
"Waduh, ini hampir telat! Aku harus bergerak cepat." gerutu Fanya.
Fanya memutuskan untuk turun dari kendaraan umum. Jalanan yang biasanya ramai lancar, kini berubah menjadi macet tak terkirakan. Jangankan mobil, motor saja tak bisa berkutik dari tempatnya. Fanya segera berlari mengejar waktu. Ia tak ingin terlambat datang ke butik.
"Hei hati-hati Mbak!" seru seorang pengendara motor yang terkena senggol Fanya secara tak sengaja.
"Maaf...." seru Fanya tanpa menoleh lagi.
'Lebih cepat lagi Fanya. Waktumu tidak banyak! Meski terlambat bukan kesalahan besar, tapi citra positifmu akan memudar jika itu terjadi. Lusi CS akan semakin membully-mu. Kamu harus datang tepat waktu. Apapun yang terjadi, hujan petir, angin ribut, dan badai pasang, aku harus tetap menerjang.' batin Fanya.
Lari dan terus berlari hingga sampailah Fanya di butik. Nyaris terlambat. Tapi Fanya selamat.
"Kenapa lo terlihat menyedihkan sekali? Cih, seperti gembel jalanan. Gue bahkan tak sudi melihat lo. Menyedihkan!" kata Gina sinis dan segera berlalu.
"Udah, kamu rapikan penampilanmu. Ini aku punya baju ganti buat kamu. Bajumu basah keringat tuh. Lima belas menit lagi, kita adakan rapat mingguan." bisik Henny ramah.
"Kak Henny baik banget." ujar Fanya berkaca-kaca.
"Buruan. Sebelum yang lain ikut membully-mu." kata Henny sembari menyerahkan bungkusan baju yang ia simpan di lokernya.
"Iya Kak. Terima kasih banyak." kata Fanya bahagia.
Beberapa saat kemudian, Fanya sudah rapi dengan baju yang dipinjamkan oleh Henny. Gina tampak kesal dengan perubahan penampilan Fanya. Keaal karena tak ada lagi bahan gunjingan untuk memperolok Fanya di depan teman desainer.
Rapat intern tim desainer dipimpin oleh Lusi. Sebenarnya Fanya tak harus ikut rapat. Namun karena Bu Syakira berhalangan, maka Fanya harus mencatat detail rapat untuk selanjutnya dilaporkan kepada Bu Syakira.
"Jangan harap lo selalu di atas angin. Nanti lo akan jatuh karena gaya lo yang norak. Mentang-mentang masuk sini via jalur orang dalem, lo bisa seenaknya gitu? Nggak akan!" ancam Gina pelan.
Kebetulan Fanya duduk di samping Gina. Jadi Gina punya kesempatan banyak untuk menjatuhkan Fanya. Sejak awal memang Gina tak suka dengan Fanya. Bukan karena Fanya dibawa langsung oleh Bu Syakira. Tetapi lebih kepada rasa iri karena Fanya lebih cantik dari dirinya. Selain itu, Gina tau bahwa Fanya adalah kekasih dari putra semata wayang Bu Syakira, Sakti.
__ADS_1
Menelisik lebih jauh, Gina adalah teman SMA Sakti dulu. Tapi hubungan keduanya hanya sebatas teman satu kelas yang tak dekat. Gina sangat mengidolakan Sakti sejak masa itu. Mengingat dulunya Sakti adalah primadona di sekolah itu. Tak terkecuali juga karena Sakti terkenal dengan ketampanannya.
"Maaf, aku akan lebih hati-hati lagi dalam bersikap. Terima kasih atas nasehatnya." ujar Fanya yang semakin menyulut emosi Gina.
Gina menatap Fanya dengan kesal. Sementara Fanya pura-pura tak melihat dan tetap mencatat presentasi yang disampaikan oleh Lusi.
"Gina!" panggil Lusi.
"Ah iya." jawab Gina kaget.
"Jika ada yang presentasi, tolong kamu simak dengan baik. Aku sih nggak minta kamu mencatat presentasi. Tapi tolonglah, kamu ubah sikap kamu itu. Coba kalo kamu yang presentasi, trus para audience cuekin kamu, bagaimana perasaanmu?" cecar Lusi.
"Tentu saja aku kesal." jawab Gina.
"Nah, makanya kalo ada yang presentasi, dengerin baik-baik. Kalo ada yang tidak berkenan, boleh kok kamu sharing pendapat kamu. Aku tak membatasi pendapat kalian kok. Selama itu demi kepentingan butik kita." kata Lusi.
"Baik. Maafkan aku Kak Lusi." kata Gina merasa bersalah.
"Lus, salah Fanya apa sih sebenarnya? Dia emang anak baru di sini. Pengalaman dan pemahaman dia mungkin tak lebih banyak dari kita. Tapi aku tau kok, justru dia lebih berinisiatif daripada kita. Dia anak yang baik. Meski kalian sering membully dia dengan kata-kata kasar dan menyakitkan, apa pernah dia mengadu pada Bu Syakira? Pernah nggak? Nggak kan? Dia lebih mentingin sosialisasi dengan kita daripada harus berjaya dengan menginjak kita. Sadar nggak kalian? Aku yakin kok, sekali aja Fanya mengadu akan ulah kalian, sudah pasti bukan hanya teguran yang kalian dapat. Pemecatan. Itu lebih realistis." penjelasan Henny.
"Kak Henny, tidak seperti itu. Aku hanya anak baru yang tak punya pengaruh apa-apa di sini. Bu Syakira pasti akan melihat sudut permasalahan secara adil. Tidak serta merta karena aku adalah kekasih putranya." kata Fanya.
"Oh jadi itu benar. Tapi aku hargai kejujuranmu. Ayo, kita fokus rapat lagi. Masalah pribadi biarlah tetap menjadi masalah pribadi. Jangan dicampuradukkan dengan masalah pekerjaan kita." tegas Lusi.
"Baik." serempak semuanya.
Menjelang makan siang, Fanya tak turut ikut makan bersama. Ia memilih memakan bekal roti lapis yang dibuatnya sendiri.
"Hei, kenapa nggak ikut rombongan Lusi? Hari ini kalian bebas memilih makanan yang kalian suka. Kenapa nggak ikut?" tanya Henny.
__ADS_1
"Lagi nggak mood, Kak. Fanya bukannya takut atau gimana-gimana yah. Tapi lebih nggak enak aja kalo kehadiran Fanya malah merusak pemandangan. Kehadiran Fanya tuh udah kayak beban gitu di mata mereka. Padahal aku juga bingung kesalahan apa yang udah aku lakuin. Oh iya, trus Kak Henny kenapa nggak ikutan?".
"Aku sedang dalam mode diet hari ini. Tapi aku udah nitip dibeliin salad sama Lusi. Uhm, kamu sabar aja yah. Mungkin ada aura positif yang luar biasa dalam diri kamu, sehingga mereka tak suka alias iri terhadapmu. Mungkin begitu. Tapi aku tak ada masalah apapun denganmu. Berceritalah padaku jika mereka sudah keterlaluan. Aku akan bersikap bijak dan membelamu." tegas Henny meyakinkan Fanya.
"Kak Henny tuh kayak malaikat. Baik banget sumpah!" puji Fanya.
"Akh kamu lebay. Aku bersikap sewajarnya aja kok. Kamu mau jus nggak? Aku tadi beli dua. Nih, aku bagi satu!" kata Henny seraya menyodorkan jus stroberry pada Fanya.
"Wah, Kak Henny baik banget...." seru Fanya girang.
"Kalian ini, kenapa masih di sini. Nggak ikut makan siang dengan yang lain?" tanya Bu Syakira yang tiba-tiba datang.
"Loh, Ibu datang?" tanya Fanya kaget.
"Iya. Aku mampir sebentar mau ambil berkas penting. Setelah ini mau pergi lagi. Oiya, nih aku bawa pizza. Dimakan yah!" ujar Bu Syakira.
"Terima kasih Bu." seru Fanya dan Henny serempak.
"Oiya, tolong jaga calon menantuku yah, Hen." bisik Bu Syakira pelan.
"Siap Bu." kata Henny.
"Aku sangat paham bagaimana Fanya diperlakukan tidak baik di sini. Tapi karena ada kamu, aku bisa menitipkannya denganmu."
"Iya Bu. Saya akan menjaganya."
"Saya baik-baik aja Bu. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan." ujar Fanya.
"Baguslah kalo begitu. Yasudah cepet dimakan pizzanya. Aku mau pergi lagi."
__ADS_1
"Hati-hati ya Bu!" seru Henny yang hanya dibalas senyuman oleh Bu Syakira.