
Sudah dua hari Fanya dirawat, tapi belum ada tanda-tanda siuman. Hal ini membuat panik Sakti dan Mamanya.
"Apa kata dokter?" tanya Bu Syakira begitu datang untuk membesuk Fanya.
"Jawabannya hanya menyuruh Sakti bersabar. Tak ada sesuatu yang membahayakan. Hanya butuh waktu ia bisa kembali sadarkan diri. Sakti juga bingung harus berbuat apa, Ma. Pikiran Sakti kacau balau. Fanya sangat berarti bagi Sakti." jawab Sakti sedih.
Bu Syakira langsung memeluk putra kesayangannya. Sesekali mengecup pucuk rambut Sakti.
"Mama juga sangat khawatir dengan menantu kesayangan Mama, putri tercinta Mama. Tapi bagaimanapun juga, kita harus sabar menunggu. Semua butuh proses. Mama yakin, Fanya mendengar semua pembicaraan kita. Dia perlu waktu untuk kembali sadarkan diri. Kamu yang semangat yah Sayang." ujar Bu Syakira menyemangati Sakti.
"Iya Ma. Terima kasih ya Ma." kata Sakti.
"Urusan kantor sudah di-handle sama Satya kan?"
"Itu sudah pasti, Ma. Hanya dia yang Sakti percaya. Tadi juga dia sudah ke sini membawa dokumen untuk Sakti tanda tangani. Mau tidak mau, Sakti harus merepotkan dia." kata Sakti.
"Kamu makan dulu yah. Tadi Mama udah bikinin kamu makan siang. Dimakan yah! Jangan sampai kamu ikut-ikutan sakit. Nanti siapa yang akan jagain Fanya kalo bukan kamu?" nasihat Bu Syakira.
"Iya Mama. Nanti Sakti makan. Mama mau kembali ke butik?"
"Iya, Mama nggak bisa berlama-lama di sini. Sejam lagi Mama ada janji temu dengan klien di butik. Maaf ya Sayang, Mama nggak bisa batalin janji itu. Tapi Mama janji, nanti malam Mama ke sini lagi. Gantian jagain Fanya sama kamu. Gapapa kan?"
"Iya Mama. Terserah Mama aja. Sakti nggak maksa Mama."
"Oiya, apa tersangka penusukan sudah berhasil ditangkap?" tanya Bu Syakira.
"Sudah Ma. Sedang dalam proses pemeriksaan. Sakti belum tau pasti statusnya masih terdakwa atau sudah ditetapkan sebagai tersangka. Sakti belum memikirkan apa yang akan Sakti lakukan untuk membalas perbuatan orang itu. Tapi Sakti hanya meminta kesembuhan Fanya." jawab Sakti.
"Semoga segera muncul titik terang. Yasudah, Mama kembali ke butik lagi yah. Kabari Mama jika Fanya menunjukkan tanda-tanda siuman. Mama sangat menantikan itu." ujar Bu Syakira.
__ADS_1
Sepeninggal Bu Syakira, Sakti kembali merenung. Menatap wajah Fanya tanpa kata. Hanya diam, tapi hatinya tak henti-hentinya berdoa untuk kesembuhan Fanya.
Lalu datanglah Clara bersama Robi. Clara membawa parsel buah beserta sekotak kue manis kesukaan Fanya.
"Mas Sakti, bagaimana keadaan Fanya?" tanya Clara dengan muka sedihnya.
"Seperti yang kamu lihat, dia masih belum sadarkan diri. Padahal sudah dua hari sejak peristiwa naas itu terjadi. Kata dokter, tak ada sesuatu yang membahayakan. Tapi entahlah, dia belum menunjukkan tanda-tanda siuman." jawab Sakti.
"Yang sabar ya Mas. Semoga istri Mas segera pulih dan sehat seperti sedia kala." ujar Robi berempati.
"Iya terima kasih, kalian sudah repot-repot datang ke sini. Padahal ini masih dalam waktu honeymoon kalian." kata Sakti.
"Gapapa Mas. Kami bahkan sudah sering honeymoon sebelum menikah. Eh maksudnya travelling bareng teman-teman. Kan sama aja itu. Lagi pula, Fanya bagiku adalah teman seperjuangan. Kami dulu sering berbagi suka dan duka dalam berbagai kesempatan. Bahkan berkat nasihat dialah, akhirnya Mas Robi mau menikahiku. Padahal Mas Sakti pasti tau kalo Mas Robi sudah punya pacar bernama Dila. Ya kan?"
"Soal itu, maaf yah aku nggak sengaja menyelidiki orang-orang di sekitaran Fanya. Aku harus memastikan bahwa Fanya berada di tengah-tengah orang yang aman." kata Sakti.
"Justru karena itulah, akhirnya semua terungkap. Meski awalnya aku hanya pemeran figuran, akhirnya aku menjadi pemeran utama." ucap Clara.
"Fanya, cepat sembuh ya! Aku Clara. Kamu harus segera pulih dan kita bisa hangout lagi. Meski sudah menikah, aku pun akan bebas sepertimu. Ada waktu sedikit untuk berkumpul dengan sahabat. Karena suamiku ini, tidak mengekangku. Makanya kamu segera sembuh ya. Aku menanti kembalinya dirimu yang ceria dan semangat." kata Clara.
"Mas Sakti mau dibelikan apa? Pasti belum makan siang kan?" tanya Robi.
"Ah, nggak perlu. Belum lama tadi Mamaku sudah membawakanku bekal makan siang." jawab Sakti.
"Oh baiklah." ujar Robi.
"Kira-kira apa motif si pelaku penusukan itu? Kenapa harus Fanya yang jadi korban? Fanya kan bukan tipe orang pencari masalah. Justru dia banyak menyelesaikan masalah." kata Clara.
"Belum diumumkan apa motifnya. Yah apapun hasilnya, semoga dia menerima balasan atas perbuatannya." ujar Sakti.
__ADS_1
"Semoga saja. Tapi maaf ya Mas Sakti, kami harus segera pulang. Hari ini ada saudara jauh yang datang. Jadi kami harus menyambut mereka." ujar Clara.
"Iya tak apa. Terima kasih yah atas kedatangannya. Fanya pasti bahagia sudah dijenguk oleh kalian." kata Sakti mengurai senyum.
"Mas, kami permisi yah." ucap Robi yang diangguki Sakti.
Sakti kembali sendirian, menjaga Fanya yang masih menutup mata.
"Kamu lihat kan? Barusan sahabatmu menjengukmu. Katanya kamu harus segera sembuh." kata Sakti pelan.
Tak ada tanggapan dan jawaban. Fanya masih terbujur kaku di ranjangnya.
"Aku sangat menyayangimu." ujar Sakti.
Tiba-tiba ada pesan dari Satya. Bahwa salah satu unit usaha perusahaannya, mengalami keuntungan finansial yang lumayan besar. Sakti hanya bisa menarik nafas lega. Sebenarnya ia senang. Tapi sayangnya ia tak bisa bersuka ria dan berbahagia. Beban berat menunggu kesembuhan Fanya menjadi faktor penghalang dirinya bahagia.
"Seharusnya aku bahagia dengan kemajuan bisnis yang ku jalankan sekarang. Tapi rasanya hambar juga jika istri tercintaku malah sakit disaat seperti ini. Hah, aku bingung menghadapi situasi seperti ini. Paling tidak Satya sudah melakukan amanah yang aku berikan." ujar Sakti.
Sakti menggenggam tangan Fanya lagi. Ia mengecup kening Fanya yang pucat sebab kurang nutrisi dan hanya bergantung pada cairan infus.
"Sayang, cepat sembuh ya. Kembalilah ke duniaku lagi. Aku hampa tanpa ada suara indahmu. Marahpun, aku terima jika yang aku dengar adalah suaramu. Tak masalah. Dengan senang hati, aku akan menerima segala keluh kesahmu. Aku janji akan memenuhi permintaanmu. Termasuk saat kamu ingin pergi healing tanpa aku. Aku akan menurutimu jika itu syaratmu untuk bahagia." kata Sakti.
Sakti membuka galeri ponselnya. Dilihatnya beragam pose foto cantik Fanya bersama dirinya.
"Di foto-foto ini, kamu terlihat bahagia Sayangku. Aku ingin kamu selalu seperti ini, sebahagia ini, bagaimanapun caranya." kata Sakti.
Sakti mengecup pipi kanan dan kiri Fanya dengan lembut.
"Bangunlah, aku akan menciummu kapanpun kamu mau. Pagi, siang, sore, ataupin malam, aku bebas menjadi tempat bermainmu." kata Sakti.
__ADS_1
Sakti tak sadar apa yang sudah diucapkannya.