
Di Apartemen
"Nona saatnya sarapan!" ucap Zetas sambil memencet bel
"Assalamualaikum" kembali ucapnya saat Fiyah membukakan pintu
"Waalaikumsalam" ramah Fiyah yang tahu bahwa pria tampan jail itu akan kembali beraksi
"Saatnya sarapan!" dengan pandangan mengarah pada box besar yang ia pegang
Pria tampan bertato itu mengeluarkan belanjaan yang baru saja ia order itu. Kotak susu ibu hamil, menu sarapan sehat dan masih banyak makanan dan minuman lainnya yang ia sediakan untuk sahabatnya.
"Aku tidak tau apa yang harusnya aku pesan, tapi untuk menu sarapan pagi ini, aku rasa cukup lengkap. Bagaimana jika nanti sore kita belanja bahan makanan nona?" jelas Zetas
"Ini sudah lebih dari cukup!" ucap Fiyah sambil mengunyah makanannya
"Apa makanannya seenak itu?" seolah menu sarapan pagi yang dinikmati mereka berdua berbeda karena menurut pria tampan bertato itu biasa-biasa saja, sedang Fiyah sangat menikmatinya.
"Um, sangat enak!" jelas Fiyah yang sedari tadi tak berhenti mengunyah
"Melihatmu seperti ini membuatku kenyang!" Zetas yang hanya fokus memandangi Fiyah
"Boleh aku coba?" ucap Zetas yang sangat penasaran, apa mungkin rasa makanan mereka berbeda.
"Puih, sama saja rasanya hambar!" dengan ekspresi wajah tidak sukanya.
"Ini sangat tidak enak, biar aku pesankan yang lain saja!" kembali ucapnya
"Terserah, tapi aku hanya ingin makan yang ini!" jelas Fiyah
"Aku ingin memesan untukmu, jika tidak ingin memakannya lalu untuk apa aku memesannya!"
"Pesan untuk dirimu saja tuan, biar ketiduran karena kekenyangan!" goda Fiyah
"Tapi aku sudah kenyang saat melihatmu makan nona!" balas Zetas
"Benarkah, berarti kamu tidak butuh makanan lagi dan hanya melihatku saja menikmati hidangan setiap harinya, dan itu berarti tuan Zetas akan lebih hemat!" candaan Fiyah
"Bagaimana aku akan hemat jika di apartemen ini ada seekor sapi buncit yang suka makan!" candaan Zetas
"Bersedekah akan menambah rezeki tuan, jadi tidak perlu khawatir aku akan menghabiskan uang tuan muda pelit ini!" ucap Fiyah dengan penuh candaan
"Oho, ternyata aku seperti itu di mata sapi betina buncit ini?"
"Aku manusia bukan sapi!" jelas Fiyah yang sensitif, dengan ekspresi wajah ngambek
"Iya nona aku hanya bercanda, tidak mungkin sapi secantik ini, jika ada sapi seperti ini maka aku akan menikah dengan sapi saja!" godanya agar Fiyah tidak ngambek lagi
"Saatnya aku berangkat kerja, nanti siang bibi yang melayani nona suka ngambek ini akan datang, jadi tidak perlu keluar kamar jika butuh apa-apa!" jelas Zetas
__ADS_1
"Assalamualaikum" pamitnya yang kedua kali
"Apa ada makanan lain yang nona buncit inginkan?" kembali ucap Zetas
"Biasanya ibu hamil ngidam, seperti itu yang aku baca di artikel!" ucapnya dengan ekspresi malu
"Saya ingin kuaci tapi jangan yang belang, yang hitam semua!" jelas Fiyah membuat Zetas mengkerutkan keningnya
"Apa ada kuaci seperti itu?" gumamnya
"Kenapa, apa tuan takut akan kehabisan uang?" candaan Fiyah yang melihat Zetas seperti orang kebingungan.
"Apa menurut nona buncit aku semiskin itu, ternyata nona buncit ini sangat meremehkanku, aku bisa membelikan dengan toko-tokonya, malahan perkebunan bunga mataharinya akan aku belikan, asal tiap harinya nona buncit ini bisa menghabiskan sekarung kuaci!" semakin jail Zetas
"Dasar pelit mengatakan hal yang tidak mungkin!" gumam Fiyah yang masih kedengaran oleh Zetas
"Jangan pernah memaki saya nona buncit, bagaimana jika wajah calon bayi nona mirip dengan saya!" ucap Zetas membuat Fiyah spontan beristighfar
"Astaghfirullah, amit-amit. Ya Allah hindarilah hal itu!" spontannya
"Nanti jatuh cinta Lo, jangan terlalu meremehkan seperti itu!" semakin jail Zetas
Bantal sofa mendarat di wajah tampan pria bertato itu, membuat ia tersenyum manis atas tingkah Fiyah.
"Pergi sana, katanya mau berangkat kerja!" kesal Fiyah
"Aku permisi nona buncit, Assalamualaikum!" ucap kembali Zetas dan pergi dengan senyuman penuh maknanya.
Sedang di tempat kerja Vernon
"Pagi sayang" ucap manja Ela meletakkan kedua tangannya di bahu Vernon, memijatnya dengan lembut.
"Kamu harus sopan Ela, jaga jarak dengan yang bukan mahram kamu!" jelas Vernon dan menepis pelan tangan putri tuan Avens itu
"Sebentar lagi kita akan menikah, lalu apa yang kamu takutkan sayang?" ucap santai Ela
"Sebentar lagi dan belum sekarang, pahamkan perbedaan kalimat itu?" jelas Vernon
"Ok, aku paham sayang!" kesal Ela yang selalu saja mendapat penolakan dari Vernon, tetapi masih berucap lembut.
"Sekarang keluar, aku sedang sibuk dan tidak punya waktu untuk bersantai!" jelasnya yang membuat tunangannya itu semakin kecewa
"Sayang!" ucap Ela lembut ingin meluluhkan hati beku Vernon
"Keluar sekarang!" jelasnya kembali membuat Ela meninggalkan ruangan itu dengan wajah cemberut.
"Pagi nyonya Ela!" sapa Hendry yang berpapasan dengan wanita cantik itu, tapi tidak mendapat jawaban darinya malah semakin bertambah kesal.
"Ada apa dengannya, apa aku kurang ramah?" gumam Hendry yang merasa heran pagi-pagi tapi mood dari calon nyonya nya itu sudah tidak baik.
__ADS_1
Setelah mengetuk pintu ruangan CEO, Hendry masuk.
"Pagi tuan!" ucapnya
"Pagi" balas tuan mudanya
"Ini harus ditandatangani sekarang tuan!" jelas Hendry
"Apa yang terjadi pada nyonya Ela, aku hanya menyapanya tapi dia malah melototiku tuan!" ucapan Hendry membuat Vernon tersenyum tipis.
"Makanya jangan sok akrab jadi manusia!" candaan Vernon
"Apa aku harus jadi hewan dulu baru bisa sok akrab tuan?" candaan Hendry
"Coba saja dulu!" jelas Vernon
"Maksudnya apa tuan?" polos Hendry
"Yah, kamu coba saja dulu jadi hewan baru tau jawaban dari pertanyaan kamu itu!" penjelasan Vernon membuat Hendry meninggalkan ruangannya dengan kesal.
"Dasar, semua yang keluar dari ruangannya berubah menjadi murung!" marah asisten pribadinya
"Aaaaa!" lirih Vernon perasaannya sangat aneh.
Entah mengapa saat ini perasaannya terasa hampa, ingin sekali ia mengetahui kabar tentang Fiyah tapi karena egonya yang terlalu besar, ia mengingkari akan hal itu.
"Bodoh, berhentilah memikirkan wanita itu. Dia yang pergi meninggalkanmu dan lebih memilih pria lain, dia tidak menyukaimu lagi Vernon!" merutuki dirinya sendiri
"Ya Allah mengapa aku masih memikirkan dia, singkirkanlah wanita itu dari hati hamba ya Allah!" lirih Vernon
"Lindungilah dia, hamba mohon!" kembali lirihnya yang ingin wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu baik-baik saja.
"Bagaimana jika aku memberi tahumu, bahwa berbicara dan bertemu denganmu dapat menyembuhkan segala rindu di hatiku. Apa engkau akan kembali padaku lagi?....... Tapi itu tidak akan terjadi, aku tidak akan pernah mengemis cinta dari seorang wanita yang pernah menghiyanatiku!" batin Vernon yang selalu mengingkari akan hal itu.
"Berhentilah mengejar yang tidak pasti, mulailah membuka hati bahwa semua tidak harus kita miliki. Lupakan yang pergi dan buka lembaran baru!" perdebatan batinnya
"Hentikan!" teriak Vernon dan menghamburkan semua hal yang ada diatas meja kerjanya.
CEO tampan itu berjalan menuju kamar mandi mewah dalam ruangannya itu, memecahkan cermin dengan sekali pukulan seketika darah segar mengalir dari tangannya.
Tubuhnya terasa lemah dan perlahan duduk bersandar di dinding kamar mandi marmer putih. Matanya berkaca-kaca dengan nafas memburu, seolah kemarahannya belum padam, padahal kini ruangan CEO itu seperti kapal pecah.
Setelah mengetuk pintu tuan mudanya Hendry kembali masuk dan betapa kagetnya saat ia melihat pemandangan yang sudah biasa baginya.
"Tuan!" ucap Hendry dan berlari menuju Vernon, mengambil kotak P3K mengobati luka yang ada di tangan tuan mudanya.
"Nyonya Huzafiyah baik-baik saja tuan, saat ini dia berada di Jerman, Zetas yang membawanya pulang!" jelas Hendry karena tak tega pada tuan mudanya itu.
Vernon hanya terdiam mendengar hal itu, walaupun tuan mudanya tidak merespon atas penjelasannya tadi tapi dari raut wajah tuan mudanya itu terlihat sangat jelas rasa lega. Seolah itu adalah berita yang paling ia nantikan tapi egonya mengingkari akan hal itu.
__ADS_1
"Dia baik-baik saja tuan!" kembali perjelas Hendry.