Cinta Gadis Malam

Cinta Gadis Malam
Lajur Gengsi


__ADS_3

Ditengah kecanggungan Marina yang belum menyiapkan makanan apapun, Sakti pun angkat bicara.


"Kalau Om dan Tante tidak keberatan, bagaimana kalo kita semua makan di restoran langganan saya? Kebetulan saya sudah reservasi tempat." ujar Sakti.


"Uhm, ide bagus anak muda!" seru Pak Ilyas.


"Yaudah, aku ganti pakaian dulu yah!" kata Marina.


Marina yang akan melangkah ke kamarnya, ditahan oleh Satya.


"Tak perlu ganti baju. Cukup pakai jaketmu saja. Oke?" saran Satya dan diangguki Marina.


Marina bergegas ke kamarnya untuk mengambil jaket dan tasnya.


"Saya dan istri saya menunggu di luar ya Om." ucap Sakti sambil menggandeng mesra Fanya.


"Oke. Dan kamu Satya, ikut di mobil kami aja yah!" tawar Pak Ilyas.


"Baik Tuan." kata Satya.


"Panggilannya bisa dirubah tidak? Panggil Papa aja seperti Mari memanggilku." kata Pak Ilyas.


Sakti senang melihat keakraban Satya dan calon mertuanya. Ia menarik Fanya ke dalam pelukannya. Lalu menunggu di dalam mobilnya.


"Akting mesramu bagus sekali!" kata Fanya ketus.


"Sayang, aku bukan akting. Memang sesayang itu aku padamu. Jangankan selingkuh seperti yang kamu pikirkan, memuji kecantikan wanita lain pun tak pernah ku lakukan selain untukmu. Tak masalah jika kamu masih kesal padaku. Aku pun juga kesal pada diriku sendiri. Kenapa harus membuat masalah, dimana kesalahpahaman ini terjadi." penjelasan Sakti.


"Bodo amat ah! Aku sudah pusing dari semalam. Terlebih hari ini juga harus berakting mesra lagi denganmu. Aku muak menahan kekesalan ini. Aku ingin lari saja!" keluh Fanya.


"Jangan! Lebih baik kamu maki aku setiap hari daripada kamu pergi menjauh dariku. Aku lebih sengsara jika hidup tanpamu." kata Sakti.


Sakti mendekati Fanya. Fanya yang menyadarinya, mencoba menjauhkan diri dengan bergeser ke arah pintu. Tubuh mereka berdekatan. Fanya bisa menghirup nafas segar Sakti. Tapi meski menahana kesal, ia tetap saja gugup jika berdekatan dengan Sakti.


Dari arah samping, Pak Ilyas dan Bu Arin sudah berada di lobby. Mereka bisa melihat apa yang dilakukan Sakti. Fanya segera berpikir cepat, mengambil inisiatif agar terlihat baik-baik saja. Ia segera memeluk Sakti begitu erat. Lengkap dengan tepukan di punggung Sakti. Ia ingin orang lain, tepatnya orabg yang ia segani, melihatnya akur bersama pasangannya.

__ADS_1


"Kamu sudah memaafkanku, kan? Tidak marah lagi padaku, kan?" tanya Sakti.


"Siapa bilang? Aku masih padamu. Bahkan lebih marah lagi sekarang. Aku hanya pura-pura saja di depan orang tuan Marina. Untuk perbuatanmu itu, disengaja atau tidak, aku masih marah!" bisik Fanya.


Fanya pun melepaskan pelukannya. Ia mendorong Satya pelan.


"Kok udahan?" tanya Sakti.


"Tuan Sakti yang terhormat, tidakkah Anda melihat kedua orang tua Marina di sebelah sana? Mereka melihat kita. Jadi, yang tadi hanya pura-pura yah. Biarpun lelah, akan tetap ku lakukan!" bisik Fanya.


Sakti keluar dari mobilnya. Berjalan mendekati Pak Ilyas dan Bu Arin.


"Maaf Om dan Tante. Kalo boleh saya tau, apakah kalian berdua pernah di posisi sedang bertengkar tapi karena suatu keadaan mengharuskan kalian untuk tetap terlihat mesra?" tanya Sakti tiba-tiba.


Bu Arin yang tadinya bingung, kemudian tersenyum.


"Sudah sering terjadi pada kami. Terlebih zaman masih belum punya anak. Hampir setiap hari kejadian. Itu dulu banget ya pastinya. Dimana ego kami masih sama-sama tinggi. Kalian sedang dalam mode bertengkar toh?" tanya Bu Arin


Sakti hanya mengangguk. Ia sebenarnya malu bercerita, tapi ia juga butuh solusi cepat agar bisa berbaikan dengan Fanya.


Sakti sedikit terbantu oleh penjelasan dari Pak Ilyas.


"Terima kasih Om atas sarannya yang sangat membantu saya." ujar Sakti.


"Sama-sama ya. Ayo kita ke restoran!" ajak Pak Ilyas.


"Iya Om. Tapi Satya dan Marina belum keluar juga?" tanya Sakti.


"Mereka ini ngapain sih? Mama juga pernah muda, tapi nggak gini juga di depan orang tua. Mari....!!!" teriak Bu Arin.


Sepersekian detik akhirnya Marina disusul Satya keluar ke teras rumah. Mereka tampak ngos-ngosan.


"Kalian ngapain sih lama banget?" tanya Bu Arin.


"Tadi nyari barang, Ma. Tapi nggak ketemu." jawab Marina ngasal.

__ADS_1


Lalu pandangan mata Bu Arin tertuju pada leher Satya. Dimana terdapat bekas lipstik.


"Itu tadi abis ngelukis yah, Mari? Kasih tandanya nggak kreatif. Kenapa harus keliatan juga." sindir Bu Arin.


Sementara yang lain belum paham maksud Bu Arin.


"Ngomong apa sih, Ma?" tanya Pak Ilyas bingung.


Bu Arin berbisik pada suaminya. Sontak pak Ilyas menjewer kuping Marina.


"Kamu nakal yah!" tegur Pak Ilyas.


"Ampun Pa. Tapi apa kesalahan Mari?" tanya Marina.


"Kamu agresif banget. Itu kesalahanmu! Liat apa yang kamu lakukan? Kenapa itu leher Satya jadi bercak lipstik begitu? Kamu sengaja nandain yah? Sabar dikit bisa ya. Nanti Papa akan nikahkan kalian! Mohon bersabar sedikit." kata Pak Ilyas.


"Maaf Pa, sepertinya Satya juga salah. Entah siapa yang duluan, tapi kami sama-sama salah. Mohon ampun!" pengakuan Satya.


"Sudah. Ayo kita ke mobil. Kami sudah lapar. Dan ingat, jika sudah menikah, kalian harus lebih agresif dari ini!" ancam Pak Ilyas.


"Hah?" Marina tampak bingung.


"Supaya kami cepat punya cucu." bisik Bu Arin pada Marina, tapi Satya juga mendengarnya.


Sakti menuju ke mobilnya. Ia memberikan senyuman manis pada Fanya. Fanya sempat salah tingkah dibuatnya. Tapi karena masih mode marah, ia mencoba bersikap cuek.


"Tolong pakai seat belt yah!" kata Sakti.


Fanya segera memakai seat belt sesuai perintah Sakti. Perhatiannya fokus ke depan, agar tak terpana dengan ketampanan suaminya. Saat mobil dilajukan pun, Fanya hanya melihat jalanan. Meski hatinya tentu saja ingin sekali menatap suaminya.


"Sayang, tak peduli betapa kamu marah padaku, aku akan selalu ada di sampingmu. Uhm, boleh yah aku pegang tanganmu."


Lalu Sakti memegang tangan Fanya. Tak ada penolakan meski Fanya hanya fokus menatap jalan.


"Apa yang bagus sih dari jalanan ini? Padahal nggak ada indah-indahnya. Tapi kenapa istriku lebih suka menatap jalanan yang gersang ini yah daripada aku yang notabene suaminya? Aku belum nemu jawabnya." keluh Sakti sambil mengelus tangan Fanya yang berada dalam genggaman tangan kirinya.

__ADS_1


Dalam hati Fanya ingin tertawa, tapi masih gengsi. Jadi pura-pura tak mendengar alias cuek.


__ADS_2