
Seperti biasa, Fanya pulang kerja sendiri. Ia menyusuri jalanan yang sepi. Memang tak biasa begini. Sebelumnya ia sudah mencoba berkali-kali memesan ojek online, tapi tak urung ada yang pick up. Jadilah ia berjalan untuk sampai ke halte bus terdekat.
Sebenarnya ia bisa meminta bantuan Sakti. Sudah pasti Sakti akan mengirimkan bantuan. Entah Sakti sendiri yang akan menjemput, atau menyuruh anak buahnya yang lain. Tentu saja Fanya tak mau mengambil alternatif itu. Ia memilih berusaha sendiri dulu.
Saat ia berjalan di trotoar yang sepi, Fanya merasa ada yang mengikuti. Tapi saat ia berbalik, tak ada siapapun di sana. Fanya bergidik ngeri. Lalu ia segera berlari untuk segera sampai ke halte bus. Setidaknya di sana mungkin akan lebih ramai dan aman. Semoga.
Fanya terus berlari. Bahkan ia sengaja menenteng sepatu heels nya agar bisa lari dengan aman.
'Yah, sedikit lagi!' batin Fanya.
Tapi sayangnya perjalanan Fanya tak semulus yang diharapkan. Tiba-tiba tangannya dicekal oleh dua orang pria bertubuh besar.
"Hah, siapa kalian? Kenapa melakukan ini padaku?" tanya Fanya yang sebenarnya ketakutan, tapi berusaha berani.
"Diam!" bentak salah satu pria itu.
Fanya mencoba memberontak, tapi sia-sia saja. Tenaganya tak kalah kuat dari dua pria itu. Bersamaan dengan itu, sebuah mobil mewah berhenti di dekat mereka. Otomatis perhatian Fanya beralih menatap siapa pemilik mobil itu.
Seorang wanita keluar dari mobil mewah itu dengan gaya yang elegan.
'Siapa dia?' gumam Fanya.
Wanita itu mendekati Fanya. Mengamati Fanya dengan seksama.
"Benar dia orangnya?" tanya wanita itu pada kedua pria itu.
"Benar." jawab mereka serempak.
__ADS_1
"Oh, jadi kamu yang membuat suamiku berpaling dariku. Sebenarnya, aku tak masalah jika suamiku bermain-main denganmu atau yang lainnya. Yang membuatku kesal adalah dia sampai tega akan menceraikan aku. Bagaimana bisa seorang Casandra Dewania akan menyandang status janda? Bagaimana tanggapanmu?".
"Maaf, tapi kamu siapa ya? Aku nggak ngerasa kenal kamu bahkan suamimu." jawab Fanya bingung.
"Kamu kan LC yang bekerja di Hervina kan?" tanya wanita itu dengan mata melototnya.
'Jangan-jangan yang dimaksud dia adalah Gina.' batin Fanya.
"Ayo jawab, jangan diam saja! Kamu mau aku bayar berapa biar angkat kaki dari kota ini." seru wanita bernama Casandra itu.
"Maaf, tapi maksudmu apa ya? Aku bekerja sebagai LC? Nggak masuk akal. Aku lebih baik nyanyi di cafe daripada harus jadi LC. Meski nggak semuanya LC membuka jasa plus-plus. Tapi mungkin kamu salah orang. Aku hanya karyawan yang bekerja di sebuah butik. Hanya itu pekerjaanku saat ini. Lalu buat apa aku menggoda suamimu? Bahkan aku pun punya pacar yang ganteng dan kaya. Kamu kenal Sakti Dirgantara. Dialah pacarku. Masa iya aku godain suami orang. Pacarku saja lebih menggoda kok!" ujar Fanya mencoba mengunggulkan Sakti.
"Sakti Dirgantara? Iya, aku kenal dengannya. Dia salah satu kolega suamiku. Tapi kamu jangan ngaku-ngaku pacarnya dong. Kasian si Sakti jatuhnya. Kamu ngaku aja deh!"
"Benar, aku Fanya Asmara. Tidak akan menggoda milik yang lain, karena itu bukan hakku. Jika kamu menuduh orang sembarangan, aku bisa menuntutmu. Tolong kalian lepaskan aku! Lalu, apa perlu aku panggil Saktiku agar kalian percaya bahwa kalian salah sasaran?" seru Fanya.
Sesaat kemudian, salah satu pria itu merebut tas Fanya. Mencari dompet Fanya dan menemukan identitas berupa KTP di sana.
"Namanya Fanya Asmara. Bukan Gina Pramesti, Boss."
"Kan, aku bukan orang itu. Kalian harus minta MAAF padaku!" kata Fanya menekankan kata maaf.
"Oke, maaf deh kalo gitu. Yaudah bye!" kata Casandra tanpa basa-basi.
"Astaga, kamu orang bukan sih? Udah bikin orang lain hampir celaka, seenaknya pergi begitu aja!" seru Fanya kesal.
"Kasih dia amplop!" perintah Casandra pada bodyguard-nya.
__ADS_1
Casandra sudah menaiki mobilnya. Hanya menatap Fanya dari balik kaca jendela mobil berwarna gelap.
Salah satu bodyguard Casandra menyerahkan sebuah amplop tebal yang berisi uang kepada Fanya.
"Ini sebagai permintaan maaf Boss kami. Permisi!" kata bodyguard tersebut dan segera pergi meninggalkan Fanya.
Di pinggir jalan sepi yang hanya tersorot remang-remang cahaya lampu jalanan, Fanya mematung memandangi amplop itu.
"Ini apa? Uang? Kok tebel banget. Nggak salah itu orang? Ah bodo amat! Lumayan kalo beneran ini duit asli. Buat bayar kostan. Buat makan enak. Buat belanja bulanan. Eh, tapi gimana nasib Gina? Tadi tuh nama yang disebut Gina Pramesti. Itu kan nama Gina teman kerjaan di butik? Gimana ya? Argghh, semoga aja bukan! Kenapa sih masih mikirin manusia itu. Dia aja bencinya setengah mati sama aku. Udah ah, aku pulang aja. Mau istirahat. Lembur tiga jam aja udah bikin badan sakit semua. Pulang....!" ujar Fanya berbicara sendiri.
***
Sementara di tempat lain, Sakti tengah menyesap kopi hitamnya di balkon kamarnya. Ia tengah melamunkan hubungannya dengan Fanya yang sudah banyak kemajuan.
"Hubungan cintaku dengan Fanya, ibarat kopi hitam ini. Meski berwujud minuman, tapi warnanya hitam, gelap, dan seperti bayangan yang tak nyata. Meski bisa dinikmati, tapi rasanya masih pahit, belum bisa merasakan manis. Meski kadang menghangat, tapi seiring waktu, akan dingin juga." Sakti menyesap lagi kopinya.
"Aku ingin segera memilikinya. Merapatkan tubuhnya dalam pelukanku. Bisa memeluk dan menciumnya kapanpun yang ku mau. Apa kira-kira dia akan menerima lamaranku yah jika suatu saat aku telah bersiap menjadikannya istri? Aku ingin secepatnya. Malam ini pun juga boleh. Tapi masalahnya, apa dia mau? Takutnya dikata baru juga pacaran. Suka galau kalo udah libatin hati. Padahal nggak begini susahnya jika menyangkut pekerjaan." kata Sakti.
Sakti mendapat laporan dari anak buahnya mengenai Fanya yang hampir dilukai anak buah Casandra. Lalu buru-buru Sakti menghubungi anak buahnya itu.
"Apa yang terjadi? Bagaimana Fanyaku?" tanya Sakti panik.
"Sebenarnya Casandra dan anak buahnya salah sasaran, Boss. Target mereka adalah Gina, yang tak lain teman kerja Nona Fanya. Casandra sendiri sudah meminta maaf pada Nona Fanya. Saya lihat Nona Fanya juga diberikan kompensasi oleh Casandra. Saya pastikan Nona Fanya aman sampai kostannya. Maaf Boss, kami hanya memantau dari jauh. Karena kami akan meluncur ke TKP jika keadaan mendesak. Sejauh yang kami amati tadi, Nona Fanya masih dalam situasi aman." suara salah satu anak buah Sakti.
"Baiklah. Selalu pantau Fanyaku. Pastikan kalian tak diketahui oleh Fanya. Aku hanya ingin Fanya aman saja, tanpa dia tau ada yang mengawalnya. Kalian mengerti?" ujar Sakti.
"Mengerti Boss."
__ADS_1
Sakti menutup sambungan telponnya. Sesaat kemudian, ada notifikasi pesan dari Fanya. Mengabarkan bahwa Fanya sudah sampai kostan. Sudah mandi dan akan menikmati tidur malamnya. Sakti hanya tersenyum membaca pesan demi pesan yang dikirimkan Fanya. Bagi Sakti, sudah tau bahwa Fanya aman adalah ketenangan tersendiri. Biarlah nanti Fanya yang akan bercerita sendiri padanya. Ia akan pura-pura tak tau, meski sudah tau.