
Fanya menatap suaminya yang fokus menyetir. Ia merasa bahwa suaminya sedang ada masalah yang dipikirkan. Entah itu apa, ia pun tak tau. Ia hanya menerka tanpa bisa bertanya langsung. Ia takut mengacaukan suasana kencan mereka.
"Kita makan dulu yah!" kata Sakti membuka percakapan.
"Iya boleh aja. Aku ngikut Mas Sakti aja." ujar Fanya.
"Trus kalo aku mau telanjang, kamu mau ikut telanjang juga?" tanya Sakti dengan muka serius.
"Sekarang Mas? Nggak bisa nanti-nanti aja?" kata Fanya balik tanya.
"Hahahahahahhaaaa...." tawa Sakti terpecah.
"Mas Sakti kok malah ketawa. Ih kesel deh!" kelih Fanya.
Fanya membuang muka ke arah luar mobil. Sementara Sakti masih tertawa menggoda Fanya. Ia suka menggoda istrinya dengan cara seperti itu.
"Kamu ada request apa yang kamu makan nggak?" tanya Sakti.
"Enggak ada. Aku lagi nggak bisa mikir menu. Kalo enak ya aku mau, gitu aja." jawab Fanya tanpa menatap Sakti.
"Eh udah dong. Aku kan cuma bercanda. Nanti cantiknya ilang loh kalo ngambek gitu." goda Sakti.
"Biarin aja. Nggak cantik juga udah biasa. Dari dulu juga udah nggak cantik." ujar Fanya tambah kesal.
"Eh siapa bilang?" tanya Sakti.
Mendadak Sakti menepikan mobilnya di bahu jalan. Fanya bingung tapi segan untuk bertanya.
"Siapa yang bilang kamu nggak cantik?" tanya Sakti, dengan jarak yang dekat dengan Fanya.
Fanya mencoba menghindar, tapi Sakti semakin mendekatinya.
"Kenapa sih Mas? Sana deh, sana..." sergah Fanya.
Namun Sakti semakin mendekat dan Fanya merasa terpojok dan memejamkan matanya.
"Hentikan Mas!" rengek Fanya.
Sakti pun memeluk Fanya. Kaget, Fanya akhirnya membuka matanya. Bingung dengan apa yang dilakukan oleh Sakti
"Kamu kenapa sih? Selalu saja membuatku cemas." ujar Sakti sembari mengelus rambut Fanya yang tergerai lurus.
"Padahal aku yang cemas. Memikirkan Mas Sakti yang pasti sedang ada masalah atau marah padaku. Aku takut sudah berbuat salah pada Mas, tapi aku pun tak tau apa yang sudah ku lakukan. Maafin aku ya Mas, aku selalu membuatmu cemas." ucap Fanya.
Saling melepaskan pelukannya. Menatap wajah cantik Fanya yang berubah jadi sendu. Lalu kembali memeluknya. Lebih erat dari sebelumnya.
__ADS_1
"Aku nggak marah padamu. Aku hanya kesal. Ternyata di sekitarmu banyak duri yang harus ku singkirkan." kata Sakti.
Fanya melepas paksa pelukan Sakti. Kali ini ia dibuat bingung dengan pernyataan Sakti.
"Duri apa Mas?" tanya Fanya.
"Gimana yah jelasinnya..." Sakti menatap Fanya.
"Mas... Maksudmu apa? Aku tak mengerti. Tolong jelasin lebih detail." pinta Fanya.
"Aku hanya perlu meyakinkan diriku saja jika kamu adalah milikku dan selamanya jadi milikku!" ujar Sakti.
"Aku kan sudah jadi milikmu, Mas. Jiwaku, ragaku, tubuhku, semuanya milikmu. Apa lagi yang kamu cemaskan?" tanya Fanya.
"Iya sih. Kita kan udah nikah. Yaudah ayo kita cari makan enak dulu. Buat senang-senang pun, juga butuh asupan energi dari makanan. Jadi, ayo kita cari makan!" seru Sakti mencairkan suasana.
"Baiklah. Aku juga sudah mulai lapar." ujar Fanya.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Selama perjalanan, Sakti memutar lagu cinta yang mengingatkan kembali perjuangan cinta mereka. Lebih tepatnya perjuangan Sakti mendapatkan cinta Fanya.
Sekitar lima belas menit kemudian, mereka telah sampai di sebuah restoran cepat saji. Fanya bersiap memilih menu yang akan dipesan.
"Gapapa hanya makan di sini?" bisik Sakti.
"Gapapa Sayang. Yang penting bisa buat perut kenyang dan pastinya ditemani kesayangan. Lebih dari cukup!" ujar Fanya, kemudian melanjutkan memilih menu.
"Ehm, aku mau menu paket 1 dan 2, trus ditambah ini, ini, dan ini." jawab Fanya dengan menunjuk gambar pilihan menu.
Petugas kasir menginput pesanan Fanya dan menghitung total pesanan.
"Ada lagi tambahan, Kak?" tanya kasir lagi.
"Oiya, tambah minuman ini dan ini ya!" jawab Fanya antusias.
"Baik. Jadi totalnya dua ratus tujuh puluh empat ribu rupiah." kata kasir.
"Ini Mbak!" kata Sakti sembari menyodorkan kartu ATM nya.
Setelah transaksi selesai, Fanya dan Sakti mencari tempat duduk yang kosong. Karena nantinya pesanan akan diantar oleh waiter atau waitress.
"Harus bersabar lagi untuk menunggu pesanan datang. Apakah perutmu masih sanggup menahannya?" tanya Sakti.
"Masih bisa. Nggak masalah. Ini hanya sekedar waktu. Mas nggak masalah sama menu yang aku pesan kan?"
"Gapapa. It's OK!. Kamu pasti udah menyesuaikan dengan seleraku."
__ADS_1
Tiba-tiba Sakti tersenyum melihat tingkah lucu seorang balita yang bermain di arena bermain. Famya menyadarinya.
"Andai kita bisa segera punya anak ya Mas. Pasti hari-hari kita lebih berwarna." kata Fanya sendu meratapi nasibnya.
"Mungkin kita belum pantas diberi amanah sebesar itu. Sabar aja, kalo sudah waktunya ya pasti kita juga punya anak yang lucu. Sabar aja...!" kata Sakti mencoba menenangkan Fanya.
Diakui Sakti, dirinya juga berharap akan secepatnya punya anak dari rahim istrinya. Namun sayang, takdir memang masih belum berpihak dan belum saatnya
"Aku serasa menjadi wanita gagal jika ini terus berlanjut." lirih Fanya.
Pesanan pun datang dan hilanglah kesedihan Fanya. Ia seakan lupa dengan apa yang terjadi.
"Selamat makan!" seru Fanya yang mulai menyuapi makanan ke mulutnya sendiri.
"Selamat makan." balas Sakti sambil tersenyum.
Suasana makan menjadi tenang. Fanya dan Sakti hanya fokus pada makanan yang dipesannya.
"Mau tambah lagi nggak?" tawar Sakti.
Fanya hanya menggeleng, mulutnya masih penuh dengan makanan.
"Yasudah. Teruskan makannya. Nanti kalo mau lagi, pesan aja yah!" kata Sakti.
Fanya hanya mengangguk dan menyelesaikan makannya. Ia begitu menikmati makanan di piringnya.
"Aku pesankan menu ini lagi yah! Sepertinya kamu sangat menikmatinya." ujar Sakti dan berdiri dari duduknya.
Fanya menahan Sakti yang hendak menuju ke tempat order sekaligus kasir.
"Sudah Mas. Ini aku sudah kenyang. Aku hanya sayang aja jika tak menghabiskan makananku." ucap Fanya.
"Aku kira kamu mau lagi. Apa perlu aku bungkus?" tawar Sakti.
"Tidak Mas. Lebih baik aku pesan lagi secara online pas lagi pingin. Ini udah cukup kok, Mas. Makasih banget ya Mas." kata Fanya.
Secara tak sengaja, pandangan mata Fanya menemukan sosok Jayden yang juga menatapnya dari jauh.
'Kenapa dia lagi sih?' batin Fanya.
"Ada apa? Kok tiba-tiba jadi murung?" tanya Sakti.
"Kenapa kita harus bertemu dengan manusia macam manusia itu."
"Dia kan sedang bersama Sonia. Sudah dijaga pawangnya.
__ADS_1
"Uhm, aku rada males aja kalo ketemu dia."
"Udah, lanjutin makan saja. Jika dia berani ke sini, aku akan menghalau dan menghajarnya. Kamu tenang aja yah!" seru Sakti.