cinta pertamanya."


"Tapi bodohnya diri ini, sikap dingin dan cuek akan segala hal membuatku semakin jatuh hati kepadanya. Aku semakin mencintai sikap yang membuat hatiku terluka, aku tidak bisa menolak perasaan itu karena jika hati menjatuhkan pilihannya pada seseorang, ia tidak bisa dihentikan."

__ADS_1


"Aku tidak butuh pengakuan darinya, cukup tidak terusik dengan keberadaanku hal itu sudah membuatku sangat bahagia. Memandanginya dari jauh sudah memuaskan kerinduan ini. Aku bohong jika berkata baik-baik saja, saat ia selalu larut dalam kesedihan masa lalunya. Tapi apalah dayaku aku tidak bisa menjadi penawar luka itu, jika diri ini mendekatinya aku takut akan menjadi duri yang membuat luka itu semakin berdarah."


"Aku sangat bahagia saat mengetahui kehamilan ini, aku ingin sekali merasakan seperti pasangan pada umumnya, memberitahukan kabar bahagia itu pada pasangan mereka, tapi apalah dayaku aku hanya seorang wanita yang dinikahi tanpa cinta dan hanya berdasarkan kepura-puraan."


"Jangan tanyakan bagaimana sakit hati ini, cukup tanyakan apakah aku bahagia bersamanya, apakah aku menikmati semua ini. Anehnya aku menikmatinya dan sangat bahagia, aku tidak bisa menyalahkannya karena dalam hal ini akulah yang salah. Aku yang terlalu mencintainya, aku yang tidak ingin berpisah dengannya, aku yang selalu rindu padanya."


"Aku tau aku kalah dengan wanita pada masa lalunya, karena itu aku tidak ingin bersaing dan hanya ingin memilikinya dari jauh, dan semua itu lebih dari cukup bagiku untuk memuaskan perasaan ini."


"Aku mencintainya bagaimanapun sikapnya padaku, sampai kapanpun rasa ini akan tetap sama. Dia bukan laki-laki yang romantis dan selalu bersikap dingin, tapi dia menghargaiku sebagai pasangannya. Aku yakin dia menyayangiku bukan dengan apa yang aku inginkan, tapi dengan caranya sendiri."


"Jika tidak dicintai olehnya dengan cara yang aku inginkan, aku tetap akan mencintainya dengan sepenuh hatiku. Jika kesedihan membuatku lebih dekat dengannya maka aku akan tetap memilih hal itu. Karena aku tau jauh darinya lebih menyakitkan dan menyiksa diri ini."


"Mungkin perasaan cinta ini muncul kepadanya karena aku tau betapa sulitnya ia berdamai dengan masa lalunya, berapa sering ia meneteskan air mata dan menyembunyikan hal itu dengan senyuman, aku tau betapa sulitnya ia melewati hari-harinya, tau betapa sering mata lelah itu terjaga disetiap malam karena mengingat cinta pertamanya."


"Mungkin karena aku adalah pasangannya oleh karena itu Allah memberi rasa yang sama terhadapku, agar aku bisa memahami dirinya, merasakan setiap kesedihannya. Karena disetiap doaku aku ingin menjadi pasangan yang melengkapi dirinya, ingin menjadi pasangan sejatinya walau tidak ada yang kekal di Dunia ini."


"Aku akan selalu mencintai dia walau penantian itu begitu lama, jika dia tidak akan pernah memberi cintanya padaku, maka aku bahagia telah menjadi bagian dari hidupnya."


"Aku tau perasaanlah yang paling kejam di Dunia ini, ia membuat aku membenarkan sesuatu yang aku cintai, dan menyalahkan sesuatu yang aku benci. Perasaan membuatku bertahan walaupun sikap buruknya aku ketahui, perasaan yang membuatku tidak ingin pergi walau ia telah menyakitiku berkali-kali, dan karena perasaan ini aku tidak bisa membedakan mana yang seharusnya aku pertahankan dan aku tinggalkan."


"Aku hanya ingin ia tau bahwa aku akan selalu ada disetiap kesulitan dan kesedihannya. Aku sangat mencintaimu disetiap waktuku!" surat yang nyonya Ayeleen tujukan untuk tuan Adhulpus

__ADS_1


__ADS_2