Cinta Gadis Malam

Cinta Gadis Malam
Siapa Yang Menggoda?


__ADS_3

"Pak Sakti, hidup itu cuma sekali. Kesempatan pun hanya sekali. Jadi, tiada salahnya jika kita buat hidup untuk bersenang-senang. Kita masih muda. Masih banyak perjuangan panjang yang akan kita lakukan. Tapi, hidup tak ada artinya jika tanpa kesenangan. Saya janji, akan menyenangkan Pak Sakti hari ini. Bersediakah Pak Sakti?" tanya Firna dengan tatapan nakal.


Sakti tak bergeming. Hanya mengarahkan matanya ke arah lain. Sudah pasti menghindari godaan Firna.


"Aku tau kamu wanita pintar, mandiri, mungkin juga seksi. Tapi aku tak mengerti kemana jalan pikiranmu." ujar Sakti.


Firna mengelus pucuk rambut Sakti. Mendekatkan bibirnya untuk mencium Sakti. Sebelum terjadi, Sakti segera menjauh dari Firna.


"Apa yang kau lakukan? Menjauhlah! Aku sudah punya istri. Meski sendiri pun, aku sama sekali tak tertarik denganmu. Aku hanya cinta dan tertarik dengan istriku sendiri. Tolong kamu liat baik-baik foto itu. Itu adalah foto istriku. Cantik bukan?"


Firna terpaksa melihat foto yang ditunjuk Sakti. Ia melihat foto Fanya lebih dekat.


"Cantik. Tpi tak lebih seksi dari saya." gumam Firna dengan sinis.


"Itu karena pakaiannya longgar. Begitu dia buka baju, maka akan terlihat seksi." ujar Sakti sembari membuka pintu.


"Saya tak yakin!" seru Firna.


"Silakan keluar! Pertemuan kita selesai sampai di sini. Terima kasih atas kunjungannya. Semoga kita tak bertemu lagi. Sampai jumpa!" seru Sakti mengusir Firna secara halus tapi bikin sakit hati.


"Hah?" Firna ingin membantah, tapi tak bisa berkata-kata lagi.


Firna keluar begitu saja. Antara malu dan kesal menyelimutinya.


"Ada-ada saja. Hariku terasa tercemar oleh kedatangan wanita ular model begitu. Dikira aku bisa ditawar dengan menjual tubuh? Sudahlah, istriku lebih baik dari mereka semua. Enak aja!" keluh Sakti.


"Mas....!" panggil Fanya.


Fanya membuka pintu ruangan rahasia menggunakan remote di tangannya. Ia masih duduk bersandar bantal.


"Loh Sayang, ada apa? Bukannya tadi aku suruh istirahat? Kamu keganggu ya? Maaf yah. Tadi ada gangguan kecil, jadi berisik." ujar Sakti yang langsung memeluk istrinya.


"Lepas Mas. Aku nggak bisa nafas nih jika dipeluk terlalu erat begini. Si wanita ular tadi udah pulang?" tanya Fanya dengan nada emosi.

__ADS_1


"Wanita ular? Oh maksudmu Firna? Udah aku usir tuh. Lagian nggak jelas. Masa pamer paha ke aku? Kalo mau pamer ya harusnya ikutan Fashion Show atau apalah gitu. Emangnya aku juri?" jawab Sakti yang membuat Fanya tertawa.


"Mas Sakti ini polos apa pura-pura bodoh ya? Kalo dia pamer ke Mas kan tandanya dia mau godain Mas. Emang Mas sama sekali nggak kegoda? Kali aja dia lebih seksi dari aku? Nanti Mas nyesel loh." ucap Fanya.


"Nggak tuh! Aku kan udah punya bidadari cantik dan seksi. Ngapain juga masih clamitan cari yang lain. Nambahin beban aja. Udah cukup satu aja. Udah sempurna ini." kata Sakti sambil mengelus rambut Fanya.


"Bener ya? Ini bukan gombal ya? Pokoknya kalo Mas Sakti ketahuan maen api, yasudah hubungan kita selesai. Karena aku tak mau diduakan. Jelas ya Mas?"


"Iya Sayang. Lagipula Mas kan kalo kemana-mana selalu ada kamu. Sepahit-pahitnya pergi sama Satya. Udah gitu aja. Udah diawasi cctv, gimana bisa berkutik? Yang terpenting, aku nggak punya niatan mau main apa atau apalah itu." ujar Sakti.


"Yaudah, Mas lanjut kerja lagi aja. Aku mau telpon Marina. Kangen sama dia." kata Fanya.


"Dia ada di ruangan Satya. Kamu mau ketemu dia?"


"Serius Mas? Ngapain dia di ruangan Satya?"


"Ya ngapain lagi. Namanya juga bucin. Mau nggak ada kerjaan pun, kalo sudah bucin nggak bisa dibantah lagi. Aku pun kalo udah bucin sama kamu, mau kamu usir pun juga nggak mau pergi." kata Sakti.


"Iya juga sih. Aku ke ruangan Satya aja deh kalo gitu."


"Tapi nggak mungkin juga aku ajak dia ke sini. Ini kan ruangan rahasia kita. Kalo Marina ke sini, dia bisa tau tempat persembunyian kita." papar Fanya.


"Yaudah, aku anterin kamu deh. Tapi jangan kaget yah kalo mereka lagi mesra-mesraan pas kita udah sampe sana. Tadi aja aku liatnya begitu." ujar Sakti.


"Iya Mas. Aku pun udah terbiasa melihat itu. Bahkan kita kan sudah mengalaminya sendiri. Lebih intim lagi. Ya kan? Jadi ya bagaimana ya, sudah biasa gitu. Ayo deh, antar aku kesana, Mas. Aku penasaran mereka ngapain aja. Kamu tau kan, si model kaku macam Satya, bagaimana jika sudah dijinakkan oleh macan galak model Marina?"


Sakti pun menuruti permintaan Fanya. Ia menggendong Fanya dengan hati-hati. Memastikan bahwa Fanya nyaman berada dalam gendongannya.


"Kamu nggak malu kan menggendong aku? Banyak karyawanmu yang melihatmu. Boss angkuh sedang bucin pada istrinya. Bagaimana menurutmu?" bisik Fanya.


"Tak masalah. Aku tak peduli bagaimana anggapan orang terhadapku." balas Sakti tepat di telinga Fanya.


Jantung Fanya berdesir mendengar ucapan Sakti. Lantas ia memilih diam daripada dibuat salah tingkah oleh sekedar kata-kata suami tercintanya.

__ADS_1


Sesampai di ruangan Satya, mereka hanya menatap dua insan yang sedang mentransfer cinta. Satya dan Marina sedang berciuman dengan posisi Satya memangku Marina.


"Pemandangan yang mengesankan. Sudah berapa lama kalian berciuman?" tanya Sakti.


Satya dan Marina segera mengakhiri permainan mereka. Saling menjauhkan diri dan menjaga jarak. Mengelap sisa saliva yang masih tersisa.


"Maaf Tuan, kami khilaf." ujar Satya meminta maaf.


"Kenapa minta maaf. Kalian tak salah. Kan Mas Sakti hanya bertanya. Bukan maksudnya untuk menyalahkan. Ya kan, Sayang?" tanya Fanya.


Sakti menatap Fanya. Sebenarnya tak setuju dengan pernyataan Fanya. Melihat ekspresi Sakti yang seakan menyangkal perkataannya, Fanya pun mencium bibir Sakti. Alhasil membuat Sakti terkejut dan membelalakkan matanya.


'Apa-apaan ini? Istriku agresif sekali.' batin Sakti.


Sontak membuat Marina dan Satya kaget dengan apa yang dilakukan Fanya secara terang-terangan.


"Fanya luar biasa!" bisik Marina pada Satya.


Sakti yang terbawa suasana pun, membalas ciuman Fanya. Ia memperdalam ciumannya.


"Tiba-tiba jadi panas yah? Atau hanya perasaanku saja ya? Badan jadi gerah, padahal ruangan sudah ber-AC." sindir Marina.


Fanya dan Sakti menyudahi aksinya. Saling bertatapan melihat reaksi tercengang dari Marina dan Satya.


"Kalian kenapa? Bukannya wajar ya melihat kami semesra ini?" tanya Fanya.


"Fanya, iya wajar kalian mesra begitu. Cuma kenapa harus diperjelas begitu? Seakan menyindir kami deh." jawab Marina.


"Satya, pekerjaanmu sudah selesai? Kenapa bermain-main dalam jam kerja? Kan bisa diteruskan nanti pas jam pulang kerja?" tanya Sakti.


"Kami..." belum sempat Satya bicara, Marina menahan Satya.


"Bukan salah Satya. Aku yang menggodanya. Pacarku ini terlalu serius bekerja. Jadi aku mengodanya. Dan, kalian lihat tadi. Seranganku manjur juga. Dia tergoda dan larut dalam permainanku." ujar Marina dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


'Apa ini? Ternyata dia lebih liar dari dugaanku. Ckckck, untung aku nggak sempet tergoda sama dia. Bisa gila aku dibuatnya!' batin Sakti.


__ADS_2