
Sudah jam 12 malam, tapi Fanya masih sulit memejamkan mata. Tak ada rasa kantuk sedikitpun. Justru matanya nampak segar seperti sehabis minum kopi. Ia terus bolak balik mencari kenyamanan tidur. Tapi berakhir nihil.
"Masih menungguku?" tanya Sakti yang baru memasuki kamar.
Sakti baru saja menyelesaikan pekerjaannya di ruang kerja.
"Anu Mas, aku nggak bisa tidur. Mataku belum ngantuk sama sekali. Dari tadi bolak balik sampe perutku tambah nyeri, masih saja begini. Kenapa yah? Aku kayak kepikiran gitu. Tapi nggak tau lagi mikirin apa." jawab Fanya.
"Yasudah, sini aku peluk tidurnya!" kata Sakti yang langsung memposisikan diri memeluk Fanya.
"Enggak mau. Nanti Mas malah minta yang aneh-aneh. Perutku masih nyeri. Takutnya nanti malah pendarahan. Sabar dulu ya Mas. Aku juga pingin, tapi demi kesembuhanku ya harus ku tahan." ujar Fanya.
"Iya aku tau. Tapi aku nggak sampe mikir ke arah sana. Gapapa puasa sebentar demi kenikmatan berbuka nanti. Daripada maksain berbuka yang berujung menyakiti. Aku tak sejahat itu kok!" ucap Sakti seraya memeluk Fanya.
Fanya pasrah dipeluk Sakti. Ia pun turut memeluk Sakti. Mencium aroma parfum yang masih melekat di tubuh Sakti.
"Kamu masih wangi, Mas." bisik Fanya.
"Iya dong. Harus selalu wangi jika berdekatan denganmu. Kalo nggak wangi, takutnya kamu pergi dariku." kata Sakti.
"Nggak juga sih. Bau badan khasnya Mas Sakti emang udah wangi. Tanpa bau parfum pun, aku menyukainya." kata Fanya.
Sakti mengendorkan pelukannya, lalu membuka kaosnya begitu saja. Fanya melotot melihat Sajti yang bertelanjang dada.
"Mas ngapain?" tanya Fanya.
"Gapapa. Aku gerah Sayang." jawab Sakti.
__ADS_1
"Justru aku tambah gerah melihat Mas kayak gini. Dan sebentar..."
Fanya mengamati perut Sakti. Ia melihat ada bekas luka sepanjang 5 cm. Karena penasaran, ia memberanikan diri bertanya pada Sakti.
"Mas, ini luka apa? Aku baru sadar jika ada bekas luka seperti ini di tubuhmu. Ini kenapa?" tanya Fanya.
"Itu kena pisau. Kejadiannya udah lama banget. Mungkin enam tahun yang lalu. Apa lebih ya? Aku nggak inget kapan detailnya." jawab Sakti.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Fanya lagi.
Sakti menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan kasar. Sementara Fanya bersiap mendengarkan cerita Sakti.
"Aku kena tusuk pisau saat mencoba menyelamatkan seseorang. Dimana orang itu hampir ditusuk karena pernah menolak cinta dari si pelaku penusukan. Aku nggak niat banget pingin ditusuk, cuma karena medan jalan pas licin, ya ujungnya aku kena tusuk juga. Mau bagaimana lagi, sudah jalannya aku lagi kena sial."
"Apa target yang ditusuk itu seorang wanita? Ah jelas saja, pelaku pasti kan seorang pria!" seru Fanya menyimpulkan bak seorang detektif.
"Kamu benar. Dia seorang wanita bernama Sonia. Kamu mengenalnya, bukan?"
"Maaf ya. Aku daripada berbohong lebih baik jujur padamu. Kamu marah pun, toh itu adalah cerita masa lalu yang akan hilang dihapus masa. Bukan kenangan indah yang akan senantiasa aku ingat. Jika bukan Sonia pun, kalo aku ada di posisi yang sama, aku akan tetap menolongnya. Entah berhasil atau tidak, aku akan mencoba menyelamatkan nyawa orang lain." ujar Sakti.
"Termasuk mengorbankan nyawa Mas?" tanya Fanya.
"Iya jika itu kamu. Aku rela menukar nyawaku untuk keselamatanmu." jawab Sakti.
Fanya kesal lalu mencubit pinggang Sakti. Sakti menjerit kesakitan. Tapi Fanya akhirnya bisa tertawa.
"Syukurin yah! Ini akibat udah bikin aku kesal." ujar Fanya.
__ADS_1
"Tapi kan itu hanya cerita lama. Kenangan yang hampir terlupa, akhirnya harus ku ingat lagi setelah kamu bertanya. Padahal tadinya aku udah lupa loh Sayang.."
Fanya menjewer kuping Sakti dengan gemas. Sakti meringis kesakitan. Bukannya marah, Sakti malah mencium Fanya dengan gemas.
"Kamu yang memancing kan? Coba tadi nggak nanya. Nggak ada kata kesel sama suami sendiri. Lagipula menolong orang lain kan ibadah ya. Masa iya menolong harus pilih-pilih dulu siapa orangnya? Kesannya nggak ikhlas banget dong ya." ujar Sakti yang membuat Fanya terdiam.
"Saat kejadian, Sonia sudah ketakutan banget. Dia aja ampe basah tuh roknya."
"Maksud Mas, dia ngompol?" tanya Fanya.
"Sepertinya begitu. Dia sudah gemeteran saat kejadian. Ya aku refleks menolongnya tanpa berpikir panjang. Aku mikirnya, kalo kejadian itu menimpa orang kesayangan kita, trus nggak ada yang nolong, bagaimana? Makanya, jika suatu masa kamu melihatku, entah sengaja atau tidak aku sedang berbuat baik, tolong jangan berpikiran macam-macam. Siapa tau aku niatnya emang mau berbuat baik. Bukan cari untung atau cari muka." jawab Sakti.
Fanya menghembuskan nafasnya. Ia menciba memahami maksud perkataan Sakti.
"Maaf sudah menuduhmu macam-macam. Meski kenangan lama, rasanya alamiah jika aku tetap merasa kesal. Aku tak membenarkan kecemburuan dan rasa kesalku padamu. Tapi aku sama sekali tak menyalahkan apa yang sudab ku rasakan. Wanita manapun pasti akan sama. Hatinya pasti terluka saat tau cerita masa lalu yang sedalam itu. Perkara cinta ataupun bukan, bukan itu permasalahannya. Tapi pengorbanan yang dilakukan sedemikian rupa itulah yang membuat hati wanita tercabik. Wanita lain pasti takkan rela jika suaminya berkorban untuk orang lain. Meski hanya sekedar cerita masa lalu yang hanya jadi kenangan." ujar Fanya.
"Maafin aku juga ya Sayang. Lalu selanjutnya aku harus bagaimana? Apa perlu aku melakukan operasi agar bekas luka di perutku ini hilang? Atau perlukah aku hilang ingatan dulu agar kamu tak cemburu?" tanya Sakti.
"Nggak sampai dioperasi juga, Mas. Buat apa juga? Aku hanya ingin kamu melupakan momen itu aja. Tapi jika kamu hilang ingatan, bahaya juga sih. Iya kenangan tentang Sonia itu akan menghilang, tapi kan bisa jadi kenangan bersamaku akan hilang juga. Ah nggak usah deh!" jawab Fanya.
"Baiklah. Ayo kita tidur! Ini sudah jam 1 pagi. Aku ahrus ke kantor pagi-pagi besok. Takut bangun kesiangan. Meski perusahaan sendiri, tapi aku nggak mau bertindak sesuka hati. Bisa ditiru sama karyawan dong." kata Sakti.
Fanya kembali memejamkan matanya. Ia memeluk Sakti dengan erat.
"Apa besok kamu ikut aku ke kantor juga? Aku nggak mau juga ninggalin kamu sendirian di apartemen ini. Trus nggak mungkin kamu balik kerja di butik Mama." ucap Sakti.
"Aku nggak boleh kerja lagi, Mas?" tanya Fanya.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu tidak bekerja lagi. Aku kerja keras untuk membuatmu nyaman berada di sisiku. Lebih baik kamu bersantai dan menghabiskan uangku daripada harus capek kerja yang selalu membuatku khawatir." jawab Sakti.
"Baiklah jika itu maumu. Aku nurut aja." ujar Fanya.