
Profesi baru yang dijalani Fanya adalah menjadi seorang pengangguran. Entahlah, apakah pengangguran bisa dikategorikan sebagai profesi atau bukan. Meski begitu, aktivitas yang dijalani oleh Fanya menjadi lebih banyak dari sebelumnya.
Mengawali hari dengan menyiapkan sarapan untuk berdua, menemani Sakti ke kantornya sampai pulang, dan begitulah seterusnya. Kadang jika Sakti ada urusan meeting di luar kantor, Fanya juga ikut menemani. Sudah seperti seorang sekretaris yang mengikuti bossnya.
Fanya menyusun berkas yang sudah Sakti tanda tangani. Ia memilah sesuai kategori agar terlihat rapi dan mudah untuk pengarsipan nanti. Fanya terlihat senang bisa melakukan pekerjaan itu meski statusnya bukan pekerka kantor.
"Kamu udah cocok jadi sekretarisku. Bahkan si Amel saja tak sepandai dan secekatan dirimu. Lihat, pekerjaanku jadi terlihat mudah dan rapi karenamu!" puji Sakti.
"Jangan memujiku begitu. Aku melakukan ini karena aku tak tau mau ngapain lagi. Melakukan ini itu untuk membantumu, bagiku sangat menyenangkan." ujar Fanya.
"Aku juga senang bisa selalu bersamamu. Mungkin bagi orang lain, kesannya aku posesif banget. Sampai-sampai istri harus selalu diajak ke kantor. Tapi inilah caraku agar selalu dekat denganmu." kata Sakti.
Fanya mendekati Sakti yang duduk di kursi kebesarannya. Tanpa malu, Fanya duduk di pangkuan Sakti. Ia menghadap ke arah Sakti. Mata mereka bertemu. Keduanya saling melempar senyum.
"Senyumanmu manis." kata Sakti.
Fanya langsung mengecup bibir Sakti. Sakti pun langsung membalasnya dengan memberikan ciuman. Fanya pun sama. Mereka hanyut dalam ciuman panas itu.
Dari luar pintu diketuk. Tapi karena tak ada yang menyahut, akhirnya pintu dibuka begitu saja. Muncullah Satya dengan membawa berkas di tangannya. Ia berniat keluar dan menutup pintu itu lagi. Tapi keburu dicegah oleh Sakti.
"Ada apa?" tanya Sakti yang sudah mengakhiri ciumannya.
"Anu Tuan, saya mau menyerahkan dokumen ini. Barangkali Tuan Sakti mau menambahkan pasal perjanjian atau mengoreksi tulisan saya." jawab Satya.
"Kemarikan berkasnya! Lalu jangan asal masuk jika aku sedang di dalam! Karena kejadian yang seperti kamu lihat barusan, itulah aktivitas rutinku. Aku tak ingin kamu melihatnya." kata Sakti.
"Maaf Tuan, tadi sudah berkali-kali saya ketuk. Tapi tak ada yang menyahut, jadi saya putuskan masuk saja. Saya hanya ingin menaruh dokumen ini saja dan pergi. Sekali lagi, saya mohon maaf sudah menganggu aktivitas rutin Tuan dan Nona." ujar Satya mengaku salah.
"Tidak, bukan salahmu. Ini salah kami yang tak mendengar pintu diketuk. Sini berkasnya! Lalu, aku boleh minta tolong sesuatu?" tanya Fanya.
"Boleh Nona." jawab Satya.
Fanya berdiri dari pangkuan Sakti. Ia berjalan mendekati Satya.
"Oh iya, sebelumnya aku mau bertanya. Apa jadwal Tuan Sakti hari ini?" tanya Fanya.
"Ada pertemuan dengan klien setelah makan siang. Lokasi pertemuan di ruang rapat kantor kita. Selain itu, belum ada jadwal penting lagi. Ada yang bisa saya bantu, Nona Fanya?"
"Sebenarnya aku mau minta tolong. Aku minta dianterin kamu nanti siang. Karena Mas Sakti rapat, jadi kamu anterin aku belanja. Bisa?"
"Tunggu dulu!" cegah Sakti.
"Kenapa?" tanya Fanya.
__ADS_1
"Kenapa harus minta dianterin Satya? Kan ada aku. Kamu nih sengaja bikin aku cemburu apa gimana?" tanya Sakti.
"Kan Mas Sakti mau ada rapat gitu kan yah. Jadi aku mau minta tolong pada Satya aja. Masa nggak boleh sih? Lagipula cuma Satya, Mas. Bukan pria asing yang menemaniku." jawab Fanya.
"Mau Satya atau siapalah, tetep aja pria. Aku lebih pilih batalin rapatnya daripada kamu pergi sama pria lain. Gimana?"
"Yaudah aku nggak jadi pergi. Mas Sakti ini kelakuannya kayak anak kecil aja." gerutu Fanya.
Satya bingung harus berbuat apa. Jadi ia hanya diam saja tanpa berkomentar.
"Kamu boleh keluar, Sat!" ujar Sakti.
"Permisi Tuan." ucap Satya.
Kini hanya ada Sakti dan Fanya di ruangan itu. Sakti mendekati Fanya yang tengah merajuk. Fanya duduk bersedekap di sofa, matanya menatap tajam pada Sakti.
"Seriusan kamu marah padaku?" tanya Sakti.
"Enggak kok! Aku nggak marah." jawab Fanya.
"Kalo nggak marah, kenapa nada bicaramu ketus, sorot matamu tajam, dan respon tubuhmu saat ku dekati seperti menghindariku?" tanya Sakti.
Fanya melengos. Ia bingung kenapa harus kesal dengan hal sepele begitu.
"Bodo amatlah! Aku mau tidur aja!" kata Fanya.
Fanya buru-buru mwnuju ruang rahasia. Lalu merebahkan dirinya dan bersembunyi ke dalam selimut. Sakti terperangah dibuatnya. Tidak biasanya Fanya seperti itu.
"Sayang, kamu tak biasanya begini? Apa kamu sedang hamil ya? Sikapmu aneh padaku." ujar Sakti.
"Tidak mungkin. Aku tak telat haid! Eh tapi..." Fanya menghitung ulang hari.
Sakti masih setia menunggu Fanya menghitung hari. Ia berharap Fanya memang telat haid.
"Aku beneran telat haid. Baru telat satu minggu. Apa perlu aku cek pake tespack?" tanya Fanya.
"Perlu. Sepertinya aku menyimpannya. Aku pernah beli beberapa waktu yang lalu. Tapi belum sempat memberikannya padamu karena kamu keburu sakit waktu itu. Lagipula aku takut menyinggungmu soal kehamilan. Aku tak mau membebanimu. Tapi jika sudah telat haid, aku nggak salah dong bertanya padamu mengenai kehamilan? Mungkin saja beneran hamil. Jika hanya telat biasa, yah aku tak masalah. Aku hanya ingin tau." jawab Sakti.
"Baiklah Mas. Mana tespack yang sudah kamu beli?"
Sakti menuju ke meja kerjanya. Dia membuka lacinya. Mengambil salah satu tespack yang sudah ia beli.
"Kamu beli banyak, Mas?" tanya Fanya begitu menerima tespack.
__ADS_1
"Hanya beberapa saja. Buat apa beli banyak-banyak." jawab Sakti
"OK, aku mau cek ya. Tapi jangan terlalu berharap juga. Takut kamu kecewa lagi." ujar Fanya.
"Iya. Aku akan terima kenyataan." kata Sakti.
Fanya segera menuju toilet. Butuh waktu sebentar baginya untuk mengecek kehamilan atau bukan.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Sakti begitu Fanya keluar dari toilet.
"Aku gagal, Mas. Jangan sedih yah. Aku beneran hamil, Mas!" ucap Fanya.
"Apa? Bisa diulang, Sayang?" Sakti terharu, air matanya menetes.
"Iya, aku hamil Mas!" seru Fanya.
"Sayangku....." Sakti berhambur memeluk Fanya.
Sakti bahagia sekali. Berkali-kali ia mengecup kening Fanya yang dipeluknya.
"Mas bahagia?" tanya Fanya.
"Tentu saja. Suami yang cinta dan sayang pada istrinya, akan bahagia saat mendengar bahwa istrinya hamil." jawab Sakti.
"Aku juga bahagia, Mas. Aku akan segera pergi USG untuk memastikan keakuratan alat ini!" Fanya mengacungkan tespack yang dipegangnya.
"Iya Sayang, aku akan mengantarmu. Mau sekarang?" tanya Sakti.
"Nanti aja Mas. Setelah urusan rapatmu selesai, baru kita ke Rumah Sakit. Gimana?"
"Bisa begitu?" tanya Sakti.
"Iya Mas. Pokoknya Mas selesain urusan pekerjaan Mas. Aku akan menunggu Mas." jawab Fanya.
"Soal kamu mau belanja gimana?"
"Ah lupain aja. Belanja bisa nanti. Aku mau istirahat dulu ajalah. Tertiba pusing kepalaku." ujar Fanya.
"Iya deh. Kamu masuk ke ruang rahasia lagi deh. Aku selesain pekerjaanku dulu." kata Sakti.
Pintu diketuk lagi. Setelah dipersilakan masuk, tampak Satya masuk dengan membawa paperbag.
"Tuan, saya mau mengabarkan. Rapat nanti siang dibatalkan. Mereka akan mengatur ulang jadwal rapat pengganti. Dan ini, ada titipan dari Marina untuk Nona Fanya. Katanya mangga muda dan tiramisu. Saya letakkan di sini ya!" kata Satya.
__ADS_1
Satya menaruh paperbag yang dibawanya ke atas meja. Lalu ia berpamitan kembali ke ruangannya karena sudah ditunggu oleh Marina.